LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[30] Harus Lebih Bersyukur


__ADS_3

Setibanya Dirga dirumah, keadaan benar-benar ramai. Sanak saudara dari kampung sudah tiba dengan banyak tentengan dan barang yang berserakan dari halaman, sampai ruang tamu. Dirga menyapa beberapa orang yang ia kenal dari saudara mama. Melewati mereka sambil berujar permisi, untuk mencari dimana keberadaan ibu ratu kesayangannya itu.


“Manten! Pulang juga akhirnya. Bibi kira nggak pulang malam ini. Syukur deh karena sudah pulang. Sok masuk, A’.” Itu Bibi Ina yang menyambut kedatangan Dirga. Beliau kakak sepupu mama yang tinggal di jogja.


Beliau menatap Galih yang berdiri di samping Dirga.


“Ini Aa yang kasep siapa, A' Dirga? Ganteng pisan.” Canda Bi Ina yang dibalas tertawa ringan Galih.


“Ini Galih, Bi. Teman kerja Dirga.” Terang Dirga memperkenalkan Galih.


“Saya Galih, Bi.” Sapa Galih.


Bibi tersenyum menerima salam Galih.


“Oh ... A’ Galih. Iya, iya, duduk A’.”


“Iya Bi.”


“Mama mana, Bi?” Tanya Dirga.


“Dibelakang A’, sedang mengurusi makanan. Bibi kebelakang dulu, ya.” Lalu Bi Ina pamit dan hilang dari penglihatan mereka.


“Dir, katanya di gedung? Kok dirumah saja ramai?” Bisik Galih.


Dirga menggidikkan bahunya.


“Iya di gedung, tapi Mama bilang sih mau ada acara pengajian.”


Galih mengangguk. Mereka lanjut berbincang selama beberapa waktu hingga mata Dirga menangkap Mama yang baru saja turun dari tangga.


“Mama!” Panggil Dirga membuat Mama menoleh mendengar dirinya dipanggil.


“Aa’! Sudah pulang?” Tegur Mama sambil berjalan dengan sumringah kedepan putranya.


Dirga menunggu Mama mendekat dan berharap dengan kebiasaan beliau denga  memeluknya. Tapi bukan pelukan hangat yang ia terima, justru cubitan diperutnya lah yang sampai.


“Aw! Mama! Aa’ kok dicubit sih, Ma?” Ringis Dirga.


“Katanya mau pulang lebih awal dari dua hari sebelum acara. Kamu bagaimana sih? Kan jadi nggak bisa fitting lagi! Sudah kemalaman, A’!” Ujar Mama mendelik sebal mencubit Dirga sekali lagi.


“Maaf Ma. Ini diluar rencana Aa’. Berhubung mau cuti lama, jadi nggak bisa pulang cepat." Ujarnya menjelaskan pada Mama.


Sebelum mendapat lebih banyak cecaran, Dirga buru-buru menunjuk Galih disampingnya.


"Oh ya Ma, ini Galih. Teman Aa’ di kantor.” Mama menatap Galih yang sudah berdiri disamping Dirga.


“Assalamualaikum Bu, saya Galih.”


Mama menyambut uluran tangan Galih dengan senyum.


“Mama baru lihat kamu, kasep? Biasanya si Firdaus yang main kesini.”

__ADS_1


Galih tersenyum, “Iya Bu, saya baru-baru ini satu basecamp sama Dirga. Baru beberapa bulan.”


“Iya kah? Orang Jakarta juga, Nak?” Tanya Mama.


Gilang mengangguk, “Bekasi, Bu.”


“Oh begitu. Ya ... bagus deh. Jadi nggak jauh ya Nak, kalau orang tua minta ketemu. Tapi kalau senangnya ngayap seperti Dirga, kayaknya sama saja. Kalau nak Gilang sih nggak, ya?” Kekeh Mama.


Dirga ikut terkekeh seraya melirik Gilang nyeri.


“Sudah makan, Nak? Makan dulu ya disini? Masuk dulu sana A’, kebelakang. Ajak Galih juga.”


Dirga mengangguk.


“Iya, Ma.”


Keduanya kemudian berjalan beriringan sambil melanjutkan obrolan selepas Mama pamit untuk mengurus beberapa hal bersama keluarga.


“Nyokap lo ekstrim juga ya? Pedas tuh kayaknya cubitan.” Ledek Galih membuat Dirga tertawa.


“Ya ... lo lihat sendiri lah. Nanti juga merasakan kalo mau menikah, tapi baru ketemu orang tua dua hari sebelum acara.”


Galih tersenyum kecut.


“Sayangnya nggak ada yang bakal begitu ke gue. Lo bersyukur Dir, karena sejauh apapun gue pergi, gue nggak pulang, nggak ada yang ingat juga.”


Dirga tertawa.


Galih ikut tertawa lalu menggeleng.


“Nggak.”


“Ya, trus?”


Galih tersenyum kecil.


“Lo nggak tahu ya?”


Dirga menggeleng.


“Apaan?”


“Gue nggak punya bonyok kan, Dir.” Terang Galih santai.


Dirga sejenak terdiam mencerna perkataan Galih.


“Gue anak panti Dir, yang diurus sampai Alhamdulillah berhasil.” Lanjut Galih.


“Serius?”


Galih mengangguk meyakinkan.

__ADS_1


“Wah ... gue nggak tahu, Man. Sorry ya?” Ujar Dirga merasa tak enak hati.


“Santai ... sudah biasa kok. Mangkanya gue pas tadi masuk kerumah ini, mendadak merasa nyaman saja gitu. Enaknya jadi lo, punya keluarga yang perhatian dan saling dukung.” Ujar Galih seraya terkekeh, tampak tak mau dikasihani.


Perkataan terakhir Galih itu benar-benar membuatnya tak bisa berkata lagi.


Dirga harus lebih banyak bersyukur.


*


Nina menjalani masa pingitan yang membuatnya sangat bosan. Dua hari ini ia dilarang pergi kemanapun karena pertemuan kedua mempelai kemungkinan besar bisa terjadi, sebab dirinya dan keluarganya disewakan rumah full furnished sementara yang ada dilingkungan komplek. Waktunya hanya dihabiskan sambil mengerjakan skripsi serta bimbingan online. Keluarganya pun baru tiba di Jakarta kurang lebih dua hari yang lalu, dan sejak dua hari itu pula, Nina dipingit sampai akad.


Emak serta Abah pun tak banyak terlihat dirumah ini karena ikut membantu dirumah Mama.


Masalahnya Nina, walau dia punya urusan dengan skripsinya, dia adalah pribadi yang tak bisa diam menyaksikan orang lain repot. Dia merasa tak enak karena membiarkan semua keluarga sibuk mengurusi dirinya, sedang si pusat acara sendiri hanya diam saja. Ya … tapi mau bagaimana lagi, dia tak bisa memaksa untuk ikut membantu persiapan. Selain masalah tak boleh dilihat calon mempelai laki-laki, pertimbangan soal kesehatan menjadi alasan lain.


Nina harus fit saat hari besarnya berlangsung.


Solehah belum lama keluar setelah Emak memanggilnya untuk membantu menata kue-kue yang akan disajikan pada saat pengajian malam ini, sehingga makin sepi lah kondisi rumah.


Sejujurnya selain merasa bosan dan kesepian dirumah ini, ada perasaan lainnya yang tiba-tiba menghampiri Nina. Takut, terharu, galau. Semuanya bersatu seolah  memberondong Nina dengan banyak pertanyaan yang berputar diotaknya.


Memikirkan hari-harinya kedepan, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Satu pesan masuk.


From : Mas Rifai


Nina? Sibuk nggak? Ketemuan, bisa? Saya baru balik flight, ada hal baru yang ingin saya ceritakan ke kamu.


Terlalu bersemangat sampai akhirnya ia tak sempat meihat siapa pengirim pesan tersebut, lantas membuka pesan itu. Mau tak mau ia harus membalas pesannya karena Muhadi pasti sudah tahu bahwa Nina telah baca pesannya.


Nina sebenarnya sedikit menghindari Muhadi belakangan ini. Salah satunya ketika hari itu Dirga mengingatkannya untuk mengurangi pertemuan, sebab apa yang calon suaminya itu takutkan bisa saja terjadi. Walau awalnya Nina ragu, karena hatinya mengatakan bahwa Muhadi sebetulnya tak seperti itu. Mau bagaimana lagi, saat ini ia harus mulai mendengarkan Dirga lebih banyak dibandingkan siapapun, tapi dia merasa tak tega jika harus melakukan itu. Apalagi Muhadi seolah despreate dengan masalah hidupnya, dan hanya membutuhkan teman untuk bisa mendengarkan masalahnya dan bercerita.


Nina menjadi galau. Dia hanya ingin bersikap baik pada orang lain yang tampaknya membutuhkan dirinya dalam kondisi terpuruk seperti apa yang terjadi pada Muhadi.


Nina mengetikkan balasan.


To : Mas Rifai


Maaf mas Rifai, Nina sedang dipingit jadi nggak bisa keluar rumah selama dua hari ini. Lusa Nina akan menikah, mohon doanya ya, Mas. Kalau sempat, silahkan hadir ya, Mas.


Nina menekan ikon sent. Tak berapa lama Muhadi membalas pesannya.


From : Mas Rifai


Wah! Kamu dipingit, Nin? Selamat ya atas pernikahan kamu. Lusa sepertinya saya ada jadwal flight satu hari full, kalau begitu saya doakan yang terbaik untuk kamu ya. Mohon maaf karena belum bisa hadi. Semoga samawa, ya .... 😃


Untung saja Muhadi mengerti.


Well, setelah tak banyak hal yang bisa Nina lakukan selama ia tengah menjalani masa pingitan, mungkin selanjutnya dirinya harus tidur untuk merilekskan pikiran, disamping lebih bersyukur atas semua hal yang berjalan lancar sesuai rencananya.

__ADS_1


__ADS_2