
Sudah sehari mereka terbang. Hallias terus mengepakkan sayapnya melewati hutan dan perairan. Tetapi Hallias tidak melewati jalur yang merupakan kota ramai untuk menghindari keberadaan pasukan APA. Tetapi saat ini Lasius memerintahkan Hallias untuk turun dihutan didekat desa terluar Kerajaan Nosten.
Begitu menuruni Hallias, Iloania bertanya. "Kak Sius, kenapa kita berhenti?"
"Didepan sana akan ada banyak pasukan APA. Aku yakin mereka masih gencar mencari keberadaan kita. Dan aku takut Hallias akan terlihat oleh mereka," jawab Lasius sembari membiarkan Hallias memasuki kembali kalung dimensinya.
Iloania menganggukkan kepalanya paham. Benar juga, Lasius sudah menjadi pangeran perang yang dikenal banyak orang diantara semua kerajaan terutama di APA. Jadi sudah seharusnya mereka tahu juga seperti apa rupa Hallias. Dan memang benar jika Hallias terlihat dan ada yang mengenalinya, mereka bisa langsung tertangkap dan kemungkinan terburuk adalah mengurung mereka.
"Mulai dari sini kita harus berjalan dan menyelinap. Jadi sebisa mungkin kita mengurangi aura keberadaan kita." Ujar Lasius mendapatkan anggukan kepala dari Iloania.
Iloania bergumam, "Mengurangi aura.. Mengurangi aura.. Ah! Aku memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk mengurangi aura pemakainya."
Menyentuh cincin dimensinya, Iloania memikirkan barang yang diperlukannya. Sedetik kemudian cahaya memendar samar dan memunculkan dua buah lonceng ditangannya. Lonceng itu terbuat dari kaca yang berwarna kebiruan dengan tali merah. Dilonceng itu, terdapat ukiran sulur yang melingkari loncengnya.
"Bukankah itu .. Lonceng Ilusi Viridis Caapi?"
Lasius pernah membacanya disebuah buku diperpustakaan istana. Lonceng Ilusi Viridis Caapi, dinamakan demikian karena siapapun yang memakaianya akan mampu menggunakan ilusi disekitarnya. Lonceng ini dibuat oleh sepasang kakak adik dari suatu suku tua yang sudah musnah. Mereka menggunakan lonceng ini untuk menyelamatkan diri mereka dari pemburu yang memburu kekuatan mereka, dengan cara mengurangi hawa keberadaan mereka sampai menciptakan ilusi tertentu. Sampai akhirnya mereka mati, lonceng itu tidak pernah ditemukan. Dan menjadi legenda.
Iloania memiringkan kepalanya. "Sepertinya guru mengatakan ini Lonceng Suku Mantana atau Lonceng .. Lonceng apa, ya?"
Ia menggelengkan kepalanya dan tertawa. "Yah, apapun namanya itu. Sepertinya memang Lonceng Ilusi Viridis Caapi seperti yang kak Sius katakan. Yang penting lonceng ini bisa membantu kita."
Menyerahkannya kepada Lasius, ia menyimpan salah satunya untuk dirinya sendiri dan memasangkannya ke tangannya membentuk gelang. Sementara Lasius mengikatnya kesabuk celananya. Lasius tidak banyak bertanya darimana Iloania mendapatkan barang seperti itu. Sebab Iloania sudah menyebutkan sang guru diawal, berarti Iloania mendapatkan barang itu dari sang guru. Dan nampaknya untuk kedepannya Lasius tidak akan lagi terkejut jika melihat Iloania memiliki barang-barang yang mengagumkan seperti itu.
"Ayo," ajaknya membuat Iloania mengangguk dan mengikutinya.
Lasius menyaksikan lebih dari dua orang penjaga dari pasukan APA berdiri digerbang masuk kerajaan Nosten. Memeriksa mereka yang keluar dan mereka yang masuk dan memastikan bahwa itu mereka berdua atau bukan. Dinding yang mengitari Kerajaan Nosten setinggi lebih dari seratus kaki dan ketebalan hampir mencapai sepuluh meter. Hal khusus yang membuat dinding batu ini kuat adalah bahwa ini terbuat dari bebatuan yang dapat menyerap energi sihir dari apapun yang bersentuhan dengan langsung, bebatuan Marbruser.
__ADS_1
Jadi, mereka yang ingin menyelinap pun harus menggunakan alat manual atau menggunakan sihir tanpa boleh menyentuh dinding itu.
Dalam keadaan ini, cukup sulit untuk memanjat. Selain itu, sangat tidak mungkin dia mengeluarkan Hallias untuk membawa mereka menyebrang. Dan Iloania juga tidak lagi bisa menggunakan piringan hitamnya. Jadi mereka hanya bisa menunggu pedagang yang lewat dan berbaur untuk menjadi cara mereka masuk.
"Kak Sius, nampaknya ada sekelompok pedagang dari arah selatan. Mereka akan sampai dalam lima menit." Ucap Iloania.
Benar saja, lima menit berselang, sekelompok pedagang yang beberapa diantaranya mengenakan jubah muncul dengan gerobak berisikan barang dagangan mereka. Lasius memegang tangan Iloania, bersembunyi dibalik pohon sebelum mengambil kesempatan untuk masuk kerombongan dengan memanfaatkan penipis aura keberadaan dari Lonceng Ilusi Viridis Caapi.
"Tunggu! Kami akan melakukan pemeriksaan." Pemuda itu berucap sebelum memeriksa kereta satu persatu.
"Buka tudung jubah kalian!" Perintahnya membuat semua pedagang membuka tudung jubah mereka, dan memperlihatkan wajah mereka dengan jelas.
Ding— Iloania menggerakkan tangannya, menimbulkan suara dentingan samar lonceng kaca itu. Ia berbisik pada Lasius. "Kak Sius, buka saja tudung jubahnya. Tidak apa."
Mengikuti arahan Iloania, Lasius benar-benar membuka tudung jubahnya. Wajah keduanya langsung nampak, dan penjaga langsung memandang mereka. Tetapi penjaga itu hanya memandang mereka sekilas, sebelum mengalihkan tatapan mereka pada pedagang yang lain. Lasius segera menerka bahwa itu berkat Lonceng Ilusi Viridis Caapi, tetapi dia tidak menyangka bahwa efeknya akan begitu kuat. Karena ketika dia menoleh memandang Iloania, ada wajah asing yang dilihatnya.
"Kalian bisa masuk." Tukas penjaga setelah mengkonfirmasi bahwa tidak ada wajah Iloania dan Lasius diantara mereka.
Para pedagang itu segera membereskan kereta mereka dan melangkah bersama memasuki gerbang kerajaan. Iloania dan Lasius juga mengikuti mereka dibarisan. Sebelum menembus keujung, dan disuguhi pemandangan kerajaan yang ramai dan luas. Ada lampu-lampu yang dipasang, tergantung diatas tali yang tergantung beberapa meter diatas mereka. Rumah-rumah terbuat dari batu, dan sebagian adalah rumah bercat dan berhiaskan tanaman bunga disekelilingnya. Pemandangan pertama yang pasti dan selalu ada adalah, pertokoan.
Menggandeng Iloania memisahkan diri dari mereka menuju kerumunan lain yang memadati jalan kota pertama itu, Lasius mengedarkan pandangannya dengan lirikan.
"Ilo, aku sudah mencari informasi tentang guru Gamma. Tetapi aku bahkan hampir tidak bisa menemukan apapun. Apa kamu mengingat bagaimana ciri-cirinya?" Tanya Lasius.
Iloania mengerutkan keningnya dan berkata, "Sebenarnya .. Guru Gamma bisa mengubah wujudnya."
"Kak Sius pernah mendengar tentang Suku Chamra dari Zhoie?" Tanya Iloania membuat Lasius menggelengkan kepalanya dan menjawab ketidaktahuannya.
__ADS_1
Iloania menjelaskan. "Suku Chamra adalah salah satu suku tertua di Zhoie. Suku ini diyakini memiliki kekuatan sihir yang bisa mengubah penampilan mereka. Dan guru Gamma adalah salah satu dari keturunan suku itu, yang tersisa setelah mereka musnah karena perang suku. Dulu aku bertemu dengan guru Gamma dengan wujud wanita tua, tetapi aku tidak tahu apakah sampai sekarang dia masih mempertahankan kondisi fisiknya yang seperti itu."
"Jika begitu, akan cukup sulit menemukannya," gumam Lasius.
Sepasang manik itu menatap lurus dan nampak berpikir sebelum dia seakan mendapatkan sebuah ide. "Ilo, apakah gurumu memiliki semacam catatan atau jurnal tentang gurumu?"
Iloania menggeleng. "Aku tidak tahu pasti karena buku guru terlalu banyak. Tapi, kita bisa mencarinya. Dan semoga, itu tidak memakan waktu terlalu lama."
Jauh dipedalaman hutan, suara jeritan terdengar memilukan. Dua pemuda itu tertatih-tatih dan menyeret tubuh mereka yang terluka parah dan dipenuhi darah. Salah satu dari mereka nampak tertangkap oleh sesuatu yang langsung melilit kaki mereka dan menyeretnya langsung.
"Ahhhh!!! Tolong!!!!"
"Hah .. Hah .. Haaaaahhhhh!!!!!!" Jerit yang satunya sembari berusaha mempercepat gerakannya menyeret kakinya menjauh dari tempat itu.
Tetapi langkahnya terlambat ketika sesuatu menyeretnya, meninggalkan jejak sisa tanah merah oleh darah dan jeritan memilukan yang lama kelamaan tertelan oleh kawanan suara burung dan dedaunan yang bergesekan karena angin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
08/06/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
__ADS_1
LuminaLux