
[Setengah Bulan Kemudian]
Terik panas matahari tidak membuat mereka berhenti dari kegiatan bercocok tanam mereka. Dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka, mereka sesekali bersendau gurau. Memanen hasil bumi yang mereka tanam dengan penuh peluh, tetapi sama sekali tanpa keluhan.
"Benarkah?" Seseorang bertanya dengan nada mempertanyakan.
Yang lain berkata, "Benar! Kudengar anak kembar Niccosa sudah bisa berbicara diusianya yang baru menginjak limabulan."
"Wah, mereka sangat cerdas."
"Hah, aku sudah bisa berjalan saat aku berusia lima bulan~" Bangga seorang pria yang tengah memikul padi dipundaknya.
Ibu berambut keriting itu mengernyitkan alisnya dan mencibir. "Lima tahun masih mengompol baru benar."
"Ah, mana benar!"
"Tentu saja benar, kakakmu yang bercerita." Tegas yang berambut keriting.
Teng! Teng! Teng!
"Ah? Ada apa itu?" Kaget mereka.
Seseorang menunjuk kearah gerbang masuk. "Ada yang mencoba masuk!"
Mereka saling pandang sebelum membawa peralatan bertani mereka dan bergabung dengan penduduk yang berduyun-duyun datang membawa senjata tumpul maupun tajam ditangan mereka masing-masing.
Mereka adalah suku Lavia.
Sejak dulu kala, mereka dikejar dan selalu diburu untuk dijadikan alat bagi orang-orang serakah dan tamak. Kekuatan special yang layaknya kutukan bagi mereka terlahir dari setiap dua Lavia yang menjadi satu.
Dengan keberadaan mereka dilingkungan yang 'disembunyikan' ini, mereka dapat hidup tenang. Dan hanya beberapa orang diluar suku Lavia yang tahu tempat ini.
__ADS_1
Siapa itu, dan apakah musuh atau kawan, mereka tidak akan tahu sampai seseorang itu muncul.
Suku Lavia tinggal disebuah hutan yang dilindungi barrier raksasa berlapis. Barrier itu memberikan ilusi nyata bahwa apa yang ada disana adalah hutan. Mereka benar-benar bisa menembusnya, tetapi tanpa jalan masuk khusus, mereka tidak akan bisa merasakan atau melihat keberadaan suku Lavia, begitupun sebaliknya.
Ratusan tahun tinggal didalam barrier ini, suku Lavia mengembangkan permukiman sederhana mereka. Sebenarnya jika dihitung dengan teliti, luas barrier mencapai limapuluh meter dengan keberadaan sungai dan bahkan perbukitan dan mata air.
Kemudian, barrier yang melindungi sebuah peradaban kecil itu memiliki delapan lapisan. Dengan lapisan yang paling dalam adalah lapisan yang paling kuat.
Konon katanya, seseorang yang menciptakan barrier pelindung ini berasal dari benua yang jauh. Mengembara dan dimakamkan didalam barrier, menjadi pahlawan bagi semua penduduk Lavia yang diburu.
Pahlawan itu, Ven.
Semua penduduk Lavia tahu bagaimana caranya untuk bisa keluar dari barrier, dan beberapa orang diluar Lavia tahu bagaimana caranya masuk. Ada satu gua yang menjadi jalan masuk dan keluar dalam barrier. Gua itu cukup panjang, namun beruntungnya gua itu tidak begitu gelap dengan keberadaan bebatuan cahaya didalamnya.
Setiap seseorang berhasil melewati satu lapisan, lapisan itu akan memancarkan cahaya yang bisa dilihat dari dalam.
Saat ini, barrier telah tertembus lima lapisan. Hanya tinggal tiga untuk mengetahui siapa yang datang.
Semua penduduk laki-laki dan wanita dewasa Lavia sudah bersiap juga. Jika itu lawan, mereka akan menyerang. Jika seseorang itu teman, mereka akan menyambutnya. Apapun tanggapannya, itu adalah cara mereka mempertahankan hidup mereka.
Satu barrier terakhir membuat semua penduduk was-was untuk beberapa alasan. Kemudian ketika lapisan terakhir bercahaya, ada gelombang samar dimulut gua yang perlahan memunculkan sosok yang melangkah menembus barrier terakhir.
"Aya, jangan nakal dan tinggal saja dirumah!"
Gadis cilik bersurai kepirangan itu menggelengkan kepalanya. "Aya mau ikut!"
Orene Lativia mendengus melihat kelakuan adiknya dan segera mendorong gadis cilik itu kekamarnya dan mengunci pintunya. Ia berkata, "Tunggu sampai kakak kembali."
Brak! Brak!
"Kakak! Aya mau ikut kak! Kakak!!!"
__ADS_1
Orena mengambil tongkat panjangnya dan melangkah keluar setelah memastikan adiknya aman didalam kamarnya. Hanya yang tidak diketahui Orena, ketika dia mengunci anak berusia lima tahun itu didalam kamarnya, Leaya Lativia berbalik sebelum mendorong kursi belajarnya kejendela dan memanjat keluar.
Tap!
"Uh! Aya, kan penasaran ada apa. Aya harus tahu!" Gumamnya kemudian berlari mengikuti Orena dari belakang dengan sembunyi-sembunyi.
Aya memang anak yang mudah penasaran. Semakin dilarang dia, semakin membuncah rasa penasarannya. Hingga dia bahkan mengabaikan suruhan ibunya agar tetap tinggal didalam rumahnya dan membuntuti Orena sampai kegua yang dijadikan gerbang keluar dan masuk. Suasana didepan gua sangat ramai. Itu bukan seperti sorakan mengusir atau perkelahian, namun suasana penuh dengan sambutan.
Aya tidak tahu apa yang terjadi, tetapi nampaknya itu bukan hal berbahaya.
"Ada apa sih, disana?" Batinnya.
Aya mencoba menyelinap melalui celah diantara orang-orang. Tubuh kecilnya memang memudahkannya untuk menyelinap bahkan diantara kaki penduduk Lavia, tapi terkadang ia tak berdaya karena desakan.
Setelah serangkaian perjuangan melelahkan, Aya berhasil menyembulkan kepalanya dan bernapas. Tetapi begitu dia mendongak, sepasang kelereng ungu itu melebar.
"Ah?"
Didepan sana, Iloania dan Lasius berbalik ketika mengikuti arah pandang Orena yang tertuju pada Aya dengan pandangan terkejut. Gadis lima tahun itu memiliki sesaat ilusi dimatanya. Yang hampir tanpa sadar membuatnya menyenandungkan suara samar penuh kerinduan.
"Mama? Papa?"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
26/07/2022
Jangan lupa dukungannya~
__ADS_1
Salam hangat,
LuminaLux