
Siapapun tak akan menyangka bahwa seseorang dengan wajah menyeramkan seperti itu akan meledak dengan daya ledakan yang cukup besar. Tempat ledakan itu berubah menjadi cekungan dan beberapa bangunan disekitarnya rusak parah pada bagian depannya.
Meski terlempar jauh, Iloania harus bersyukur jika dia sempat dilindungi dengan sihir pelindung. Jika tidak, Iloania berpikir bahwa tubuhnya pasti sudah cacat dan mungkin nyawanya telah melayang dengan radiusnya yang sangat dekat tadi. Iloania beangkit berdiri meskipun beberapa helai rambutnya terbakar dan pakaiannya terkena efek bakaran yang tak terlalu parah.
"Ah, bagaimana bisa seseorang itu meledak?" Gumamnya pelan.
Cincinnya menampakkan cahaya remang. "Apa? Pria tadi adalah mayat? Vleia sayang, apa kamu yakin?"
"Jangan bilang pria tadi adalah korban dari binatang iblis ini?" Ucap Iloania.
Sesaat setelah cincinnya kembali memendarkan cahaya, Iloania mengerutkan keningnya. Menghela napas, Iloania menepuk dressnya beberapa kali dan melangkahkan kaki rampingnya melalui jalanan yang amat sepi itu. Bangunan-bangunan disampingnya cukup normal untuk disebut sebagai sebuah kota. Rasa-rasanya juga tak ada yang special dari kota itu. Kecuali bagaimana hawa kematian terasa kental. Bahkan membuat Iloania sedikit bergidik ngeri dengannya.
"Ugh, kenapa semakin masuk kedalam kota ini, rasanya aroma tidak enak ini makin menyeruak?" Gumam Iloania sembari menutupi hidungnya yang kecil dan mancung itu.
Sebuah suara membuat Iloania menoleh dan mendapati seekor rubah kecil berbulu merah tengah melayang disampingnya. Iloania sedikit terkejut.
"Nona Ilo,"
Iloania menghilangkan sedikit keterkejutannya dan mengulas senyuman. "Irrex, kamu sudah terbangun?"
Irrex berjingkrak, "Benar nona~ Dan sekarang saya sangat bersemangat setelah bebas dari dalam kristal~"
"Huh, kamu merasakannya?" Tanya Iloania saat dia tiba-tiba merasakan hawa kematian mendekat kearahnya.
"Ya nona!"
Tanpa diduga, Iloania telah terjebak. Ditengah jalanan perkotaan mati, puluhan mayat hidup peledak muncul dengan wajah yang sama mengerikannya dengan pria tadi. Iloania menatap sekelilingnya dengan cemas. Dan ketika ia menatap sekelilingnya, bayangan aneh tampak dari belakang mata mereka. Seperti sesuatu yang bergerak dan samar.
"Awas nona!"
Terhanyut dalam pemikirannya, Iloania tak sadar bahwa salah satu mayat hidup peledak melompat kearahnya. Refleksnya membuatnya mengeluarkan sihir angin dan mendorong wanita itu hingga terpental cukup jauh. Namun kembali bangkit dengan ekstrem. Tubuhnya bergerak acak dan tulang-tulangnya seakan patah. Dan itu menakutkan.
"Hah!" Beo Iloania.
Mayat hidup itu berlari menerjang Iloania. Namun dengan gerakan gesit dan lincah, Iloania dan Irrex menghindari orang-orang itu tanpa gangguan atau menyentuh mereka sedikitpun. Namun Iloania tahu, ia tak bisa terus menerus menghindari mereka. Akan ada saatnya dimana mereka pasti akan meledakkan diri mereka. Lagipula, ia tak bisa terus menggunakan kekuatan binatang sihirnya. Binatang sihirnya juga perlu istirahat.
Iloania menatap sekelilingnya dan mencari celah untuk menghindar dan bersembunyi dari mereka. Ketika maniknya menangkap sesuatu yang samar bersembunyi diantara celah bangunan, Iloania terkejut dan berusaha mengejarnya.
Irrex memperingatkan Iloania yang berlari, ketika beberapa mayat hidup peledak mengikutinya. "Nona! Mereka mengejar nona! Saya akan menjaga yang ada disini!"
"Baik." Kata Iloania.
Ia berbalik dan menggunakan elemen apinya. Cahaya merah muncul ditangannya dan melengkung keangkasa. Cahaya kemerahan itu menukik dan mengelilingi tubuh orang-orang itu dan membuat mereka berhenti bergerak, saat cincin api melingkari dan menahan pergerakan mereka.
__ADS_1
Tak ingin membuang waktu, Iloania berbalik dan kembali berlari. Mencari sesuatu yang menurut firasatnya adalah dalang dari mereka.
"Dimana? Dimana tadi? " gumam Iloania.
Iloania melihatnya!
Sesuatu merayap dengan sangat cepat didinding. Iloania menggerakkan tangan kanannya dan mengeluarkan sebuah belati indah berwarna perak. Tanpa aba-aba, ia melemparkan belati itu.
Clak!
Belati itu menusuk seekor serangga berwarna hitam legam seukuran 5 centimeter. Serangga itu seperti laba-laba namun juga mirip seperti kecoa. Dengan mata berwarna merah dan cairan hijau seperti lendir yang keluar dari sela pisau dan daging yang tertusuk.
Saat itu tertusuk, suara desisan terdengar cukup nyaring. Membuat Iloania bergegas mendekatinya dan menatap serangga yang ia kira sebagai binatang iblis itu.
"Nona! Apa nona baik-baik saja?!"
Irrex datang dengan kecemasannya. Sangat mengkhawatirkan Iloania. Iloania membalas dengan senyuman lebar.
"Aku baik saja. Tapi bisakah kamu melihat auranya? Sepertinya jika hanya dia aku ragu bisa membunuh para penyihir sebanyak itu." Kata Iloania.
Irrex mengangguk, "Baik nona!"
Detik kemudian ia memejamkan mata dan membukanya secara cepat. Manik sewarna matahari terbenam itu berubah warna menjadi putih. Dipenglihatan Irrex, dari tubuh serangga itu, ada aura hitam mengelilinginya seperti rajutan benang. Dan benang yang cukup tipis itu melata dilangit dan tanah dan memanjang. Ketika ia mengikuti arah benang itu, ia melihatnya mengarah pada gedung tua.
Sebuah gedung pabrik yang terlihat cukup tua!
"Pabrik tua itu ya?" Gumam Iloania. Ia segera berlari kesana.
"Ayo pergi, Irrex!" Dengan kecepatan yang sama, Irrex berlari diudara menyusul Iloania.
...***...
Iloania dan Irrex berhenti didepan pabrik. Aura yang menguar diparik itu sangat pekat. Buruk dan sangat buruk! Iloania bahkan akan pingsan jika dia hanya orang biasa. Bukan penyihir. Iloania sudah memiliki keyakinan. Selain ingin uang, Iloania juga ingin mengurangi keberadaan binatang iblis yang meresahkan. Mereka mengganggu manusia, dan Iloania tak akan tinggal diam. Sebagai orang yang memiliki kekuatan elemen, ia wajib membantu dan menolong orang-orang.
Meski ketika ia membuka pintu dan mendapati aura mendesaknya untuk menjauh, Iloania tetap berdiri tegak dengan Irrex dibelakangnya.
"Jika kamu merasa terlalu sesak, masuklah kedalam cincin." Kata Iloania.
Irrex menggeleng. "Tidak! Saya akan mendampingi nona, apapun yang terjadi. Saya akan membantu."
Iloania tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya. "Anak pintar~"
Usapan dikepalanya membuat Irrex menjadi lebih tenang. Namun tak mengurangi sedikitpun kewaspadaannya. Maniknya tetap siaga dan auranya menguas mengelilingi Iloania dan tubuhnya. Mendeteksi apakah ada niat jahat dalam radius 3 meter lebarnya. Iloania melangkahkan kakinya memasuki pabrik yang gelap dan luas itu. Cahaya masuk melalui sela-sela tanaman rambat. Dan itu sedikit minim.
__ADS_1
Iloania menggerakkan tangannya dan menggunakan elemen apinya. Menciptakan kobaran api yang membuat ruangan itu menjadi cukup terang dari sebelumnya. Namun detik berikutnya Iloania sontak terkejut saat sesuatu yang tajam dan berjumlah banyak melesat kearahnya dengan cepat.
Itu belati yang sama seperti yang menusuknya!
Grooaaaarrr!!
Suara itu begitu memekakkan telinga. Membuat Iloania bergegas menutup kedua telinganya menggunakan kedua tangannya. Sementara Irrex menurunkan telinganya dan menggulung seperti bola.
Itu terlalu berisik dan mengganggu. Namun suara itu berbunyi terus menerus. Seakan tak ada niatan untuk berhenti.
Groooaaar!!
Roaarrrr!! Raaarrr!!!
Mencoba bertahan, Iloania mendongak dan mendapati 4 pasang mata besar berwarna merah menyala yang memancarkan kebencian. Hawa membunuh sangat terasa. Bibir makhluk itu berbentuk memanjang dan bergerigi. Runcing tanpa gigi dan jelas, itu bisa mengoyak apapun.
Air liur seperti lendir nampak mengalir disela-selanya.
Tubuhnya sangat besar dengan 8 tangan dengan 4 tangan diantaranya adalah tangan meruncing. Layaknya tombak yang sangat tajam. Dilihat dari cairan keunguan yang menetes dari ujungnya, Iloania yakin bahwa itu beracun.
Itulah yang menjadi bom peledak!
"Itu racun yang sangat gelap. Penuh dengan dendam." Gumam Iloania pelan.
Tersadar dari gumamannya, binatang iblis itu mengayunkan lengan depannya kepada Iloania dan Irrex. Ketika keduanya menghindar, cakar setajam tombak itu menebas beberapa benda digedung itu. Membuat benda yang terbuat dari besi itu terbelah dan hancur.
"Irrex, sembunyi!" Perintah Iloania membuat Irrex segera menyamarkan dirinya diantara mesin-mesin dipabrik itu.
Sama halnya dengan Iloania. Memunculkan belati, Iloania membidiknya dan melesatkannya menggunakan elemen angin yang dimilikinya kearah binatang iblis itu dengan cepat.
Clang!
Sekeras besi! Belatinya sama sekali tak bisa menembus atau melukai kulit dari binatang iblis itu.
"Dimana ... dimana kelemahannya?" Gumam Iloania dengan nada pelan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
05/05/2021
Jangan lupa beri dukungan tiap sudah membaca chapter~
__ADS_1
Makasih banyak...
@LuminaLux