
Iloania terengah, bersandar dipohon sembari menatap kosong lurus kedepan. Tatapannya samar dan seperti satu sapuan kuas, tidak memiliki cahaya meskipun itu masih berwarna emas yang memikat. Napasnya cepat dan keringat mengalir dari dahinya hingga kelehernya. Ia memejamkan matanya, menutupnya menggunakan tangannya sebelum mengerang pelan. Dari bawah tangannya, ada cairan merah pekat yang mengalir dipipinya, meluruh turun dan berakhir jatuh dipakaiannya.
"Ilo?!" Suara Lasius terdengar begitu terkejut dan memiliki kecemasan saat melihat Iloania tersandar.didepan bangunan rumah sederhana itu.
"Hei, apa yang terjadi?!" Tanya Lasius sembari menarik tangan Iloania turun dan memeriksanya, hanya untuk menemukan sepasang manik tak bercahaya diwajah ayu itu.
Iloania menggeleng saat merasakan cengkraman Lasius mengencang. "Tidak ada siapapun yang menyerangku. Ini .. Ini karena aku sendiri."
"Apa?" Beo Lasius.
"Kakak melihat kak Yazuha? Sebenarnya, aku yang membawanya kekota ini. Dulu, dia memiliki bakat memanggang yang luar biasa, yang membuatnya mampu membuka toko kue untuk menghidupi dirinya sendiri dan adiknya. Aku berpikir, meninggalkannya ditempat ini sangat baik, karena dia bisa hidup bebas. Tapi ternyata keputusanku sangat salah." Iloania berkata dengan nada pelan dan hampir seperti gumaman, namun Lasius bisa mendengarnya.
"Beberapa orang disini tidak menerima kedatangan kak Yazuha, dan membuat kak Zuha kehilangan penglihatannya. Itu semua salahku karena membawanya kemari." Kata Iloania.
"Itu bukan salahmu, Ilo. Kamu sudah membawa mereka bebas bukan?" Kata Lasius.
Iloania menggelengkan kepalanya. "Tapi kak Zuha kehilangan matanya karenaku. Aku bersalah."
Lasius menangkup wajah Iloania dan membuatnya mendongak. "Lalu katakan padaku, ada apa dengan kedua matamu? Membuat matamu buta tidak akan membuat Yazuha memiliki kembali penglihatannya."
Iloania menggeleng lagi, "Bisa."
"Aku menukar penglihatan kami. Ini salah satu tehnik yang diajarkan guru padaku. Meskipun akan memiliki efek kepada pemakai tehnik segel ini, tetapi pihak lain bisa mendapatkan penglihatan si pengguna tehnik." Dia menjelaskan.
Lasius menahan napasnya sesaat, "Bagaimana, bagaimana denganmu sendiri? Kenapa kamu sampai melakukan hal itu?"
"Aku bisa menyembuhkan mataku, kak. Tapi, aku harus meminjam kekuatan Vleia terlebih dulu. Dan itu artinya aku harus membangkitkannya terlebih dahulu." Ucap Iloania.
Ia tersenyum, "Aku akan menganggap kebutaanku ini sebagai bayaran karena kesalahanku. Aku—!" Ucapan Iloania terhenti ketika Lasius menariknya kedalam pelukannya. Pelukan hangat, yang penuh kenyamanan dan rasa, aman bagi Iloania.
"Kamu tidak salah, sungguh. Kamu punya hati yang lebih baik dari siapapun yang ada didunia." Ucap Lasius.
Iloania sedikit terkikik, "Kakak bercanda ya? Bagaimana bisa? Bagaimana dengan saintess?"
Lasius mengeratkan pelukannya, "Kamu jauh lebih baik hati. Bahkan saintesst pun tak akan bersedia melakukan hal seperti yang kamu lakukan."
__ADS_1
Iloania sedikit tertawa, mengangkat tangannya dan membalas pelukan Lasius. Ia menyamankan dirinya dipelukan Lasius. Malam ini dia tidak bisa melihat, tetapi dia yakin, bulan pasti tampak bercahaya dan menawan.
Keesokan harinya, nyanyian burung mulai terdengar. Ada aroma bunga lembut yang tercium diudara.
"Berpegangan padaku, aku akan membawamu menyebrangi sungai." Kata Lasius sembari mengulurkan tangannya dan meraih tangan Iloania.
"Terima kasih kak Sius~" Senyum Iloania.
Lasius bersenandung lembut dan menuntun Iloania melangkah menginjak bebatuan yang dirasa aman untuk dilalui. Tindakannya hati-hati, dan setiap gerakannya seperti memperlakukan benda berharga yang mudah pecah bahkan dengan sedikit sentuhan.
Iloania sendiri masih mencoba menyesuaikan dirinya dengan kegelapan. Dia tidak pernah mengalami hal seperti ini, jadi dia mulai membangkitkan indranya yang lain. Entah itu pendengaran, pembau, perasa bahkan instingnya.
"Mengapa kak Sius berjalan sangat pelan?" Tanyanya dengan nada geli saat dirinya merasakan Lasius membimbingnya dengan penuh kehati-hatian.
Iloania mendongak, "Aku tidak benar-benar buta, kak Sius. Aku masih bisa mendengar dan merasakan dengan baik. Jangan khawatir."
"Aku tetap khawatir." Ucap Lasius tanpa bantahan.
Setelah sampai diseberang sungai, Lasius menoleh pada Iloania dan bertanya. "Kamu tidak meninggalkan pesan apapun pada mereka?"
"Tidak." Iloania menggeleng.
Gadis itu tengah menggilas pakaian kotor diatas papan gilas. Ada busa samar ditangannya, dan keringat tercetak didahinya. Tetapi diwajahnya, terpancar senyum yang bersih dan tak menyiratkan sedikitpun kelelahan.
"Ize!" Teriakan itu membuatnya menoleh.
Diambang pintu yang menghubungkan bangunan sederhana itu dan halaman belakang rumah yang memiliki sumur pendek, Yazuha mengenakan pakaian putih dengan wajahnya yang lebam dan beberapa bagian memiliki warna hijau dan ungu yang mengerikan dipandang mata. Ize terkejut melihatnya, dia bangkit berdiri, tetapi sebelum kakinya melangkah, tubuhnya membeku. Maniknya menatap lurus kedepan, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sepasang manik cerah milik kakaknya ! !
"Mata kakak?" Gumamnya.
Yazuha segera berlari memeluknya, "Ize! Mata kakak sembuh! Kakak bisa melihat lagi, Ize!"
"Ka-Kakak sudah bisa melihat? Kakak melihat! Hiks, kakak akhirnya bisa melihat lagi, huuu!" Tangisnya sembari membalas pelukan Yazuha.
__ADS_1
Tak perlu ditanyakan seberapa bahagia dirinya menyaksikan sang kakak sudah bisa melihat kembali. Tak pernah ia pungkiri bahwa dia selalu menangis dan berdoa setiap malam untuk kesembuhan mata kakaknya. Setiap malam, tak pernah terlewat.
Dan dewa mendengar doanya!
"Terima kasih..."
Iloania mendongak, merasakan hangatnya sinar mentari yang terbit perlahan dari ufuk timur. Tangannya menengadah, seakan menangkap cahaya, sementara bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Lasius menumpuk beberapa potong kayu menjadi seperti api unggun.
Iloania menoleh kesumber suara dan memamerkan deretan gigi putihnya, "Merasakan hangatnya sinar matahari pagi. Ini menyehatkan kak, ikutlah denganku."
"Baiklah, tapi sebentar saja ya. Setelah itu aku akan memanggang ikan untuk sarapan kita." Katanya sembari duduk disamping Iloania, duduk diatas tanah berumput diatas bukit sembari menikmati pagi itu.
Sepuluh menit kemudian, Lasius kembali keapi unggunya, menggunakan sihir cahayanya untuk menyalakan api. Meskipun itu cukup memakan waktu, setidaknya api berhasil muncul. Sebelum mengumpulkan kayu, dia sudah menangkap ikan disungai, dan mendapatkan dua yang berukuran besar. Mengeluarkannya dari kalung dimensinya, Lasius menggunakan ranting kayu yang sudah ditajamkan dan dibersihkannya untuk menusuk ikan dan menancapkannya ditanah didekat api.
"Aku akan menyisihkan durinya untukmu." Setelah beberapa saat memanggang, ikan telah matang dan siap disantap. Lasius tidak langsung memberikan ikan yang sudah matang itu kepada Iloania, tetapi dengan cepat dan hati-hati memilah tulang dan durinya dari daging ikan yang lembut dan berair. Dia tidak mau Iloania sampai terluka hanya karena duri ikan.
Menunggu dengan sabar, Iloania mengulurkan kedua tangannya kearah Lasius dan menerima lembar daun berisi potongan daging ikan yang besar diatasnya. Aromanya nampak sedap, dan ketika Iloania mencicipinya, jus segar dari ikan itu lumer dimulutnya.
Iloania tersenyum, "Ini sangat lezat! Terima kasih, kak!"
"Mn, makanlah." Balas Lasius sembari menatap Iloania yang nampak senang menikmati ikan panggang buatannya.
Menatap Iloania selama beberapa saat lagi, Lasius kemudian menunduk dan mulai menggigit ikan miliknya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
21/05/2022
Jangan lupa dukungannya~
__ADS_1
Salam hangat,
LuminaLux