Legend Of System

Legend Of System
33. Insiden Kecil


__ADS_3

Mendapat ledekan yang terkesan meremehkan dirinya, pemimpin berandalan remaja tanggung itu, menjadi sangat marah, kemudian dia berkata kepada Sadewa..


"Bhangsat kau." Ujarnya marah


"Cepat kepung dia.dan tangkap.Buat dia lumpuh."


Mendapat perintah yang menggiurkan dari pemimpin mereka, kesembilan remaja tanggung itu, serentak bergerak mengepung Sadewa, dan menyerangnya dengan beberapa pukulan serta tendangan sebisa mereka


Pukulan dari depannya, dapat Sadewa halau dengan mencengkeram kepalan tangan lawan, dengan tangan kirinya, detik itu juga tangan kanan Sadewa melayang, menampar wajah penyerangnya hingga terpelanting kesamping


Penyerang dari sebelah kirinya, dihalau dengan menendang penyerangnya, menggunakan kaki kiri hingga terpental beberapa meter, pingsan


Begitu juga dengan penyerang lain. Semua serangan mereka, bisa dihalau oleh Sadewa dengan mudah, malah mereka yang bernasib apes


Ke sembilan remaja tanggung itu, dilumpuhkan oleh Sadewa hanya membutuhkan waktu sekitar 1.5 menit


Ada yang terkena tamparan, pukulan, juga tendangan dari Sadewa, hingga hanya tersisa 1 orang, yaitu pemimpin mereka, yang belum merasakan bogem mentah dari Sadewa


Pemimpin berandalan itu, melangkah mundur, ingin mencoba melarikan diri, tapi terhalang oleh pagar tembok usang di belakangnya. lalu dia berkata. "B..ba..bagaimana bisa?" Ujarnya terbata-bata


Sadewa melangkah maju, tidak menghiraukan ketakutan lawannya dan mendekati pemimpin berandalan sekolah itu, sambil menyeringai, dan ketika dia hendak menangkap nya, tiba-tiba dari arah kanan dan kiri Sadewa ,muncul puluhan siswa lainnya sambil berlari cepat


"Berhenti jangan sentuh dia!" Teriak salah seorang dari puluhan siswa yang datang itu sambil memerintahkan kepada kawan-kawannya untuk mengepung Sadewa dan berkata..


"Tangkap badjingan ini." Perintahnya dengan nada kasar


Melihat puluhan siswa berlarian mengepungnya, tidak membuat Sadewa gugup dan takut, dia malah menyeringai seram dan merentangkan tangannya ke arah mereka, dengan posisi siap untuk berbuat sesuatu


Ketika jarak mereka hampir mendekati 2 meter, Sadewa mengibaskan tangan kanan dan kirinya ke segala arah, sehingga puluhan orang yang jaraknya tidak jauh dari Sadewa, terpental mundur kebelakang dan menabrak kawan kawan mereka


Keriuhan segera terjadi, mereka mendadak berhenti, ketika menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari orang yang ingin mereka tangkap, lalu terdengar seseorang berkata. "Siapa kau?. Kenapa kau memukul kelompok cobra?"


Sadewa menoleh ke arah suara itu, dan mendapati seorang pemuda berpakaian bebas, sedang menunjuk ke arahnya, sambil berdiri gemetar, dan berkata. " Mereka berani berurusan dengan orang yang salah. Mereka berusaha merampok ku."Jawabnya enteng


"Dia bohong ketua, malah dia yang duluan memukuli kami, ketika kami bertanya baik baik padanya. Bukannya menjawab, dia malah balas memukul kami." Ujarnya berbohong juga percaya diri


Mendengar jawaban yang menyimpang itu,Sadewa hanya tersenyum, malas meladeni mereka, dan berniat pergi


"Berhenti. Jangan mencoba untuk kabur." Teriak seseorang dari kerumunan siswa itu


Sadewa menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah suara itu sekali lagi,dan berkata ." Kalian sudah menyita waktu berharga ku di sini, dengan urusan sampah tak berguna seperti ini."

__ADS_1


"Aku bilang berhenti ya berhenti. Beraninya kau mau kabur."


"Kepung dan tangkap dia!" Perintah ketua itu lantang


"Heeehhh...Dasar tak berguna." Guman Sadewa sambil mengibaskan tangannya kepada siswa yang sedang menuju ke arahnya, dan..


"Baaammm...


"Aaakkh..."


"Uuuggghh..."


Teriakan demi teriakan terdengar dari puluhan siswa itu, yang tubuhnya terpental ke sana ke mari


Sadewa tidak mau berlama lama, membuang waktu di tempat itu, kemudian dia merentangkan tangannya sekali lagi, untuk melancarkan serangan pamungkasnya kepada gerombolan siswa itu, tapi tiba-tiba ...


"Berhenti !..." Terdengar suara parau dari belakang Sadewa


Sadewa menoleh ke belakang dan mendapati lebih dari 20 orang dewasa, yang berlarian menuju ke arahnya, didampingi oleh 2 orang security sekolah yang berwajah sangar


"Siapa kau?. Kenapa kau membuat keributan di sini? Kalian berdua tangkap anak itu!" Perintah orang yang


Belum sempat melakukan aksinya, tiba tiba datang ratusan mobil dengan suara yang menderu, menuju ke arah mereka


"Bruumm..bruumm..bruum"


Seratus mobil mewah putih metalik, tiba tiba berhenti di kanan kiri mereka, seolah-olah mengepung nya, hingga membuat orang-orang yang ada di sana menjadi panik


Di tengah kepanikan mereka, pintu mobil mobil mewah itu terbuka, dan keluarlah 200 orang laki-laki berbadan tegap, dan berwajah dingin, berpakaian setelan jas putih, dan bersepatu hitam, menambah penampilan mereka semakin sangar


Dua ratus orang yang baru datang itu, segera berjalan ke arah Sadewa, begitu sampai, serentak mereka membungkukkan badannya ke arah Sadewa dengan hormat


"Bangunlah!" Kata Sadewa penuh wibawa


"Terima kasih tuan." Jawab mereka serempak sambil bergerak dan berdiri di belakang Sadewa


Suasana ketika saat itu menjadi sangat hening dan menakutkan. Aura yang dipancarkan oleh Sadewa, dan 200 orang di belakangnya, sangat mengintimidasi mereka semua, sehingga tanpa disadari, tubuh mereka bergetar ketakutan


Keadaan jadi berbalik 180 derajat. Kalau tadi mereka yang mendominasi keadaan, tapi sekarang mereka seperti tikus yang terkena perangkap


Suasana hening masih terus berlangsung, tidak ada seorangpun dari mereka yang berusaha, membuka mulutnya, hingga terdengar suara terbata bata diantara mereka

__ADS_1


"S..s..si..siapa kau?" Tanya seorang laki-laki yang bersuara parau itu, yang ternyata adalah ketua yayasan,Herlino sambil terbata-bata


Tanpa memperdulikan pertanyaan dari ketua yayasan itu, Sadewa maju dua langkah mendekatinya, dan membuka kaca mata hitamnya, yang sejak dari awal dia datang, masih tetap terpasang di wajahnya


Begitu Sadewa secara perlahan membuka kacamatanya, suasana menjadi heboh, lalu terdengar beberapa orang bersuara lantang


"Itu Sadewa."


"Ya benar itu memang Sadewa."


"Sadewa penguasa Pantai Utara."


"Benar. itu benar Sadewa."


"Lihatlah para pengawalnya. Itu memang benar benar Sadewa, teman kita dulu."


"Sa..Sadewa, anaknya pak Tarno si nelayan itu?"


"Benar itu memang anaknya pak Tarno, nelayan miskin dari pantai utara dulu."


"Sadewa sekarang, bukalah Sadewa yang dulu, dan sekarang menjadi orang terkaya, dan menguasai wilayah pantai utara itu."


"Pak ketua, Itu memang benar Sadewa, Penguasa Pantai Utara sekarang ini."


"Apa yang harus kita lakukan ketua?. Kita tidak mungkin memprovokasi nya dalam situasi seperti ini. Lihatlah bodyguard nya." Kata salah seorang staf pengajar di sekolah itu gugup


"Semuanya, cepat tunduk kan badan kalian, kalau tidak ingin celaka." Seru ketua yayasan kepada seluruh staf dan juga siswanya


"Maafkan kami tuan, kami tidak tahu, bahwa orang yang kami permasalahan ini, adalah tuan Penguasa." Kata ketua yayasan sambil membungkukkan badannya ke arah Sadewa


"Apa yang telah kalian lakukan?. Bangunlah!. Jangan seperti itu pak ketua, dan guru guru semua." Kata Sadewa terkejut melihat mereka semua menunduk kepadanya, sambil melangkah mendekati ketua yayasan


"Aku tidak pantas mendapat penghormatan itu, malah akulah yang harus menunduk kan badan kepada guru-guru semua! Bangunlah!" Kata Sadewa sambil berusaha menarik tangan ketua yayasan agar berdiri tegak sambil melanjutkan kata-katanya


"Jangan panggil aku tuan ketua, Aku Sadewa, bukan tuan kalian.statusku tetaplah anak didik kalian, jadi ku mohon jangan panggil aku tuan lagi." Kata Sadewa menolak panggilan kehormatan tuan padanya


"Tidak bisa Dewa, eh.. maksudku tuan Dewa. Engkau tetaplah tuan penguasa. Kami tidak berani mengabaikannya." Kata salah seorang security, yang tadi hendak menangkapnya, dengan sikap hormat


"Bagaimana ini, di sekolah ini aku tetaplah anak didik yang harus menghormati guru-guru semua. jadi tolong jangan panggil aku tuan pak ketua yayasan, juga guru-guru semua


"Setinggi dan sekaya apapun pangkat ku, Sekali guru tetaplah guru. Aku harus tetap menghormatinya sampai kapanpun." Kata Sadewa membela diri

__ADS_1


__ADS_2