Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 130 "Pertemuan Dan Ritual Pemanggilan Bencana"


__ADS_3

Pasar dikota secara alami begitu ramai seperti pasar-pasar pada umumnya. Aroma yang unik melayang diudara, tercampur dengan berbagai aroma lain. Entah itu berasal dari penjual kue labu, dari penjual ayam bakar, dari kemenyan dan bunga atau bahkan dari buruh yang berkeringat.


Hiruk piruk bahkan membuat beberapa orang awam pening, berpikir bagaimana menangani atau mencari pemecahan masalah untuk melintasi lautan manusia yang benar-benar meluap didepannya.


Namun untuk Luce, ia hampir sudah terbiasa dengan keramaian. Bahkan meskipun dia dalam bahasa kiasan terpenjara dalam sangkar perak, namun dia sebenarnya berhasil menemukan kunci rahasia yang membuatnya mampu berulang dan berulang kali meninggalkan tempat tinggalnya untuk menikmati kehidupan diluar sangkar peraknya.


"Nona, beli satenya."


"Mari beli, mari beli! Betapa murahnya dan lezatnya kue madu ini! Dapatkan untuk anak-anak anda!"


"Pedangnya begitu bagus tuan. Anda bisa menawarnya sedikit lebih tinggi."


Banyak interaksi yang terjadi di pasar. Pedagang yang menawarkan harga, dan pembeli yang menawar harga. Sebenarnya bagi Luce, pemandangan itu selalu menjadi pemandangan yang menyenangkan, karena dianggapnya sebagai sebuah pemandangan yang lucu. Ia terlalu asyik menikmati suasana hingga ia tidak berhati-hati dan menyebabkan dirinya secara tidak sengaja bersinggungan dengan seseprang. Bahunya yang tipis bertabrakan dengan lengan kokoh, dan ia sedikit meringis sebelum mendongak untuk meminta maaf kepada seseorang itu.


Tetapi ketika dua pasang manik itu bersitatap, bahkan jika itu hanya dalam hitungan detik, Luce tidak bisa tidak tertegun oleh sepasang manik hitam yang sedingin badai salju itu.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, pria berbadan tegap dan tinggi itu melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Luce yang masih tercengung.


"Tatapan itu.."


Kemudian sejurus kemudian, gadis berjubah kelabu itu berbalik. Terus melangkahkan kakinya mengikuti sosok itu, Luce berbelok ke dalam gang ketika menyadari bahwa gang itu merupakan gang buntu. Hanya ada dinging tinggi yang memisahkan dua bangunan didepannya dan ia mengerutkan keningnya.


"Kemanda dia pergi? Aku benar-benar yakin dia berbelok ke sini tadi." Gumamnya.


Tubuhnya menegang, dan sepasang maniknya melebar samar dengan ketegangan yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Ada benda dingin nan tajam yang menyapa lembut leher jenjangnya, dan penuh dengan afeksi yang berbahaya. Nafas berat dan dingin dibelakangnya menyapa pendengarannya, dan mau tak mau, Luce mengerutkan bibirnya.


"Kenapa tidak melanjutkannya?" Luce bertanya ketika seseorang dibelakangnya menjawabnya dengan suara dingin.

__ADS_1


"Pertanyaan yang sama."


Gambar diperjauh. Dua sosok itu nampak dalam posisi ambigu mereka, ditengah bayangan gang yang gelap. Namun jika memperhatikannya dengan sesama, ada tangan kokoh yang menekan sebuah belati ke leher Luce, sementara tangan gadis itu terselip diantara jubahnya, mengeluarkan sebuah pegangan pedang patah yang langsung diarahkan pada pria pria itu. Keduanya masih dalam posisi yang sama, dan pria itu kembali membuka suaranya.


"Kenapa mengikutiku?"


Luce melirik belati dilehernya. Ada ukiran indah berbentuk naga di gagang belati yang tipis dan dengan bilah tajam dan meruncing. Dengan sekali tusukan dan sayatan, belati itu bahkan mampu mengoyak bebatuan menjadi serpihan debu. Dia dengan senyuman dibibirnya menjawab dengan pertanyaan yang hampir tidak masuk akal. "Apakah kamu tahu cinta pada pandangan pertama?"


Lucu sekali.


Hanya dengan tatapan matanya, Luce merasa bahwa dia sudah menyukai seseorang dibelakangnya dalam ratusan bahkan ribuan tahun.


...***...


"Kau sudah kembali?"


Ia berkata dengan tenang, menutupi kegugupan yang selalu ia miliki didepan anak muda itu. "Ritual kutukan akan segera dimulai. Segera bersiaplah."


Sebagai penyihir hitam, Hesian jelas tahu bagaimana kegiatan sehari-hari mereka didalam tempat persembunyian mereka. Penyihir hitam, hampir semuanya selalu menyalahkan dan iri setengah mati kepada penyihir cahaya yang dapat dengan secara terang-terangan melakukan ritual mereka didepan penduduk kerajaan.


Mereka yang merupakan anggota kelompok penyihir hitam ini kebanyakan berasal dari sebuah golongan yang mendapatkan diskriminasi dari penduduk dan bahkan dari lingkungan keluarga mereka hanya karena kelebihan mereka yang dianggap sebagai suatu kutukan dan tidak dianggap lazim dikalangan masyarakat. Sebut saja contohnya sihir hitam yang dapat menghancurkan bangunan, sihir hitam untuk mengutuk, sihir hitam yang membunuh atau membusukkan dan lain sebagainya dikumpulkan dalam satu wadah.


Manik sekelam malam itu hanya memandang tidak peduli pada sang penatua dan dengan tenang melanjutkan langkahnya untuk pergi dari tempat itu.


Dalam perjalannya, seorang gadis bersurai hijau kebiruan dengan sepasang manik persik memandangnya dengan berbinar ketika keduanya berpapasan. Dengan penampilannya yang manis, ia segera memutar langkahnya dan mengapit lengan kanannya dengan lengannya dan sendiri dan memasang senyuman manis diwajahnya.


"Kak Sian, kamu darimana saja? Aku menunggumu untuk bermain bersama~"

__ADS_1


Tidak mendapatkan respon, Laisen memiringkan kepalanya, untuk tertegun ketika mendapati sepasang manik gelap itu memandangnya dengan dingin, dengan acuh menyingkirkan lengannya dan kembali melangkah.


Laisen terpaku memandang punggung tegap Hesian dan mau tak mau memiliki gumaman yang hanya bisa ia dengarkan seorang diri.


"Ada apa dengannya? Bukankah dia lebih dingin daripada biasanya?"


...***...


Aula itu dibangun dibawah tanah. Jika tidak ada penerangan berupa obor sihir disetiap sisi, aula itu gelap gulita.


Ada ribuan orang yang berada diaula itu, berkumpul mengelilingi sebuah artefak kuno yang dipajang ditengah lingkaran sihir yang digambar menggunakan darah binatang sihir tingkat menengah. Lingkaran sihir diciptakan menurut tujuan dan kegunaan masing-masing. Lingkaran sihir yang bagian dalamnya memiliki lebih dari tiga bentuk lain, bisa dipastikan adalah jenis lingkaran sihir yang paling berbahaya, dan penggunaanya harus memakan banyak waktu, sihir dan konsentrasi tinggi yang bahkan tidak boleh terganggu sedikitpun.


Seorang wanita tua dengan wajah menyeramkan, terhias oleh luka bakar melangkah tertatih dengan sebuah tongkat ditangannya. Diujung tongkat itu, tertanam sebuah batu mana berwarna hitam, dan ia berdiri disamping artefak berbentuk cawan itu. "Bertahun-tahun lamanya, pada akhirnya kita bisa menciptakan cawan sihir ini."


"Ritual Pemanggilan Bencana Abadi akan kita mulai!"


Berbeda dengan penampilannya yang tua, lemah dan gemetar, suaranya melengking dengan tajam dan hampir bisa mengoyak gendang telinga. Namun semarak terdengar menggebu ketika ia kembali melanjutkan kata-katanya. "Dalam dua bulan kedepan, tanah ini akan mengalami kehancuran, kemarau panjang, kekeringan, kematian akan menjadi pemandangan yang bisa disaksikan dan akan dirasakan oleh rakyat kerajaan terkutuk ini selamanya."


"Demi balas dendam!"


"Biarkan mereka merasakan rasanya penderitaan yang kita rasakan!!"


"Biarkan mereka merasakan!"


Kemudian, hanya ada sorakan dan pesta untuk merayakan kemenangan mereka. Sementara pemuda luar biasa tampan itu, hanya memandang kerumunan dengan dingin.


__ADS_1


__ADS_2