Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 103 "Membenci Dirinya Sendiri"


__ADS_3

"Guru Gamma yang menyembuhkanmu." Kata Lasius.


"Semalam dia datang dan mengatakan kepadaku, untuk menyampaikannya padamu." Lasius melanjutkan, "Guru Gamma memiliki urusan lain, dan tidak akan kembali, sampai kamu bisa menghilangkan amarah didalam dirimu."


Iloania terdiam. Dia tidak bisa mengucapkan apapun, hingga terjadi keheningan diantara keduanya. Lasius mengangkat wajah Iloania yang tertunduk, namun Iloania menahan tangan Lasius sembari berkata.


"Bisakah .. aku memiliki waktu sendiri sebentar saja?" Tanyanya.


Lasius menatap Iloania. Ia tahu bagaimana perasaan Iloania. Jika dia memaksa untuk menyingkirkan amarah itu, amarahnya justru bisa berubah menjadi kebencian. Kemarahan adalah hal yang paling buruk didunia. Lasius mengusap surai Iloania.


"Jika kamu membutuhkan sesuatu, aku ada didepan." Dan berlalu meninggalkan Iloania didalam kamar itu sendiri.


Iloania butuh waktu untuk merenung, dan Lasius memahami itu.


Selepas Lasius menutup pintu, Iloania mendengar suara langkah kaki menjauh dari pintu kamar yang ditempatinya. Iloania menjatuhkan dirinya ketempat tidur dan meringkuk. Menyembunyikan wajahnya dibalik lengan dan telapak tengannya. Iloania butuh waktu, untuk menerima kenyataan bahwa mungkin saja, dia akan gagal.


Dan menjadi pecundang.


Iloania tidak bila lari dari kenyataan. Iloania tidak bisa melarikan diri dari masalah. Dan bahkan, Iloania tidak bisa menghindar dari lingkaran masa lalu. Iloania selalu merasa ketakutan, selalu merasa bahwa dirinya tidak berdaya.


"Bagaimana aku bisa menghilangkan kemarahanku, jika kemarahan ini terhubung dengan diriku sendiri?" Gumam Iloania.


"Guru.."


[ Iloania POV ]


"Pokoknya Ilo yang lebih banyak menyayangi guru." Aku mengingat ucapanku segera dibantah oleh guru waktu itu. "Tentu tidak. Guru lebih menyayangi Ilo, tahu."


"Benarkah?"


Aku ingat melihat guru menganggukkan kepalanya hingga membuat rambutnya yang bergoyang samar karena gerakannya. "Tentu saja."


Aku tahu guru tidak pernah berbohong. Dia selalu menunjukkan emosinya secara langsung. Bahkan jika dia mengatakan dia menyayangiku, aku menyayangi dia sebesar dia menyayangi aku. Terkadang, aku sering bertanya-tanya, apakah guru memang sudah seperti itu sejak lahir. Bahagia ketika senang, dan kesal jika marah. Sikapnya yang terbuka membuat siapapun nyaman dan suka berada didekatnya.


Tetapi, aku ingin guru selamanya tetap menjadi dirinya sendiri.


"Hehe.." Aku tertawa kecil dan meraih tangan guru untuk kembali berjalan bersama dikeramaian yang dipenuhi dengan canda dan tawa.


Sudah tiga tahun berlalu, kan?


"Guru .. dari semua tempat yang ada didunia. Tempat mana yang menjadi kesukaan guru?" Tanyaku pada guru.

__ADS_1


Guru nampak memiringkan kepalanya berpikir sebelum menjawab pertanyaanku. "Lembah Musim Gugur."


"Tempat itu sangat indah. Seperti permadani emas, membentang dari pepohonan. Ada air terjun setinggi ratusan kaki yang memunculkan bias pelangi. Ilo tahu, hal yang unik disana adalah hanya ada musim gugur. Musim gugur disana abadi, dan selamanya hanya bisa melihat warna emas yang megah." Guru melanjutkan ucapannya, "Jika guru mati, guru bahkan sangat ingin dibaringkan ditempat itu dan mati dibawah langit biru."


"Benarkah? Mengapa guru ingin .. dimakamkan disana?" Suaraku hampir bergetar, tetapi aku berusaha sebaik mungkin menahannya.


Aku melihat manik guru menyipit, tanpa membuka topengpun aku tahu jika guru tersenyum. "Karena tempat itu akan selalu mengingatkan guru pada Ilo. Ilo tahu, pemandangan keemasan disana sama indahnya dengan sepasang manik Ilo. Bahkan dalam kematian guru, guru ingin tetap mengingat Ilo."


Itu yang guru katakan padaku dulu. Itu yang guru sampaikan padaku. Hampir membuatku terbungkam tak bersuara.


Bagaimana aku bisa melenyapkan segala amarah dalam diriku, jika aku membenci diriku sendiri?


Hari Kesembilan, Bulan Kesepuluh, Musim Gugur


"Kyaa!!"


"Penyihir hitam! Itu penyihir hitam!"


"Roh harus segera pergi. Mereka mengincar roh sihir!"


Iloania dan Delt tertarik dari suasana hening yang melanda mereka semenjak Delt selesai mengucapkan kalimat terakhirnya untuk menjawab pertanyaan Iloania. Ada suara jeritan dan kepanikan yang terjadi disana. Delt segera menyimpan jajanan yang dibawanya kecincin penyimpanan dan meminta Iloania untuk membantu mengevakuasi orang-orang yang membutuhkan perlindungan.


"Ilo, guru akan mencoba menghentikan mereka. Ilo bantu orang-orang menyelamatkan diri. Carilah Vleia dan bantu bersamanya, bisa?" Kata Delt.


Delt mengusap puncak kepala rambut Iloania sebelum berbalik pergi menuju kerumunan penyihir hitam yang menangkap roh sihir yang mencoba melawan. Iloania menatap punggung Delt sebelum berbalik dan mencari Vleia menggunakan piringan hitamnya.


"Vle!" Iloania memanggil Vleia yang tengah mendudukkan dirinya diatas cabang pohon sembari menggigit manisan apel yang ada ditusukan bambu.


"Apa?" Tanyanya.


Iloania mengerutkan keningnya dan menunjuk kerumunan orang terutama roh dan siluman yang berlarian untuk menyelamatkan diri dari penangkapan penyihir hitam. "Mereka sedang panik dan kau justru duduk tenang disini? Turun dan bantu aku!"


Vleia mendecih sebelum melahap sisa manisan apel ditangannya. Bangkit berdiri, Vleia melangkahkan kakinya diudara, sebelum berhenti dan melayang.


Ia berkata, "Kita berpencar saja."


Iloania menganggukkan kepalanya setuju. "Aku kebarat dan kamu ketimur."


Setelah menyepakati tempat dengan singkat, mereka berdua berpisah dan menuju wilayah masing-masing untuk membantu mengevakuasi pengunjung pasar malam itu.


Serangan yang entah darimana muncul dari langit dengan membabi buta. Iloania menggunakan elemen sihirnya untuk memecah serangan itu. Tetapi setelah beberapa serangan yang dilancarkannya bertabrakan dengan sihir hitam, ada perasaan aneh yang dirasakan Iloania.

__ADS_1


Blar!!


Serangan-serangan terus berdatangan, Iloania dan beberapa penyihir yang kebetulan ada disana turut menggunakan sihir mereka untuk menahan serangan yang membahayakan. Meringis, Iloania merasakan rasa panas menjalar diarea perutnya dan merambat keparu-parunya.


"Sangat mengganggu. Ternyata ada bocah yang berusaha menjadi pahlawan." Ada suara yang membuat Iloania menoleh.


Seorang berjubah hitam. Iloania melihat aura kehitaman disekitarnya dan menerka dengan cepat bahwa dia adalah salah satu dari sekelompok penyihir hitam yang mencoba mengacaukan seluruh pasar malam ini. Iloania memasang sikap waspada, terutama ketika ada dua orang lagi yang muncul didekatnya, mengepungnya.


"Apa yang kalian inginkan?" Selidik Iloania.


"Hanya menangkap mereka." Gumam seorang diantara mereka, sebelum menyeringai. "Untuk dijual tentu saja."


Iloania mengeratkan giginya kesal dengan jawaban mereka. Ia mengangkat tangannya dan memunculkan kobaran api ditangannya sebelum mengayunkannya memutar. Menyerang ketiganya dalam satu lingkup serangan.


Blarrss!!


Salah satu dari mereka mengangkat sebelah tangannya dan melancarkan serangan kepada Iloania yang segera mengangkat tangannya menciptakan barrier. Dari arah lain, Iloania mengangkat tangannya menahan serangan. Berpindah dari satu ke satu yang lain.


Tetapi, dalam sekali celah kesalahan, penyihir hitam melancarkan serangan yang membuat Iloania terkena dibagian bahunya. Gadis itu meringis sebelum mencoba menghindari serangan lain yang datang.


Crak!


Iloania membeku sembari memegangi perutnya yang terasa seperti tertusuk pisau. Rasanya menyakitkan.


Tepat ketika Iloania menyadarinya, tiga serangan langsung terarahkan padanya. Tepat saat itu, yang ada dipikira Iloania hanya ada satu hal.


Dia tahu darimana rasa sakit itu berasal.


Segelnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:



11/07/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,

__ADS_1


LuminaLux


__ADS_2