
"Bagaimana melawan binatang iblis itu begitu menyebalkan?! " Gerutuan Iloania langsung terdengar oleh beberapa orang yang berada dekat dengan tempatnya.
Mereka memandangnya dengan kerutan dialis mereka, dan segera bersorak agar menyuruh Iloania segera menyerang dan membalas serangan binatang iblis itu. Sayangnya, sampai 20 menit yang lalu, Iloania masih betah menghindari setiap pergerakan dan serangan dari binatang iblis yang bahkan mungkin lebih pantas disebut sebagai monster itu.
"Hey, cepat serang dia!"
"Jangan hanya menghindar saja dasar binatang bodoh!"
Iloania menajamkan matanya, sepasang mata emas itu memiliki jejak dingin yang membawa gelombang menusuk.
"Mengapa mereka begitu berisik? Apakan mereka pikir menyenangkan menggunakan tubuh lemah yang penuh luka?" Batin Iloania kesal.
"Nona, apakan nona membutuhkan bantuan Irrex?" Suara Irrex terdengar dipikiran Iloania.
Iloania membalas, "Tidak perlu. Melawannya, hanya perlu sedikit kesabaran."
"Padahal saya ingin membantu. Tetapi jika anda dalam bahaya, saya akan melindungi nona meskipun anda tidak menginginkannya."
"Baiklah, baiklah. Irrex adalah yang paling menggemaskan~" Senyumnya.
Iloania kembali fokus ketika binatang iblis itu membuka rongga mulutnya, mengumpulkan energi didalam mulutnya dan bersiap melontarkannya kearah Iloania. Namun sebelum menyemburkannya, Iloania terlebih dahulu melepaskan serangan udara yang menekan kumpulan energi dimulut binatang iblis itu, dan memaksa binatang monster itu menelan kembali energi yang dikumpulkannya.
Tepat ketika bola energi itu meledak, kabut asap menyelimuti tempat itu hingga membuat penonton ricuh karenanya.
...***...
Putri Kistsune tak tahu berapa lama dia berlari, mengejar dan mengikuti tiap kelopak bunga yang berjatuhan dari langit. Putri Kitsune tidak menyaksikan hal-hal yang lain, dan hanya memanfaatkan matanya untuk berfokus pada garis yang dibentuk bunga.
"Kakak, aku disini~"
"Kakak, kami disini. Datangi kami," suara samar itu terdengar makin keras ditelinganya.
Putri Kitsune menghentikan langkahnya, ketika dihadapannya ada sebuah pohon bercahaya yang tinggi dan besar. Maniknya melebar dengan binar cahaya, ketika menyaksikan beberapa gerlap cahaya berpindar dan bergerak mengelilingi cabang-cabang dan batang pohon. Menari, dan nampak bermain.
Lasius membebaskan seorang anak dari sangkar terakhir. Banyak binatang sihir yang telah dilepaskan pula.
"Jangan khawatir, aku akan memastikan kalian aman didalam. Akan sangat sulit membawa kalian dengan keadaan seperti ini, jadi bisakah kalian bertahan beberapa waktu didalam ruang dimensi?" Tanya Lasius.
Beberapa anak saling pandang sebelum mengangguk bersusulan, "Tidak, tidak apa. Terima kasih sudah bersedia menyelamatkan kami."
Lasius mengangguk dan mengeluarkan kalung dimensinya, sebelum mengirim energi sihirnya dan memasukkan anak-anak dan binatang sihir kedalamnya. Suara gemuruh terdengar, bersamaan dengan getaran kuar yang dirasakan oleh mereka.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Gumamnya.
Hallias disampingnya menjawab, "Nampaknya array pelindung telah hancur. Kita harus segera pergi dari sini sebelum semuanya runtuh."
Lasius menoleh kebelakang dan menemukan sosok Putri Kitsune dalam tubuh Iloania menitikkan air matanya. Ditangannya, sebuah kalung penyimpanan berliontinkan permata biru terlihat berkilau.
"Ayo pergi." Ujar Lasius kala menyadari bahwa Putri Kitsune telah menemukan rakyat dan keluarganya, meskipun Lasius sendiri tak yakin bagaimana caranya Putri Kitsune menemukan mereka yang ada dibenda penyimpanan yang bukan miliknya sendiri.
Mereka berlari, melewati lorong yang mulai runtuk karena gemuruh hebat yang tak berhenti. Menggerakkan tubuh Iloania, Putri Kitsune tak bisa menahan decakan bahwa tubuh Iloania begitu ramping dan ringan hingga mudah untuk melompat, namun tetap mudah mendarat tanpa lelah. Ketika keduanya sampai diarena, orang-orang berlomba-lomba menyelamatkan diri dengan menggunakan binatang sihir dan sihir mereka masing-masing. Meski beberapa berlari karena memiliki sihir yang tak bisa digunakan untuk melarikan diri.
Kekacauan terjadi, dan kepanikan nyaris menutupi orang-orang disana.
Melihat sekelilingnya, Lasius mendapati Iloania terpatung ditengah arena tanpa bergerak. Memanggilnya, Iloania tak kunjung menyahut.
"Ilo!" Teriak Lasius.
"Iloania!!" Panggilnya lagi.
Tak kunjung mendapatkan jawaban, Lasius sedikit mengeratkan giginya. "Halias!"
Tanpa diperintah dua kali, Hallias membesarkan tubuhnya, menunduk dan membiarkan Lasius dan Putri Kitsune menumpang dipunggungnya, dan melesat menuju Iloania yang masih berdiam diri ditengah arena.
Lasius disana, menunggang Hallias dengan tubuhnya dibelakangnya, sembari mengulurkan tangannya. Tersadar akan sekelilingnya juga, Iloania tak bisa tidak menyadari bahwa reruntuhan dalam beberapa detik akan menumbuk dirinya menjadi hancur. Dengan pandangan terfokus pada Lasius, Iloania tanpa sadar mengulurkan tangannya dan dalam sedetik dibawa melayang menjauh dari tanah.
Bruaghhh!!!
Diatas kepulan debu dan kehancuran array, manik emas sewarna permata itu tak lepas dari satu objek yang membuatnya tertegun. Seseorang itu, berdiri diantaa reruntuhan. Ditemani kepulan debu dengan tatapan sepasang manik yang memandangnya dengan dingin. Sedetik kemudian, senyum darah yang berkabut terlihat diantara hujan puing bangunan bersamaan dengan gerakan bibir yang tak mengeluarkan suara sepatah katapun.
Dan sosok itu menghilang, berbarengan dengan luncuran sebuah suar cahaya yang memunculkan bentuk sayap naga berwarna kebiruan dilangit malam. Itu adalah suar yang menandakan kepada anak buahnya untuk mengurus orang-orang anggota Kelelawar Hitam itu.
"Ilo, kamu baik-baik saja?" Tanya Lasius membuat Iloania teralihkan.
Iloania sempat linglung selama dua detik sebelum menyunggingkan senyuman dan menganggukkan kepalanya, "Aku tidak apa kak Sius. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku."
Grep!
Iloania sedikit terkejut kala Lasius tanpa kata memeluknya dengan erat. Dibawah cakrawala kelam bertabur berlian dan kerlip kehidupan sang lunar, dua jantung yang berbeda berdetak, menemani perasaan dimasing-masing insan.
"Hey, bisakah kita bertukar tubuh kembali jika kalian berdua ingin menjalani adegan romantis? Bukan maksud apapun, bagaimana aku bisa merasa geli melihat dia memeluk tubuhku seperti itu. Tidak, tidak. Kembalikan tubuhku," kata Putri Kitsune memecah momen antara Iloania dan Lasius.
Mendengar itu, Iloania melepaskan pelukannya dan tersenyum. Sementara Lasius melirik suram Putri Kitsune dengan tajam. Yah, perusak suasana.
__ADS_1
Iloania mengulurkan tangan kanannya, "Ingin bertukar sekarang?"
"Yah, jangan menunda-nunda lagi." Tegas Putri Kitsune.
Iloania mengangguk, menerima balasan uluran tangan Putri Kitsune dan memejamkan matanya. Putri Kitsune merasakan aliran energi hangat mengelilingi mereka, hingga perlahan kesadarannya ditarik, untuk menyambut rasa sakit, sesak dan menyiksa yang luar biasa. Putri Kitsune tak dapat menahannya hingga pingsan setelah dua detik berada didalam tubuhnya sendiri.
Pingsannya Putri Kitsune bersamaan dengan terlihatnya sepasang manik emas Iloania. Iloania mengerjab sebanyak dua kali, sebelum tersenyum kearah Lasius yang menopang Putri Kitsune dan menatapnya dalam.
"Kamu sangat hebat," ujar Lasius.
Iloania menggeleng, "Kak Sius jauh lebih hebat."
"Kamu dan Vleia tidak kenapa-kenapa bukan? Pasti sangat sulit menghadapi binatang iblis yang kamu lawan. Maafkan aku." Kata Lasius.
"Tidak, kak Sius tidak salah apapun." Sanggah Iloania cepat.
"Kalau begitu, apa yang membawamu kemari? Disini berbahaya, bagaimana kamu bisa tahu kalau kalau ada tempat ini disini?" Tanya Lasius bertubi membuat Iloania tertawa kecil.
"Kak Sius terlalu fokus pada mereka hin tak sadar aku mengikuti kak Sius saat aku melihat kak Sius menunggang Hallias. Saat kak Sius menaiki kumbang itu, aku mengikuti kak Sius, kak Sius tidak sadar?"
Lasius tercengang, "Kapan .. kapan itu? Aku benar-benar tidak tahu kamu ada didekatku. Hah, lain kali jika melihatku sedang terlihat mencurigakan, jangan mengikutiku. Karena aku pasti akan berada ditempat berbahaya."
"Aku suka didekat kak Sius~" Ujar Iloania.
Lasius tersenyum, "Tapi, apa yang membuatmu terdiam diarena tadi? Apakah kamu begitu kelelahan?"
Iloania mendadak diam. Kehilangan senyumnya, dan memanang entah kemana. Yang pasti pula, Iloania tidak tahu, harus merasa seperti apa, melihat sepasang mata itu.
"Itu .. bukan Miaka, kan?" Batinnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
06/12/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux
__ADS_1