Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 73 "Pertemuan Pertama Vleia Dan Delt"


__ADS_3

Vleia tidak mengingat siapa dirinya sendiri. Dulu sekali, dia ingat bahwa selama puluhan tahun, dia selalu sendirian bersarang didalam puncak pohon raksasa mati ditengah-tengah lembah yang luas. Dia sendirian disana, bahkan binatang sihir ataupun binatang iblis tidak ada disana.


Dalam ingatannya, Vleia benar-benar yakin bahwa dia kesepian. Tanpa teman, bahkan tanpa ingatan tentang kehidupannya, tentang siapa dirinya.


Tetapi, setelah itu, ada seseorang yang mendatanginya tanpa takut, dan selalu berusaha mendekatinya. Itu adalah, hari dimana Vleia mengenal, kehidupan yang lebih luas daripada kehidupannya.


...***...


Hari Ketigapuluh, Bulan Kesebelas, Musim Dingin


Anak itu berdiri ditepi sungai. Mengamati kedalam sungai dengan sepasang manik emas yang berkilau tajam. Helaian surai pirangnya kerap kali tersibak oleh angin. Pakaian yang dikenakannya adalah potongan kain putih dengan ikat pinggang tipis berwarna emas. Dengan panjang kain sampai batas lututnya. Penampilannya sangat layak mengacu untuk dewa, hanya saja ia tak mengenakan alas kaki.


"Sial, aku jelas-jelas melihatnya disini tadi. Bagaimana bisa menghilang?" Suaranya kesal.


Ia mengangkat tangan kanannya, memunculkan tombak emas yang tipis. "Ikan-ikan, bersiaplah jadi santapanku~"


Ia melemparkan tombak itu seperti melemparkan pakan ikan. Melemparkannya dari bawah keatas dan memberikan efek jatuh ringan pada tombak itu. Benar-benar tidak digunakan untuk menusuk secara langsung. Tetapi keanehan dapat dilihat secara langsung ketika tombak itu sedikit bergetar, sebelum tombak itu bergerak dengan sendirinya didalam air, melesat melewati celah-celah batu menemukan target sebelum menusuk tepat pada tubuh ikan.


Hal itu tidak hanya terjadi sekali. Tombak itu terus menusuk ikan yang ditargetkannya dengan cepat, hingga beberapa menit kemudian, sebilah tombak sepanjang dua meter itu penuh dengan ikan berukuran besar.


Mengangkatnya, Vleia tersenyum penuh kepuasan. "Haha, aku akan makan sampai kenyang malam ini. Hm, waktunya membakar ikan~"


Vleia melangkahkan kakinya, menapaki bebatuan besar yang tergerus oleh tetesan air dari daun-daun lebar yang bahkan melebihi ukuran tubuhnya. Vleia melihat sekelilingnya sebelum berhenti disebuah tanah berumput yang cukup lapang. Ada sisa api unggun ditempat itu, dan memang menjadi tempat dimana biasanya dia memanggang jenis daging-dagingan atau memasak makanan yang perlu dimasak dengan api.


Menusuk ikannya ditusukan yang lebih panjang dan tipis, Vleia menancapkannya ketanah disekitar api unggun itu. Mencuci tangannya setelah memegang ikan dan menyalakan api menggunakan sihirnya. Sembari menunggu ikannya matang dengan sempurna, Vleia berbaring didekat api unggun sembari memandang gugusan bintang dilangit malam yang luas.


"Melihat bintang, ya?"


Didepannya, secara tiba-tiba sesosok wajah anak kecil muncul. Vleia melebarkan matanya, terkejut luar biasa dan berdiri memasang posisi waspada. Sementara anak lelaki bersurai merah sebahu itu memandangnya dengan polos.


"Ka-Kau! Siapa kau dan kenapa muncul disini tiba-tiba?!" Tanya Vleia.


Anak itu memiringkan kepalanya dan segera menjawab. "Namaku Delt. Aku kebetulan lewat dan melihat ada api didekat sini. Kupikir itu pasti seseorang, ternyata benar."


"Jangan menipuku! Kau pasti mau mencuri ikanku, kan?!" Tuduh Vleia sambil melindungi ikannya dari pandangan Delt.


"Tidak kok. Aku membawa makanan sendiri, apa kamu mau?"


Delt mengeluarkan sepotong kue dari dalam cincin penyimpanannya yang melingkar dijari kelingkingnya. Kue itu terbungkus kertas dan ketika dibuka ada aroma manis yang sampai dihidung Vleia.

__ADS_1


"Makanan apa itu?" Batinnya.


"Kamu ingin memakannya?" Tawar Delt kecil.


Vleia sebenarnya sangat penasaran dengan makanan apa itu, tetapi takut bila ada sesuatu dimakanan itu. "Bagaimana aku bisa tahu jika tidak ada sesuatu yang berbahaya didalamnya? Kau manusia kan? Para burung berkata bahwa manusia itu sangat licik dan berbahaya!"


Delt menurunkan matanya sedih. Padahal dia hanya ingin berbagi dan berteman, tetapi tampaknya temannya itu tidak menyukainya dan menuduhnya.


"Kalau aku memakannya apakah kamu percaya kalau makanan ini aman?" Tanya Delt mendapatkan ide untuk membuktikan bahwa makanannya sangat aman.


Vleia mengangguk, tetapi masih menjaga jarak. "Tentu saja!"


Mendengar itu, senyuman Delt muncul. Ia membuka salah satu potong kue dan memasukkannya kemulutnya. Merasakan legit dan lembut berbaur didalam mulutnya menjadi satu.


"Sangat lezat!" Gumamnya tanpa sadar.


Hal itu jelas langsung mengundang rasa penasaran Vleia. Namun, harga dirinya membuatnya menolak mentah-mentah untuk meminta kue itu dari anak laki-laki yang baru saja ditemuinya itu. Melirik kearah api unggun, Vleia mendapatkan ide ketika melihat beberapa ikan besar tertancap ditusukan dan hampir matang oleh api itu.


"Hey, akan kuberikan ikanku padamu. Tapi, sebagai gantinya berikan aku kue ditanganmu." Kata Vleia membuat penawaran.


Delt melihat ikan disana, dan tanpa sadar perutnya berbunyi. Delt memandang Vleia dan menganggukkan kepalanya ringan.


...***...


Langit malam makin menggelap. Dan bintang makin berhamburan dilangit. Vleia berbaring disarang-nya dengan Delt yang duduk tak jauh darinya. Anak lelaki itu nampak sedang mengukir sesuatu ditengah bantuan lentera yang ia keluarkan dari cincin penyimpanannya.


"Apa yang kau ukir?" Tanya Vleia.


"Putri Semesta." Jawab Delt.


"Hah? Putri Semesta?" Tanya Vleia.


Delt menganggukkan kepalanya, "Mn. Putri dari Dewa Matahari dan Dewi Bulan."


"Memangnya ada?" Tanya Vleia.


Delt mengangguk, "Tentu saja! Aku dan leluhurku adalah clan yang bisa melihat wujud Dewa dan Dewi melalui mimpi. Dan dimimpiku, meskipun sedikit samar, aku bisa melihat wujud Putri Semesta juga Pangeran Galaksi."


"Aku meragukan ceritamu. Lalu, apakah Putri Semesta-mu itu belum jadi?" Tanya Vleia saat melihat pahatan patung setengah jadi ditangan Delt.

__ADS_1


Delt menggeleng, "Belum. Aku sedikit kesulitan membuatnya, karena penglihatan yang kulihat masih belum kuat."


"Bagaimana cara agar penglihatan bisa kuat?" Tanya Vleia.


"Dengan menjadi semakin kuat. Jika aku kuat, maka aku bisa melihat dengan jelas wujud-wujud penghuni langit! Itu akan sangat luar biasa, dan aku bisa menyelesaikan pahatan putri~" Kata Delt dengan senyuman cerah.


Vleia menatapnya dan menghela napas, sebelum berbaring menghadap langit. "Ya, terserah. Berjuanglah."


"Tentu saja, terima kasih!" Ucap Delt.


...***...


Hari Kelimabelas, Bulan Pertama, Musim Dingin


"Hey, berhentilah menggangguku." Kata Vleia sembari mendorong Delt yang mencoba memeluknya.


"Hey, katakan padaku dimana aku bisa mendapatkan Bunga Seribu Senyuman? Jika kamu mengatakannya, aku akan memberimu pelukan~" Kata Delt.


Vleia bungkam dan terus mengerjakan urusannya sendiri, yakni bersantai. Bunga Seribu Senyuman sebenarnya berada didasar jurang yang ada dibelakang gunung yang ada didekat lembah dimana dia tinggal. Sebenarnya, jurang itu hanyalah retakan tanah berdiameter seratus meter sepanjang satu mill dengan kedalaman yang hampir menyamai kedalaman samudra terdalam didunia.


Tempat itu diakuinya, sangat berbahaya bagi manusia bahkan binatang sihir biasa. Bahkan tak jarang, binatang iblispun memilih meninggalkan tempat itu karena bahayanya.


"Aku tidak tahu dimana bunga itu berada." Kata Vleia.


Delt segera membantah, "Bohong! Kamu bilang padaku kemarin, kalau kamu tahu tempat itu!"


"Antarkan aku kesana! Tidak! Tunjukkan saja dimana tempat itu padaku. Tunjukkan padaku dimana, Vle!" Rengek Delt membuat kepala Vleia pening.


Yah.. Untuk pertama kalinya, Vleia merutuki mulutnya yang tak bisa menyaring perkataannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


12/04/2022



LuminaLux

__ADS_1


__ADS_2