
"Ini sudah satu minggu, bahkan yang lain sudah kembali keistana sebelum kembali ke Dragonia Academy. Apakah gadis itu belum sadar?" Legarion bertanya kepada Lasius yang sedang berdiri disampingnya.
Lasius menggeleng, "Belum. Iloania pernah berkata, dia mampu menyembuhkan kekuatannya dengan tidur. Nampaknya memindahkan jiwa sendiri ketubuh yang lain memakan banyak energi sihir."
"Memindahkan jiwa ya?" Gumam Legarion, sebelum menganggukkan kepalanya.
"Itu memang sihir kuno yang menguras begitu banyak energi. Aku pernah membacanya disebuah buku. Lalu, bagaimana dengan Putri Kitsune?" Tanya Legarion.
Lasius menjawab pertanyaan Legarion, "Dia sudah bangun sejak dua hari yang lalu. Dengan bantuan rubah lainnya, dia bisa sembuh lebih cepat. Namun Putri Kitsune itu mengatakan akan pergi setelah Iloania bangun."
Legarion menganggukkan kepalanya, "Aku mengerti."
"Tetapi, tentang gadis itu .. bagaimana menurutmu, Sius?" Tanya Legarion pada Lasius.
Lasius membalasnya dengan tegas, "Hal terbaik yang bisa didapatkan oleh pengkhianat aalah kematian tanpa siksaan."
"Izinkan aku mencarinya." Lanjutnya.
Legarion menggelengkan kepalanya, "Misi ini tidak akan kuberikan padamu. Zalion yang akan mencarinya .. Miaka Lisita, dan menangkapnya hidup-hidup."
Sedang disisi lain, Putri Kitsune duduk disamping Iloania. Iloania berbaring diranjang besar disalah satu kamar didalam istana, berselimutkan selimut emas dengan bantal sutra yang nyaman. Memandangnya dengan sepasang manik merah. Ada alasan mengapa dia belum pergi meskipun lukanya sudah hampir pulih. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan secara langsung pada Iloania, tentang sesuatu yang mengganjal dipikiran dan benaknya. Sayang sekali memang, bahwa untuk dua hari terakhir gadis yang telah membantunya ini belum juga bangun.
...***...
"Iloania."
"Iloania ... Iloania,"
Suara samar terdengar diruang hampa. Kelopak matanya terbuka, menampilkan sepasang manik emas yang berkilau ditengah cahaya yang minim. Itu Iloania, memandang sekelilingnya dengan secercah rasa penasaran dan setitik kebingungan didalamnya.
"Dimana aku?" Gumamnya.
Ia menyentuh cincinnya dan mencoba memanggil Vleia. "Vleia, dimana aku?"
Lepas memanggil, selang dua detik Iloania tak kunjung mendapat balasan dari Iloania. Iloania mengernyitkan dahinya dan mencoba memanggil kembali Vleia.
"Vleia?"
Tak hanya tak bisa berkomunikasi, Iloania menyadari bahwa dia juga tak bisa menggunakan sihirnya lagi. Iloania bangit berdiri, dan akhirnya memusatkan fokusnya pada kegelapan, hingga ia bisa melihat samar bahwa dia berada didalam sebuah gua dengan batuan gelap yang samar memberi aura rasa panas.
Mewaspadai sekelilingnya, Iloania mendengar kembali suara samar yang membuatnya terbangun.
"Iloania ... Iloania."
Deg!
Tertegun, Iloania dapat memastikan bahwa meskipun suara itu samar, namun itu adalah suara dari sang guru! Iloania tidak akan pernah salah mengenali suara itu. Mengandalkan insting dan pendengarannya, Iloania menyusuri lorong yang makin lama terasa makin panas. Ia mengusap peluhnya, dan tak berhenti menggerakkan kakinya menapak dijalan tanah yang gelap itu.
"Itu dari sini." Gumamnya sembari memandang celah didepannya.
Memaksakan tubuhnya melewati celah itu, dalam sedetik mendaratkan kakinya melewati celah, rasa dingin yang mampu membuat menggigil membuat Iloania tanpa sadar mengerutkan keningnya. Terlebih, ditempat itu ada sedikit cahaya yang samar, hingga dia bisa melihat dengan jelas bahwa ada jurang raksasa didepannya.
__ADS_1
"Iloania," suara itu samar memanggil untuk yang terakhir kalinya.
Sebab ketika Iloania mendongak, melebarkan matanya menyaksikan sesuatu, Iloania tersadar pula didunia asli.
"Hah!" Sentaknya terkejut diatas tempat tidurnya, dan turut membuat Putri Kitsune terkejut.
"Um? Dimana aku?" Tanya Iloania.
Putri Kitsune membiarkan Iloania mengambil posisi duduk dan menjawab, "Di Istana Alete. Pemuda itu bilang kau tidur ditengah perjalanan. Dan kau sudah tidur selama tujuh hari."
Iloania menganggukkan kepalanya. Sihir Penukar Jiwa, adalah sesuatu yang konon kata gurunya diciptakan oleh salah satu dewa. Gurunya mendapatkan salah satu dari beberapa gulungan yang tersebar dipenjuru dunia, ditempat berbahaya yang telah banyak memakan nyawa penyihir hebat. Untungnya, gurunya berkata mengalami beberapa luka kecil dan berhasil mendapatkan gulungan itu.
Iloania membacanya setelah gurunya mengizinkannya, dan saat melatihnya, ia langsung tertidur selama tiga bulan karena tubuhnya dan sihirnya masih begitu kecil.
Iloania memandang sedikit bingung, "Jika aku tidur selama itu. Berarti yang kulihat tadi adalah sebuah mimpi?"
"Hey, ada yang ingin kukatakan padamu."
Suara Putri Kitsune membuat Iloania tersadar dari lamunannya, "Ya?"
Putri Kitsune menundukkan kepalanya, "Untuk telah bertukar tubuh dan menyelamatkanku, aku sangat berterima kasih padamu."
"Mm, bukan masalah besar. Sebagai sesama makhluk hidup, kita wajib saling tolong menolong." Balas Iloania dengan senyuman.
Putri Kitsune mengangkat kepalanya dan bertanya, "Dan maaf. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."
"Apa itu?" Tanya Iloania.
...***...
Hari itu juga, setelah mendapatkan jawaban dari Iloania, Putri Kitsune pergi dari Istana Alete dengan kalimat perpisahannya yang berani.
"Namaku Sefora Knoxel, Putri Tunggal Suku Rubah Salju. Jika suatu saat nanti kau membutuhkan bantuanku, datang saja ke hutan kami, aku dan rakyatku akan membantu tanpa ragu, sebagai balas budi kami." Katanya kemudian pergi.
Iloania memandang rubah kecil yang mengenakan kalung permata biru dan bergumam, "Sefora. Nama yang berani."
Iloania menoleh dan tersenyum cerah kepada Lasius, "Benar kan kak?"
"Iya," jawab Lasius dengan nada melembut.
Ia akhirnya bisa melihat senyuman secerah mentari ini lagi setelah seminggu berlalu. Katakan saja bahwa Lasius berlebihan, tetapi rasanya dia lebih dan lebih kesepian dari biasanya bila Iloania tidak ada disekitarnya. Bila tak melihat senyumnya, perasaannya menjadi sangat aneh.
Iloania memunculkan kembali senyumanya.
"Mengapa lama sekali kamu tertidur?" Tanya Lasius.
Iloania menjawab, "Vleia terlalu banyak menggunakan sihir. Jadi, aku ikut kelelahan dan membutuhkan sedikit waktu untuk memulihkan energiku."
Iloania melanjutkan dengan tawanya, "Aku bahkan pernah tidur lebih lama~"
"Kak Sius tahu, aku pernah tidur diatas pohon selama tiga hari karena mengantuk. Untungnya selama tiga hari itu tidak hujan." Kata Iloania
__ADS_1
"Aku merindukanmu."
Iloania menghentikan celotehan ringannya begitu mendengar perkataan Lasius. Iloania sedikit menunduk, membiarkan wajahnya tersembunyi dari Lasius yang lekat memandangnya. Lasius bertanya-tanya, apakah dia terlalu berlebihan dan atau mengucapkan kata-kata yang salah. Namun, dua detik memikirkan itu, Lasius secepat membalik telapak tangan menyunggingkan senyuman yang cerah.
Disana, wajah Iloania memerah hingga kepangkal lehernya. Iloania yang seperti itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan dimatanya.
"Apa kamu malu?" Tanya Lasius.
Iloania menegakkan punggungnya dan menggeleng sembari menahan napas, dengan sedikit bibir menipis dan pipi menggembung kecil. "Aku tidak malu."
"Lalu kenapa wajahmu memerah?"
Iloania mengibaskan tangannya, "Sangat panas~ Lihat, mataharinya sangat terik."
Lasius tersenyum dan sedikit terkekeh. Wajahnya yang dingin mereda, dihiasi kelembutan dan cahaya yang menawan. Wajah memerah Iloania memudar, tergantikan tatapan terpukau melihat pahatan dewa sempurna didepannya. Iloania menerbitkan senyumnya dan berujar tanpa ragu.
"Kak Sius jika tersenyum sangat tampan! Aku menyukainya~" Ujarnya.
Ada keheningan selama dua detik. Mereka berdua bertatapan setelah senyuman Lasius membeku, saling memandang dan pada akhirnya memerah dan saling memalingkan wajah dengan senyum penuh warna.
...***...
"Hey, dimana Miaka?" Tanya Jissiana setelah mereka semua kembali ke Dragonia Academy.
Iloania yang duduk dihadapan mereka menjawab dengan senyuman, "Kak Lean mengatakan bahwa saat mencari batu bintang, Miaka mendapat panggilan dari keluarganya. Jadi, kak Lean mengatakan Miaka pulang kekampung halamannya."
"Benarkah? Mengapa begitu tiba-tiba, ya? Apakah itu sesuatu yang buruk?" Tanya Jissiana.
Iloania menggeleng, "Sepertinya itu mengatakan tentang sebuah perayaan wajib bagi tiap penduduk dikotanya."
Jissiana mengangguk lega, "Syukurlah jika bukan sesuatu yang buruk. Ngomong-ngomong, Festival Lentera akan diadakan sebentar lagi. Ilo, mari membeli gaun bersama. Karena Miaka mungkin belum sempat membeli, mari kita belikan dia juga."
"Lane, Kane. Ingin ikut bersama juga?" Tanya Jissiana.
Lane dan Kane saling pandang dan menganggukkan kepalanya, "Boleh. Kami akan ikut membeli gaun juga."
Jissiana mengepalkan tangannya semangat, "Baiklah! Perburuan gaun, kita mulai besok malam!"
Iloania menyunggingkan senyuman, sampai ketika yang lain tak melihatnya, Iloania perlahan menurunkan lengkungan bibirnya. Dia kembali berbohong.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
17/12/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux
__ADS_1