
"Lepaskan dia."
Rema berkata dengan dingin. Memandang mereka dengan ancaman yang tersirat jelas di maniknya. Mirocuez melangkah mundur, dan secara ajaib, Asta melayang, mengikuti jejak Mirocuez. Kechexer menatap Rema. Keduanya saling beradu pandangan dengan dingin. Sebelum tiba-tiba, Kechexer melompat. Rema mengangkat tangan kanannya, menahan serangan Kechexer dengan dingin pelindung transparan yang melengkung seperti kubah. Menahan cakaran Kechexer.
Percikan kekuatan supranatural beradu, menghasilkan gelombang terang. Merah dan keemasan yang beradu.
Rema mengangkat tangannya. Gelombang cahaya kemerahan berkumpul ditangan kanannya. Kekuatan yang memadat, membawa tekanan kuat yang membuat sekelilingnya bergetar. Reruntuhan kecil bangunan itu berjatuhan, dan debu pasir berterbangan kesegala penjuru arah. Untuk pertama kalinya, dalam hidupnya, Rema ragu untuk mengeluarkan serangan ketika melihat Asta yang berdiri disana, kebingungan ketika debu dan pasir serta serpihan batu jatuh keatasnya.
Rema tidak bisa mengeluarkan kekuatannya, karena dia tahu, bahwa satu serangannya saja bisa menghancurkan bangunan ini.
Mengerutkan keningnya, Rema menarik serangannya dan melompat kebelakang, memberi jarak antara dirinya dan Kechexer. Prioritasnya saat ini adalah membawa Asta pergi dari tempat ini, membebaskannya dari mereka ke tempat aman. Sebelum, dia menghancurkan mereka.
"Serang aku! Lawan aku sebagaimana kau menyerang sukuku!" Kechexer meraung, berlari rendah dengan kecepatan tinggi. Lintasannya acak dan tidak tertebak.
Sepasang manik tajam itu hanya terarahkan kepada Rema. Rema melawan serangan secara langsung, namun sebisa mungkin, gadis itu menghindari serangan yang membuatnya harus menggunakan sihirnya. Dia memejamkan matanya sesaat di tengah serangan Kechexer, dan ketika dia membuka matanya kembali, dia sudah ada beberapa meter didekat Asta. Dia berlari, mengulurkan tangannya untuk meraih Asta, sebelum ia dikejutkan oleh Kechexer yang muncul kembali disampingnya, melompat dan melayangkan serangan selangkah lebih cepat sebelum dia sempat menyentuh Asta.
Brak!
Tanah berlubang dan setengah hancur ketika Rema melompat kebelakang menghindari cakaran Kechexer. Maniknya menyipit, dan dia melihat gadis berjubah itu mengangkat tangannya. Diujung jarinya, ada samar cahaya keunguan yang berpendar.
"Teleportasi? Aku adalah ahlinya." Ucap Mirocuez dengan wajah datar nan malas andalannya.
"Untuk setiap nyawa yang kau renggut. Untuk setiap dosa yang kau lakukan. Kau akan mendapatkan karma yang setimpal untuk itu. Surga tidak akan pernah melihatmu, dan neraka pun tidak akan pernah menerimamu. Kau akan hidup sebagai hukuman itu sendiri. Kau akan dipenuhi penderitaan, kau akan menangis, dan kau akan kehilangan sari kehidupan. Kau hanya akan jadi hantu tanpa jiwa. Kau akan hancur."
Mirocuez berkata dengan sepasang manik yang melebar. Nada yang digunakannya tajam, berat dan dingin. Siapapun yang mendengarnya akan merasakan tulang punggungnya bergetar. Tatapan gadis itu sedikit goyah, namun hatinya selalu memantapkan apa yang telah dikehendaki dan dilakukannya.
Kechexer tertawa kesetanan dan mulai kembali menyerang. Serangan membabibuta yang menghancurkan dan tak terarah. Setiap serangan menghantarkan kekuatan yang tidak main-main, dan Kechexer tidak pernah ragu untuk mengayunkan tangannya bahkan meskipun serangan itu berpotensi menghancurkan apapun yang dikenainya.
Mirocuez melindungi dirinya sendiri dari reruntuhan, namun dia tidak melindungi Asta dari reruntuhan. Manik Rema menggelap, tatapannya tajam dan napasnya memberat.
Sialan!
Rema melayangkan pukulan kepada Kechexer, membalas tendangan pemuda itu. Satu pukulan itu berhasil mengantarkan Kechexer untuk hampir menghancurkan salah satu dinding bangunan itu. Memanfaatkan kesempatan, Rema berlari memejamkan matanya dan berpindah kehadapan Asta.
Crak!
__ADS_1
Memutar tangannya dengan tajam kebelakang, Rema menahan sebuah tombak yang diarahkan kepadanya dengan perisai tak terlihatnya.
"Mirocuez!! Hentikan!"
Jleb!
Rema terdiam. Maniknya menatap lurus kearah Asta yang pada saat ini melebarkan matanya dan berkedip dengan bingung. Pemuda itu terbatuk, dan cairan merah pekat mengalir dari sudut bibirnya. Sepasang manik darah Rema melebar.
"Asta?"
Pemuda itu membuka bibirnya, namun tidak ada kata-kata yang keluar ketika tubuhnya limbung kedepan. Jatuh kebahu Rema yang menatapnya dengan ekspresi yang benar-benar tak terbaca.
Setelah napasnya terputus-putus, pemuda itu akhirnya bisa membuka suara. "A—Apakah aku akan ma—mati?"
"Tidak."
Asta mencengkram tangan Rema. Berkata dengan suara memendek. "Aku ... aku su—suka ke—keranjang ... yang kamu ... berikan, Rema."
Gadis itu menurunkan tatapannya, menemukan fakta bahwa tombak Mirocuez, memanjang dengan sebuah sihir, dan mampu menembus perisainya. Setelah melihat selama dua detik, Mirocuez menarik tombaknya, menyebabkan tubuh keduanya limbung dan terduduk.
"Inilah hukuman untukmu." Gumamnya sebelum menyeringai dengan dingin.
Kechexer mendekat. "Mirocuez, apa yang kau lakukan? Kau tahu bahwa tombaknya akan memanjang lebih daripada biasanya karena sihirmu tidak stabil! Kau membunuh pemuda itu!"
Mirocuez memandangnya dingin. "Aku tidak peduli. Aku hanya ingin kematian gadis ini. Pembunuh keji yang telah merenggut segalanya dariku! Keluargaku! Sukuku! Bahkan kewarasanku!! Bahkan jika aku harus menjadi pendosa sekalipun!"
Kechexer memandang Mirocuez dan menggeleng. Sama sekali tidak mengenali siapa yang ada dihadapannya.
"Kau—!"
"Hahaha!!"
Suara tawa itu membuat keduanya menoleh dengan waspada. Manik Kechexer melebar kala melihat kepala terpenggal Rema tertawa bak setan. Bibirnya terbuka lebar, sangat lebar bahkan untuk melihat luka sobekan kecil disudut bibirnya.
Tawa mengerikan itu bergema di seluruh bangunan, dan keduanya tahu bahwa tawa itu lebih berbahaya bahkan dari racun paling mematikan di seluruh dunia. Mirocuez hendak mengangkat tombaknya kembali, sebelum keduanya terpental oleh kekuatan yang luar biasa. "Hahahaha!!!"
__ADS_1
"Hahahahahahahaha!!"
Darah yang menggenang dibawah tubuhnya perlahan bergerak, sebelum dengan cepat bersatu, menyatukan tubuh dan kepala Rema. Dalam sekejap mata, luka tebasan itu menghilang seakan memang tidak pernah terjadi apapun padanya, tanpa jejak darah di pakaiannya. Ia menoleh, dan menampilkan ekspresi paling mengerikan yang pernah mereka lihat dalam hidup mereka.
"Bunuh! Bunuh semuanya!! Hahahaha!!"
Tepat disisi lain, sepasang manik putih itu memandang lurus kedepan. Ia bergumam, "Ibu."
"Maafkan aku." Lanjutnya.
Rusfeli duduk di sebuah bangku. Menyesap wine ditangannya dan menyunggingkan senyuman. Sebuah senyuman yang untuk pertama kalinya, tulus. "Maafkan Ibu juga, nak."
"Haha!" Tawa Selliev meluncur. "Izinkan aku mencoba wine kesukaan Ibu. Untuk pertama dan terakhir kalinya."
Rusfeli tersenyum geli dan mengangkat gelasnya. Membiarkan Selliev menenggak cairan kemerahan di dalam. "Ternyata selama ini Ibu curang."
"Haha!"
...***...
Langit menggelap. Cahaya terakhir tertutup dengan jeritan terakhir yang bisa didengar di kota itu. Darah menggenang disegala penjuru tempat, dan mayat bergelimpangan disetiap mata memandang. Lautan api datang, dan bangunan-bangunan telah rata menjadi debu tanah. Guntur bergema, dan kilat menyambar dengan gila ketika badai datang.
Gadis itu berjalan terseok dengan darah yang melingkupi seluruh bagian tubuhnya. Manik darahnya semakin pekat tercampur oleh darah sungguhan. Ekspresinya tidak terbaca. Langkahnya perlahan, dan ringan. Membawanya untuk menapak diatas jalan setapak, menuju tempat yang pernah singgah dihidupnya.
"Asta."
Memandang pohon didepannya, Rema bergumam dengan sebuah suara tipis. Disini adalah tempat pertama dirinya bertemu dengan pemuda itu.
Rema terduduk, menyandarkan dirinya dipohon dan tertawa kesetanan layaknya orang gila. Pada akhirnya dia tahu. Pada akhirnya dia sadar. "Ini adalah karma untukku."
"Jika pada akhirnya hanya akan seperti ini, sejak awal, aku benar-benar berharap untuk tidak pernah bertemu denganmu."
Yogyakarta, LX
__ADS_1
[Dikarenakan Masalah Internal, Lbk Sementara Tidak Akan Dilanjutkan. Ree Bakal Lanjutin Lbk Kalau Masalah Ree Sudah Selesai. Terimakasih Dan Maaf Untuk Ketidaknyamanannya]