
"Sadewa!" Ucap Alisa sedih bercampur gembira, termasuk juga Tarno suaminya itu
"Syukurlah kau sudah kembali nak!. Ibu benar benar menyesal karena telah melakukan itu."
"Ibu janji tidak akan ikut campur lagi dalam urusan apa pun, apalagi urusan menikah!"
'Mulai sekarang, ibu tidak akan lagi memaksa mu untuk menikah,.Sudah bersama mu saja ibu senang, dan ibu akan sabar menunggu." Ucap Alisa mantap, walau berurai air mata penyesalan
Namun sayangnya, Sadewa tidak menggubris perkataan ibunya itu, karena kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
Jiwanya masih berada didalam ruang dimensi, dan akan kembali setelah melalui serangkaian pencucian jiwa
Tapi Alisa tidak menyadarinya. Dia terus saja berbicara, dan meluahkan isi hatinya pada anaknya
Tarno yang melihat kelakuan istrinya tersebut, hanya menggelengkan kepalanya saja. Sambil mengamati istrinya, dia juga mengamati keadaan anaknya
Sudah hampir sepuluh menit, Sadewa belum juga sadarkan diri.Tubuhnya walau sudah kembali utuh, tapi nafasnya belum ada, dan itu tidak disadari oleh kedua orang tuanya
Dia tetap duduk mematung dan tidak bergerak walaupun di sentuh oleh Alisa ibunya itu
"Dewa bangunlah!, jangan tidur terus, ayo berbincang dengan ibumu ini."
"Jangan buat ayah dan ibumu khawatir!" Ucap Alisa sedih sambil memeluk tubuh anaknya tersebut, berharap agar anaknya bangun
"Sudahlah Lisa!. Biarkan anak kita memperbaiki dirinya sendiri.Mungkin jiwanya belum kembali, dan masih berada dalam ruang imajinasinya itu
Ingat !. Anak kita itu mempunyai ruang dimensinya sendiri. Ayah yakin, kalau dia sekarang sedang berada di sana." Ucap Tarno menenangkan istrinya tersebut
"Tapi ibu takut yah!, kalau Sadewa benar benar tidak kembali!" Bantah Alisa khawatir
"Sudah aku katakan!, kalau anak kita ini pasti akan kembali. Kau nya saja yang terlalu khawatir!" Ucap Tarno kesal
"Kau lihat!. Secara berangsur angsur, istana ini kembali seperti semula.Aku yakin, di luaran sana pasti mengalami hal seperti ini juga."
"ibu tidak mengira yah!. Kalau ucapan anak kita itu akan benar benar terjadi. Ibu kira hanya gertakannya saja. makanya ibu tetap ngotot memaksanya untuk segera menikah."
"Tapi ternyata ucapan Sadewa benar benar terjadi."
"Untung kita cepat menghentikannya. Kalau tidak, anak kita akan pergi untuk selamanya, dan terkurung didalam ruang dimensinya sendiri."
"Makanya jadi orang tua itu jangan cerewet, harus bijak dalam bertindak, jangan memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan keyakinannya!"
"Kalau sudah begini kan kita sendiri dan semua orang yang bakal repot?"
"Memangnya ibu mampu mengembalikan keadaan seperti semula, tidak kan?"
"Jadi kedepannya jangan ikut campur dalam urusan Dewa lagi, sepanjang itu tidak menyalahi kodratnya sebagai seorang manusia."
"Ayah yakin kalau ibu sudah lupa, bahwa anak kita itu bukan manusia biasa."
__ADS_1
"Dia orang yang terpilih oleh dunia yang entah dari mana itu, dan sekarang, mungkin dia sedang menjalani proses untuk menjadi seorang pemimpin dan penguasa di jaman ini."
"Oleh karena itu, jangan mencampuri urusan Sadewa, dalam proses menuju kekuasaannya itu."
"Kalau dia mengatakan akan menikah pada usia 20 tahun, ya kita harus sabar menunggu, dan tidak boleh mempercepatnya menurut selera kita."
"Ayah yakin!, Sadewa itu sudah tidak tahan lagi dan muak, mendengar setiap hari kau terus memaksanya untuk segera menikah."
"Puncak kekesalannya itu, dia akhirnya menuruti kehendak mu itu. Tapi apa yang terjadi?. Kau juga yang ketakutan sendiri!" Ucap Tarno menasehati Alisa istrinya itu
"Baiklah yah, Lisa berjanji mulai saat ini, tidak akan melakukan itu lagi, dan akan sabar menunggu, sampai Sadewa berumur 20 tahun."
"Nah itukan bagus!. Jangan gunakan pikiran kampung mu itu terus. Besar sedikit anak harus menikah, tanpa berpikir resikonya lagi!."
"Ingat!. Sekarang Sadewa adalah pemimpin, dan penguasa di tempat ini. Jangan ikut campur dalam urusannya saat memimpin. Agar kepemimpinannya tidak diragukan oleh orang lain."
"Apakah kau paham Lisa?" Tanya Tarno untuk mengecek pemahaman istrinya itu
"Ya. Lisa Paham!" Jawabnya mantap
"Nah sekarang yang perlu kita lakukan adalah menunggu Sadewa sadar, dan kembali pada kita." Respon Tarno senang. Kemudian menyentuh tubuh Sadewa yang masih duduk dengan tenang itu
Tapi tiba tiba, seberkas sinar kuning keemasan keluar dari tubuh Sadewa, menerangi kamar tempat nya moksa itu.
Bukan hanya itu saja, belasan warna kembali keluar dari tubuh Sadewa, dan menyatu dengan sinar kuning tadi, hingga menciptakan pemandangan yang sangat kontras sekali
Sinar yang sudah menyatu itu, semakin lama semakin membesar, dan keluar dari dalam istana, melingkupi seluruh areal pantai utara tanpa terkecuali
Tidak ada lagi terlihat wajah wajah khawatir sama seperti sebelumnya
Ternyata sinar berbagai macam warna itu, adalah penghapus ingatan setiap orang yang ada di pantai utara dan sekitarnya, agar tidak mengingat kejadian barusan
Setelah dirasa cukup, sinar tersebut berangsur angsur hilang dan kembali masuk ke tubuh sadewa
Tiba tiba saja, tubuh Tarno dan Alisa tersedot masuk ke ruang dimensi, bersamaan dengan menghilangnya sinar tersebut
Kini mereka sedang berada di ruang imajinasi, atau ruang dimensi milik Sadewa
"Yah!" Bukankah ini tempat dimana kita dulu pernah dibawa masuk oleh anak kita?" Tanya Alisa penasaran
"Kau benar!. Ini memang tempatnya. Aku masih ingat dengan istana ini!" Jawab Tarno cepat
"Tunggu apa lagi!. Ayo masuk, dan temui anak kita, Ibu yakin dia sedang ada di sana!" Teriak istrinya sedikit kuat
"Tidak perlu berteriak seperti itu! Sakit telinga tau!" Gerutu Tarno kesal
"Hehehe!" Reaksi Alisa cuek
Setelah berdebat yang tidak berarti itu, Tarno dan istrinya, bergegas menuju ke istana, yang dulu pernah mereka masuki
__ADS_1
Sesampainya di sana. keduanya disambut oleh belasan pengawal, yang memang selalu berjaga di sekitar istana itu
"Selamat datang tuan dan nyonya besar!" Sapa belasan pengawal itu sopan
"Apakah tuan mu ada didalam?" Tanya Tarno tidak sabar
"Ada tuan besar!. Tuanku sedang menunggu anda berdua, dan meminta anda untuk segera masuk." Jawab komandan pengawal tersebut sopan
"Terima kasih!" Respon Tarno cepat, kemudian buru buru memasuki istana tersebut
"Istana ini hampir tidak berubah, masih tetap bersih dan terjaga, ditambah lagi suasananya sedikit berbeda." Batin Tarno dalam hati
"Tunggu apalagi yah. Ayo masuk!."
"Kenapa malah bengong seperti itu?. Cepat masuk, dan temui anak kita!." Ucap Alisa tidak sabar
"Apakah kau tidak merasa, kalau istana yang pernah kita datangi ini, keadaannya sedikit berubah?" Respon Tarno malah mengajukan pertanyaan
"Masalah itu nanti saja kita bahas!. Ibu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anak kita." Jawab Alisa kesal
"Kau pergilah dulu kedalam!. Ayah ingin melihat lihat dulu istana ini. sepertinya sudah banyak yang berubah." Reaksi Tarno cuek
"Mana bisa begitu!. Ayah harus masuk juga. Ibu khawatir Sadewa tidak ada di dalam!' Protes istrinya marah
"Ayo!" Ucapnya garang sambil menarik tangan suaminya itu
Begitu keduanya sampai didalam, alangkah terkejutnya mereka, ketika melihat tubuh Sadewa sedang mengambang di udara, dan memancarkan belasan warna
Dibawahnya, ratusan orang berpakaian ala kerajaan jaman dulu sedang berlutut ke arah Sadewa dengan sikap hormat
Sementara di singgasana, ada seorang wanita cantik sedang duduk dengan anggunnya, yang kepalanya juga menunduk kearah Sadewa, seperti sedang memberi penghormatan padanya
"Suami ku!" Ucap Alisa ketakutan
"Kau tenanglah bu!, mungkin itu prosesi anak kita sedang dibaiat menjadi penguasa."
"Ayah lihat, seluruh orang orang ini semuanya berlutut pada anak kita. Aku yakin mereka sedang memberi penghormatan tertinggi padanya."
"Jadi kita tunggu saja sampai proses ini selesai." Jawab Tarno mencoba menenangkan hati istrinya tersebut
"Hormat kami yang mulia kaisar dewa. Semoga panjang umur!" Ucap seluruh orang orang itu secara serempak
Mendapat ucapan seperti itu, mata Sadewa terbuka dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang aula istana nya.
Disitu dia mendapati, ada ratusan petinggi istana dan kerajaannya, sedang berlutut kearahnya
Sadewa juga melihat, kedua orang tuanya sedang berdiri mematung, memandang kearahnya dengan pandangan takjub. karena dari tubuh Sadewa, keluar belasan warna yang sangat indah dan terang
Dalam penglihatan orang tuanya, tubuh Sadewa dilapisi dengan pakaian ala kerajaan istana. Di kepalanya ada mahkota berwarna kuning keemasan, sangat cocok dengan pakaian yang dikenakannya
__ADS_1
Jubah kebesarannya berkibar, dan meliuk liuk indah, seiring pergerakan tubuhnya yang masih mengambang di udara tersebut
Ketika semua dirasa cukup, dan proses pengangkatannya sebagai kaisar langit sudah selesai, Sadewa segera turun ke bawah dan menuju singgasananya