Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 47 "Kebenaran Tentang Lasius [1]


__ADS_3

Kegelapan kembali menyelimuti pandangan Lasius. Menarik napas sedalam mungkin, Lasius mencoba menenangkan dirinya. Ketika suara tawa itu menggema, Lasius menahan dirinya agar tidak terpengaruh. Lasius mencoba bertahan.


"Wanita itu pantas mati bukan?"


"Aku ingin tertawa, kematiannya benar-benar lucu."


"Rencana kita telah berhasil. Yang Mulia Raja, bagaimana langkah selanjutnya?"


"Bunuh semuanya."


Ketika Lasius membalikkan tubuhnya, gambaran seorang wanita tergeletak disebuah ruangan bersimbah darah membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Napasnya memburu, meskipun dia ingat dengan jelas bagaimana kejadian itu, melihat kembali membuat jantungnya serasa ditikam dengan pedang. Ada seorang anak lelaki berusia 12 tahun disampingnya, bermata ungu dengan surai sekelam malam.


Lasius kecil menatap kosong tubuh kaku sang wanita dan bergumam dengan pelan. "Ibunda?"


"Kenapa Ibunda berbaring dilantai? Disini dingin, kenapa Ibunda tidak menjawabku? Ibunda sakit? Ibunda tidur diranjang saja ya? Lasius sudah besar dan kuat menggendong Ibunda." Anak kecil itu dengan tertatih menggendong sang wanita keranjang luas diruangan itu, membaringkannya dengan hati-hati dan menyelimutinya.


Lasius mengeratkan giginya dan berujar dengan penuh kebencian. "Pria itu.. pria sialan itu!!"


...***...


Hari Ke Duapuluh Satu, Bulan Keempat, Musim Semi


Langit cerah dengan aroma semerbak bunga dihalaman Istana Alete. Kesibukan terasa dan terdengar, orang-orang dengan pakaian hitam putih pelayan berlalu lalang dikoridor dan halaman yang luas. Membersihkan dan mengurus tiap sudut istana yang boleh diakses.


"Pangeran, astaga! Jangan berlari-lari, Pangeran!"


Lasius kecil berlari menapaki tanah dengan wajah riang. Senyuman mengembang diwajah tampan sekaligus manisnya. Meski telah berusia 12 tahun, masih kekanakan bukan menjadi masalah baginya. "Aku ingin mengunjungi kakak, bibi. Bibi jangan mengejarku~"


"Dewa! Pangeran, tolong jangan berlari! Huu~" Wanita setengah baya itu mengejar Lasius dengan menangis tanpa air mata. Sementara yang dikejar, sudah melesat menuju Istana Barat.


Satu tangannya mengetuk pintu dengan cepat. "Kakak? Apa kakak ada didalam? Kakak?"


"Masuklah. Pintunya tidak dikunci."


Membuka pintu, Lasius menutupnya dengan back hand dan segera menghampiri seorang remaja laki-laki yang tengah duduk dibangku indah berukiran emas. Ruangan itu luas, ada ranjang tidur besar dan jendela tinggi yang berjajar rapi, menghadap pemandangan halaman dan kerajaan yang luas. Legarion de Alete, adalah kakak kandungnya. Usianya menginajk 16 tahun dan memiki penampilan yang begitu mirip dengan Raja Alete. Surainya berwarna pirang dengan manik merah yang dingin, tetapi dihadapannya. Sepasang manik merah itu hangat dan lembut.


Membalik halaman bukunya, Legarion membiarkan Lasius duduk diseberangnya dan mulai mengeluh. "Kakak, apa kakak tahu? Hari ini bibi memarahiku dua kali. Aku sangat kesal."


"Kenapa adik kakak kesal? Apa salahmu sampai kamu dimarahi?" Tanyanya.

__ADS_1


"Bibi menyuruhku menghabiskan sayuran. Aku benci sayur kak, dan setelah itu bibi memarahiku karena aku berlarian. Aku kan ingin cepat-cepat menemui kakak. Lagipula, bukankah wajar anak laki-laki untuk berlarian?" Jelas Lasius.


Legarion tertawa pelan. "Pertama, bibi benar mamarahimu soal sayuran. Makan sayuran itu penting, kenapa kamu membencinya?"


"Kedua, anak laki-laki memang boleh berlari. Tetapi jika bersama orang lain, tidak sopan untuk berlari dan meninggalkannya dibelakang. Sebagai laki-laki, harus bersikap sopan dan adil. Mengerti?" Katanya.


Lasius mengerucutkan bibirnya. "Mengerti, tapi sayuran tidak enak. Rasanya aneh."


Lasius bangkit berdiri dan berkata dengan nada kesal. "Aku akan ketempat Ibunda saja. Kakak juga menyebalkan. Huh!"


Sepeninggal Lasius, Legarion tersenyum dan menghela napas. Sebelum kegiatannya terhenti ketika sebuah bola cahaya kecil berhenti didepannya. Bibirnya mengetat, dan tangannya terkepal dengan kuat sebelum cahaya itu meredup dan menghilang tanpa sisa.


...***...


Lasius menatap sekelilingnya dengan bingung. Biasanya, Istana ibunya akan memiliki banyak penjaga dan pekerja. Tetapi kenapa rasanya sangat sepi? Apakah mereka sedang beristirahat? Tanpa banyak pikiran lagi, Lasius melangkahkan kaki kecilnya menuju pintu dengan ukiran indah diujung lorong. Mengetuknya beberapa kali, Lasius tak kunjung mendapatkan jawaban dari sang pemilik kamar.


"Ibunda?" Panggilnya.


Knock.. Knock.. Knock..


"Ibunda? Apa Ibunda ada didalam?" Tanyanya.


Penasaran, Lasius membuka pintu kamar yang ternyata tidak terkunci. Begitu Lasius masuk, pemandangan penuh darah itu membuat maniknya melebar. Seorang wanita bersurai hitam terbaring dilantai dengan luka mengerikan disekujur tubuhnya. Tangannya yang memegang pegangan pintu jatuh disisi tubuhnya dan tubuhnya menegang. Maniknya membulat sempurna dengan keterkejutan yang tidak lagi dapat digambarkan.


"Ibunda?"


"Kenapa Ibunda berbaring dilantai? Disini dingin, kenapa Ibunda tidak menjawabku? Ibunda sakit? Ibunda tidur diranjang saja ya? Lasius sudah besar dan kuat menggendong Ibunda."


Menyelesaikan kata-katanya, Lasius dengan sedikit kesulitan membawa wanita itu keatas ranjang. Menyelimutinya dan membersihkan bercak darah disekitar wajah sang Ratu menggunakan ujung lengan baju putih yang dikenakannya. Visual darah tidak membuat ekspresi dinginnya berubah, hampa dan kosong.


"Selamat tidur Ibunda, mimpi indah." Akhirnya selepas mendaratkan kecupan ringan didahi sang ibu.


...***...


Disinggasananya, Raja Yougel Marhc de Alete memandang dingin lurus kedepan. Disamping belakangnya, seseorang berjubah melaporkan dengan tenang apa yang sudah dilakukannya.


"Tugas yang anda berikan telah saya selesaikan, Yang Mulia."


"Apa kata terakhirnya?" Tanyanya.

__ADS_1


Seseorang dibelakangnya menggelengkan kepalanya yang tersembunyi dibalik jubah hitamnya. "Beliau tidak mengatakan apapun, Yang Mulia."


Senyum miring terpasang diwajah tampannya. "Wanita itu terlalu merepotkan. Dia mencoba menentangku, menolak rencanaku untuk mengadu Legarion dan Lasius, untuk menentukan siapa yang layak menjadi Putra Mahkota. Heh, sudah sepantasnya dia mati, dan dia akan diam untuk tidak menggangguku."


Ia mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya, disaat tubuh pria dibelakangnya tampak terlilit oleh akar, sebelum meledak diiringi jeritan kesakitan yang tertahan. Darah berceceran dilantai marmer, namun Raja tidak mengindahkannya dan menunjukkan senyuman kepuasan diwajahnya.


"Orang-orang bodoh itu. Seharusnya bisa lebih pintar, heh."


...***...


Kabar meninggalnya Ratu Ishabeta tersebar dengan luas. Banyak orang terpukul, mengingat bagaimana Ratu adalah orang yang baik hati dan lemah lembut. Kematiannya karena pembunuh, dan siapa yang membunuh pun akan dieksekusi pada hari itu juga, setelah tertangkap oleh penjaga kerajaan. Atau, setidaknya itulah yang mereka percaya. Pemakaman dilakukan disore hari, dibawah langit yang ikut berduka dan mengantarkan rintik air kesedihan, orang-orang berkumpul dipemakaman dengan pakaian serba hitam. Dimata semua orang, Raja benar-benar tampak terpukul dan orang-orang menghapus air mata mereka menggunakan sapu tangan.


Hanya Lasius yang menatap datar makam megah didepannya. Tak ada air mata, tidak ada emosi. Tetapi Legarion yang berada disampingnya dengan sepasang mata merah yang sembab, bahwa hati adiknya pasti tengah kacau dan dipenuhi dengan amarah yang luar biasa. Ibunda mereka adalah yang paling mereka sayangi, tetapi Lasius bahkan menyaksikan mayat Ibunya didepan matanya sendiri. Legarion bahkan tak dapat membayangkan sesakit apa dan semengerikan apa visual itu.


Berjam-jam berlalu, dua orang tersisa didepan makam penuh bunga. Legarion membawa payung hitam ditangannya, memayungi dirinya dan adiknya. Dibawah mentari yang tertutupi kelamnya awan, Lasius mengungkap pertanyaan yang membuat manik Legarion melebar.


"Pelakunya, Yang Mulia bukan?"


Legarion menatapnya tidak percaya. "Bagaimana kamu-"


"Ibunda menolak ayah yang ingin membuat kita diadu untuk menentukan siapa yang bisa mendapatkan posisi Putra Mahkota. Aku mendengarnya malam itu, tetapi, aku tidak menyangka bahwa ayah akan membunuh Ibunda."


Air matanya mengalir saat menatap sang kakak. "Kakak, aku membunuh Ibunda. Ibunda meninggal karena aku, hiks.. hiks.."


Legarion mendekap Lasius dan menggeleng. "Tidak.. Itu tidak benar. Bukan Lasius yang membuat Ibu meninggal. Bukan Lasius, jangan begini, Sius. Ibu tidak akan menyukainya."


"Nak, Ibunda minta maaf jika.. Ibunda tidak bisa menemani Rion dan Sius lagi. Ayah kalian, sudah terlalu dibutakan oleh kekuasaan. Sejak awal, ayah kalian memang tidak pernah mencintai Ibu, namun ayah kalian berharap tinggi pada kalian. Maafkan Ibunda.. meninggalkan kalian disituasi yang sulit.. Tetapi percayalah, Ibunda akan selalu ada dihati Rion dan Sius. Sebagai kakak, jaga dan lindungi Sius, Rion. Putra Ibunda tersayang."


Pada titik bola cahaya menghilang, air mata jernih meluncur melewati pipinya dan isakan keluar.


"Ibunda, Ibunda, hiks!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


15/09/2021


Jangan lupa dukungannya~

__ADS_1


Salam hangat,


LuminaLux


__ADS_2