Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 37 "Obrolan Eleanor dan Iloania"


__ADS_3

"Nona Bell, kami akan pergi. Terima kasih bantuannya sekali lagi." Kata Jissiana mengucapkan ucapan terima kasih dan berpamitan.


Bellestine tersadar dari angan-angannya. Dan mengulas senyuman seraya menganggukkan kepalanya. Benar, itu sudah lama. Bellestine, adalah gadis misterius itu. Gadis yang kini, menjadi sukarelawan dalam menjaga binatang sihir untuk orang-orang baik seperti mereka. Lalu, seperti apa ya seseorang yang menyelamatkannya sekarang? Saat masih kecil saja sudah cantik. Bellestine yakin, ia sudah menjadi sebuah bunga bercahaya sekarang.


...***...


Disisi lain, Iloania dan Lasius masih dalam perjalanan menuju Dragonia Academy. Iloania menatap langit malam, yang sama dengan purnama yang mempesona. Iloania tak bisa menahan senyumnya.


Ia memiringkan kepalanya dengan senyuman, "Vleia, bagaimana dengan inti iblis itu ?"


"Tentu saja sudah murni. Ada apa bertanya?"


"Hanya ingin bertanya."


Iloania melirik kearah Lasius dan tersenyum tipis dimatanya ketika melihat pemuda itu fokus dan tetap waspada disekelilingnya. Mungkin khawatir dengan bayangan yang bisa muncul kapan saja?


Melihat itu, sudut bibir Iloania naik membentuk senyuman yang sama. Senyuman, ketika beberapa bayangan mencoba menyerang kota Alvatro.


"Untuk apa waspada? Huh ~" Batinnya sembari mengalihkan pandangan kembali lurus kedepan.


...***...


Jauh ditempat lain, kegelapan menyelimuti tempat itu. Itu dinding-dinding berlumut yang lembab dan basah. Namun, tak ada jejak rasa dingin disana. Melainkan hawa panas yang membuat keringat tak pernah berhenti menetes. Beberapa langkah kaki terdengar, berjalan memasuki gua. Dalam dan makin kedalam.


Cahaya menyinari gua itu. Penampakan 3 sosok pria dewasa terlihat dengan jelas. Pria yang paling didepan memimpin dengan pedang ditangan kanannya. Sementara dua orang lainnya berjalan sedikit dibelakangnya dan melirik kesekelilingnya sembari sesekali mengusap peluh yang mengalir dari dahi dan pelipis untuk mengalir sampai membasahi bagian dada depan baju mereka.


"B-Bos, a-apa benar ada harta disini?" Pertanyaan itu membuat sosok pria didepan menoleh sebentar.


"Benar. Menurut perkamen tua yang kita dapatkan dibangunan tua itu, ada harta yang berlimpah diujung gua ini. Perkamen itu mengatakan akan ada sesuatu yang bahkan bisa menguasai seluruh dunia. Aku harus mendapatkannya." Tegas sang pemimpin.


"B-Baik bos."


Ketika ketiganya melangkah lebih kedalam, mereka mendapati jalan makin mengecil. Tanpa keraguan, pemimpin berjalan masuk dan merasakan suhu dinding makin lama makin dingin. Perubahan suhu yang drastis itu membuat ketiganya sedikit terkejut dan bingung. Berpikir apakah didalam sana ada es atau apapun itu, sebelum pemimpin menginterupsi mereka untuk kembali bergerak terus.


Suhu makin dingin dan makin dingin, bahkan dua pria dibelakang pemimpin itu mengiggil kedinginan dengan selembar kain tipis yang bahkan sedikit basah oleh keringat ketika diawal gua tadi.


Namun, harapan menemukan bongkahan emas, berlian dan bebatuan roh yang kaya akan energi sihir hanya menjadi khayalan saja. Ketika hanya ada lubang gelap yang kosong dan tanpa ada apapun selain bebatuan tajam disana.


Si pemimpin meraung marah. "B*ngsek! Bagaimana bisa tidak ada apa-apa disini?! Apa perkamen itu bohong?!"


"Sialan!"


Pria berbadan kecil itu memekik kaget, "B-Bos! Di-Disana!"


Pemimpin itu mengalihkan tatapannya dan menatap kelangit-langit lubang gua itu. Ada sebongkah kristal berwarna merah dan sedikit dikelilingi cahaya kemerahan yang samar.

__ADS_1


"Apa itu?"


Memincing, ketiganya mendapati seuatu berada dalam bongkahan kristal itu. Ketika cahaya didekatkan pada bongkahan kristal, itu mulai terlihat. Seseorang, dengan posisi terbalik. Fitur wajahnya luar biasa, dengan garis dingin dan tajam. Mengenakan setelan pakaian serba hitam dan memiliki rambut perak panjang yang terjebak dalam kristal tanpa celah.


"Itu .. manusia boss!" Pekiknya.


Setelah pekikan itu, getaran terasa dari bawah gua. Ketika ketiganya kebingungan dan sedikitnya cemas, sekelompok binatang iblis muncul dari dalam tanah dan membuat mereka gemetar dalam ketakutan. Bahkan serangan yang mereka berikan tidak mempan pada binatang-binatang iblis yang terlihat mengerikan itu.


"Aarhhhhhhhh!!!!"


Dan hanya tersisa keheningan setelahnya.


...***...


Iloania berjalan disepanjang lorong asramanya dengan tenang. Itu cukup sepi, mengingat Iloania bangun lebih awal dari biasanya. Itu sudah lewat beberapa hari setelah ia mengambil tombaknya, dan saat ini ia tengah berniat mendatangi Jissiana untuk sarapan bersama.


Iloania menghentikan langkahnya didepan pintu kamar Jissiana, ketika tanpa ragu ia membukanya dan mendapati Jissiana nampak tertidur ditempat tidur, dengan sosok bayangan putih berdiri disampingnya seakan menjaga. Bibir Iloania menyunggingkan senyuman, sementara dimatanya tak ada kilatan sedikitpun. Dingin dan mungkin mengancam.


Bayangan itu sedikit mundur sebelum suara Jissiana membuat Iloania terdiam selama dua detik sebelum mengubah ekspresinya. "Ilo?"


"Ah, Jie sudah bangun? Aku datang untuk mengajak Jie sarapan~"


Jissiana menganggukkan kepalanya sembari meregangkan tubuhnya, "Agh~ Rasanya tubuhku sangat pegal dan lemas. Sepertinya efek perjalanan menggunakan pintu dimensi dan mencari Spoocy masih tersisa."


Iloania hanya menyunggingkan senyuman tipis. Menunggu Jissiana membasuh wajah, menggosok gigi dan bersama-sama keluar menuju kantin.


"Hmm~" Lenguh Iloania ketika merasakan cita rasa gurih, ringan dan hangat memendar dimulutnya.


Jissiana melirik Iloania, "Hey Ilo."


"Hm?"


"Kenapa kemarin kamu tidak ikut ke kota Neredith? Padahal disana sangat menyenangkan." Kata Jissiana.


Iloania tersenyum, membuat Jissiana memelankan langkahnya dan memincingkan matanya pada Iloania. "Ah, benar ya. Alasan kenapa aku bisa kesana karena kamu yang memberitahuku. Jadi, sudah pasti kamu sudah pernah kesana. Mengapa aku justru bertanya ya?"


"Memangnya apa?" Gumam Iloania diikuti kekehan kecil.


Iloania kembali menikmati makanannya sebelum seseorang dengan tenang mengambil bangku disamping Iloania. Melihat itu keduanya menoleh, dan Jissiana hampir tersedak ketika melihat sosok pemuda rupawan disamping Iloania. Eleanor Depetra, pemuda itu duduk manis dengan semangkuk sup dan hidangan lainnya diatas wadah kayu datar.


Iloania memandangnya dengan kepala sedikit miring. "Kak Eleanor ya?"


"Iloania, bukan?"


Jissiana mengulas senyuman kebingungan. Keduanya saling menatap dan masing-masing mengungkapkan nama dengan cara yang aneh ditelingan Jissiana. Mereka sebenarnya pertanyaan atau pernyataan retoris?!

__ADS_1


"Kak Lean sarapan ya?" Tanya Iloania.


Jissiana menatapnya datar, "Memangnya pagi-pagi kekantin dengan membawa makanan untuk apa? Makan siang atau belajar ?"


Eleanor mengangguk, "Iya. Kau sendiri, juga sarapan?"


Jissiana memilih menunduk dan melanjutkan kembali sarapannya. Cara mengobrol dua orang dihadapannya membuatnya merasa tersisih. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa keduanya berbicara seolah-olah mereka tidak tahu disaat kejelasan ada didepan mata mereka. Apakah ini yang disebut basa-basi yang terlalu basi?


"Ngomong-ngomong, sihir kakak sangat hebat. Setahuku, sihir sayap biru tidak ada yang lain diseluruh benua ini. Bukankah itu secara turun-menurun? Ngomong-ngomong, dia temanku Jissiana, kak Lean harusnya juga tahu." Tanya Iloania.


"Sepertinya." Jawaban Eleanor membuat Iloania tertawa pelan.


"Dan halo Jissiana," lanjut Eleanor membuat Jissiana mengangkat kepalanya dan menyunggingkan senyuman kaku.


"Senang bertemu denganmu." Balas Jissiana.


Eleanor menarik pandangannya dan beralih mengaduk supnya. "Aku melihatnya. Waktu itu, ketika kau mengalahkan naga disaat tes tahap ketiga."


Iloania sedikit bereaksi. "Oh? Benarkah? Bukankah kak Sius keren?"


"Aku melihatmu mengalahkannya tanpa keraguan. Sebenarnya, aku cukup tahu. Sesuatu dari perang dewa dan iblis bukan?"


"Hm?"


Eleanor menatap sepasang manik emas itu, "Sesuatu, yang tak pernah tercatat didalam sejarah. Dan hanya kau dan beberapa perkamen berusia ribuan tahun yang mengetahuinya."


Iloania diam selama beberapa detik sebelum mengembangkan senyumannya. "Wah, senang rasanya ada yang mengetahuinya. Tapi sayangnya, tidak ada yang bisa kak Lean lakukan."


"Kau juga."


"Ah, mungkin saja~" Gumam Iloania dengan satu garis senyuman dibibirnya.


Jissiana memandang keduanya dengan pandangan bingung. Seberapa keras dia berpikir, yang dibicarakan keduanya sama sekali tidak masuk keotaknya.


"Sepertinya karena aku terlalu bodoh. Hah~ "Batin Jissiana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update


16/07/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,

__ADS_1


LuminaLux💙


__ADS_2