
Ketika Iloania dengan tenang menikmati makanannya dan sesekali mengobrol bersama Dirima dan Zaree.
"Apakah pedang yang digunakan saat pertandingan pedang itu dibuat disini?" Tanya Iloania.
Zaree bereaksi, "Tentu saja. Tuan Topeng Bambu adalah pria tua yang menciptakan pedang-pedang dengan kualitas yang sangat luar biasa. Pedang itu tidak mudah patah, ringan, mudah diayunkan dan nyaman digunakan."
"Tuan Topeng Bambu? Nama yang lucu~" Kata Iloania.
"Itu karena dia selalu memakai topeng bambu dalam hidupnya. Entah kenapa, mungkin karena dia sangat jelek." Kata Farleon.
"Tutup mulutmu dan makan!" Kata Dirima.
Dirima meraih beberapa potong daging dan menaruhnya dipiring Iloania, "Rumor yang beredar mengatakan jika dia adalah ahli pembuat senjata yang melegenda. Tapi entah alasan apa dia memilih tinggal dikota yang terisolasi dari dunia luar ini."
"Pria tua itu selalu mengatakan jika senjata adalah diri kita sendiri. Dan sejak dulu, itu tertanam sampai sekarang. Dan orang-orang menganggap senjata adalah bagian dari tubuhnya. Itu sebenarnya bagus, tapi terlepas dari kemungkinan lainnya, sebagai Tuan Kota aku harus menjaga keamanan semua orang yang dibekali dengan senjata." Kata Dirima berkeluh kesah.
Iloania menutup bibirnya dengan tangan. Bibir itu melengkung dan nyaris menyemburkan kekehan mendengar keluhan Dirima.
Zaree menenangkan Dirima, "Tenang sayang. Yang penting mereka menggunakan senjata pada tempatnya. Seperti berburu dan memasak.
"Memasak saja!" Kata Dirima.
Telinganya menangkap jeritan dari luar rumah Dirima. Ketika ia bereaksi, ia melihat 3 orang didepannya bangkit berdiri dan dengan cepat Dirima meraih lentera dari atas meja dan menyalakannya. Membawanya berlari keluar menuju arah jeritan. Ketika jeritan berasal dari sebuah jalanan, beberapa orang juga keluar dengan entera dan obor ditangan masing-masing. Ketika melihatnya, Iloania mengernyitkan dahinya.
Didepan sana nampak beberapa bayangan hitam melayang beberapa centimeter diatas tanah dan menyerang beberapa orang. Ketika samar melihat cahaya, sosok mereka bergerak mundur perlahan, namun tak menyiratkan ketakutan.
"Tangkap mereka dan bawa ke klinik!" Dirima menyuruh orang-orang yang memegang lentera untuk melangkah maju dan menghalau bayangan.
Sementara sisanya nampak bergegas membawa lentera maju kedepan menghalau bayangan. Ketika bayangan bereaksi, hembusan angin yang sangat kuat memadamkan lentera-lentera. Membuat tempat itu dilingkupi kegelapan dan hanya ada samar cahaya bulan yang memancarkan cahaya remang.
"Ah! Lenteranya padam!"
"Gawat! Ini mati!"
"Semuanya jangan panik dan tetap tenang! Farleon, Zora, Cavita, Excav, cepat ambil pematik api!" Kata Dirima menginterupsi.
Farleon dengan larinya berlari dan kembali dalam hitungan menit. Namun selama itu pula, tak ada apapun yang didapati diluar sana. Hanya samar-samar suara orang yang saling berbisik dan sahutan suara orang bernapas dengan cemas. Namun, sama sekali tak ada suara mereka ... para bayangan.
Tidak ada disana, tidak memiliki aura keberadaan sama sekali.
"Kemana mereka pergi?"
Bahkan ketika lentera kembali menyala, hanya ada jejak kekosongan didepan mereka. Tanpa ada sisa bayangan. Iloania dibelakang kerumunan menatap dengan tatapan tenang.
Iloania menoleh kebelakang, "Dimana dia?"
...***...
__ADS_1
Farleon memongkar laci meja dan menemukan pemantik api didalam laci. Mengambilnya, Farleon hendak pergi ketika menyadari, diruangan remang cahaya itu, ada sesuatu yang nampak mengawasinya. Ketika ia berbalik, beberapa bayangan nampak melesat kearahnya. Farleon yang terkejut refleks bergerak menghindari serangan bayangan hitam itu, hingga dirinya nyaris menghantam meja.
Para bayangan itu memiliki tinggi sekitar 3 meter dengan nampak seperti memakai jubah hitam semi transparan yang pada bagian ujungnya seperti tercabik-cabik. Mata bayangan itu berwarna hijau yang menunjukkan kebencian dan perasaan buruk lainnya. Dan kuku-kuku jari kulit hitam sekelam bayangan itu tajam dan runcing. Dipastikan dapat mengoyak kulit dalam sekali tembusan.
"Ugh!" Farleon kembali menghindari serangan, dan mencoba membalas dengan melempar barang terdekat.
Namun semuanya hancur dengan tepisan bayangan. "Sialan!"
Kali ini, nampaknya Farleon kurang beruntung. Ketika ia mencoba melarikan diri dari kejaran bayangan, ia terkena serangan dipunggungnya dan membuatnya terjungkal ditanah. Mendesis! Sakit luar biasa dirasakannya dipunggungnya.
Darah dengan cepat mengotori pakaian Farleon dan anak itu mendesis kesakitan sembari mencoba bangkit.
Suara samar terdengar. Itu suara bayangan, terdengar seperti hembusan angin yang membawa ketegangan yang mencekam dan berbahaya. Ketika bayangan mencoba menyergap Farleon, sebuah cahaya memendar dan membuat bayangan itu terpental dan menabrak dinding. Farleon terkejut dan menoleh dengan cepat ketika melihat samar dinding semi transparan seolah melindunginya. Detik berikutnya dia tertegun ketika melihat Iloania tersenyum tenang kepadanya dengan cahaya keemasan memendar dari cincin dijari manisnya.
Ketika ia bergerak bangkit berdiri, Iloania memegang lengannya. "Tenang saja, kakak akan melindungimu~"
Farleon kembali tertegun. Terlebih saat keangatan melingkupi tubuhnya. Dari kaki hingga ujung kepala. Bahkan yang lebih menakjubkan, lukanya sama sekali tak terasa sakit dan bahkan telah menghilang. Menyisakan pakaiannya yang dipenuhi darah.
Gadis kecil ini adalah penyihir!
Iloania memandang kearah bayangan yang bergerak waspada kepadanya. Melangkah keluar dari dinding pelindung, Iloania mengangkat tangan kananannya dan mengeluarkan bola api berukuran kecil diujung jari telunjuknya, dan meluncurkannya dengan arah zigzag kekanan, kekiri, keatas dan kebawah sebelum menembus satu bayangan yang mencoba menepisnya. Seketika, bayangan itu terbakar menjadi abu dan lenyap.
Melihat itu Farleon terpukau sekaligus terkejut.
Bayangan lain melesat dan menggerakkan cakar liar untuk menyerang Iloania, namun Iloania bisa menghindarinya, meskipun lengannya nampak sedikit terkena goresan cakar tajam bayangan.
Iloania mengangguk, "Tidak apa."
Iloania mengangkat cincin dimensinya dan menyedot bayangan-bayangan itu kedalamnya. Bahkan, mereka tak sampai bisa mengelak. Detik berikutnya, cahaya keemasan memendar dan meliuk. Melewati celah pintu dan bergerak lembut dengan cepat, melewati pepohonan yang rimbun, melewati sungai, melewati perbukitan dan bangunan-bangunan tua dan berakhir membentuk lingkaran penuh untuk mengelilingi kota Alvatro.
Ketika lingkaran itu nampak berputar searah jarum jam layaknya roda, dari dalam tanah muncul kecambah kecil yang perlahan tumbuh membesar dan meninggi. Menumbuhkan tanaman bunga berwarna emas yang indah dan berkelopak seperti bintang.
Bunga itu memancarkan cahaya yang samar dan aroma yang sama samarnya, dan hanya yang memiliki indra penciuman yang tajam yang dapat menemukan bau harum dibunga-bunga itu.
Iloania menoleh dan menatap keluar jendela, menatap jalanan kosong disana.
"B-Bagaimana kau -" Pertanyaan Farleon tercekat ditenggorokannya.
"Hm?"
Farleon kembali menggerakkan bibirnya, "Apa kau penyihir?"
Iloania menggelengkan kepalanya, "Hanya kebetulan bisa menggunakan sihir. Aku bisa dinyatakan penyihir jika memiliki token pnyihir. Tapi aku belum."
Dan malam itu, Farleon hanya bisa merapatkan bibirnya daam kebisuan. Sementara Iloania nampak menggulung senyuman tenang dengan mata yang melengkung hangat.
...***...
__ADS_1
Ketika Iloania menapakkan kakinya melewati bangunan-bangunan tanpa suara, udara malam terasa dingin. Namun, entah mengapa memancarkan aura nyaman. Manik emasnya bergerilya dengan tenang dan menemukan sudut-sudut tempat dan bangunan yang sama sekali tak berubah.
2 tahun lamanya. Dan tempat ini belum berubah. Mungkin wajar, Iloania belum lama pergi dari kota ini setelah beberapa hari tinggal.
"Tuan Topeng Bambu." Gumamnya pelan saat maniknya menangkap sebuah bangunan yang ada seberang jalan.
Bangunan itu nampak cukup tua dan tidak terlalu besar. Diatasnya, ada sebuah papan bertuliskan "Topeng Bambu", sebuah toko senjata. Dan toko pembuatan senjata. Dengan gerakan halus, jemarinya mengetuk pintu dengan pelan.
"Siapa?"
Suara didalam menyahut. Ketika derap langkah kaki samar terdengar, Iloania telah memasang senyuman diwajah cantiknya. Terkejut!
Pria tua bertopeng bambu yang membukakan pintu nampak menegang sesaat. Manik hitam dari lubang topeng itu menatap Iloania dengan sedikit menyusut. Ketika hendak berbicara dengan keras, ia terinterupsi dengan Iloania yang menempelkan jari telunjuknya kebibirnya. Menandakan jika dirinya tidak boleh berteriak menyerukan namanya.
Pria itu menatap sekelilingnya, "Masuklah kedalam."
"Luar biasa. Ini mutiara roh air yang sangat berkualitas. Kau yakin mempercayakan barang seberharga ini padaku?" Tanya pria tua itu pada Iloania.
Iloania mengangguk, "Tentu. Tuan Topeng Bambu adalah kepercayaan paman Zaree jadi, saya percaya."
"Baiklah, dimana senjatamu?" Tanya pria tua itu.
Iloania menggerakkan pelan tangan kirinya. Cahaya memenar perlahan dan memunculkan bilah panjang bercahaya keemasan sesaat sebelum menampilkan sebuah tombak indah berwarna semi transparan seperti kaca. Tombak itu sepanjang 2 meter dengan ujung berbilah tajam. Dibawah bilah tajam terdapat 1 cincin pipih yang terjajar rapi dan nampak berputar-putar ketika tombak bergerak maupun diam. Cincin itu tidak bersentuhan dengan tongkat tombak, itu melayang sendiri.
Sebuah lonceng bulu berwarna transparan diikat dicincin itu. Ketika cincin berputar, lonceng dengan benang tipis itu ikut bergerak memutar. Dan ketika dihentakkan, itu berbunyi cukup nyaring, halus dan merdu. Tidak berisik.
Disepanjang bilah pegangan tombak, ada uliran seperti sulur daun namun berbahan sama seperti tombak yang membuat pola abstrak yang indah.
Pupil pria itu menyusut dan bereaksi, "Itu ..."
Malam perlahan-lahan menyusut. Ketika Iloania menaiki piringan hitamnya dan melewati sebuah bangunan, ia mengangkat tangan kirinya dan tersenyum dengan wajah manis.
"Sekarang aku adalah penyihir. " Gumamnya pelan.
...***...
Cahaya merambat, melewati angin dan jendela. Menembus jendela, cahaya itu berputar diatas seseorang yang tengah bergelung diatas ranjang yang hangat dengan tenang. Ketika cahaya memendar samar ditangan sosok itu, setangkai bunga bintang berwarna semi transparan tercengkram ditangannya. Menyisakan jejak mendalam dalam setangkai bunga.
Ketika terbangun, Farleon mendapati dirinya memegang erat sebuah bunga. Bunga yang akrab dan menjadi satu-satunya hal baik dalam hidupnya.
"Kak Ilo."
\=•\=•\=•\=•\=•\=•\=•\=•\=•\=
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
__ADS_1
LuminaLux