
Suasana malam semakin tenang. Perlahan-lahan mulai menyepi dan keberadaan vitalitas di pasar malam itu semakin sedikit, tetapi tidak menyurutkan cahaya yang bersinar dari kios-kios yang bahkan telah tutup. Aroma makanan manis dan bakaran menyebar diudara, membuat siapapun yang menciumnya akan kelaparan.
Iloania dan Lasius berjalan perlahan disana. Menikmati bintang dan cahaya, dengan sate manisan ditangannya, terutama Iloania yang nampak begitu menikmatinya.
"Wahh! Bintang bersinar terang malam ini. Lihat, bahkan bulan juga~" Riang Iloania.
Memandang wajah Iloania dari samping, Lasius sedikit memiringkan kepalanya kebawah dan mengulas senyuman, tak dapat menahan gumaman didalam hatinya. Mengapa Iloania bisa begitu manis?
"Kamu suka bintang?" Tanya Lasius.
Iloania mengangguk, "Aku suka semua yang ada dilangit. Aku suka awan, aku suka bintang. Aku suka bulan dan aku juga suka matahari. Jika ada kesempatan, pelangi dan aurora tidak bisa dilewatkan.
"Aurora? Dimana kamu melihatnya?" Tanya Lasius.
Yah, bukan karena apa. Namun, memang karena aurora sangat-sangat jarang ditemukan dibenua ini.
"Dikampung halamanku. Akan selalu ada aurora disetiap malam. Itu sangat indah dan kadang berkilau." Ujar Iloania mengenang.
Lasius memandangnya, namun tidak berkata apapun. Ia yakin, Iloania masih belum siap memberitahu padanya, darimana asalnya dan alasannya berkelana.
"Hey, Lasius!" Suara itu membuat Lasius menoleh dan mendapati Zalion dengan tangan bersilang menatapnya dengan kesal.
"Mengapa kau begitu buruk membiarkanku mengoceh dijalanan!" Sungut Zalion yang tengah melangkah mendekati Iloania dan Lasius.
"Yah, aku punya urusan." Balas Lasius datar.
Zalion mendapati sosok Iloania, beralih menatap Lasius aneh. "Kurasa kau selalu memiliki radar dikepalamu. Ckckck, kau-"
Ucapan Zalion berhenti seketika. Wajahnya digantikan wajah penuh keterkejutan memandang kearah Iloania. Merasakan keanehan dengan singkat, Lasius menoleh cepat dan melebarkan matanya tertegun ketika mendapati Iloania memanangnya polos. Dengan sebagian wajahnya dipenuhi darah. Ada darah mengalir dari celah bibirnya yang terbuka, mengalir kelehernya dan membasahi sebagian jubah bahkan rok dan berakhir ketanah.
"Eh?" Gumam Iloania setengah berbisik, sebelum pandangannya memburam dan ia kehilangan kesadarannya.
Menyaksikan Iloania kehilangan kesadarannya, Lasius bereaksi bahkan sebelum dia berpikir. Mengulurkan tangannya mendekap Iloania dan menyembunyikan keanehan dan pemandangan berdarah itu dari orang-orang sekitar, yang nampaknya mulai sesekali mencuri pandang keadegan yang mungkin mereka rasa romantis. Nyatanya, itu situasi buruk!
"Kenapa dengannya?!" Tanya Zalion terkejut.
Lasius segera menggendong Iloania didadanya dan berlari. Melihat itu, Zalion mengikutinya dengan rasa penasaran dan kecemasan yang ikut dirasakannya.
"Ilo, bertahanlah." Bisik Lasius sembari memandang cemas Iloania yang tak sadarkan diri saat ini.
__ADS_1
...***...
Legarion memandang adiknya yang tengah duduk diseberangnya, memasang wajah datar dan aura yang tak mengenakkan. Tersenyum lembut, Legarion membuka bibirnya. "Jangan begitu cemas Sius. Aku yakin Zeara akan memeriksa gadis itu. Sebentar lagi, dia pasti akan selesai."
Lasius hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun wajahnya datar dan seakan tak menyimpan emosi, namun sebenarnya benaknya tak bisa tenang. Sangat, sangat dan sangat cemas. Lasius tidak bisa menahannya, dan berpikir untuk menemukan Iloania diruangan periksa, sebelum tertunda ketika ketukan pintu terdengar.
Tok.. Tok..
"Masuklah." Balas Legarion, membuat seorang pria muda muncul dari balik pintu.
Pria muda itu berusia sekitar 25 tahun dan memiliki sepasang manik jingga dan rambut ungu panjang yang diikat rendah. Tatapannya tenang, dan menyapu sekitar dengan singkat.
Tanpa basa basi berkata secara langsung, "Ada yang aneh dengan tubuh gadis itu."
Lasius mengernyitkan dahinya dan memandang tajam pria itu, "Bagaimana kau menyebutnya aneh? Apa yang terjadi?"
Zeara mengabaikan Lasius dan berhenti disamping meja, mengeluarkan selembar kertas dari dalam sakunya dan meletakkannya diatas meja. Mereka berdua menyaksikan Zeara menyentuh kertas polos itu dengan ujung jari telunjuk dan jari tengahnya, hingga perlahan dan perlahan, pola samar terlihat diatasnya.
Itu adalah sebuah pola rumit berwarna merah sepekat darah. Disisi luar, nampak sebuah bentuk yang menyerupai dua burung phoeniks dan naga yang saling melilit, dan mengitari sebuah simbol bintang dengan titik tengah bergaris ujung adalah bentuk mata dan bola mata sabit. Gambar itu tidak hanya sederhana itu, ada banyak pola aneh yang melingkarinya, dan bahkan Legarion dan Lasius dibuat kebingungan dengan itu.
"Apa itu?" Tanya Legarion.
Zeara berkata dengan suram, sesuai kepribadiannya. "Ini adalah segel yang ada didalam tubuhnya. Ini sangat rumit hingga membuatku membutuhkan waktu lama untuk mrnyalinnya. Aku tidak tahu segel apa itu, namun jika kalian menemukannya, maka kalian akan tahu keadaan tubuhnya yang sebenarnya."
"Segel dalam tubuh Ilo?" Beo Lasius.
"Yah, aku akan pergi. Keadaannya saat ini sudah membaik. Meskipun sebenarnya, dia juga tidak terluka parah." Katanya kemudian berbalik pergi dengan tidak sopan.
Namun meskipun begitu, pria muda itu sebenarnya adalah Dokter terbaik diseluruh Alete bahkan mungkin Atlas. Meskipun sikapnya terbilang suram dan kurang sopan, namun jangan meremehkannya dibidang pengobatan.
"Kakak, ini ... segel apa?" Tanya Lasius.
Dalam ingatannya, Iloania memang menggunakan segel dalam tubuhnya, yang sama seperti digunakannya. Namun dia yakin bahwa segel itu berbeda dengan segel yang digunakan Iloania untuk mengumpulkan energi sihir. Lalu, segel untuk apa itu? Apakah jika segel itu hancur, akan berdampak baik atau buruk bagi Iloania?
Legarion memandang kertas itu lekat selepas meraihnya. Legarion menggelengkan kepalanya, "Kakak tidak tahu segel apa ini."
Melihat Lasius yang nampak kecewa, Legarion kembali berkata. "Tapi, mungkin kakak tahu siapa yang hebat dalam segala jenis segel. Kakak akan mengirimkan surat untuk mengundangnya kemari. Saat Iloania sadar, lebih baik untuk tidak menanyakan soal segel ini. Itu mungkin, adalah sesuatu yang tidak bisa dikatakan olehnya atau bahkan tidak diketahuinya."
Lasius menganggukkan kepalanya mengerti. Jika seseorang yang dimaksudkan kakaknya itu datang, maka ia mungkin akan tahu segel apa itu. Maka mungkin, dia bisa tahu apakah segel itu baik atau buruk.
__ADS_1
"Terima kasih kak." Katanya sembari memandang Legarion.
Legarion tersenyum dan menjawab, "Tentu saja. Aku adalah kakak laki-lakimu, sudah kewajibanku untuk membantumu."
Betapa beruntungnya memiliki seorang kakak yang bersedia membantunya dalam keadaan yang menyulitkan seperti ini.
"Ilo," suara lembut itu membangunkan Iloania dari tidurnya.
...***...
Membuka matanya dan berkedip beberapa kali, Iloania mendapati langit-langit jerami dan kayu yang begitu akrab diingatannya. Bangkit duduk, Iloania mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahinya yang berdenyut samar, untuk menyadairi bahwa sepasang lengan panjang nan rampingnya berubah menjadi lengan kecil berlapis lemak tipis dengan jemari yang lebih kecil.
Tunggu, mengapa tangannya mengecil?
Memandang seluruh tubuhnya, Iloania menyadari bahwa tubuhnya berubah menjadi anak-anak. Memandang sekelilingnya, Iloania tertegun mendapati pemandangan rumah pohonnya. Penuh buku dan bahkan aroma yang sama. Apakah dirinya sedang bermimpi?
"Ilo, kamu sudah bangun?" Mendengar suara itu, leher Iloania kaku dan tubuhnya tanpa sadar menegang.
Menolehkan kepalanya dengan gerakan kaku, Iloania melebarkan matanya ketika menyaksikan pria rupawan itu berdiri diambang pintu sembari memandangnya dengan bingung. Pria itu memiliki helaian surai merah panjang, dengan sepasang manik sewarna langit. Cerah dan berkilau sejernih air laut.
Pria itu berdiri disana, mengenakan hakama hitam yang nampak halus dan rapi ditubuhnya yang tinggi dan ramping. Secara keseluruhan, wajahnya adalah percampuran dari tampan dan cantik, hingga membentuk kesatuan rupawan.
"Ada apa denganmu? Kenapa seperti terkejut begitu?" Tanyanya sembari duduk dihadapan Iloania.
Pria itu memiringkan kepalanya, menandakan ketidakmengertiannya. Menyaksikan itu, hanya ada jejak kepolosan dimata cerahnya. Iloania memandang pria didepannya dengan tatapan tak percaya, sebelum menerjangnya dengan pelukan erat dan tangisan yang keras.
"Guru!! Hwaaaa!! Guru!!" Tangisnya.
Pria itu sedikit bingung, namun dengan lembut membalas pelukan Iloania dan menepuk punggungnya dengan pelan. Membiarkan Iloania menangis keras diperpotongan lehernya.
"Ilo, sayang .. Jangan menangis, ya? Apakah Vleia mengganggumu? Tenang, tenang. Biarkan guru menyuruhnya makan sayur." Meskipun, dia tidak tahu apa yang terjadi.
Iloania tidak tahu harus berkata apa, dan hanya membiarkan dirinya menangis lebi keras.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
23/12/2021
__ADS_1
Salam hangat,
LuminaLux