Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 131 "Ketika Kita Menikah Nanti, Kamu Akan Ketagihan."


__ADS_3

"Apakah kamu tahu, biasanya orang-orang akan melanggar aturan jika aturan itu ditetapkan. Jadi intinya, aturan itu ada untuk dilanggar, kan?"


Luce berkata sembari membalikkan tubuhnya. Ia melangkah dengan terbalik, dan kedua tangannya bersembunyi dibelakang tubuhnya. Manik hijaunya memandang tepat pada sepasang iris hitam yang pada saat itu juga memandangnya dengan kerutan didahinya. Tidak bisa berkata-kata atas pernyataan gadis itu.


Sejak pertemuan pertama mereka, Hesian tidak menduga bahwa gadis itu benar-benar terus muncul didepannya dengan segala ocehannya yang tidak berguna baginya sama sekali. Bahkan terkadang, dia tidak mengerti dengan ucapannya. Tetapi, ada sebuah masalah yang lebih membingungkan daripada dua hal diatas.


Hesian tidak merasa terganggu akan kehadirannya.


Luce kembali pada cara berjalannya yang semula dan kembali mengoceh. "Pamanku baru saja mengatakan bahwa aku tidak boleh memakan banyak makanan berlemak dan aku diam-diam mencuri sepiring besar daging dari dalam kulkas dan memanggangnya sendiri. Lagipula, daging itu enak. Bagaimana aku bisa menahan godaan untuk tidak memakan daging coba?"


"Oh iya! Apakah kamu suka dengan binatang? Sebenarnya dulu aku memiliki seekor kucing kecil yang menggemaskan, namun karena alasan kesehatan, kucing itu terpaksa harus dijauhkan dariku, jadi aku sebenarnya benar-benar kesepian dirumah."


Luce tidak mengatakan kebohongan. Dulu, ketika dia berumur lima tahun, dia memiliki seekor kucing kecil yang memang menggemaskan. Namun, meskipun menggemaskan, kucing itu sebenarnya adalah binatang suci. Karena sihir dan kekuatan suci adalah dua hal yang bertabrakan, sihir milik Luce perlahan diserap oleh kucing itu, sampai kucing itu mengamuk karena mengalami kerusakan inti binatang dan terpaksa harus dibunuh.


Mengingatnya kembali, Luce selalu merasa sedih. Setidaknya, kucing itu adalah temannya disaat dia merasa kesepian didalam sangkar peraknya.


Memandang helaian rambut hitam Luce yang bergoyang samar, Hesian mengerutkan keningnya. Diam dalam keheningan yang berlalu.


Ia menunduk, mengikuti kakinya melangkah, dan untuk pertama kalinya setelah berjam-jam berlalu, ia membuka bibirnya. "Apakah kau lapar?"


Luce dengan segera membalikkan tubuhnya hingga membuat Hesian tersentak dan menghentikan langkahnya. Ada perasaan halus dihatinya ketika dia melihat ekspresi Luce. Bercahaya dengan sepasang mata yang berbinar. Ia bahkan hampir bisa melihat bintang-bintang didalamnya. Ia tidak tahu dimana bagian yang membuat gadis itu bersemangat, namun didetik berikutnya, dia telah diseret ke tengah jalan di tengah kota.


"Makanan apa yang kamu inginkan?" Sembari bertanya, sepasang maniknya berbinar dengan senyuman yang mengembang diwajahnya.


Tidak ada kecemasan atau kekikukan, dan dia benar-benar menganggap dirinya sendiri sebagai orang terdekatnya. Rambutnya yang panjang tersapu angin ketika ia berjalan dengan riang, dan sedikit menyapu wajah Hesian. Lembut, dan harum.


Bunga plum.


Bunga plum, beraroma manis dan lembut. Sangat cocok dengan kepribadiannya yang riang dan secerah mentari.

__ADS_1


Hesian mengerutkan bibirnya dan dengan gerakan samar membalas genggaman tangan mungil di tangannya sendiri. Ia membuka bibirnya dan membalas pertanyaan Luce. "Aku makan apa saja."


Mendengarnya, Luce merenungkan banyak makanan lezat dan banyak tempat terkenal dibenaknya, namun pada akhirnya membawa pemuda itu ke sebuah kedai yang harus masuk ke dalam gang yang cukup panjang. Kedai itu berdiri dengan bangunan yang terbuat dari kayu, dan dari penampilan luarnya, bangunan itu nampak meragukan. Namun Luce benar-benar meyakinkan pada Hesian bahwasannya bagian dalam tempat itu tidak seburuk yang terlihat dari luar.


Benar saja. Begitu ia membuka pintu, suasana tempat itu berubah. Dari yang awalnya seperti bangunan tua terbengkalai menjadi sebuah kedai rumah makan kecil dengan suasana yang hangat didalamnya. Meja-meja bundar tertata dibeberapa ruang kosong, dan ruang masak hanya terbatas oleh meja minum yang panjang seperti di bar.


Pembeli benar-benar bisa melihat proses memasak, bahkan bisa dengan ringan bercengkrama dengan sang koki.


Melihat kedatangan keduanya dikedai yang cukup ramai pada waktu itu, seorang pria setengah baya yang menggunakan celemek hitam dan ikat kepala dikepalanya mengenali Luce dalam sekali pandang sebagai pelanggan tetapnya dan menyapanya dengan ramah sembali membalik makanan yang dimasaknya langsung dengan wajannya. "Selamat datang, Starlight! Tumben sekali bagimu untuk membawa seorang teman. Apalagi seorang pria tampan. Apa dia kekasihmu?"


Luce melambaikan tangannya, membalas sapaan pemilik kedai itu. "Sebentar lagi mungkin iya, paman."


Mendengar itu, Hesian hanya memandangnya dengan sebelah alis terangkat dan kembali memandang lurus kedepan ketika Luce memberikannya sebuah senyuman cerah. Bukankah dia sudah bilang kalau Hesian adalah cinta pertamanya?


Terdengar aneh, namun dia benar-benar menyukainya pada pandangan pertama.


"Haha!! Baiklah! Jadi, karena kita kedatangan tamu istimewa, aku akan membuatkan menu spesial disini." Kata pria pemilik kedai dengan ringan.


Berbalik, Obe--pemilik kedai melanjutkan kembali kegiatan memasaknya dan mulai meracik bumbu untuk menu spesial yang ia maksud. Luce memperhatikan dengan serius sebelum ia membuka bibirnya dan menoleh pada Hesian. "Sebenarnya aku juga suka memasak, loh. Tidakkah kamu penasaran?"


Hesian menoleh, melirik Luce dengan tatapan yang menyatakan ketidakpercayaannya. Melihat itu, Luce mengerutkan keningnya dan berkata dengan sungguh-sungguh. Ia bahkan menepuk dadanya dengan mantap, tegas dan tidak ringan. "Aku benar-benar bisa memasak. Aku pandai dalam hal itu."


Hesian mendengus, dan mengabaikannya lagi.


"Aku benar-benar bisa! Tunggu saja! Ketika kita menikah nanti, kamu benar-benar akan ketagihan dengan masakan buatanku!" Selesaimengatakan itu, Luce menggembungkan pipinya dengan cara yang benar-benar imut dan memilih untuk memalingkan wajahnya.


Menikah?


"Siapa yang mau menikah dengamu?"

__ADS_1


Dia bergumam seperti itu, namun sudut bibirnya tanpa dia sadari sedikit tersungging.


Melirik keduanya, Obe benar-benar tidak bisa menahan tawanya. Anak muda zaman sekarang benar-benar menarik.


...***...


Luce dan Hesian menghabiskan banyak waktu untuk menghabiskan makanan mereka. Setelah berbasa-basi sedikit lagi, keduanya segera keluar dari kedai. Luce menghirup udara segar di malam yang dingin dan terang oleh bulan bundar.


"Eih, sudah malam saja."


Ia bergumam dan menyadar bahwa sudah waktunya bagi mereka berpisah. Ia menoleh, memandang Hesian yang kini membenarkan jubahnya, dan menutup kepalanya dengan tudung jubah hitamnya, berbalik bersiap pergi, sebelum langkahnya terhenti tiba-tiba.


Ia membalikkan badanya, dan melihat Luce menyunggingkan senyuman sembari mengaitkan kedua tangannya dibelakang punggungnya, nampak tenang dan manis.


Hesian hendak membuka bibirnya, namun pada akhirnya kata-kata yang ingin ia keluarkan tersangkut ditenggorokkannya dan ia kembali menutup bibir tipisnya.


"Sebenarnya, seharian ini kamu belum menyebutkan namamu, padaku."


Luce berkata dengan dramatis. "Sungguh sangat menyedihkan sekali aku ini. Orang yang aku suka bahkan tidak mau memberitahu namanya padaku. Ini yang disebut suka tapi bahkan tidak tahu namanya?"


Hesian tidak mengatakan apapun dan mengerutkan bibir bawahnya. Mungkin ragu apakah dia harus menjawabnya atau berbalik pergi. Melihat tampilan ragu pemuda tinggi didepannya, Luce menyunggingkan senyuman, sepasang maniknya menyipit seperti bulan yang berkilau. Ia dengan tegas mengambil langkah kedepan, mengulurkan tangannya dan berjinjit.


Manik Hesian melebar ketika sepasang lengan ramping itu melingkar dilehernya, dan merasakan perasaan lembut dan dingin menempel di pipinya dengan kuat, menimbulkan suara pop nyaring yang membuat tubuhnya menegang.


"Haha!" Luce menarik tubuhnya mundur, tidak bisa menahan tawanya dan melambaikan tangannya. "Sampai bertemu besok!"


Ia berbalik, hendak melanjutkan langkahnya ketika dia mendengar suara dingin serak dibelakangnya. "Hesian. Itu namaku."


Luce tersenyum, hendak menggoda Hesian yang pada akhirnya menyembutkan namanya. Tetapi ketika dia berbalik, tidak ada siapapun lagi disana. Luce tidak kecewa, hatinya penuh dengan bunga dan dia menyenandungkan sebuah lagu riang sebelum tubuhnya melebur menjadi cahaya ketika dia mengambil beberapa langkah kedepan.

__ADS_1


"Sampai bertemu besok, Hesian."



__ADS_2