
Memandang sekelilingnya, Asyra berenang memasuki bangunan besar didepannya dengan hati-hati. Ia kembali lebih terlambat, dan Asyra khawatir bahwa kakaknya akan mempertanyakan alasan keterlambatannya dan akhirnya menaruh kecurigaan padanya.
"Dari mana saja kamu, Syra?"
Ekor Asyra berhenti ketika dia mendengar suara itu. Menoleh, Asyra mendapati sosok duyung laki-laki dewasa. Kulitnya sama pucatnya dengan Asyra, dengan sepasang manik hijau lumut yang berkilau. Asyra dengan gugup memandangnya, mencoba mengendalikan ekpresinya dan tersenyum. "Biasa kak, aku bermain ke tepi jurang. Aku melihat anak lumba-lumba tersesat disana dan membantunya kembali ke kawanannya."
Manik sang duyung dewasa menyipit menatap Asyra sebelum dengan tegas berkata, "Lain kali jangan kembali terlalu larut. Kamu ingat peraturannya, kan?"
Asyra mengangguk, "Iya kak. Tidak boleh terlambat pulang."
Duyung dewasa itu kembali berkata, "Dan?"
" ... dan tidak boleh berenang mendekati permukaan."
Ditatap sedemikian rupa oleh sang kakak membuat Asyra dengan tegas berbalik menatapnya. Sepasang maniknya bergetar ringan ketika sang kakak sudah berbalik, dan Asyra buru-buru masuk ke kamarnya dan berbaring diatas ranjang kerangnya. "Apa kakak sudah tahu?"
Ia menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin! Aku benar-benar tidak meninggalkan jejak apapun."
Asyra menutup wajahnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi selama beberapa waktu sebelum dia dengan samar bergumam. "Aku ingin makan mie. Mona akan membawakanku besok, kan?"
Ia membayangkan pertemuan keduanya besok. Itu sudah terlintas dibenaknya, bagaimana mereka akan bercanda lagi sambil makan mie yang sudah dijanjikan oleh Lamona. Senyum mengembang diwajahnya yang cantik, dan Asyra tidak bisa untuk tidak tertawa kecil dan merasakan perasaan senang membuncah didadanya. Dia akan bisa menyaksikan keponakannya lahir, dan dia bisa makan mie yang katanya enak. Keduanya sama-sama membuat Asyra tidak sabar.
__ADS_1
...***...
Esok datang dengan cepat. Hari terus bergerak, dan tidak terasa esok berganti dengan siang. Seperti biasanya, Asyra akan berpamitan untuk bermain dengan teman-temannya, padahal sebenarnya dia menemui Lamona. Seperti yang dilakukannya sekarang, menunggu ditepi pantai dan menunggu sosok Lamona muncul.
Asyra menunggu dengan sabar, menit demi menit, hingga jam demi jam. Matahari sudah semakin condong kearah barat, dan Asyra tahu bahwa tidak lama sebelum dia harus kembali.
Asyra seharusnya kembali, karena mungkin Lamona tidak akan datang. Namun, Asyra benar-benar ingin bertemu dengan Lamona.
Mengubah ekornya menjadi kaki, Asyra dengan segera menghindari air pantai. Mengubah dirinya menjadi tampilan manusia tanpa sisik, insang dan ekor, Asyra mengenakan mini dress berwarna biru muda lembut tanpa lengan. Meski bukan manusia, Asyra tahu etiket dan sopan santun, sebab para duyung juga melakukan hal yang sama. Setidaknya, tidak telanjang bulat. Ia memandang sekeliling, dengan keraguan, ketakutan dan kecanggungan. Namun ada tekad didalamnya, tekad baginya untuk menemui Lamona.
"Mona bilang rumahnya di bawah kaki gunung."
Kaki rapuhnya yang nampak sangat amat pucat mencoba melangkah dengan sesantai mungkin. Ia sedikit merasa aneh dengan kaki manusia selama beberapa waktu, namun ketika dia sudah berjalan beberapa waktu, dia menjadi terbiasa berjalan dengan kedua kaki manusianya dan ia melangkah menuju jalan setapak menuju kota Lamona berada. Ia harus melewati hutan kecil, sebelum manik birunya mendapati sebuah gerbang batu dan kayu yang merupakan sebuah gapura yang menandakan bahwa ada peradaban disana.
"Ayam bakar, ayam bakar!"
"Apelnya masih segar, silakan dibeli~ Ini dipetik langsung dari kebunnya!"
"Ibu, mau mainan!"
Asyra seperti orang linglung disana. Seperti pendatang asing, ia berputar, memandang sekelilingnya dengan kekaguman yang tidak bisa disembunyikan diwajahnya. Ia penasaran akan semua hal yang ada didepannya, meskipun mendebarkan, namun semua ini membuatnya amat tertarik.
__ADS_1
Kakinya hendak melangkah ke sebuah toko makanan indah ketika ia teringat tujuan awalnya datang ke daratan.
"Aku harus segera kerumah Lamona." Gumamnya.
Melangkah menyusuri jalanan, sembari sesekali memperhatikan sekelilingnya. Asyra tidak sadar seberapa lama dia berjalan, dan dia hanya mengikuti perkataan Lamona yang dia ingat ketika pria itu menjelaskan rumahnya. Asyra mendongak, dan menemukan bahwa langit mendung. Sebelumnya tidak semendung ini, namun sekarang benar-benar sudah mendung dan jelas akan hujan didetik berikutnya.
Dalam wujud manusianya, Asyra tidak boleh terkena air apapun itu atau dia akan kembali ke bentuknya semula, menjadi duyung kembali.
Ketika tetesan pertama mendarat disebelahnya, Asyra segera berlari menuju sebuah bangunan dan dengan cepat menyelamatkan dirinya dari air hujan yang segera mengguyur bumi. Bangunan itu adalah sebuah rumah makan sederhana. Tidak hanya Asyra yang berteduh, ada banyak orang yang turut berteduh disana. Karena itu adalah rumah makan, beberapa dari mereka sekalian memesan makanan sembari menunggu hujan reda, dan beberapa lainnya hanya memesan camilan dan minuman hangat untuk menghangatkan diri.
Asyra berdiri didekat jendela, memandang keluar dengan tatapan samar.sebelum tersenyum.
"Aku pikir akan ketahuan karena hujan. Ternyata-!"
Pyas!
Asyra menoleh dengan horor, dan memandang penuh keterkejutan pada seorang anak yang terjatuh. Ia nampak menangis dengan darah diantara giginya ketika dia terjatuh dengan dagu menghantam lantai. Sang ibu dari sang anak segera menghampirinya dan melihat keadaannya. Asyra tidak bisa bergerak selama dua detik, sebelum memandang pada kakinya yang basah oleh cairan putih. Susu.
"Aduh nak! Kamu tidak apa? Bagaimana kamu bisa begitu ceroboh sampai membasahi nona ini?"
Wanita itu mendongak, hendak meminta maaf kepada Asyra ketika wanita itu tertegun dan tidak bisa berkata-kata. Sisi muncul dikakinya yang merapat, pakaiannya memudar dan telinganya berubah. Itu, adalah pemandangan yang mengerikan bagi sang wanita.
__ADS_1
"Arghhh!!! Monster!!"