Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 50 "Pengakuan Tanpa Suara"


__ADS_3

Jissiana duduk tak dengan ekspresi tak bernyawa dibangku kantin. Wajahnya gelap dengan mata linglung yang menyiratkan syok besar. Iloania yang duduk disampingnya menggigit sendok dan menatapnya dengan jejak kebingungan. Zalion adalah yang pertama kali membuka mulutnya, menanyakan keadaan temannya itu.


"Jissiana, ada apa denganmu?" Tanya Zalion. Namun karena terlalu terlarut dengan keterkejutannya, Jissiana tidak merespon.


Zalion memandang Iloania dan Miaka. "Ada apa dengan teman kalian ini?"


Iloania mengedikan bahunya. Sementara Miaka, memberanikan dirinya membuka bibirnya. "Se-Sepertinya Jissiana terkejut ketika dia mendapatkan pernyataan cinta dari seseorang."


Brak!!


"Itu bukan pernyataan cinta!! Itu bukan pernyataan cinta, ahhh!!!" Pekik Jissiana sembari menggebrak meja.


"Jie, Jie, tenanglah. Ada apa sebenarnya, bukankah kakak itu hanya mengutarakan perasaannya kepadamu? Ah, bukankah itu romatis. Ditengah kelas yang ramai, pangeran berkuda putih datang dengan karangan bunga ditangannya. Berlutut didepanmu, dan menyatakan cinta dengan tulus dan murni. Kya, itu sangat manis. Benarkan Miaka?" Tanya Iloania.


Miaka menganggukkan kepalanya dengan pipinya memerah. "Itu-Itu memang sangat manis."


Lasius yang mendengarkan ucapan Iloania sedikit tercengang dan merenung dengan wajah datar andalannya. "Apakah Ilo memang senang dengan hal-hal manis seperti itu? Haruskah aku melakukannya juga? Tapi bagaimana jika aku ditolak? Didepan umum menolakku akan membuat Ilo dianggap buruk. Tetapi Ilo, senang dengan hal romantis. Astaga, aku tidak tahu standar keromantisan itu seperti apa..."


Jissiana memerah, bukan karena malu tetapi lebih kepada rasa kesal saat mengingat seseorang. "Ilo! Kamu tidak tahu rasanya! Ingat anak laki-laki yang aku ceritakan padamu saat kita kecil?"


"Anak laki-laki yang katanya pernah berbuat nakal kepadamu, dan justru berbalik mengejarmu? Tapi harus pindah karena masalah keluarga?" Tanya Iloania.


Jissiana mengangguk. "Dewa! Itu adalah dia!!"


"Wah, takdir cinta macam apa itu~" Kata Zalion membuat Jissiana membelalakkan matanya.


"Sudah kubilang itu bukan cinta! Atau bahkan takdir!"


"Annnaaaa!!" Teriakan panjang yang menggema dikantin itu membuat Jissiana yang tengah meneguk minuman digelas dengan marah tersedak dan menyemburkannya langsung kewajah Zalion yang langsung tercengang. Jissiana dengan panik menoleh kebelakang dan mendapati seorang pemuda kurus bertubuh setinggi dirinya. Maniknya coklat cerah dan sewarna tanah, adalah rambutnya.


"Si*lan!!" Jissiana mengutuk dan dengan cepat meloloskan diri dari antara bangku, dan berlari meninggalkan kantin.


Deltain Bart, adalah namanya. Pemuda itu terkejut dan dengan segera mengejar Jissiana. "Annaa!!! Jangan lari!! Aku hanya merindukanmu!"


Suara bergema lambat laun menghilang. Tetapi suasana kantin masih tercengang. Iloania bahkan membuka mulutnya karena tercenang. Tidak menyangka jika sahabatnya bahkan akan berlari secepat itu untuk menghindari seseorang dari masa kecilnya. Ketika seseorang tertawa, yang lain dikantin tidak bisa menahan tawa dan ikut terbahak. Mentertawakan betapa konyolnya Jissiana dan yang Deltain. Iloania menyunggingkan senyum senang, sementara Lasius disampingnya hanya tersenyum tipis.


"Kak Zalion ti-tidak apa?" Suara Miaka menyadarkan Iloania dan Lasius bahwa sebelum pergi, Lasius telah menjadi korban semburan air Jissiana.

__ADS_1


Wajah Zalion hitam dengan alis yang tertekuk. "Bocah-bocah itu!"


"Kak Zion jangan marah, jangan marah. Jissiana hanya refleks terkejut. Bagaimana jika aku bantu mengeringkannya dengan sihir anginku?" Tawar Iloania.


Zalion membuka bibirnya. "Bo-"


"Tidak perlu. Zalion adalah seorang laki-laki yang pemalu. Tidak nyaman baginya untuk dibantu seorang gadis. Jangan pikirkan dia dan lanjutkan makanmu. Kelas akan dimulai sebentar lagi." Sela Lasius.


Iloania memandang Lasius. "Entah kenapa rasanya aku tidak ingin mengikuti kelas api."


Iloania mendaratkan kepalanya diatas meja dan mengaduk makanannya. "Aku ingin bersama kak Sius saja~"


"Uhuk- Itu, membolos tidak baik. Kelas akan selesai pukul 7 malam bukan, mari melihat bintang nanti malam." Berkata dengan telinga sedikit memerah, Lasius membuat Iloania mendongak dan tersenyum cerah. Mengangguk antusias menyetujui usulan Lasius. Zalion memandang Lasius dengan kejam sebelum bangit berdiri dan berbalik pergi. Mengutuk nama Lasius dibenaknya berulang kali.


Zalion benar-benar teraniaya!


...***...


Jam makan siang telah berakhir berjam-jam yang lalu. Iloania memulai kelas sihirnya, kelas kedua, sihir api. Guru kelas sihir api seorang pria bernama Fornei Glians. Pria berusia awal 31 tahun itu memiliki manik hijau yang tajam dan surai kelabu yang berkilau. Secara sekilas, orang akan tahu bahwa pria itu adalah guru yang tegas dan tegas dalam mengajar.


"Kau keluar dari kelasku!"


"Gagal, keluar!"


"Gagal! Kembali besok!"


Suara teriakan berulang terdengar diaula kelas api tingkat pertama. Fornei benar-benar mengusir semua siswanya yang tidak bisa memuaskannya dengan keterampilan sihir api. Bagi Fornei, semua sihir api yang dilihatnya terlihat biasa dan lemah. Standar dan tidak cukup. Bahkan beberapa gadis menangis karena rasa malu dan sedih dihatinya.


Lane maju kedepan, didepan barisan penyihir muda yang hanya tinggal beberapa orang, Lane mengangkat tangannya dan bergumam pelan. "Sambaran Api."


Didepannya, ada beberapa manusia patung yang sengaja dibuat sebagai sasaran. Mereka memang tidak bergerak, sengaja hanya untuk mengetes seberapa kuat serangan, sehingga mampu merusak manusia patung yang telah dilapisi dengan sihir pelindung. Bergumam singkat, cahaya kemerahan memendar diantara kedua tangannya yang ditarik kesamping kanan dan kiri. Ledakan api meluas dari tangannya dan menyambar manusia patung itu dengan cepat. Berulang dan berulang, sampai lima kali, ketika nyala api mengecil dan hilang, sebagian besar manusia patung terbakar dan sebagian tubuhnya hilang, terutama pada tangan dan kaki.


Fornei menganggukkan kepalanya. "Cukup memuaskan. Murid pertamaku, kembali ketempatmu."


Lane tersenyum bangga dan kembali kebarisannya. "Terima kasih.


"Selanjutnya." Fornei berujar sembari menunjuk Iloania. Iloania dengan tenang berjalan kedepan. Membiarkan manusia patung yang dihancurkan ditata ulang. Seakan waktu diputar kembali. Iloania memandang cincin dijari manisnya sekilas sebelum tangan kanannya terangkat didepan dada.

__ADS_1


Ditelapak tangannya, kobaran api kecil menyala, Iloania meniupnya dan seperti aliran air, api itu bergerak indah seperti tarian naga, mengitari leher manusia patung sebelum lenyap terkena hembusan angin. Semua orang memandangnya dengan terkejut.


Hanya .. begitu?


Fornei mengerutkan alisnya dan berkata dengan kejam. "Sangat tidak memuaskan! Keluar dari kelasku dan kembali besok!"


Iloania tersenyum, melambai pada Lane dan menghilang dengan cepat dari balik pintu. Iloania berjalan selepas menoleh kebelakang dan bergumam. "Sangat menyenangkan bisa membolos. Hm, kelas 1-1 dimana ya?"


Mengikuti arahan denah bangunan Dragonia Academy yang diingatnya, Iloania melangkah kegedung sayap barat dan berhenti disamping kelas bertuliskan kelas 1-1. Tersenyum girang, Iloania melihat sekelilingnya, mengendap keluar, dan melompat kecabang pohon menggunakan piringan hitamnya. Pohon itu cukup besar, dan bersebelahan dengan kelas 1-1. Iloania mengintip dari balik pohon dengan hati-hati, dan menemukan suasana kelas yang kaku dan dingin. Ketika melihat kedepan kelas, Iloania menyaksikan wajah dingin Lasius dengan aura mengancam. Ketika nampaknya, guru wanita didepan kelas itu sedikit membuatnya tersinggung.


"Jadi Lasius, tipe perempuan seperti apa yang kamu suka?" Guru wanita itu bertanya dengan lembut, tetapi tersirat sejuta makna didalamnya. Guru itu masih muda, dan cantik. Dan Lasius membuatnya tertarik pada pandangan pertama, oh, siapa yang akan menolak wanita cantik yang telah dewasa dan berbakat sepertinya?


Wajah Lasius benar-benar jelek, tetapi ia menahannya. Kenapa wanita disampingnya ini benar-benar tidak tahu malu? Bukankah dia hanya asisten guru kelas yang tidak bisa hadir?


Maniknya yang bergulir tak sengaja menangkap sesuatu dicabang pohon. Maniknya sedikit melebar, ketika melihat senyuman manis dan lambaian tangan Iloania. Jantungnya sedikit berpacu, apakah itu halusinasinya, atau gadis itu memang membolos, untuk melihatnya dikelasnya? Lasius berkedip beberapa kali, mencoba memastikan penglihatannya. Tetapi, gadis itu tetap disana. Menggunakan dua jari telunjuknya untuk menarik masing-masing sudut bibirnya agar menjadi senyuman. Mengisyaratkannya untuk tersenyum.


Lasius benar-benar tidak bisa membantu tetapi merasa hangat dihatinya.


Tanpa menoleh, Lasius berkata dengan ringan. "Gadis yang kuat, misterius dan sempurna. Seperti seseorang yang kusuka."


Wanita itu terbeo. "Eh?"


Diluar, Iloania memiringkan kepalanya, dan bergumam dengan dirinya sendiri. "Apa yang kak Sius katakan dengan sembari melihatku, ya?"


...***...


Sementara disisi lain, seluruh orang dikelas api dibuat terkejut dengan penampakan manusia patung tanpa kepala. Bagian leher yang memisahkan kepala mereka meleleh. Forein yang melihatnya tak bisa menahan keterkejutan dan dia tercengang dalam satu kedipan.


Apakah gadis itu tadi yang melakukannya? Jika benar, apakah dia baru saja... mengusir murid berbakat nya?!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


16/09/2021


Jangan lupa dukungannya~

__ADS_1


Salam hangat,


LuminaLux


__ADS_2