Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 101 "Harus Menghilangkan Kemarahan"


__ADS_3

"Sialan! Manusia rendahan sepertimu berani-beraninya melayangkan serangan untukku!" Desis Hisso bangkit.


Setelah perutnya sembuh dari serangan Iloania, kini ada luka bakar parah diperutnya. Gamma bukan pengguna elemen sihir api. Dia bahkan tidak menggunakan sihir untuk menyerang Hisso, namun ada sesuatu yang istimewa tentang Gamma.


Ibunya adalah seorang saintess. Memang aneh kedengarannya untuk seorang saintess yang diberkti dewa untuk menikah. Namun kenyataannya, dirinya adalah putri seorang saintess yang pada masanya dikenal hampir diseluruh negeri.


Saintess Elliosa.


Yang mampu menghalau kejahatan dan segala keburukan.


"Aku yang seharusnya mengatakan itu. Beraninya iblis dari dunia bawah sepertimu mencampuri urusan didunia fana!" Gamma melanjutkan kata-katanya, "Kau pikir seluruh rasmu dapat bertahan setelah menakhlukan dunia manusia? Kau pikir berapa lama rajamu tersegel? Apakah disaat itu semua dewa juga tersegel?"


"Apakah mereka melemah dan kalian meremehkan Dewa?!" Lantang Gamma.


"Tutup mulutmu!" Bentakan itu Hisso lontarkan disaat dirinya tertekan.


Semua ucapan Gamma begitu masuk diakal. Tetapi tubuhnya gemetar setiap membayangkan aura Raja Iblis yang menguar diingatannya. Hisso menyeringai.


Tidak, wanita itu salah. Raja Iblis tidak pernah melemah, sama sekali.


Maniknya melirik Iloania. Bahkan dengan beberapa elemen biasa yang didapatkannya dari Iloania, kekuatan Raja Iblis tak bisa lagi dibayangkan oleh manusia biasa. Tak tahu tolak ukurnya, tetapi itu mengagumkan!


"Haha! Tutup mulutmu, sialan!"


Hisso berseru sembari berlari menuju Gamma dengan serangannya. Sulurnya meruncing dan menajam, hampir siap mengoyakkan daging bahkan siap memecahkan bebatuan.


Duag! Bugh!


"Jangan menghindar!" Hisso memperingati Gamma yang menangkis dan menghindari serangannya.


Setelah mendengar itu, Gamma memandang datar Hisso, sebelum mengangkat tangannya. Tanda dilehernya sekilas memancarkan cahaya keunguan, dan sepasang manik hijau itu menjadi lebih cerah. Ketika Gamma menurunkan tangannya dengan gerakan mengayun, dari langit meluncur tiga kristal berwarna hijau sepanjang tiga meter dan berdiameter sepuluh centimeter.


"Akhh!!"


Kristal itu langsung menembus punggung Hisso dan menancap ditanah. Disusul dengan kristal lain yang memerangkap pergerakannya.


"Kau—!!"


"Katakan dimana Raja Iblis." Kata Gamma yang tiba-tiba sudah berada dihadapannya.


Hisso berkeringat dan menatapnya sebelum menyeringai ngeri. "Carilah sampai keneraka! Bahkan kau tidak layak menyentuh my Lord barang seujung rambutnya!"


Gamma mengangkat tangannya, memunculkan bilah kristal sepanjang lima centimeter yang tajam layaknya pisau. Ia menusukkannya dangkal kedada kiri Hisso, sebelum menariknya kebawah hingga membuat luka menganga.

__ADS_1


"Arghh!" Desis Hisso kala merasakan sakit.


Hisso tertawa, "Haha! Kau mengincar jantungku? Silakan saja jika ka—!!!"


Hisso membelalakkan matanya. Kala remasan tangan Gamma terasa mencekik jantungnya. Napasnya terhenti dan maniknya melotot horor kearah Gamma. Hisso tidak mungkin berhalusinasi. Rasa terbakar dijantungnya, dan perasaan diambang kematian membuat tubuhnya gemetar. Tetapi sepasang mata hijau yang dingin itu membuatnya merasakan perasaan tertindas yang hampir menyamai kekuatan penindasan Raja Iblis.


Tidak mungkin manusia bisa melukainya hingga bisa membunuhnya!!


"Akhhh!!"


"Jadi, katakan dimana Raja Iblis." Kata Gamma memerintahkan.


Mendengar itu, Hisso mengeratkan giginya dan tersenyum miring penuh aura menantang. "Adalah kehormatan bagiku mati untuk Rajaku."


Pyash!


Ketika darah terciprat, Hisso mengejang selama sedetik sebelum terkulai dan terbakar seperti abu. Bagi iblis, senjata yang bisa membunuhnya hanyalah senjata yang telah diberkati oleh air suci. Tetapi dalam diri Gamma, sebagian mengalir kekuatan dari kesucian air suci. Bahkan tak perlu senjata, darahnya mampu menghangusbumikan iblis kelas menengah hingga bawah seperti Hisso.


Gamma menyeka tangannya dengan jijik. "Sangat menjijikkan."


Disisi lain, Eavy menoleh dengan cepat kearah Hisso dan melebarkan matanya ketika mendengar suara Hisso samar.


"Lari, Eavy !"


"A-Aku harus lari sesuai perintah kakak!" Batin Eavy.


Gadis iblis itu menarik boneka mayatnya, sebelum mengangkat tangan kanannya dan membuka portal. Dia menatap Hallias dengan tatapan membunuh, sebelum melompat masuk.


"Jangan kabur!" Hallias mencoba mengepakkan sayapnya, melemparkan serangan. Tetapi upayanya gagal saat portal telah tertutup tanpa meninggalkan jejak setitikpun.


Hening melanda. Hallias merubah dirinya kembali menjadi cahaya sebelum melesat kembali ketempat dimana Lasius berada, meninggalkan suara.


"Iblis itu telah kabur tuan."


Lasius menatap kalungnya dan mengangguk, menjaga Iloania bersandar padanya. "Terima kasih sudah membantu, Hallias."


"Ya, tuan."


"Kau anak muda! Lepaskan tanganmu dari gadis itu." Kata Gamma.


Anak perempuan yang nyatanya adalah seorang wanita tua itu menyilangkan tangan didepan dadanya dengan sikap yang penuh dengan arogansi. Tetapi Lasius yang sudah terbiasa dengan aura seperti itu, yang dirasakannya dulu dari ayahnya, justru mengeratkan dekapannya pada Iloania.


"Guru Gamma, kami perlu bantuan anda." Kata Lasius membuat Gamma mengangkat sebelah tangannya.

__ADS_1


"Ohh~ Kau sudah tahu siapa aku yang sebenarnya ya?" Kata Gamma.


Lasius membuka suara. "Dan anda sudah tahu bahwa Raja Iblis sudah dibangkitkan. Seharusnya, anda bisa menebak apa tujuan kami terutama Iloania, datang menemui anda."


"Memintaku untuk melatihnya menggunakan elemen kristalnya?" Itu pertanyaan retoris Gamma.


Gamma menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa mengajarinya."


Lasius terkejut dan mengerutkan alisnya. "Mengapa tidak?"


"Hanya tidak bisa." Jawab Gamma dengan ringannya.


Lasius mengernyit tidak suka dan segera berkata, "Sudah sejauh ini. Bagaimana anda tidak bisa menerima untuk mengajari Iloania bagaimana mengendalikan sihir kristalnya?"


"Bukankah Iloania adalah guru dari murid anda, Dexelt?"


Gamma menatap Lasius dan menyeringai. "Nampaknya kau tahu banyak hal. Tetapi, apakah mengetahui banyak hal tidak akan ada artinya jika kau tidak pernah terlibat didalamnya."


"Elemen kristalnya, hanya bisa dikuasainya, jika dia bisa melupakan segala emosi didalam hatinya."


Gamma menyentuh tepat diatas dada Iloania dan menatap Lasius. "Kau tidak bisa melihat, seberapa gelap dan seberapa besarnya kemarahan yang tersimpan didalam dadanya."


"Kemarahan adalah sesuatu yang tidak stabil. Dalam sihir, itu memang bisa meningkatkan kekuatan. Tetapi dalam penerapannya, kemarahan yang besar dapat membuatmu dikendalikan oleh sihirmua. Kehilangan kendali bahkan tidak akan bisa mengenali siapa kawan dan siapa lawan." Lanjut Gamma.


"Aku tidak akan menerimanya, sampai dia bisa melenyapkan emosinya." Kata Gamma.


Ia bangkit berdiri dan berkata sebelum berbalik melangkah pergi. "Untuk sementara kalian bisa beristirahat ditempatku. Aku akan mengobati luka kalian juga. Jadi, ikuti aku."


Lasius menatap punggung Gamma yang perlahan mengecil sebelum memandang Iloania dan tak bisa menahan membatin didalam hatinya. "Apakah dia bisa menghilangkan semua kemarahannya, jika itu menyangkut tentang gurunya?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



05/07/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux

__ADS_1


__ADS_2