Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 41 "Inti Sihir Dan Firasat Gheorn"


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan Iloania, Lasius kembali menoleh dan memejamkan mata. Memfokuskan diri dengan menyelimuti tubuhnya dengan menggunakan sihir cahaya yang samar. Selang beberapa detik, rasa sakit itu perlahan menghilang sampai benar-benar menghilang tanpa jejak. Ternyata benar.


Air itu .. menolak sihir.


Tapi menggunakan energi sihirnya selama 5 sampai 8 jam tanpa henti, apakah dia bisa melakukannya? Mungkin bisa. Ah, bukan mungkin bisa. Tapi harus bisa. Atau binatang sihir dalam wujud anak kecil yang benar-benar menjengkelkan itu akan menghinanya habis-habisan.


...***...


Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah 10 jam lebih Lasius menggunakan sihirnya untuk menolak air. Wajahnya menunjukkan sedikit gurat kelelahan. Ketika energi sihirnya perlahan menyusut, rasa sakit itu menderanya kembali dan membuatnya meringis. Ketika merasakan tusukan itu terasa lebih sakit. Iloania membuka matanya dan bangkit berdiri.


"Ayo keluar kak. Kak Sius sudah selesai," kata Iloania.


"Ah, sudah selesai?" Beo Lasius sembari bangkit berdiri.


Wajah Lasius sedikit pucat. Dan Iloania menyadari itu. Ketika Lasius kembali mengenakan baju luarnya sama halnya dengan Iloania. Iloania sedikit menggunakan hawa panas dari apinya, mencampurkannya dengan sihir anginnya dan membawanya mengelilingi tubuhnya dan Lasius dengan cepat. Dan dalam hitungan menit, pakaian yang basa itu menjadi kering.


"Terima kasih," kata Lasius membuat Iloania menganggukkan kepalanya.


"Sama-sama."


"Hah~ Lihat siapa yang berhasil, yah~ Meskipun sampai pucat pasi begini."


"Ilo, aku akan menyiapkan latihan selanjutnya. Istirahatlah dan makan jangan lupa~ Aku sudah siapkan dirumah pohon."


Iloania mengangguk dan membiarkan Vleia melangkah pergi dari tempat itu sembari bergumam. "Baiklah~"


Iloania memandang Lasius dan menunjukkan senyumannya. Mengajak Lasius menuju sebuah rumah pohon yang memiliki tangga melingkar yang mengitari pohon berdiameter belasan meter itu. Keduanya naik dan Lasius tak bisa menahan keinginannya untuk segera berbaring dan mengatur napasnya, mengumpulkan energinya.


"Ini, makanlah kak. Memulihkan energi itu adalah hal wajib sebelum ketahap pelatihan kedua." Kata Iloania.


Melihat Iloania datang dengan dua buah yang bundar dan kemerahan, Lasius mengambil posisi duduk dan menerima buah yang diberikan Iloania itu, meskipun buah itu sedikit asing baginya. Manik ungunya melihat bagaimana Iloania menggigit buah itu. Menampilkan daging buah putih yang melelehkan air yang nampak legit, begitupun aromanya.


Ia menggigit buah itu, dan rasa manis yang tidak begitu manis terasa dimulutnya. Berair dan ketika melewati kerongkongannya, aliran aneh mengalir diseluruh tubuhnya. Seakan menggantikan energi sihirnya yang lalu terkuras.


"Buah apa ini?" Tanyanya.


"Vleia bilang ini dinamakan buah tidur." Kata Iloania.


"Hah?" Beo Lasius ketika mendengar keanehan dari nama buah yang dimakannya itu.


Iloania tertawa kecil, "Karena buah ini memulihkan energi, dinamakan buah tidur karena aku dan Vleia memulihkan energi dengan tidur."


Lasius mengangguk paham. Dan ketika mengalihkan tatapannya keseluruh rumah pohon itu, ia mendapati sosok Irrex bergulung diatas bantal kecil diatas meja. Nampak damai dengan sesekali telinganya bergerak kecil secara refleks.


"Dia .. Irrex kan?" Tanya Lasius membuat Iloania menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Ia melirik Irrex dan tersenyum, "Biasanya jam segini Irrex akan tidur. Bangunnya akan lama~"


"Dia belum memberitahuku berapa lama kamu bisa bertahan."


Iloania menoleh dan kembali tersenyum. "Lima hari."


"Apa?"


"Saat itu aku berhasil bertahan sampai 5 hari berendam didalam air." Kata Iloania membuat Lasius terkejut.


"Bagaimana .. bisa?" Beonya.


Iloania mengungkapkan senyuman, "Kakak pernah melihat inti hati binatang iblis dan inti binatang sihir?"


Lasius mengangguk. Tentu saja dia tahu, benda apa itu. Kedua benda itu selalu ada pada keduanya, dan merupakan sumber energi yang berbeda. Kebencian pada inti hati binatang sihir dan sihir melimpah diinti binatang sihir.


"Apa kakak pernah berpikir, menggunakan cara yang sama untuk penyihir?"


"Hn?"


Iloania menatap Lasius dan menggulung senyuman sembari menjelaskan. "Perbedaan antara kita dan mereka adalah kapasitas sihir yang bisa digunakan. Keadaan mereka adalah, mengumpulkan dan mengekstrak energi sihir mereka dalam satu titik. Memadatkannya dan menjadikannya penyimpanan energi sihir yang praktis dan efektif. Disaat energi sihir yang diedarkan ketubuh menipis, mereka menggunakan penyimpanan mereka selama mereka mengisi energi sihir mereka kembali."


"Jika mereka bisa, mengapa penyihir tidak bisa?"


"Bagaimana cara melakukannya? Membentuk inti sihir seperti itu?" Tanya Lasius.


"Mudah," jawab Iloania.


"Dengan menggunakan segel khusus yang hanya diketahui oleh beberapa orang. Aku, guru dan Vleia termasuk dalam beberapa orang itu." Lanjut Iloania.


"Apa kakak ingin mencobanya?" Tanya Iloania.


Lasius sedikit terdiam, "Apa ada efek sampingnya?"


Iloania menggeleng. "Sama sekali tidak. Segel ini permanen dan hanya bisa dihapus oleh yang memasangnya. Diawal kak Sius mungkin akan merasakan perasaan kosong didalam tubuh kak Sius, tapi saat kak Sius sudah mengisi kekosongan itu dengan energi sihir itu akan baik saja."


"Aku yakin. Gunakan padaku," ucap Lasius yakin.


"Baiklah~"


Beberapa lama kemudian Vleia datang dan melihat Iloania dan Lasius nampak mengobrol dirumah pohon. Ia memandang Lasius dengan mata tajamnya dan mengalihkannya pada Iloania.


"Kamu memasangkan segel itu?"


Iloania menganggukkan kepalanya, "Iya. Tidak apa kan?"

__ADS_1


"Yah~ Asalkan dia mau mati karena kelebihan energi sihir. Kau tahu, tubuhmu lama-lama akan membengkak karena kelebihan energi sihir dan akhirnya meledak. Kau ma-"


"Pembohong. Ilo sudah mengatakan segel ini tidak memiliki efek samping apapun." Potong Lasius.


Vleia mendecih pelan. "Cih~ Ayo kelatihan selanjutnya."


Iloania berbicara dengan riang, "Baik~"


...***...


Diluar cincin dimensi Iloania, sosok Xalien tengah duduk disofa ruang kepala sekolah. Didepannya ada perangkat teh yang terbuat dari porselen. Berisikan cairan coklat kemerahan dengan aroma bunga mawar yang harum.


"Jadi, apa yang ingin anda bicarakan?" Tanya Xalien pada pria itu.


Pria itu, Gheorn, kepala sekolah Dragonia Academy. Pria dengan helaian benang berwarna lembut dikepalanya itu menyesap teh dengan tenang sebelum meletakannya diatas meja. Sepasang manik persiknya menatap tenang kearah Xalien.


"Apa ada banyak murid yang mendaftar untuk turnamen Festival Lentera?" Tanya Gheorn.


Xalien mengangguk dan mempertahankan senyuman sopannya, "Lumayan."


Gheorn mengeluarkan gumaman tanda mengerti. Sementara Xalien sedikit menautkan alisnya.


"Ada apa?" Tanyanya.


Gheorn memandang keluar jendela kantornya dan berbicara dengan nada setenang air.


"Aku mendapatkan firasat buruk. Aku khawatir, akan terjadi sesuatu dalam turnamen Festival Lentera kali ini."


Xalien terdiam. Kepala sekolah itu selalu memiliki firasat yang selalunya tepat. Jika mereka mengatakan hal itu, artinya memang akan ada sesuatu yang mungkin buruk dikemudian hari. Xalien menggerakkan bibirnya.


"Itu .."


Ia tak bisa melanjutkan perkataannya. Bersamaan dengan Gheorn yang mengepalkan tangannya diatas lututnya. "Firasat itu, mungkin akan menjadi kejadian yang sangat panjang dan tidak menyenangkan."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update


19/07/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux

__ADS_1


__ADS_2