
Langkah Iloania dan Lasius beriringan ketika keduanya melangkah melewati wilayah hutan. Tapak kaki ringan dengan iringan suara alam yang nyaman membuat suasana menjadi lebih lembut dan menenangkan meskipun pada kenyataannya mereka masih terburu oleh waktu.
"Sayang sekali kakek Roe melarangku masuk kembali kesana setelah aku berhasil. Jadi, aku tidak bisa berpamitan kepada kakek Roe dan paman Moxart."
Mendengar pernyataan Iloania membuat Lasius menyunggingkan senyuman dan menganggukkan kepalanya, membenarkan apa yang baru saja diucapkan oleh sang kekasih. Sejak Iloania muncul, Mozart juga menghilang, dan hanya ada sebuah pesan yang mengatakan bahwa Lasius dan Iloania harus melanjutkan perjalanan, dan melupakan tempat yang pernah mereka datangi itu. Mozart adalah guru yang hebat, dan cukup sedih untuk mengakui bahwa Lasius bahkan tidak boleh berpamitan dan meminta berkat keselamatan secara langsung.
"Tidak apa. Mungkin suatu hari nanti kita bisa kembali bertemu dengan mereka, kan?"
Iloania menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya, kak!"
"Ngomong-ngomong, apa sekarang kamu sudah tahu identitasmu sebenarnya?" Lasius menyunggingkan senyuman, "Aku tidak bermaksud apa-apa. Namun bahkan jika identitasmu tidak sesuai apa yang ada dihadapanku sekarang, kamu tetaplah Iloania Rexelite. Gadis pertama yang aku cinta didunia ini."
Iloania menyunggingkan senyuman kemudian sebelum sedikit memiringkan kepalanya. "Maukah kak Sius memberiku waktu sejenak? Aku juga masih mencoba memahami sebenarnya tentang identitasku. Ketika aku sudah memastikannya, aku akan segera memberitahu kak SIus dan aku berjanji tidak akan menutupi apapun dari kak SIus."
"Tentu saja, Ilo." Jawab Lasius, "Kamu selalu bisa memiliki waktu."
Keduanya kembali melangkah disepanjang aliran sungai. Jejak bayangan memantul disungai yang tenang. Ikan terkadang beriak dan capung terkadang melompat diatas permukaan air sebelum kembali terbang lepas diudara. Iloania menatap kearah sungai dan menyunggingkan senyuman lembut yang benar-benar tulus, tanpa ada sedikitpun senyuman palsu yang biasa dia tampilkan didepan umum.
"Terimakasih sudah mau menemaniku, kak Sius."
Suaranya lembut dan pelan, hampir seperti bisikan. Lasius menoleh, menatap Iloania dengan tatapan penuh kasih dimatanya sebelum meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.
Iloania menoleh dan menemukan senyuman diwajah Lasius yang membuatnya turut tersenyum. Kemudian, keduanya berjalan sembari bergandengan.
...***...
"Amore!!"
"Amore!!!"
Kegelapan melingkupi ketika perlahan kegelapan itu menjadi sedikit lebih samar. Seperti retakan kaca, ada gambaran didalamnya. Seorang pria berjubah mendekati sesuatu yang tergeletak diatas reruntuhan. Tangan kanannya membawa sebuah pedang panjang yang kecil dan tajam, ternoda darah merah yang masih menetes.
Wajahnya dan helaian rambutnya yang tertutup oleh jubah membuat identitasnya sulit dilihat, dan fragmen yang terlihat cukup kacau hingga hanya seperti sebuah kaset film rusak.
Perlahan dia berjongkok, menatap pada sesosok bayi mungil yang tergeletak beralaskan kain putih bernoda darah. Napas hangatnya dengan lembut menyapa, dan pipi bundarnya kemerahan oleh warna alami karena rasa dingin yang dia rasakan. Helaian rambut emas tipisnya yang hanya sepanjang ruas jari tangan jatuh menutupi dahinya.
__ADS_1
Ia nampak seperti seorang peri ditengah lautan darah dan lautan api.
Ketika bayi itu membuka matanya, sepasang manik emasnya yang berkilau bak bintang ditengah kegelapan mampu menggetarkan hati siapapun yang melihatnya. Eskpresi pria itu tak terbaca, bilah pedangnya masih dia pegang ditangan kirinya dan ia mengulurkan tangan kanannya yang ternoda darah untuk menyapa pipi bundar sang bayi yang memandangnya dengan tatapan yang penuh dengan rasa penasaran.
"Kau mau mati?"
"Iloania."
Suaranya semakin dingin dan kegelapan segera menelan fragmen itu. Gambaran yang terjadi semakin tertelan dan suara semakin menipis.
"Katakan, kau mau ..."
"Iloania!"
Kegelapan menyapu seluruh pemandangan. Ketika Iloania membuka matanya, hal yang dilihatnya adalah langit malam yang nampak begitu mendung. Udara dingin menerpa tubuhnya bahkan meskipun ia telah menggunakan jubah yang tebal. Ada jejak kebingungan, kecemasan dan ketidaktahuan diwajahnya ketika dia kemudian menoleh dan menatap Lasius yang mengulurkan tangan untuk menyentuh pipinya.
"Hei, Ilo. Kamu tidak apa?" Ia bertanya dengan khawatir.
"Aku memanggilmu berkali-kali, namun kamu tidak kunjung bangun. Maaf, apa aku mengejutkanmu? Kita harus segera berlindung kedalam gua karena sepertinya akan turun hujan. Hallias sudah membantu mencarikan gua yang aman dan itu hanya berada beberapa puluh meter dari sini."
"Kamu bermimpi lagi? Tentang Amore dan Callisto?"
Iloania menatap lurus kedepan selama beberapa saat sebelum dengan lembut menghela napas. "Aku akan memberitahu kak Sius. Tapi mari kita ke gua dulu. Kak Sius bilang hujan akan segera tiba."
Lasius mengangguk dan segera menuntun Iloania kegua yang dimaksudkan oleh Hallias. Lasius segera membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka berdua ketika dalam beberapa menit kemudian. hujan turun dengan deras diluar. Iloania memasang barrier yang membuat suara diluar tidak begitu terdengar keras didalam gua yang bergema, sehingga ketika mereka berbicara, keduanya bisa mendengar dengan jelas ucapan pihak lain.
Keduanya duduk bersebelahan diatas tempat tidur Iloania, memandang kobaran api kecil namun hangat didepan mereka.
"Sebenarnya, mungkin aku adalah Amore."
Pernyataan pertama Iloania membuat Lasius menatapnya sedikit terkejut. "Kamu Amore? Yang kamu mimpikan itu?"
Iloania menganggukkan kepalanya. "Ceritanya begitu panjang. Benar-benar panjang. Jika aku bercerita, entah apa kak Sius akan percaya padaku atau tidak."
Lasius menatap Iloania. "Aku akan selalu percaya padamu, Ilo."
__ADS_1
"Ketika aku menggunakan sihir waktuku saat itu, aku terbangun disebuah tempat kak. Seperti sebuah ruangan kamar, dengan orang-orang asing yang tidak aku ketahui. Namun yang aneh, aku merasa dekat dan familiar dengan suasana itu, seolah, aku sendiri pernah mengalaminya."
Iloania mulai bercerita dengan suara perlahan. Cahaya dari nyala api memberikan lebih jelas penglihatan untuk memperhatikan pahatan wajahnya yang sempurna tanpa celah. "Amore dan Callisto yang aku mimpikan dulu, aku melihatnya dengan jelas disana. Sepasang mata biru yang sejernih lautan, dan rambut pirang. Itu Amore. Sementara Callisto, bermata hijau yang sewarna daun dan berambut pirang pula."
"Amore dan Callisto adalah sepasang saudara. Orangtua mereka adalah seorang raja dan ratu, dengan seorang kakak bernama Charles, putra mahkota Kerajaan Emerald."
Lasius melebarkan matanya. "Kerajaan Emerald?"
Iloania mendongak. "Kak Sius tahu sesuatu tentang kerajaan Emerald?"
Lasius menganggukkan kepalanya. "Aku hanya mendengar ini dari ibuku, yang merupakan sahabat dekat Ratu Kerajaan Emerald, Euraselle Axortia."
Manik Iloania melebar, namun dia tidak menyela atau mengatakan apapun dan membiarkan Lasius bercerita, "Duapuluh delapan tahun yang lalu, kerajaan itu adalah kerajaan yang besar dan makmur. Sejak kelahiran putri bungsu kerajaan Emerald yang identitasnya sampai sekarang masih menjadi misteri, kerajaan semakin berjaya. Namun tepat dihari putri berusia duabelas tahun, terjadi penyerangan dari kerajaan Arbel yang sebenarnya menjalin kerjasama dengan Kerajaan Emerald."
Iloania dengan tegas, "Dikejadian itu, putri terbunuh bukan?"
Lasius mengenggukkan kepalanya. "Putri, Callisto dan sang Raja terbunuh pada saat itu."
Pernyataan Lasius membuat Iloania terkejut. "Yang Mulia Raja juga terbunuh?"
Lasius menganggukkan kepalanya. "Kejadiannya tidak begitu jelas, namun pada saat itu, sebenarnya Kerajaan Emerald sudah menang. Namun ada sesuatu yang janggal yang membuat seluruh pengguna elemen kristal terbunuh. Untungnya, semua pengguna elemen kristal yang tidak ada dikerajaan berhasil selamat, termasuk Putra Mahkota dan Ratu Euraselle."
"Iloania, mimpimu, mimpimu benar-benar begitu?" Lasius menatap Iloania dengan tatapan yang seakan menemukan sesuatu yang besar. "Apakah kamu adalah Amore?"
Tatapan Iloania berpindah pada Lasius. "Aku tidak bisa mengerti kak. Aku memang memimpikan hal itu, namun, bagaimana dengan enam yang lainnya?"
"Enam ... lainnya?"
Iloania mengusap pelipisnya. "Ini aneh. Aku melihat setiap kehidupan, dan cinta yang mereka rasakan selalu menjadi hal yang berakhir sebagai tragedi. Lova dan Christopher, Rema dan Asta, Luce dan Hesian, Lamona dan Asyra, Samantha dan Theor, Anorexia dan Zeron serta Amore dan Callisto."
Iloania menatap Lasius dengan tatapan yang sedikit sulit diartikan. "Jika aku adalah Amore ..."
"Lalu apa maksud enam penglihatan lainnya yang aku lihat?"
__ADS_1