
"Kami berangkat. Terima kasih untuk bantuannya."
Lasius berujar sembari menunggang kudanya, sama halnya dengan Iloania. Kemudian didepan, Olena menunggang kuda berwarna keabuan. Disisi lain, Orena, Aya dan beberapa penduduk desa itu melepas kepamitan ketiganya.
"Kalian, berhati-hatilah diperjalanan. Kembalilah dengan selamat," ucap Orena.
"Berhati-hatilah~"
"Jaga diri kalian!"
"Le, kembalilah secepatnya agar kita bisa berburu lagi."
Iloania dan Olena menganggukkan kepalanya. Gadis bersurai emas itu memandang Aya yang berada disebelah Orena dan meletakkan jari telunjuknya keujung bibirnya, dan menariknya membentuk senyuman.
Ia memberitahu Aya untuk tersenyum.
Gadis cilik itu paham setelah apa yang terjadi tadi pagi, dan ia menyunggingkan senyuman lebar yang benar-benar tulus.
Olena melihat kelangit dan berkata, "Kita harus bergegas pergi sebelum matahari terbenam."
"Kami pergi~" Pamit Iloania sembari melambaikan tangannya, sebelum memacu kudanya mengikuti Olena dan Lasius.
"Hati-hati kakak cantik dan kakak tampan!!" Teriak Orena.
"Hati-hatilah!"
Orena menatap ketiganya yang perlahan menjauh dan menghilang setelah memasuki mulut gua. Ia membatin, "Semoga dewa memberkati kalian berdua, Ilo, Sius. Semoga perang dipihak kalian."
Brak!
"Arrghh!"
__ADS_1
Gadis iblis itu menjerit kala tubuhnya menghantam dinding gua dengan keras. Hingga nyaris tenggelam didalamnya. Darah mengucur dari kepala dan dadanya yang tersayat. Ia sungguh kesakitan dengan luka yang tak sembuh meskipun ia adalah Iblis yang bisa meregenerasi tubuhnya.
"Am-Amp-Ampuni saya, Lord.." Lirihnya kepayahan.
Raja Iblis menatapnya dengan dingin. "Tidak berguna."
Ada iblis lainnya disana. Menatap Eavy dengan tatapan yang bermacam-macam. Datar, seakan-akan ia bahkan tidak menyadari keberadaan yang lain selain Raja Iblis. Puas, mencintai setiap ekpresi kesakitan dan penderitaan dari seseorang, bahkan jika itu adalah kawan. Benci, emosi menggebu karena sebuah kegagalan. Pengecut adalah sampah.
Eavy merangkak mencoba mendekat kesinggasana Raja Iblis, tetapi salah satu dari iblis yang ada disana mengangkat tangannya dan menurunkannya cepat, untuk memunculkan bilah tajam yang menusuk punggung Eavy, membuatnya memekik kesakitan sebelum mengeram menahan rasa membakar dipunggung dan perutnya yang tertusuk.
"Sa-Saya mohon .. am-ampuni saya, Lord!" Ucap Eavy.
Dia benar-benar tidak tahu mengapa kakaknya bisa terbunuh oleh gadis itu. Ia tidak tahu karena burung sialan itu membuatnya teralihkan. Dia tidak tahu bagaimana Lasius membantu Iloania, dan bagaimana Hisso mati.
Semuanya tidak dia ketahui, tetapi hanya karena dia melarikan diri setelah Hisso terbunuh, dia merasakan krisis bahwa dia akan mati.
Dia bahkan tidak bisa kabur!
Dibayangan, tubuh itu terangkat sebelum tercabik-cabik dengan kejam, diiringi jerit suara memilukan. Benar-benar menjadi pemandangan mengerikan bagi beberapa anak kecil berderai air mata yang terikat dipojok gua itu.
Merekalah, obat yang dimaksud.
Ada beberapa orang yang terlahir kedunia dengan membawa sebuah energi yang dinamakan Clore. Clore menjadi sebuah energi bentukan yang terbawa dari ambang pintu kematian dan kehidupan dari janin yang tercipta. Tidak semua orang memiliki clore. Dan biasanya pemilik clore adalah anak-anak, dan akan menghilang setelah mereka berusia remaja.
Sayangnya, bukan sebuah berkah bagi seseorang yang memiliki clore. Mereka dapat melihat "sesuatu" yang tak bisa dilihat oleh manusia biasa. Mampu berinteraksi dengan "sesuatu" yang tak nyata, dan mampu melakukan sesuatu yang diluar nalar.
Tetapi seperti kegelapan, semua kegelapan berduyun-duyun mendatanginya untuk mendapatkan jiwanya sebagai makanan.
Yang mampu memberikan kehidupan kepada mereka yang mati.
Itulah .. yang diinginkan Raja Iblis.
__ADS_1
Diwaktu-waktu seperti ini, para penyihir khususnya penyihir pelindung benar-benar disibukkan dan menjadi yang paling dibutuhkan. Bukan berarti penyihir lain tidak penting, tetapi masing-masing memiliki perannya masing-masing.
Keberadaan penyihir pelindung menjadi penyokong agar tempat-tempat tertentu yang sudah disediakan sebagai tempat penyelamatan saat perang mampu melindungi penduduk didalamnya.
Sepasang kaki itu melangkah tergesa disepanjang lorong. Ada dua lorong panjang yang dilewatinya sebelum dia sampai disebuah ruangan. Ia melemparkan dokumen ditangannya keatas meja dan menghantam meja dengan kepalan tangannya.
"Tidak cukup membuat kami was-was, bahkan sekarang anak-anak tidak berdosa-pun diculik?" Legarion bergumam.
Ia mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan membiarkan b*debah itu bisa memenangkan pertempuran. Bagaimanapun caranya, kami harus bisa menjaga dunia dalam kedamaian."
Legarion mengeluarkan secarik kertas dari dalam lacinya dan nampak meraih pena untuk menulis sesuatu diatasnya. Hanya sebuah tulisan singkat, tetapi memiliki banyak makna.
Fluitt!
Ia bersiul nyaring, menangkap perhatian elang pengantar surat. Elang berbulu kemerahan itu berdiri gagah ditempat yang sudah disiapkan bagi butung sepertinya. Legarion mengikatkan kertas kecil itu kekaki kiri sang elang dan melepaskannya untuk terbang.
"Semoga sampai tepat waktu," batinnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
07/08/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux
__ADS_1