Legend Of System

Legend Of System
55. Rindu masa lalu


__ADS_3

"Ibu sudah mulai cemas, karena sejak dari subuh tadi kamu tidak ada di kamar. Ketika ibu mengetuk pintu, tidak ada jawaban sama sekali. Memangnya kemana kamu Dewa?. Apa kamu tidak memikirkan ibu dan ayahmu?"


"Semakin besar bukan semakin manja, malah semakin susah diatur. Gimana sih kamu wa?" Ibunya membombardir dirinya dengan pertanyaan yang tak memberi jeda sedikitpun pada nafasnya


Kepala Dewa puyeng begitu mendengar omelan ibunya. Tidak disangka seorang penguasa, masih juga kena marah oleh ibunya. Jangankan marah, untuk membantah pun Dewa tidak berani


Tapi dia berusaha memberi pengertian kepada ibunya dengan lemah lembut, khas anak manja, dan terkesan tidak formal


"Ibu sayang! Dewa bukan anak kecil lagi. Dewa sudah berumur lebih dari 17 tahun Dewa...


"Nah kalau gitu, bisa dong beri ibu cucu." Sanggah ibunya memotong perkataan Dewa


"Aduh ibu. Walau Dewa sudah berumur segitu. Sejujurnya Dewa belum siap bu, masih banyak yang harus Dewa lakukan untuk ayah, ibu, juga untuk semua orang di kota ini."


"Cita-cita Dewa lebih tinggi dari sekedar menikah bu lagian Dewa masih dibawah umur."


"Nanti kalau Dewa sudah siap. Dewa akan menikah dan akan memberikan ibu cucu yang banyak." Pujuk Dewa sambil memeluk ibunya penuh kasih sayang


Pada dasarnya, hati ibu Dewa itu lemah lembut, penyayang, walau sedikit cerewet. Dewa sudah hafal betul semua itu.


"Tapi janji ya beri ibu cucu yang banyak."


"Tapi ngomong-ngomong, apa kamu sudah mempunyai calon wa?" Penasaran ibunya bertanya


"Belum sih bu, masih dalam mimpi." Jawabnya enteng dan merasa tidak bersalah


"Bagaimana kalau ibu yang mencarikannya untukmu?" Ibunya mencoba membujuk Dewa untuk mau menerima gadis pilihannya


"Emangnya ibu ada kenal dengan gadis yang pantas menjadi jodohku?" Jangan saja gadis-gadis di daerah sini."


"Ya tidaklah. Beberapa minggu yang lalu, ada datang sekelompok gadis ke kota kita ini. Salah satu diantara nya sangat cantik, lembut dan baik."


"Sekali pandang saja ibu sudah suka padanya."


"Kebetulan ibu bertemu dengan mereka di pasar, saat itu mereka sedang berbelanja disana."


"Kalau ibu tak salah. Salah satunya bernama.. siapa ya? Shinta ya benar Shinta."


"Ibu rasa dia cocok dengan mu yang garang itu." Ejek ibunya sambil tersenyum


"Memang kala pertama melihat gadis yang bersikap seperti itu, sudah di anggap baik ya bu?" Tanya Sadewa pura pura, padahal hatinya bergetar kala ibunya menyebutkan sebuah nama yang selalu ada di pikirannya. Shinta


"Ya kita lihat dulu siapa orangnya. Ada kalanya orang baik kepada kita, tapi ada maunya. Begitu sudah tercapai niatnya, baru kelihatan kotornya."


"Nah. tahu pun!" Celetuk Dewa sekenanya


"Huss..kamu dengar dulu ibu bicara. Jangan memotong pembicaraan ibu!" Pamali!


"Baiklah bu. Dewa minta maaf ."

__ADS_1


Mengambil nafas sejenak, ibu Sadewa melanjutkan perkataannya


"Tapi eh.. sampai di mana tadi ya?"


"Orang baik tapi ada maunya Jawab Sadewa cepat


"Ya kamu benar!"


"Begini. Ada juga yang baik karena ingin membalas budi, tapi tidak dilandasi oleh hati yang tulus. Ada maunya juga tuh."


"Selain itu, ada yang memang benar-benar baik, tapi begitu disakiti, dia akan lebih jahat daripada harimau yang paling jahat."


"Yang keempat. Orang baik yang memang dasarnya dia baik. Walau disakiti bagaimanapun, dia akan tetap tersenyum dan akan tetap berbuat baik."


"Yang kelima orang jahat yang memang sebenarnya jahat.


"Yang ke enam. Jahat karena disakiti terus menerus. Ya akhirnya melawan juga. Semut saja kalau diganggu pasti melawan."


"Yang ke tujuh...


"Stop! stop! Jangan lanjutkan. Kepala dewa jadi puyeng bu


"Kamu nih! Mau dengar cakap orang tua atau tidak!"


Melihat ibunya merajuk. Sadewa mengambil kesempatan untuk mengajukan pertanyaan untuk memujuknya


"Ayo sudah mulai kepo ya? Ejek ibunya membalas kejahilan anaknya


"Ibu ni. Tumben hari ini lancar benar bicaranya kalau sudah membahas masalah jodoh untuk Dewa?"


Tiba tiba datang ayah Sadewa ikut nimbrung dalam percakapan santai di keluarga kecil mereka


Begitu melihat suaminya datang, ibu Sadewa semakin semangat untuk berbicara


"Ayah dengar ya! Dewa ini sudah berumur lebih dari 17 tahun."


"Terus.?"


"Dulu ketika ayah melamar ku, umur ayah malah belum 17 tahun, dan ibu baru berumur 16 tahun.Setahun kemudian baru kita nikah."


"Kalau kita bisa. Kenapa anak kita tak bisa?" Celetuk ibunya asal bicara


"Bu! Zaman kita dulu, beda dengan zaman Dewa sekarang. Di zaman kita dulu, pernikahan belum dibatasi, tapi sekarang katanya sudah dibatasi."


"Dewa kan baru berumur 17 tahun lebih, belum juga 20, jadi berilah kesempatan untuknya bersenang-senang dulu. Tunggu 3 tahun lagi, baru kita paksa dia nikah. Ya! Ucap ayah Dewa membela


Manyun wajah ibunya begitu mendengar ayah Sadewa malah membela anak bujang nya bukan istrinya


"Terserah kalian saja lah!"

__ADS_1


Rajuk ibu Sadewa sambil berlalu ke dapur, untuk membuatkan kopi bagi suaminya


Karena biasanya jam segini, suaminya senang minum kopi


Setelah istrinya pergi, ayah Sadewa memandangnya dengan wajah sedikit berkerut


"Ayah perhatikan, akhir akhir ini, dan baru ayah sadari, tubuhmu mengalami perubahan. Semakin tinggi, besar dan putih. Dan tak lupa pula lebih ganteng dari sebelumnya. Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu wa? Tanya ayahnya penasaran


Sadewa yang ditanya tiba-tiba itu tentu saja terkejut, bagaimana dia sampai lupa, untuk menyembunyikan aura tubuh kaisar penguasa 9 surga yang telah ada di badannya


"Gawat! Batin Dewa. Apa yang harus aku katakan pada ayah. Pada orang lain mungkin bisa, tapi Ini ayahku." Batinnya memberontak dan pikiran bingung


Tapi tidak mungkinlah untuknya menceritakan peristiwa sebenarnya. akan membutuhkan waktu berjam-jam juga berhari-hari


"Dewa rajin berlatih yah. Kemampuan yang Dewa miliki, telah membuat Dewa berkembang sedikit lebih cepat dari sebelumnya."


"Tapi ayah jangan khawatir ya? Dewa bisa menjaga diri Elak Dewa untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut


"Oh ya!. Hari ini Dewa ada keperluan yang harus Dewa bicarakan dengan orang-orang kita, tentang langkah pengembangan teknologi selanjutnya


"100 rencana yang telah Dewa canangkan, baru beberapa yang terlaksana. Masih ada puluhan lagi yang butuh penyelesaiannya karena masih menunggu rancangannya."


"Bolehkah Dewa pergi yah? Dewa juga sudah sarapan, takut mereka menunggu lama."


"Kalau begitu Dewa permisi ya yah. Salam untuk ibu." Ucap Dewa tanpa memberi kesempatan pada ayahnya untuk menjawab


Sambil melangkah pergi, hati Dewa membatin


"Selamat..! Selamat..! Setidaknya hari ini sampai sore nanti, aku terbebas dari desakan ibu memintaku untuk segera menikah. Tangan Sadewa mengurut ngurut dadanya pertanda lega


"Kenapa ayah biarkan anak kita pergi? Nanti lama kembalinya."


"Bu sadarlah!. Dewa sekarang tidak sama dengan Dewa dulu. Sekarang ini, dia adalah pemimpin atau penguasa wilayah pantai utara ini. Bisa dikatakan dia raja atau sultan yang memimpin suatu wilayah berdaulat. Jadi jangan kekang dia untuk bergerak Bu!"


"Sebagai pemimpin, harus bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Kita sebagai orang tua, adalah pengayom dan pemberi semangat padanya, bukan malah memaksa dia menuruti kemauan kita."


"Dia raja, maka aku raja sepuh, dan ibu adalah yang mulia ibu suri. Ha..ha..ha." Ejek suaminya bercanda dan segera berlari menghindari cubitan dari istrinya


Kelihatan benar hari ini, keluarga kecil ayah Sadewa, begitu akrab dan dekat, persis seperti dulu sebelum wilayah mereka berubah menjadi kota, dengan anak mereka sebagai pemimpinnya


Bahasa yang mereka gunakan pun cukup akrab, tidak terkesan resmi. Hal seperti inilah yang dulu dialami oleh mereka


Tapi sejak Sadewa merubah daerah kumuh pantai utara menjadi sebuah kota besar dan maju, bahasa sehari hari, juga canda mereka sudah mulai hilang secara perlahan


Hari inilah hal itu terjadi lagi


"Huh lega rasanya. Seperti ingin kembali ke masa lalu kita dulu ya yah?"


"Huss ngaco ibu ini."

__ADS_1


__ADS_2