
Hari Kedelapanbelas, Bulan Kedua, Musim Semi
Amore tengah duduk disebuah taman bunga bersama dengan beberapa pelayan dan Callisto yang juga dengan tenang duduk disampingnya. Beberapa penjaga nampak berjaga, menjamin keamanan sang pangeran dan sang putri dari bahaya apapun yang mengintai.
Gadis itu tengah bermain dengan karangan bunga yang dibuatnya. Sepasang maniknya yang sewarna langit memandang dengan lembut kearah bunga-bunga ditangannya, dan senyuman cerah senantiasa terpasang dibibirnya yang sewarna buah persik.
"Ketika kak Charles mengenakan mahkota kerajaan saat kak Charles dinobatkan nanti, aku juga akan memasangkan mahkota bunga khusus untuk kak Listo."
Callisto yang duduk disebelahnya menatap Amore dan menyunggingkan senyuman lembut yang penuh dengan kasih sayang. "Kak Charles akan memakai mahkota karena keberhasilannya menaiki tahta kerajaan. Aku masih menjadi pangeran, jadi, apa keberhasilan yang aku lakukan sampai pantas mendapatkan bunga dari seorang malaikat sepertimu?"
"Keberhasilan karena sudah berhasil menakhlukkan hati seorang malaikat sepertiku."
Jawaban Amore sukses membuat Callisto tergelak. Bukan tawa cemoohan, bukan tawa sarkasme. Tawanya begitu murni dan tulus, dipenuhi oleh kebahagiaan yang tidak bisa dia ungkapkan dalam kata-kata, seolah seluruh dunia sedang memeluknya sehingga kehangatan didalam hatinya menyebar dan mendongrak hingga kejiwanya. Senyuman cerah yang memendar diwajah rupawannya menunjukkan dengan jelas betapa dia sangat senang mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh sang adik.
"Kamu ini benar-benar malaikat, ya."
Amore menyeringai riang mendengar pernyataan Callisto sebelum berkata, "Soalnya aku kan benar-benar menyayangi kak Listo."
Belum sempat membuka suara lagi, ada sebuah ledakan besar yang membuat Amore menjerit ketika tanpa sadar Callisto segera mendekap Amore kedalam pelukannya. Gadis itu menutup kedua telinganya karena keterkejutan yang dia rasakan. Ledakan berasal dari sisi barat istana yang tidak jauh dari tempat Amore dan Callisto berada.
Penjaga segera memasang sikap waspada sementara pelayan segera berlutut disamping Amore dan menanyakan keadaanya dengan cemas. "Putri, putri tidak apa?"
"Astaga, ledakan apa itu barusan?"
Callisto segera memeriksa keadaan Amore. "Amore, kamu tidak apa?"
Amore dengan gerakan patah-patah mengangguk. Ia hanya terkejut karena ledakan yang terjadi, namun Amore tidak terluka dan hanya terkejut untuk beberapa waktu. Matanya memandang jauh kekerajaan dan dengan tatapan yang penuh keterkejutan dan kecemasan bertanya kepada Callisto.
"Kak, apa, apa yang baru saja terjadi? Ledakan itu berasal dari istana bukan? Bagaimana denga ayahanda dan ibunda? Bagaimana dengan kak Charles."
Callisto menggenggam tangannya dan menenangkan Amore. "Hei, tidak apa. Lihat kakak, tidak akan ada yang terjadi dengan ayahanda, ibunda dan kak Charles. Kakak akan memeriksa istana, kamu tunggulah disini bersama dengan pelayan dan penjaga."
"Aku ikut!"
Callisto dengan segera menggelengkan kepalanya. Ledakan dikerajaan berarti bahwa ada penyerangan di istana. Jika benar demikian, tempat teraman Amore sekarang adalah berada disini, sehingga Amore tidak akan terluka jika ikut ke istana.
"Tunggulah disini. Kakak berjanji akan segera kembali. Mengerti?"
Melihat tatapan Callisto, Amore mau tak mau menganggukkan kepalanya dan membiarkan Callisto berdiri ketika seorang pelayan merengkuhnya agar menjaganya tetap tenang dan aman. Callisto memerintahkan penjaga untuk melindungi Amore.
"Lindungi putri apapun yang terjadi."
Setelah menatap Amore selama beberapa detik, Callisto menggunakan sihir teleportasi dan menghilang dalam sekejab mata, meninggalkan seberkas cahaya samar yang kemudian menghilang tertiup oleh angin yang berhembus dingin dan tajam. Amore menatap kedepan dengan tatapan mata yang sulit tergambarkan. Perasaannya sangat tidak enak, dan Amore tidak pernah suka perasaan semacam itu hinggap dalam hatinya.
...***...
Ketika Callisto menginjakkan kakinya di halaman istana, ada kekacauan dan keributan yang terjadi. Bunyi dentingan pedang dan peraduan dari sihir terjadi. Prajurit kerajaannya dan prajurit asing bergelimpungan kehilangan nyawa dan terluka karena pertempuran. Maniknya melebar, dan dia menarik pedangnya sembari menoleh kesana kemari untuk mencari seseorang yang dikenalnya.
Disisi dalam halaman luas istana, sang ayah tengah mengayunkan pedangnya untuk menumbangkan musuhnya. Sementara dibalkon, sang ibunda sedang menggunakan sihirnya untuk menyembuhkan prajurit kerajaan Emerald yang terluka.
"Sial!"
Callisto tanpa kata segera turun tangan, mengayunkan pedangnya dan melawan penyusup yang menyusup kekerajaannya. Pikirannya berkelana ketika dia melihat simbol yang ada dipakaian mereka. Itu adalah simbol dari kerajaan Arbel.
__ADS_1
"Jadi Arbel berkhianat? Bukankah ayahanda sudah menjanjikan mereka perlindungan dan bahkan kedua kerajaan sudah bekerjasama? Mengapa kerajaan Arbel justru mengkhianati kerajaan Emerald dan melakukan penyerangan?!"
Callisto sibuk mengayunkan pedangnya ketika dia dengan gerakan yang tegas menebas musuh didepannya.
...***...
Langkah kakinya terseok ketika Amore berlari menuju istana. Ia menatap kebelakang dengan penuh ketakutan dan kecemasan. Amore tidak peduli apa yang diinjaknya, entah bebatuan tajam ataupun ranting tajam, Amore hanya ingin segera mencari bantuan.
Beberapa waktu setelah Callisto pergi, Amore masih menunggu bersama dengan pelayan dan penjaganya. Namun disaat dia tengah menunggu, satu persatu penjaganya tumbang dengan darah yang mengalir dari lubang dikepala dan tubuh mereka. Amore menjerit ketakutan dan berlari bersama pelayannya, namun semua pelayan dan penjaganya terluka. Amore terus berlari karena permintaan mereka untuk mencari bantuan dan untuk melindungi dirinya sendiri.
Bergerak memasuki gerbang, manik Amore membelalak ketika mendapati pertempuran yang membuat tubuhnya bergidik dan gemetar karena ketakutan. Maniknya menatap dengan penuh keterkejutan dan getaran dimatanya seiring bertambah ketika dentingan pedang terdengar jelas disampingnya.
Amore mengepalkan tangannya dan berlari menembus kerumunan, berharap bahwa mereka tidak menyadari keadaannya ketika dia berlari mencari keberadaan seseorang yang dikenalnya.
"Calisto! Dimana kamu?!"
Sepuluh menit berlari, Amore menemukan keberadaan Callisto yang tengah menebas musuh bersamaan dengan panglima perang kerajaan yang menemani didekatnya. Sesercah harapan muncul dihati Amore ketika menemukan Callisto. Ia berlari menghampiri Callisto dan memanggil namanya. "Callisto!"
Mendengar suara yang sangat amat dikenalnya, Callisto menoleh dan mendapati Amore tengah berjalan cepat kearahnya. Callisto dengan segera mendorong dan menumbangkan musuh didepannya sebelum berbalik dan hendak berlari kearah Amore.
"Amore! Kenapa kamu ada disini?!"
"Bukankah aku sudah menyuruhmu menunggu disana? Disini berbahaya!"
Amore menjawab. "Tapi semua penjaga dan pelayan, ma-eh?"
Tepat ketika Callisto hendak meraih Amore, darah merah yang pekat terciprat kewajah dan tubuhnya. Manik Callisto membola, dan dia membatu, menyaksikan tubuh gadis didepannya tertembus anak panah tajam dari belakang, tepat didadanya. Gadis itu gemetar, mengulurkan tangan kearahnya seolah memanggil dengan darah yang mengalir dari celah bibirnya. Sepasang maniknya bergetar sebelum Amore limbung dan jatuh terduduk, diiringi jerit histeris yang meluncur dari bibir Callisto.
"Amore!!!"
Dalam pangkuan Callisto yang masih mencoba menjaga kesadaran Amore tetap ada, Amore samar merasakan dingin menjalar diseluruh tubuhnya. Tatapannya tertuju pada tatapan pias dan keputusasaan milik Callisto yang membuat Amore merasakan kesedihan luar biasa didalam hatinya. Ketika Amore mengulurkan tangan dengan perlahan menuju pipi Callisto, ia perlahan menghapus air mata yang luruh, dari sepasang manik anak laki-laki yang bersumpah untuk tidak pernah menangis.
"Ini, sudah akhirnya ya?"
Kemudian dengan senyuman terakhir yang lembut dan lega, Amore memejamkan mata, dan menghembuskan nafas terakhirnya.
"Arghhhhhhh!!!!"
Jerit keputusasaan yang ia keluarkan, menggambarkan betapa hancurnya perasaannya. Ia meletakkan Amore dengan lembut di bawah pohon, memasangkan barrier pelindung padanya dan mengangkat kembali pedangnya yang ternoda darah setelah menghapus air matanya. Tatapan matanya yang bak predator, menandakan bahwa dia siap menjadi malaikat maut untuk menjemput kematian mereka semua yang ada disana.
...***...
"Callisto! Hentikan! Sudah berakhir!"
Bersimpuh sembari memeluk tubuh tak bernyawa Amore, Eurasell berteriak memanggil Callisto yang masih terus menerus mengayunkan pedangnya, menghantam dan menebas bahkan mencincang tubuh para musuh yang bahkan sudah tak bernyawa. Pemuda itu tidak lagi tampak seperti Callisto. Tubuhnya yang dipenuhi darah yang entah darah dari tubuhnya sendiri atau bukan, hanya menyisakan sebelah mata hijau dingin yang penuh dengan keinginan membunuh dan menghancurkan, meskipun mereka sudah menang.
Meskipun dia sudah menang.
Ia jatuh berlutut. Pedang ditangannya meluncur dan terbanting ketanah.
Semua orang tahu bahwa Callisto sudah mencapai akhirnya. Dia bertarung seperti orang kesetanan dan menghancurkan setiap inci tubuh musuh yang dilawannya dan bahkan tidak memberikan sedikitpun rasa kasihan dari membunuh. Hanya menebas dan menebas yang membuatnya puas.
"Segera bawa pangeran ke perawatan!"
__ADS_1
Seorang dokter menyuruh asistennya untuk segera menyelamatkan Callisto.
"Menjauh dariku!"
Namun dengan tajam Callisto menyentak tangan mereka. Berdiri dengan tertatih dan berjalan terseok menuju tempat dimana keluarganya berkumpul, mengelilingi malaikat mereka yang saat ini tidak lagi bisa menampilkan senyuman mereka. Eurasell menatap putranya yang terseok menuju kepada Amore dan tidak bisa menahan air matanya. Ia terisak, namun tidak bisa melakukan apapun selain hanya memeluk Amore.
Setiap langkah yang diambilnya menimbulkan bercak darah. Seretan kakinya membawa seretan darah yang berbau besi dan berbau kematian, setiap gerakan yang diambilnya membawanya kepada rasa sakit yang rasanya membunuhnya. Namun Callisto tidak peduli.
Ia jatuh, terbaring disisi Amore. Wajahnya tertutupi darah, dan sepasang mata matinya menatap wajah Amore yang damai.
Callisto dengan perlahan mengulurkan tangannya, dan menggenggam tangan dingin Amore yang tidak akan pernah lagi hangat. Pada akhirnya, semuanya memang berakhir.
"Callisto?"
Charles yang menyadari keterdiaman Callisto bersimpuh. Mengulurkan tangannya dan menyentuh tubuhnya sebelum matanya membola. Ketika dokter memeriksa keadaan Callisto, hanya satu yang bisa dia katakan. "Pangeran telah berpulang kepangkuan dewa."
...***...
"Katakan, apa yang ingin kamu katakan tadi? Kenapa tidak jadi berbicara?"
"Kak Listo, aku bermimpi."
"Mimpi? Mimpi apa?"
"Mimpi dimana aku dan kak Listo, abadi selamanya, bersama selamanya."
"Itu bukan mimpi, Amore. Kakak, akan selalu bersama dan akan selalu mencintaimu. Kita akan abadi bersama selamanya."
...***...
Tetes demi tetes mengalir kembali setelah berjam-jam berlalu. Sepasang tangan ramping mengusap air mata dipipi gadis itu. Dengan perlahan, Iloania membuka matanya. Menampilkan sepasang manik emas yang berkilau oleh air mata.
Tatapannya dalam, tetapi beriak seperti badai yang dapat memecah karang.
Gadis itu bangkit berdiri, dengan kilau cerah dimata peraknya.
"Callisto."
...•...
...•...
...•...
Holaaa!
Ehehehehe, akhirnya volume 3 udah selesai. Kalau masih belom paham, gapapa, soalnya disini aku lagi bahas ramalan, jadi belum secara explisit jelasin langsung identitas Iloania.
Nah, karena itu aku ambil waktu buat hiatus dulu. Kali ini Ree ambil sampai bulan Januari 2024. TANGGAL 1 JANUARI 2024, aku akan BALIK UPDATE. Jadii mohon tetap dimasukkan ke fav untuk push pemberitahuan, yaa...
Ree tahu gak nyaman buat nunggu, jadi Ree hanya bisa emohon maaf yang sebesar-besarnya.
Next, yuk lanjutin baca VOLUME 2 PART 2 nanti lagii yaaa!!
__ADS_1
[KEBANGKITAN SANG RAJA IBLIS CALLUM]