Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 26 "Hari Ketujuhbelas Bulan Kedelapan, Musim Panas"


__ADS_3

Kaki ramping Iloania membawanya menapaki jalanan kota Alvatro yang ramai dan dipenuhi orang-orang yang melakukan keseharian mereka masing-masing. Berbalut dress setengah paha tanpa lengan dan berkerah tinggi yang terbuat dari kulit dan dilengkapi boots dibawah lutut sama terbuat dari kulit, Iloania tampil serupa dengan orang-orang disana. Minus tinggi badan, sikap dan kulitnya yang putih dan surai pirangnya. Yah, nyaris semua berbeda. Orang dikota itu memang memiliki kulit yang sedikit gelap dengan surai yang berwarna hitam atau coklat dan memiliki mata yang kebanyakan berwarna hijau.


"Saa, ternyata Fa masih 10 tahun ya?" Tanya Iloania pada Farleon yang berjalan disampingnya dengan tatapan tajam dan alis yang senantiasa menukik.


Farleon menatap tajam Iloania, "Siapa yang kau panggil Fa? Dan apa urusanmu dengan umurku?"


Iloania menggeleng, "Hanya saja tidak menyangka kalau Fa baru berusia 10 tahun. Kukira Fa sudah berusia 17 tahun. Kalau begitu, kamu panggil aku kak Ilo, oke?"


"Cih~ Tidak sudi."


Iloania melipat bibirnya dan menurunkan alisnya. Surai pirangnya yang panjang diikat kuda dan bergerak kekanan dan kekiri berlainan dengan gerakan kakinya. Iloania menyapa penduduk disana dengan senyuman secerah matahari, membuat orang-orang tertegun sekilas sebelum membalas. Bahkan beberapa diantara mereka menghentikan Iloania dan memberinya makanan ringan. Menerimanya dengan senang, Iloania memakannya disepanjang jalan selepas berjalan-jalan dalam waktu yang cukup lama.


"Kamu mau?" Tawar Iloania sembari menyodorkan sekantung manisan buah pada Farleon yang hanya mendengus dan membuang muka.


Menerima penolakan Farleon, Iloania tidak sedih atau kecewa. Jadi Iloania melanjutkan makannya dan berjalanannya. Sampai langkahnya terhenti ketika melihat keramaian disebuah lapangan. Ia meraih lengan baju Farleon dan menariknya pelan. Layaknya adik menarik lengan sang kakak, padahal sebaliknya.


"Ada apa disana?" Tanya Iloania.


"Pertarungan pedang." Jawab Farleon dengan acuh.


Manik Iloania berbinar dan beralih menatap kearah Farleon. "Ayo kesana! Ayolah~"


"Tidak."


"Ayolah~ Kumohon~ Izinkan aku melihat kesana." Pinta Iloania.


"Ck, kau sangat merepotkan. Sebentar saja," kata Farleon sembari melangkah menuju keramaian.


Baru beberapa langkah dengan Iloania mengikutinya, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Iloania. Menilai penampilannya yang layaknya bayi, Iloania bisa terjepit diantara kerumunan-kerumunan disana. Jadi, Farleon mengambil langkah kebelakang Iloania dan menjaga Iloania agar tidak terdesak yang lain. Mencapai penampakan yang ada ditengah kerumunan, Iloania mendapati 3 orang berbadan besar berdiri diatas arena yang cukup luas dengan pedang ditangan masing-masing tangan dua orang yang berada diantara pria yang bertangan kosong. Sepertinya, dia seorang wasit. Mendapati itu, manik Iloania tidak bisa tidak memancarkan rasa keingintahuannya yang besar. Dua orang itu mulai mengayunkan pedang. Menggerakkannya dan menangkis serangan satu sama lain.


"Apa ini?" Tanyanya.


"Pertarungan Pedang khas kota Alvatro. Tidak berbahaya. Lihat saja dan jangan banyak tanya." Kata Falreon.


Iloania kembali memfokuskan pandangannya pada pertarungan. Ketika pedang salah satunya terhempas, sorakan menggema, dan Iloania melebarkan senyumannya. Menampilkan deretan giginya yang kecil dan putih dengan kagum.


"Woo! Sangat keren!"


"Broo! Itu keren!"


"Hebat!"

__ADS_1


"Jangan khawatir, kalahkan lain kali sobat!"


"Kekhawatiran! Selesaikan saja!"


Secara teknis pria itu berkata dengan angkuh, "Ayo~ Siapa lagi yang mau kalah? Maju kedepan dan ambil pedang kalian. Siapapun, akan kuhadapi."


Merasa tidak ada yang menarik lagi, Farelon yang sejak tadi memejamkan mata dengan gaya cool berujar, "Ayo pergi."


Namun, ketika ia menoleh ketempat Iloania, sosok gadis itu tak lagi disana. Menatap khawatir, Farleon berpikir jika Iloania terdesak dan bahkan mungkin bisa terinjak. Jika itu terjadi, Dirima akan menghajarnya habis-habisan dan menjemurnya dibawah matahari tanpa makan dan minum selama sebulan!


Itu mengerikan!!


"Woah~ Siapa dia?"


"Berani sekali!"


"Tidak mungkin, bukan?"


"Bukankah dia yang dibawa nona Dirima?"


Mendengar ucapan terakhir, Farleon mengangkat kepalanya dan membelalak saat melihat Iloania berdiri diarena dengan pedang besar ditangannya. Pedang itu terlihat besar ditangan Iloania, namun bagi pria-pria itu, pedang yang digenggaman tangannya berukuran normal. Pria-pria besar itu memusatkan perhatiannya pada Iloania, termasuk Clad, pria didepannya yang memiliki kulit gelap dan rambut hitam legam. Sementara maniknya memiliki warna hijau gelap dan sedikit memiliki kilatan cahaya didalamnya.


"Siapa ini? Hey, menyingkirlah." Kata Clad.


"Haha! Mengacaukan perut!"


Farleon dengan kesal melangkah besar dengan Iloania yang sedikit terhuyung dicengkramannya. Sejak Clad menertawakan Iloania tadi, Farleon tanpa kata menarik Iloania pergi dengan cepat. Clad itu cukup berbahaya dan sangat merepotkan. Jadi, jangan berurusan dengan pria itu!


Tapi si bodoh kecil ini berniat menantang Clad dengan pedang!


"Saa~ Bisakah kamu berhenti menarikku? Rasanya sakit~" Kata Iloania.


Farleon melepaskan cengkraman pada tangan Iloania yang benar saja. Memerah dan cukup jelas dikulit tangan Iloania yang sedikit terasa panas. Mengusapnya pelan, Iloania menatap Farleon yang memiliki ekpresi dingin. Iloania terdiam selama beberapa saat sebelum memisahkan belahan bibirnya.


"Kamu ... membenciku ya?" Tanya Iloania.


Mendengar pertanyaan Iloania, Farleon meliriknya tajam dan mendengus dengan nada dingin "Ya!"


"Kenapa?"


Farleon dengan acuh mengedikkan bahunya, "Entah. Aku hanya membenci kalian orang luar. Apa ada masalah dengan itu?"

__ADS_1


Iloania terdiam dan menggeleng, "Suka atau benci itu tergantung dengan hati. Dan hati seseorang, hanya bisa dikendalikan oleh orang itu sendiri. Bahkan jika kamu membenciku atau membenci kami orang luar. Itu bukan masalah."


"Tutup mulutmu dan kembali. Sudah sore, waktunya tinggal didalam rumah."


Ketika Iloania memandang keatas, langit memang berangsur-angsur menampakkan keagungan warna kemerahan. Sementara matahari perlahan meninggalkan sisi bumi yang ditempatinya untuk menyambut pagi bumi disisi lainnya.


"Ada apa dengan malam?" Tanya Iloania.


Farleon menatapnya dan bergumam penuh kebencian. "Mereka akan datang."


...***...


"Ayo dimakan." Kata Dirima sembari mendorong sepiring nasi dan daging pada Iloania.


Diruang berkumpul itu, Iloania, Dirima, Farleon dan Zaree nampak duduk mengelilingi meja makan dan makan dengan tenang. Makanan dengan aroma yang menggugah selera itu membuat Iloania melahapnya dengan senyuman lebar. Sangat lezat!


Dia bergumam, "Sangat lezat! Bibi sangat pandai memasak!"


Pujian Iloania membuat Dirima tersenyum, "Benarkah? Seenak itu?"


"Iya! Suaangat enak!" Puji Iloania.


Dentingan alat makan terdengar. Sebelum Iloania kembali membuka bibirnya, "Disini cukup gelap ya?"


Dirima menghentikan makannya. "Kota ini cukup terisolasi dan kami sama sekali tidak menguasai sihir. Kami hidup dengan berburu dan bercocok tanam. Mereka orang luar kota bahkan mungkin tidak tahu kami ada. Jadi kami sendiri juga tidak pernah keluar. Dan memanfaatkan barang-barang yang ada untuk membuat lentera. Ketika kami tahu setidaknya bayangan itu takut dengan cahaya."


"Kota ini memang cukup gelap karena kami tidak mampu membuat cahaya yang sama seperti saat siang hari." Kata Dirima dengan wajah sedikit sedih.


"Itu bagus. " Bisik Iloania berbicara pada angin.


Ketika ia mendongak, wajah yang biasanya memancarkan kehangatan dan senyuman selembut angin itu kini menampilkan wajah datar dengan tatapan tajam. Nyaris dingin dengan manik emasnya yang seakan bercahaya dimalam yang gelap. Sangat dingin dan misterius, sebelum satu sudut bibirnya terangkat. Pupil matanya menatap tajam keujung mata. Menyuratkan ancaman, dan menyiratkan ejekan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Udate:


05/06/2021


Jangan lupa beri dukungan tiap sudah membaca chapter~


Makasih banyak...

__ADS_1


@LuminaLux


__ADS_2