
Mendengarkan lantunan melodi dari sebuah kotak musik dan piringan hitam, menghantarkan lagu menenangkan yang membuat tubuhnya yang terbaring didalam bak mandi yang berwarna merah pekat—layaknya darah, perlahan menjadi dan menjadi lebih tenang dalam suasana yang sebenarnya mencekam. Tangan kanannya terangkat, terululur meraih sebuah gelas kaca berpegangan tipis berisi cairan yang sama pekatnya, itu bisa dengan mudah ditebak. Wine.
“Berapa lama lagi kau akan membuatku menunggu? Waktuku tidak banyak, Ru.” Suaranya terdengar dingin. Gadis yang tengah berendam itu mendongakkan kepalanya kebelekang menatap gados itu dengan kepala terbalik, dan sebuah aksesoris, senyuman kematian yang membuat siapapun yang melihatnya akan tertegun sekaligus terpesona dalam kengerian.
Setidaknya, butuh keberanian besar untuk itu—menatap sepasang manik yang berkilat oleh kegilaan.
“Utara, bunuh pencuri itu, jangan sisakan sedikitpun jejak pembunuhan. Klien meminta mayat tak bersisa dan meminta kematian paling mengerikan yang bisa kamu berikan, hahahahahahaha!!!”
Rema hanya memandang dingin gadis yang tertawa kesetanan itu. Tanpa sepatah katapun, dia berbalik, melangkah pergi menjauh berbarengan dengan pintu yang perlahan tertutup, meredam suara tawa yang semakin dan semakin menggila didalam ruangan yang ada diujung lorong tua itu.
...***...
Menapakkan kakinya diatas menara tertinggi, gadis itu memandang kebawah dengan tatapan dingin. Rema nampaknya hanya memiliki dua ekspresi diwajahnya, dingin dan bersemangat ketika melihat percikan darah.
Jubah hitam yang dikenakannya menutupi baju tanpa lengannya dan celana setengah paha yang sama-sama berwarna hitam, mengungkap kulit putihnya yang pucat. Tangannya penuh, memegang masing-masing senjata runcing yang berkilat dibawah sang rembulan yang benderang dengan sempurna. Kepalanya mendongak, menyipit memandang sang rembulan dan memiringkan kepalanya. “Cahayanya benar-benar membuatku jengkel.”
Mengeluarkan suara helaan napas kecil, Rema melompat dari ketinggian gedung. Ketika dia jatuh dan mendarat, hempasan angin yang kuat meluluh lantakan radius 50 meter dari tempatnya. Benda-benda melayang, debu tanah mengepul dan orang-orang bergelimpangan, mencoba bangkit ketika tak kuat menahan gelombang yang menyapa.
__ADS_1
“Hai, senang bertemu dengan kalian.” Rema bergumam acuh, sebelum orang-orang berpakaian hitam itu mampu merespon, Rema telah berjalan dengan santai ditengah lautan badan tanpa kepala. Darah mengucur, mengacaukan jubahnya dan memercik diwajah ayunya, namun Rema mengabaikannya, benar-benar tidak terganggu dengan permasalahan kecil yang telah menjadi biasa baginya.
“Dimana tikus itu bersembunyi?” Batinnya sembari menggulir manik darahnya.
Pandangannya menyapu sekelilingnya, hingga manik itu menyapa sebuah lukisan yang nampak cukup menarik perhatiannya. Gadis itu melangkah dengan perlahan, langkahnya diatas karpet bludru menciptakan bunyi hentakan yang menggema namun tertahan. Setiap telinga yang mendengarnya pasti akan merasakan kengerian ditulang punggung mereka. Sebuah seringaian tercipta ketika dia berhasil menemukan sebuah rahasia dari lukisan itu, sebuah pintu rahasia.
Pintu itu terbuat dari bahan besi yang tampak begitu kokoh. Pembuatnya pasti memiliki kemampuan yang tinggi, hingga pintu itu tampak tak memiliki sedikitpun celah. Rema menghentikan tangannya sebalum berhasil mendekati pintu, ketika dia memiringkan kepalanya. Manik darahnya memancarkan warna yang lebih cerah, dalam sekilas, sepasang netra itu nampak seperti bara api yang melelehkan.
Ada jaring laser didepannya, tepat dipintu. Rema menghilangkan senyumnya sebelum dengan ringan mengangkat tangannya dan membuat gerakan menyapu. Dalam sekejab, laser itu menghilang layaknya partikel debu dan menghilang begitu saja seakan leser yang dapat memenggal anggota tubuh dalam sekejab itu tidak pernah ada disana sebelumnya. Tangan kanannya terulur, menyentuh pintu besi dan membukanya dengan menghancurkan kuncinya. Apakah itu nampak seperti hal yang sangat sulit? Apakah mereka bercanda?
Rema memandang mereka dengan dingin dan berkata dengan penuh ketidaksabaran. “Kalian bisa menyingkir dan membiarkanku menyingkirkan tikus itu jika kalian ingin selamat.”
Mereka saling pandang, namun tak menurunkan kewaspadaan mereka. Terlabih dengan teriakan lantang si babi—pria gemuk tadi, mereka segera berlomba-lomba untuk menyerangnya. Rema menghela napas dengan tajam dan mengangkat tangannya membentuk kurva tajam. Tubuh pria pertama yang mencoba menyerangnya mendadak melengkung. Suara tulang berderit dan patah menyebabkan pandangan ngeri dari orang-orang. Pada akhirnya, empat yang lain termasuk si babi menganga dengan ngeri memandang pria pertama yang tertekuk bersimbah darah dilantai. Matanya berbalik, dan mulutnya terbuka dengan sangat amat lebar, untuk beberapa detik mampu menjerit dengan kejam.
Bayangan kematian kejam membayangi mereka, dan tubuh mereka gemetar tanpa bisa mereka sadari. Hanya ada kengerian yang tersisa, dan mereka mundur dengan napas tertahan ketika Rema mengangkat tatapannya menuju pria gemuk yang ada dibelakang sofa, memandangnya dengan mata membelalak dan keringat yang mengucur ditubuh penuh dengan lemaknya yang bergetar ketakutan.
“Si-Siapa kau?! Apa maumu!!” Tanyanya mencoba segarang mungkin ditengah ketakutannya.
__ADS_1
Rema menyunggingkan senyuman dingin. “Kupikir kau sudah tahu. Mencuri sesuatu dari kami, tentu kau akan mendapatkan balasan yang cukup, untuk membuatmu tidak akan pernah bisa melakukannya lagi.”
Pria itu mengerang, memohon belas kasihan dari Rema yang mulai mengangkat tangannya. “A-Ampuni aku! Aku mohon ampuni aku!!”
Namun pria itu tidak tahu, bahwa dalam kamus hidup Rema, tidak pernah ada yang namanya belas kasihan. Karena kematian dan kepuasan, hanya bisa membuat Rema hidup.
...***...
Seusai menyelesaikan misinya, Rema melangkah dengan santai diantara lautan manusia dimalam ramai dikota itu. Senyumsn tersungging dibibirnya, ketika dalam sekejab dari arah hutan, muncul ledakan besar yang bahkan anginnya sampai ketempatnya berada, menunjukkan betapa dahsyatnya ledakan yang terjadi. Penampakan lautan merah yang menghanguskan bangunan tua ditengah hutan mengundang orang-orang untuk menjerit dan menatap dengan penuh kepanikan dan kecemasan, tapi tak menyembunyikan rasa penasaran yang mereka miliki diwajah mereka.
Rema bergumam, melangkah dengan riang dan diselingi tawa yang meluncur dibibirnya.
Rema, selalu meninggalkan sesuatu untuk menunjukkan betapa hebatnya dirinya.
Yogyakarta, LX
__ADS_1