Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 46 "Berdoa Di Kuil Musim Semi"


__ADS_3

Iloania melihat sekelilingnya dan mendapati teman-temannya termasuk Lasius bahkan Eleanor tengah duduk disatu meja besar. Banyak orang dikantin mencuri pandang pada mereka, terutama karena keberadaan dua orang yang paling dikenal pada acara pembukaan penerimaan siswa baru. Terlebih dengan kedatangan Iloania yang mengambil bangku kosong disebelah Miaka, orang-orang bertambah banyak melirik, terutama kaum hawa. Menyayangkan kecantikan Iloania yang diimbangi dengan kekuatannya yang lemah.


"Ilo, bagaimana? Bagaimana? Apa yang dilakukan oleh pak Kepala sekolah?" Tanya Jissiana memunculkan jiwa penasarannya.


Sebelum Iloania menjawab, Lasius telah menyambarnya. "Apa yang kamu lakukan dengan kepala sekolah?"


"Itu, kepala sekolah hanya bertanya beberapa hal kecil, bukan masalah besar. Ngomong-ngomong hari ini kak Lasius ingin datang berlatih denganku, lagi?" Tawar Iloania sekaligus mengalihkan topik pembicaraan.


Lasius jelas sadar Iloania mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Tetapi meskipun begitu, mengingat latihan terakhirnya yang gagal, Lasius mengepalkan tangannya dan menganggukkan kepalanya dengan tegas.


"Aku ikut."


Iloania mengangguk dan tersenyum cerah. "Baiklah~"


...***...


Iloania kecil berjalan melewati jalanan yang berbatu. Sepasang alas kaki ringan terlilit dikakinya yang ramping. Gaunnya masih saja, dengan tambahan jubah biru gelap yang menutupi tubuhnya sampai sebatas lutut. Sepasang maniknya memandang sekelilingnya dengan hati-hati, mencoba menemukan sesuatu yang bisa membawanya menuju manusia hantu. Sayangnya bahkan sampai perbatasan kekota lain, tidak ada sesuatu yang bisa ditemukan.


"Hum?" Iloania bergumam samar saat menemukan sebuah bangunan didekat sungai. Ada jembatan disungai dan sepertinya menghubungkan dua kota.


Penasaran, Iloania mendatanginya dan menemukan seseorang membuka kedua pintu besar disana dengan lebar. Memberikan akses kepada orang-orang untuk masuk kedalam kuil itu. Dua pilar besar menjadi ciri dari kuil itu. Pilar batu putih diukir sedemikian rupa, menciptakan ukiran-ukiran yang berulir dan membentuk keindahan clasik. Iloania memandang tiap ukiran dan menahan senyumannya. Pria itu menemukan Iloania dan sedikit terkejut, sebelum menyapa dengan ramah.


"Nak, apakah kamu ingin berdoa?" Iloania memandangnya dan menganggukkan kepalanya.


"Masuklah, masuklah," pria itu mengundangna dengan hangat. Membiarkannya melalui pintu besar, dan mendapati aula kosong dengan kolam dan patung ditengah aula itu. Itu adalah patung seorang wanita yang memiliki empat tangan dan memiliki dua wadah timbangan didua tangan bawahnya. Sedangkan dua tangan lainnya memegang harpa dan karangan bunga. Dikolamnya, air jernih memantulkan kilauan, ketika banyak koin perak dan emas tersorot cahaya matahari pagi dari jendela-jendela tinggi yang megah.


Iloania tidak bisa membantu, tetapi sedikit tertegun.

__ADS_1


"Benar-benar wanita yang cantik dan anggun. Siapa dia?" Tanya Iloania.


Pria disampingnya tengah berkutat dengan meja pemujaan didepan patung, dan dengan tenang menjawab. "Dewi Artorphs, melambangkan ketamakan, tetapi juga melambangkan pengorbanan. Dewi Artorphs adalah dewi yang dipuja oleh orang diseluruh kota ini."


"Dahulu kala, Dewi Artorphs adalah dewi yang paling dicintai dikerajaan langit. Tetapi Dewa Matahari dan Dewi Bulan melihat keserakahan dalam dirinya. Dewi Artorphs sangat senang mengoleksi berbagai perhiasan dan kristal, bahkan sampai yang ada didunia manusia. Dewa Matahari yang marah menghukumnya keduania manusia dan menghilangkan hampir seluruh kekuatannya. Dewi Artorphs yang dibuang kedunia manusia masih terus mengumpulkan permata dan kristal, sampai dia bertemu dengan seorang manusia. Tahu apa yang terjadi?" Ditengah ceritanya, pria itu bertanya.


Iloania nampak berpikir sejenak. "Biar kutebak, mereka pasti saling jatuh hati."


"Benar dan salah. Hanya Dewi Artorphs yang mencintai, sedangkan manusia itu telah mencintai wanita lain, yang telah terbunuh dalam perang. Manusia itu hanya mencintai kekasihnya dan mengabaikan Dewi Artorphs, yang menyamar menjadi manusia sungguhan. Karena kegigihan dan ketulusan Dewi Artorphs, hati manusia itu tergerak dan keduanya jatuh cinta."


Pria itu melanjutkan sembari menuangkan beberapa tetes cairan jernih dari dalam botol kedalam kolam. Aroma harum yang menenangkan tercium. "Selanjutnya, keduanya bersama. Tetapi sekali lagi, apa yang dilakukan keduanya terlihat dimata Dewa Matahari, sehingga dewa menguji Dewi Artorphs dengan menyuruh Dewa Scorte, dewa wabah untuk mengirimkan wabah kenegara dimana mereka berada. Orang-orang yang terkena wabah akan tunduk pada penyakit mereka dan seperti mayat akan hidup dengan memakan darah yang lainnya, tetapi itu menular."


Iloania menaikkan alisnya. "Hum, jadi dewa dan dewi tidak diizinkan jatuh cinta dengan manusia?"


"Benar, mungkin itu sudah menjadi kehendak langit."


"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya paman?" Tanya Iloania penasaran.


Pria itu berhenti sejenak, "Umumnya para manusia yang terinfeksi akan menyadari keberadaan darah yang keluar dari tubuh pada luka. Jadi, Dewi Artorphs membuat darahnya berbau lebih kuat dan dia menyayat seluruh tubuhnya dengan pisau dan menenggelamkan dirinya didalam danau. Membiarkan darahnya menyebar dan memenuhi danau. Setelah manusia yang terinfeksi berduyun-duyun datang dan meminum air danau, mereka mati."


"Begitulah cara Dewi Artorphs melindungi manusia itu." Kata pria tadi.


Iloania tersenyum manis dan berkata dengan ringan. "Terima kasih untuk kisahnya paman."


Setelahnya Iloania bersimpuh didepan patung dan menyatukan kedua tangannya didepan dada. Sedikit menunduk dan melantunkan kata-kata tanpa suara dibibirnya. Iloania mengangkat tangan kirinya dan memunculkan sekeping uang koin emas ditangannya, dan melemparkannya kekolam dengan lemparan ibu jadinya. Koin itu menabrak kaki dewi, menggelinding disekeliling kaki Dewi Artorphs dan berakhir jatuh kedalam kolam jernih, bercampur dengan kepingan koin lainnya.


"Apakah kamu penyihir?" Pertanyaan pria disampingnya membuat Iloania menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Iya. Elemen angin dan api, apakah paman seorang penyihir?" Tanya Iloania.


Pria itu tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Bukan, saya hanya penjaga dikuil biasa. Tidak memiliki sihir dan kekuatan selain doa. Berkah bagimu memiliki sihir, anak muda. Gunakan sihir dengan bijak, cintai dan berikan berkah kepada banyak orang."


Iloania mengangguk, "Itu pasti paman. Seperti sekarang, aku sedang mencoba yang terbaik untuk membantu."


"Oh? Membantu apa?" Tanya pria itu penasaran. Iloania hanya memasang senyuman, membuat maniknya melengkung sipit.


"Sesuatu."


...***...


"Latihan kali ini tetap sama. Seberangi jembatan itu, maka aku akan mengajarimu ketahap selanjutnya. Dengarkan, walaupun aku tidak menyukaimu, bukan berarti aku akan membiarkanmu kehilangan kendali karena kegelapan didalam hatimu. Selesaikan saja dan jangan khawatir dengan apa yang akan terjadi." Vleia berujar sembari melipat tangannya didepan dada.


Lasius yang berdiri didepannya dengan tegas menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia tahu bahwa binatang sihir Iloania adalah binatang sihir bermuka dua. Meskipun terlihat acuh, tidak bersahabat dan kasar, sebenarnya dia bersikap baik dan profesional. Buktinya, tidak membiarkan dirinya kehilangan kendali pada latihan kemarin. Dan bahkan mengizinkannya menjalani dan mengikuti pelatihan yang mungkin, dikhususkan untuk Iloania dan tidak menolak keberadaannya disini. Lasius mengepalkan tangannya, dan membulatkan tekadnya untuk menyelesaikan kegelapan didalam hatinya. Dia harus bisa menyelesaikan kekacauan yang terjadi didalam benaknya, untuk meningkatkan kekuatan mentalnya.


Jadi tanpa kata lagi Lasius memberikan satu langkah mantap kejembatan, yang dalam sepersekian detik membawanya pada ruang kosong yang gelap. Dipenuhi dengan gelak tawa dan rintihan menyedihkan.


"Ini akan baik-baik saja, mari lakukan Lasius. Mari lakukan." Gumamnya pada dirinya sendiri.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


14/09/2021


Jangan lupa dukungannya~

__ADS_1


Salam hangat,


LuminaLux


__ADS_2