
Iloania memandang tubuh Delt yang terbaring diatas tempat tidur lantai disalah satu pondok didalam cincin penyimpanan yang kini, resmi menjadi milik Iloania. Pria muda itu kini telah bersih dari darah. Mengenakan hakama hitam favoritnya dan memiliki helaian rambut merah yang tertata. Sementara Iloania mengenakan yukata putih pemberian Delt dan membawa sebuah mawar putih ditangan kanannya.
Wajahnya sembab, semua kesedihan tak bisa disembunyikan. Terlihat dengan jelas betapa kehilangannya Iloania.
Ia berlutut disamping Delt sebelum meletakkan bunga mawar ditangannya kegenggaman tangan Delt diatas dada pria itu.
"Ilo juga mencintai guru, lebih dari apapun yang ada didunia." Lirihnya sebelum keluar dari cincin dimensinya.
Diluar cincin penyimpanannya, Iloania memandang kota ramai yang ada dihadapannya. Gadis cilik itu melangkah menuju sebuah tempat yang menjual informasi dan barang-barang untuk seorang petualang. Sebelum memasuki bangunan itu, Iloania teringat akan pesan gurunya. Ia menarik bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman palsu.
"Permisi."
Seorang pria setengah baya penjaga toko itu berhenti mengelap meja dan menoleh. "Selamat datang! Apakah nona kecil ini membutuhkan sesuatu?"
Iloania tersenyum memandang pria itu. "Apakah paman tahu sebuah tempat yang bernama Lembah Musim Gugur?"
Pria itu menyentuh dagunya. "Ah! Lembah Musim Gugur. Itu ada di kerajaan kecil bernama Eirope di benua Atlas."
"Apakah itu jauh?" Tanya Iloania.
Pria itu mengangguk. "Tentu saja. Tempatnya sangat jauh. Kau harus melewati ribuan kilometer perjalanan darat dan ribuan kilometer perjalanan laut. Pokoknya, sangat jauh."
Iloania kembali bertanya. "Paman memiliki petanya?"
Pria itu mengangguk. "Lihat kemari. Peta mana yang kamu butuhkan?"
"Peta antar benua dan peta benua Atlas." Ucap Iloania.
Pria itu nampak memilih peta dan setelah menemukannya segera memberikannya pada Iloania. "Ini dia."
"Berapa paman?"
"Satu koin emas." Jawab pria itu membuat Iloania mengeluarkan sekeping koin emas dari dalam cincin penyimpanannya dan memberikannya kepada pria itu.
Kemudian, Iloania membuka kedua peta itu dan mencermatinya. Saat ia mendengar pertanyaan pria itu. "Kamu gadis muda. Apakah tidak ada yang mendampingimu?"
Tetapi Iloania tidak menjawab.
__ADS_1
"Terima kasih, paman." Sembari berlalu pergi, Iloania berterima kasih.
Butuh waktu yang cukup lama bagi Iloania untuk tiba diujung benua Zhoie. Gadis itu akhirnya melepaskan Vleia dari segel abadi setelah hampir setengah tahun berlalu. Ketika Vleia kembali membuka matanya, dia menatap Iloania, sebelum menunduk tanpa ekspresi.
"Mulai sekarang, kita akan selalu bersama ya, Vle?" Ucap Iloania sembari bergerak memeluk Vleia.
Manik Vleia berkaca-kaca. Dia memejamkan matanya dan menahan cairan dimatanya sebelum bergumam. "Bodoh, siapa lagi selain aku yang akan merawatmu setelah pak tua itu tidak ada?"
Menginjakkan kakinya ditempat yang dimaksud Delt, Iloania tidak bisa menahan perasaan sesak didadanya. Tetapi begitu mempesona pemandangan yang ada dihadapannya sekarang. Hamparan lembah berwarna keemasan oleh dedaunan dan bunga berwarna emas. Dan permadani biru yang menawan diatas, terhiaskan gumpalan awan putih.
"Memang indah."
"Ilo, disana sepertinya tempat yang baik." Vleia menunjuk sebuah tempat.
Ada sebuah pohon yang terbesar disana. Meskipun demikian, cahaya menembus dengan baik, dan angin selalu berhembus nyaman. Melangkah kesana, Iloania menyentuh cincin penyimpanannya dan memunculkan Delt yang terbaring disana. Iloania dan Vleia dengan hati-hati menempatkan posisinya untuk bersandar dipohon. Menghadap langit dan pepohonan dibawah sana dengan jelas. Pemandangan indah sesuai keinginan gurunya.
Iloania bersimpuh diampingnya, meletakkan karangan bunga yang dibuatnya sendiri diatas kepala Delt.
"Guru bilang selamanya ingin melihat tempat ini, kan? Ilo dan Vle sudah membawa guru ketempat yang guru mau." Ucap Iloania.
Ia berbisik sebelum melangkah mundur. "Suatu saat nanti Ilo akan menyusul guru. Ilo mohon guru tunggu sampai saat itu."
Iloania menyentuh barrier. Namun dia tidak bisa menembusnya. Dia tak lagi bisa menyentuh Delt.
Tiba-tiba dadanya serasa dihantam batu. Dadanya panas dan terasa sesak. Air mata mulai menggenang dan meluruh kembali dipipinya. Semenjak kematian Delt, ini kedua kalinya Iloania menangis. Iloania memukul pelindung dengan tangannya dan meraung. Menjerit hingga membuat hati Vleia yang mendengarnya terisis.
Vleia juga merasakan sakit didadanya. Delt bukan hanya seseorang yang mengkontaknya sebagai binatang kontrak. Tetapi mereka sudah seperti sahabat dengan Delt yang memperlakukannya apa adanya dan seperti teman.
Kepergiannya membuat Vleia sedih.
Tetapi dia tahu jika Iloania lebih sedih. Delt sudah seperti orangtuanya. Dan Vleia yakin jika Delt lebih daripada itu. Bagi Iloania, kehilangan Delt sama seperti kehilangan segala yang dimilikinya. Termasuk perasaannya.
"Haaa!! Guruu!!"
"Kenapa guru meninggalkan Ilo? Ilo janji Ilo tidak akan nakal lagi, Ilo akan mendengarkan guru! Asalkan guru kembali.. Tolong kembali guru.. hiks .. hiks.."
Vleia mendekati Iloania yang terduduk dan mendekapnya. Pada akhirnya, Iloania juga masihlah seorang anak kecil yang sedih karena kehilangan, seberapapun dewasanya dia.
__ADS_1
Iloania membuka matanya. Entah keadaan seperti apa lagi, dia seakan mengambang disebuah lautan. Suasana sangat gelap, bahkan tidak ada sedikitpun cahaya. Seluruh tubuhnya lemas, dan Iloania bahkan tidak bisa menggerakkan seujung jarinyapun.
"Aurea.."
Ada suara yang memanggil nama seseorang. Terdengar ditelinga Iloania. Iloania menggerakkan bibirnya bertanya. "Siapa?"
"Aurea, apakah semudah itu kamu akan menyerah ?"
"Aku Iloania, bukan Aurea." Ucap Iloania menurunkan tatapannya.
Suara lembut itu kembali terdengar. "Apakah kamu bisa merelakan nyawa semua orang untuk masa lalumu? Bisakah kamu melihat seseorang yang kamu cintai saat ini, menghilang dari dirimu dimasa depan? Bisakah kamu melihat banyaknya air mata dan darah yang akan tertumpah dimasa depan ?"
"Bisakah kamu, Aurea ?"
Semakin mengecil, suara itu kemudian menghilang. Iloania membuka suaranya setelah merasakan sakit didadanya. "Lalu aku harus bagaimana? Bagaimana aku bisa menghilangkan semua kemarahanku pada diriku sendiri? Aku membenci diriku sendiri!"
"Aku membenci diriku karena tidak mau meninggalkan guru meski aku tahu guru bisa mati karena aku!" Ucapnya.
"Aku membenci diriku yang lemah karena tidak bisa melindungi guru."
Iloania terisak. "Dan sekarang, aku membenci diriku sendiri yang tidak bisa melepas masa laluku. Bagaimana aku harus berbuat? Apa yang harus aku lakukan?!"
"Jawab aku!!" Jerit Iloania dalam kehampaan.
Tetapi, hanya suara isak tangisnya yang mengisi pendengarannya. Tanpa suara lembut tadi, dan tanpa jawaban yang ingin didengarnya.
Iloania, takut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
17/07/2022
Jangan lupa dukungannya~
__ADS_1
Salam hangat,
LuminaLux