
Dragonia Academy didesain dengan apik dan sistematis. Ruang belajar kelas 1 dikhsususkan dilantai terbawah. Disusul kelas 2 dan kelas 3 dilantai atas dibagian Selatan dan Barat. Untuk ruang guru dan kepala sekolah ada digedung bagian Timur. Sementara aula dan gedung lainnya ada dibagian Utara. Sedangkan untuk kamar asrama, ada bangunan tersendiri yang berdiri dengan kokoh.
Memasuki kelasnya, Iloania dan Jissiana disambut dengan tatapan beragam dari penyihir-penyihir muda yang sekelas dengan mereka. Salah satunya Miaka yang duduk dideret tengah.
"Pstt~ Bukankah itu sipenyihir level jiwa merah?"
"Si penakut yang lemah itu?"
"Hm, si level merah."
Mendengarnya, Jissiana mengeratkan giginya kesal, sedangkan objek yang dibicarakan memasang waja tenang dengan senyuman lembut. Bagi Iloania, bagaimanapun levelnya selama dia mampu, ya itu tidak masalah. Lagipula, itu hanya pembagian yang dilakukan oleh manusia. Bukan dewa.
"Permisi, kami boleh duduk disini?" Tanya Iloania pada Miaka.
Gadis itu mengangguk malu-malu dan menggeser duduknya dari meja panjang itu, memberi ruang untuk Iloania dan Jissiana duduk.
"Terima kasih," kata Iloania pada Miaka.
Miaka mengangguk dan membalas dengan suara pelan, "Sama-sama."
"Namaku Iloania." Kata Iloania.
Jissiana sama merespon, "Dan aku Jissiana. Salam kenal."
"Aku Miaka."
"Miaka, mari berteman." Ujar Iloania membuat Miaka mengangkat wajahnya dan mendapati senyuman lebar yang tulus dari Iloania dan juga Jissiana.
Miaka menunduk dan bergumam setuju dengan suara samar.
...***...
Seorang pria dengan pakaian sulaman indah melangkah masuk. Pria itu memiliki surai perak panjang dengan manik sewarna daun yang segar. Hijau jernih dan hangat namun juga menyimpan rahasia dan kemisteriusan disorot tatapannya. Xalien Clovetra, adalah wali kelas dari kelas 1-4 yang merupakan penyihir elemen dimensi dan api biru yang langka.
"Selamat pagi," sapanya hangat.
Orang-orang nampak membalas sapaan Xalien dengan sama semangatnya. Sedangkan Iloania melengkungkan bibirnya dengan hangat. Aura kelas itu benar-benar berbeda dari kelas lainnya.
"Saya adalah wali kelas 1-4. Nama saya Xalien Clovetra. Saya harap saya bisa mengajari kalian teori-teori sihir selama kelas 1. Untuk kelas 2, bagi kalian yang memiliki elemen api kalian akan bertemu lagi dengan saya." Kata Xalien.
"Baiklah, untuk hari ini, saya akan menjelaskan tentang bayangan. Tentunya, kalian sudah tahu tentang bayangan bukan?" Tanya Xalien.
Beberapa orang menjawab iya dan yang lain mengangguk.
"Apakah ada seseorang yang bisa menjelaskan sejarah bayangan?" Tanya Xalien.
__ADS_1
Seorang gadis dengan cepat mengangkat tangannya. Menandakan jika dirinya akan membantu Xalien menjelaskan hal-hal berkaitan dengan bayangan. Gadis bersurai merah bermanik hitam itu diizinkan Xalien untuk mulai berbicara.
Arnada Erena, memulai bicaranya. "Bayangan muncul ribuan tahun yang lalu, ketika terjadinya perang antara Dewa dan Iblis. Ribuan tahun lalu, bayangan nyaris berkurang sebagian besar. Dan ketika perang berakhir, bayangan hitam dan bayangan putih ditempatkan didunia manusia untuk menjaga dunia manusia dari para Iblis yang tersisa. 200 tahun yang lalu, bayangan hitam menghianati manusia dan menciptakan kekacauan didunia manusia. Menyebabkan bayangan putih mendorong bayangan hitam untuk menjauh dari manusia. Sejak saat itu bayangan hitam menjadi musuh manusia, karena mereka telah dikuasai kegelapan dan berbuat buruk pada manusia."
"Sementara untuk bayangan putih, karena pengabdian mereka, mereka ditempatkan ditiap kota dan bertugas menjaga manusia dari bayangan hitam. Selain itu, bayangan putih juga menjadi roh kontrak dari seorang penyihir. Untuk membantu penyihir." Lanjut Erena.
Iloania mendengar dengan jelas tiap kata yang diucapkan oleh Erena. Senyum dibibirnya masih terpasang. Tenang dan sedalam laut.
"Benar. Jadi karena kalian sudah tahu, hari ini kalian akan memilih bayangan yang akan menjadi teman kalian. Selama di Dragonia Academy, mereka akan membantu kalian dalam urusan pelatihan sihir." Kata Xalien membuat mereka semua bersemangat.
"Astaga, aku tak percaya akan memiliki bayangan sebagai roh kontrakku."
"Sangat menyenangkan."
"Baik. Besok aku juga akan mencari binatang sihir."
"Menyenangkan."
"Baiklah," gumam Xalien.
Pria itu menggerakkan tangannya. Ketika suara jentikan jari terdengar, ruangan kelas itu berubah menjadi ruangan luas yang dipenuhi warna putih. Dan disana, ratusan bahkan ribuan bayangan nampak melayang dan berlalu-lalang.
Iloania menyunggingkan senyumnya, "Wahh. Banyak sekali, ya?"
"Kalian bisa mendekati bayangan dan keluarkan sebagian kecil sihir kalian untuk memancing bayangan yang ditakdirkan untuk kalian. Tolong jangan membuat keributan dan lakukan dengan tenang, baik?" Kata Xalien.
"Ya, guru."
"Kami mengerti."
Murid kelas 1-4 mulai mengeluarkan sihir mereka dengan presentase yang kecil. Ditelapak tangan masing-masing, aura sihir mereka menguar dan mengundang bayangan mendekat. Sesosok bayangan putih mendekati Jissiana, Iloania bergerak mundur tanpa terdeteksi.
Jissiana terkagum ketika sosok berjubah putih tanpa kaki itu mendekatinya. Bayangan putih memiliki fisik yang hampir sama dengan bayangan hitam, kecuali tangan dan jemarinya yang lentik layaknya tangan seorang peri.
"Ah, s-sangat luar biasa!" Kagum Jissiana.
Iloania mengangkat tangan kanannya dan mengeluarkan aura sihir anginnya. Ketika elemen itu menguar, dari jauh beberapa bayangan mendekatinya. Manik emasnya menatap mereka dengan senyuman. Namun sebelum mencapai Iloania, bayangan-bayangan itu berhenti dengan ragu-ragu dan berbalik pergi.
"Ah, mereka pergi?" Gumam Iloania.
Iloania menyadari tatapan Xalien. Ketika ia menoleh, ia membalasnya dengan senyuman setenang air. Sementara maniknya melengkung seakan seperti bulan sabit. Membawa aura kemisteriusan dan ketenangan asing yang mengusik benak Xalien. Bahkan ketika semua orang telah mendapatkan bayangan sebagai pendampingnya, tak ada satupun yang nampak mendekati Iloania disaat-saat terakhir. Sebelum Xalien mengembalikan kondisi ruangan seperti semula.
Ketika ruangan menjadi ruang kelas, bayangan putih nampak menyusut menjadi sosok kecil dan melayang disekitar pemilik mereka masing-masing.
"Lihat, si level merah tidak dapat bayangan putih."
__ADS_1
"Bukankah karena dia terlalu penakut?"
"Benar sekali."
"Namanya Iloania kan? Sebenarnya dia cantik juga. Tapi kenapa level jiwanya sangat lemah ya?"
Xalien menatap semua muridnya dengan senyuman. "Selamat bagi yang sudah mendapatkan kontrak bayangan putih. Bagi yang belum, jangan berkecil hati. Kalian bisa mencoba lagi dilain waktu. Mungkin saja bayangan putih yang harusnya menjadi roh kontrak kalian belum siap. Jadi, jangan menjadi khawatir."
Iloania menyunggingkan senyuman. "Tentu, guru."
...***...
Ketika pelajaran berakhir, Iloania dan Jissiana melangkah bersama-sama menuju kamar asrama untuk berganti . Sistem pelajaran di Dragonia Academy dibagi menjadi 2. Pembelajaran dipagi hari hanya berlangsung selama beberapa jam untuk pembahasan materi dasar dari hal-hal yang berhubungan dengan dunia sihir. Dimulai dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Setelah jam makan siang pukul 1 siang, jam 2 siang sampai jam 5 malam adalah pembelajaran dengan guru yang menguasai sihir yang sama. Dengan murid diangkatan yang sama yang memiliki sihir yang sama. Entah itu api, angin, air dan berbagai elemen lainnya.
Pembelajaran kedua dibagi menjadi 2 macam jenis. Dikarenakan beberapa orang memiliki elemen ganda, maka bagi mereka yang berelemen ganda diberikan kesempatan untuk mengambil kelas tunggal atau kelas ganda. Yang artinya diizinkan memilih untuk mendapat pelajaran dari kedua elemen yang dimilikinya atau fokus pada elemen yang ingin diprioritaskan. Dengan memilih kedua elemen, maka pembelajaran akan berakhir pada pukul 7 malam dengan durasi yang dilebihkan untuk elemen utama.
Dalam pembagiannya, Iloania sendiri mengkhususkan dirinya untuk mempelajari elemen angin daripada api. Meskipun nantinya dia juga akan mempelajari elemen api.
"Sampai nanti Jie." Kata Iloania.
"Aku akan mendatangimu untuk makan siang bersama." Kata Jissiana.
Iloania segera menggeleng. "Aku tidak, Jie. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Jie makan siang bersama kak Sius dan kak Lion sendiri saja ya?"
Mendengar kata makan siang sendiri bersama Lasius dan Zalion yang dingin dan sedikit kaku itu membuat Jissiana bergidik dengan ngeri.
"Apa yang ingin kaulakukan?" Tanya Jissiana.
Iloania hanya membalasnya dengan senyuman tipis, "Sampai jumpa saat makan malam Jie."
"Baiklah."
Meski sedikitnya kebingungan, Jissiana mengangguk dan melangkah meninggalkan Iloania sembari melambaikan tangannya. Manik Iloania tersenyum melepas Jissiana. Ketika Jissiana telah menghilang dari pandangannya, Iloania melangkah masuk kedalam kamarnya dan menatap cincin dijari manisnya.
"Ayo mulai." Gumamnya dengan nada pelan sembari meninggalkan senyuman sebelum tubuhnya dilingkupi cahaya keemasan dan menghilang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
17/06/2021
Jangan lupa dukungannya
Salam hangat,
__ADS_1
LuminaLux