Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 127 "Berhadapan Dengan Musuh"


__ADS_3

Asta sedang mencari tanaman obat ketika Rema berdiri dihadapannya. Pemuda itu hampir saja tidak menyadari keberadaan Rema jika saja gadis itu tidak membuat sedikit suara langkah kaki. "Rema?"


Hanya ada keheningan yang menyapa Asta, namun pemuda itu yakin bahwa Rema, ada dihadapannya.


Dia sekali lagi memanggil. "Rema? Jawablah, aku tahu itu kamu."


"Aku minta maaf untuk yang kemarin. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk berkata seperti itu, bahwa kamu yang salah. Itu bukan salahmu, tapi memang karena salahku yang kurang hati-hati." Ucap Asta.


"Aku yang membuatmu buta."


Pernyataan itu membuat Asta terkejut dan langsung bingung. "Rema? Apa maksudmu?"


Seakan tidak mendengar pertanyaan Asta, Rema kembali berkata, "Aku juga yang sudah membunuh orangtuamu."


Asta tersenyum aneh, merasa semakin bingung dan tidak mengerti arah pembicaraan ini. Tapi, bagaimana Rema tahu bahwa orangtuanya dibunuh?


"Rema, apa yang kamu katakan? Jangan bercanda, aku tahu kamu masih marah karena kemarin. Tapi—"


"Bulan dingin waktu itu, malam yang lebih sepi dari biasanya. Kamu yang meringkuk dibalik meja, sementara orangtuamu, wanita berbaju merah dan pria berbaju abu-abu itu, yang mencoba melawan. Kamu ingat dengan jelas jeritan waktu itu."


Deg!


Perkataan Rema membuat tubuh Asta gemetar. Maniknya melebar, dan wajahnya memucat. Keringat mengalir dari pelipisnya dan meluncur di lehernya. Bibirnya gemetar ingin mengatakan sesuatu, namun dia tidak mampu untuk mengatakan apapun.


Rema mengambil semua waktu untuk berbicara. Nadanya tetap, datar, nampak tidak berperasaan dan begitu tajam. "Aku tidak pernah merasa bersalah untuk membunuh, Asta. Tetapi, hilangnya penglihatan matamu, itu bukan sesuatu yang seharusnya kamu tanggung."


Asta mengepalkan tangannya, suaranya bergetar. "Me—Mengapa kamu melakukannya?"

__ADS_1


Rema memandang Asta, menurunkan tatapannya. "Karena aku ingin. Aku ingin membunuh mereka, karena mereka menghalangi jalan kelompokku untuk menjadi yang paling atas. Mereka adalah penghambat. Mereka harus disingkir—"


Plak!


Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, sebuah tamparan keras membuat Rema terdiam. Tidak, bukan dirinya yang menampar. Bukan dirinya juga yang ditampar. Asta, pemuda itu menampar dirinya sendiri. Rema tidak paham, mungkinkah dia mencoba untuk bangun dari kenyataan yang bagai mimpi buruk baginya?


Tamparan kedua. Sekali lagi, sekali lagi, dan sekali lagi.


Suasana hening selama beberapa saat, sebelum Asta berkata, "Ibuku adalah wanita yang sangat baik. Dia mencintaiku tanpa syarat. Ayahku adalah seseorang yang kuat dan tegar. Dia tangguh, menjadi kepala keluarga yang baik dan sempurna dimata kami. Ibuku pernah berkata kepadaku, bahwa aku tidak boleh memukul seorang perempuan. Bukankah ibuku baik?"


Rema hanya bergeming. Diam dan tidak mengatakan sepatah katapun. Membiarkan Asta untuk berbicara. "Aku mencintai mereka, dan mereka mencintaiku. Mereka tidak layak mati seperti itu, dan kamu ... tidak berhak untuk mengambil nyawa mereka. Tidak, bahkan kamu juga tidak pantas mengambil nyawa orang lain."


"Kamu pikir, apa hakmu untuk mengambil nyawa orang lain? Siapa kamu? Apakah kamu dewa? Apakah kamu sang pencipta? Bisakah kamu menghidupkan mereka lagi?" Pernyataan itu beruntun.


"Katakan, apa hak yang kamu miliki untuk membunuh orang lain?!" Hingga teriakan lantang itu membuat ekspresi Rema berubah.


Jika dia hanya memiliki wajah dingin, sekarang wajahnya benar-benar sulit diartikan. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan, namun hatinya begitu sakit dan rasanya panas. Dadanya bergemuruh, dan dia tidak bisa menahan dengungan dikepalanya. "Aku berharap, kamu bisa menemukan sedikit saja rasa kemanusiaan, Rema."


Rema mengangkat tangannya, meremas bajunya. Dadanya bergemuruh dan sakit. Bibirnya sedikit terbuka, namun dia tidak mengatakan apapun. Sampai cairan bening hangat itu meluncur jatuh ke pipinya.


"Maaf."


Mirocuez memandang pemandangan yang ada disana dengan datar. Bibirnya mengungkap garis lurus. Tangannya yang bebas terangkat, mengambil tudung jubahnya dan menutup akses dunia untuk menyaksikan kecantikannya. Berbalik, ia menghilang bagai udara ditempat itu dengan gumaman samar yang tertinggal.


"Akhirnya tertangkap."


...***...

__ADS_1


Rema tidak menyangka bahwa keadaan akan seperti ini pada akhirnya.


Ketika dia kembali, untuk mengawasi Asta agar memastikannya baik-baik saja saat mencari tanaman obat, pada hari itu, Asta tidak datang. Ketika dia memeriksa, ada sebuah kertas yang tergeletak didepan rumah sewa pemuda itu. Gadis itu mengambilnya, dan membelalakkan matanya ketika menyadari bahwa surat itu berisi informasi, bahwa mereka si penulis surat, telah menculik Asta dan menyuruhnya datang ke tempat yang dimaksud.


Mungkin karena rasa bersalahnya pada pemuda itu, tentang menghilangkan penglihatannya, Rema ingin melindungi pemuda itu. Dia tidak ingin pemuda itu terluka untuk yang kesekian kalinya.


Jadi dengan informasi yang sempat dia baca sebelum kertas itu lenyap terbakar, Rema melesat secepat mungkin menuju tempat dimana pemuda itu seharusnya berada. Rema tahu bahwa mungkin itu bisa saja menjadi sebuah jebakan, namun Rema tidak peduli. Dia bisa menangani segalanya, dia bisa menangani mereka yang mencoba menyakitinya.


Ketika dia sampai, bangunan itu kosong. Tua, berdebu, gelap, berakar dan penuh dengan serangga. Suasana yang pas untuk bandit bersembunyi, karena orang-orang tentu tidak akan ada yang berani mendekat.


Maniknya menajam, menatap sekelilingnya. Kegelapan itu membuatnya hampir tidak jelas untuk melihat sesuatu, sampai sesuatu melesat kearahnya dan berusaha menyerangnya. "Grhh!"


Rema pikir sesuatu itu akan menyerangnya kembali, namun dugaannya salah. Sesuatu itu berhenti bergerak beberapa meter darinya. Pada awalnya ia nampak kecil, namun sesuatu itu bergerak dan pada akhirnya menyerupai bentuk seorang manusia. Suara dinginnya yang penuh dengan nada main-main terdengar mengapa. "Setelah kami berusaha mencari selama bertahun-tahun, hari ini adalah hari dimana kami pada akhirnya tahu siapa dalang dibalik tewasnya para pendiri."


"Penakluk Malam, ternyata hanya satu orang. Dan itu kau! Anggota lainnya hanyalah sampah, tapi kesetiaan mereka, bahkan melebihi seseorang yang dicuci otaknya." Kechexer perlahan melangkah mendekat, membiarkan Rema melihat lebih jelas tampilannya.


"Pemburu." Gumam Rema dengan suara tanpa nada. "Jadi, kalian benar menculik-nya?"


Pemuda serigala itu menyeringai. Maniknya berbahaya, dan ketika dia menyeringai, gigi taringnya yang tajam terlihat dengan mata kosong. "Dia adalah satu-satunya kelemahanmu, saat ini. Apa aku salah, Rema?"


Rema mendesis. "Tutup mulutmu!"


"Hahahahaha!!" Tawa Kechexer menggema di ruangan itu. Suaranya bergetar menyeramkan, membawa hawa tidak mengenakkan dan penuh dengan kengerian.


Manik gadis itu menajam menatap Kechexer. Rema hendak mengangkat tangannya memberi serangan, ketika Mirocuez muncul, dengan keberadaan Asta yang dalam kondisi terikat sihir disebelahnya. Melihat Asta, Rema berhenti bergerak. Tangannya yang menahan sihirnya perlahan turun dan menghilangkan sihirnya. Jika dia menyerang, besar kemungkinan bahwa Asta akan terkena serangannya.


Rema menatap Asta dan memanggilnya. "Asta."

__ADS_1



Yogyakarta, LX


__ADS_2