
Hari Kelima, Bulan Kesepuluh, Musim Gugur
Sepanjang musim gugur, daun mapel berubah menjadi kuning, merah, coklat dan berakhir jatuh ketanah. Untuk tertimbun dan menjadi pupuk organik yang baik. Aroma manis melayang diudara, dan dapat dicium bebas terutama ketika angin berhembus lembut.
Iloania duduk dibangku. Memfokuskan pandangannya pada lukisan yang tengah dilukisnya. Iloania menggerakkan kuas dengan hati-hati untuk media lukis yang lebih kecil.
"Um, sepertinya bagus juga." Gumammnya.
Itu adalah lukisan yang hanya memiliki tiga warna. Hitam arang, ungu yang samar dan hijau yang digambar diatas kertas yang memiliki warna setitik menguning. Entah karena itu kertas lama, atau memang begitu adanya.
Keseriusan Iloania bahkan membuatnya tak menyadari, bahwa pintu depan terbuka. Sepasang kaki putih tanpa alas kaki melangkah masuk, dan berjalan tanpa menimbulkan suara saat dia melihat Iloania Delt menyunggingkan senyuman, mengendap dibelakang Iloania dan mengintip lukisan Iloania.
"Huaaa!"
Iloania hendak meletakkan kuasnya sebelum Delt mencoba mengagetkannya. Tetapi reaksi Iloania membuat Delt kecewa.
"Apa kabar guru?" Kata Iloania sembari berbalik, memberikan Delt senyuman.
"Kenapa tidak terkejut?" Tanya Delt.
Iloania tersenyum, "Tentu saja tidak. Aku bisa merasakan sihir guru."
"Benarkah?"
Iloania mengangguk, "Tentu!"
Setelah mengatakan itu, Iloania berdiri dikursinya, dan melompat kepelukan Delt yang dengan sigap menangkapnya meskipun hampir terhuyung kebelakang. Iloania tertawa senang sembari melingkarkan tangannya dileher sang guru, menahan berat tubuhnya.
"Ilo rindu guru! Guru sangat lama perginya, apakah dunia luar sangat menyenangkan? Bagaimana dengan tehnik yang guru hendak cari, apakah guru mendapatkannya?" Katanya.
Delt mengusap lembut kepala Iloania yang bertumpu dibahunya dan berkata dengan riang. "Guru juga merindukan Ilo. Tapi tentu saja, dunia luar itu sangat luar biasa. Iloania benar-benar harus mencoba berpetualang seperti guru."
"Tidak mau." Kata Iloania.
"Ehhh? Kenapa? Berkelana itu menyenangkan loh? Ilo bisa mengelilingi dunia dan mengunjungi berbagai tempat. Iloania bahkan akan memiliki banyak teman." Kata Delt.
Iloania menggesek-gesekkan kepalanya dan menjawab. "Kalau aku ikut berkelana, tidak akan ada yang menyambut kepulangan guru nanti~ Ilo kan, ingin terus menyambut guru pulang. Terutama, menerima oleh-oleh~"
"Yaa? Jadi oleh-oleh lebih penting dari guru?" Tanya Delt dengan tatapan tak percaya.
Iloania meletakkan jemarinya diatas dagunya dan seakan berpikir, "Sepertinya iya."
Manik Delt membesar berkaca-kaca, dan bibirnya sudah membengkok kebawah. Diyakini, didetik berikutnya pria itu akan menangis. Iloania meliriknya dan kemudian kembali memeluk erat Delt.
__ADS_1
"Ilo bercanda! Didunia ini, guru adalah yang paling penting untuk Ilo." Katanya diiringi tawa renyah yang lembut.
Bibir Delt dalam sedetik tertarik keatas dan sepasang mata itu menyipit dan tersenyum, seakan ada latar belakang bunga merah muda disekitar mereka berdua.
"Lihat, guru membawakan Ilo sesuatu." Kata Delt setelah menurunkan Iloania.
Iloania memiringkan kepalanya dan bertanya, "Apa yang guru bawa?"
Delt nampak menyentuh cincin dimensinya dengan tangan kirinya, dan seakan menarik sesuatu. Ada cahaya kemerahan yang sedikit memendar, dan saat ini, sebuah bola bulu putih bulat kini berpindah ketangannya.
"Ini apa guru?" Tanya Iloania.
"Um, lampu bulu. Coba remas, itu akan bercahaya." Kata Delt.
Iloania meremas pelan bulatan ditangannya. Saat itu juga, bulatan bulu itu memendar dan memancarkan cahaya lembut yang cukup terang. Setidaknya tidak akan mengganggu tidur dan nyaman untuk melihat tulisan dimalam yang gelap. Iloania tersenyum cerah.
"Terima kasih guru! Ilo sangat suka!" Katanya.
Delt tersenyum sama cerahnya, "Syukurlah kalau Ilo suka."
"Darimana guru mendapatkannya?" Tanya Iloania.
"Dari salah satu anak dari suku Rubah Salju. Anak-anak disana sangat menggemaskan dan manis. Ah! Guru sangat senang menyentuh bulu mereka saat mereka menjadi anak rubah kecil~" Kata Delt.
Iloania menundukkan pandangannya dan membuat ekspresi sedih, "Jadi Ilo tidak menggemaskan? Ilo tidak lucu? Guru lebih suka bersama mereka daripada bersama Ilo?"
"Kalau begitu guru tinggal saja bersama mereka yang lebih menggemaskan! Ilo tahu kok, Ilo tidak menggemaskan, huh." Dengus Iloania sembari membelakangi Delt dan menghentakkan kakinya.
Delt membeku ditempatnya setelah mendengarkan ucapan Iloania. Cincin dimensinya memendar dan suara Vleia terdengar.
"Haha, kasihan~ Ilo marah padamu dan ingin mengusirmu, haha.." Tawa Vleia.
Delt memandang kosong sejenak kedepan, sebelum maniknya membulat dan berkaca-kaca. Bibirnya terbuka dan sedikit berkerut, sembari mengeluarkan rengekan kecil.
"Ah.. Ukh!"
"Waaaa!! Ilo, jangan marah pada guru! Jangan usir guru!! Haaaa!!" Tangisnya.
Suara tawa Vleia makin terdengar, "Haha .. Kenapa justru menangis? Ilo pasti akan bertambah marah dan kesal karena cengeng! Haha~"
"Huaaaa!!!"
"Kenapa tangisan guru semakin keras saja ?" Batin Iloania.
__ADS_1
Iloania berbalik dan mengerutkan alisnya, "Kenapa guru yang menangis? Harusnya Ilo yang menangis, karena guru yang akan membuang Ilo."
Delt menggelengkan kepalanya, "Guru tidak akan pernah membuang Ilo, hiks.. Bagaimana bisa, hiks .. guru membuang Ilo! Guru takut, Ilo tidak membutuhkan guru lagi, waaa!!"
Iloania melengkungkan bibirnya kebawah, membentuk kurva tajam. Alisnya melengking keatas, dan hidungnya sedikit kembang kepis. Hidungnya sedikit memerah, bersamaan dengan kedua pipinya yang bersemu. Sepasang manik itu berkilau oleh air yang menggenang dipelupuk matanya.
"Guru tidak akan cengeng lagi, hiks .. Asalkan, asalkan Ilo tidak marah dan mengusir guru!" Isak Delt.
Iloania mulai menitikkan air matanya, tetapi tidak bergerak. Hanya diam. Iloania benar-benar takut. Takut jika gurunya tidak membutuhkannya lagi dan tidak ingin bersamanya lagi. Iloania jelas tahu bahwa dia bukanlah anak dari Delt, dia hanyalah anak yang ditemukan oleh Delt. Iloania takut, terlalu takut membayangkan jika suatu hari Delt akan membuangnya. Terlalu takut membayangkan jika Delt tak lagi menginginkannya sebagai murid, juga sebagai anak asuhnya.
"Ilo sangat takut. " Batinnya.
Delt mengulurkan tangannya dan meraih ujung pakaian Iloania. Berjongkok sembari memasang wajah malang seperti anjing yang ingin dibawa kembali.
Tetapi, untuk sekarang. Biarkan Iloania yakin, bahwa hanya Iloania hanya ingin berada didekapan sang guru, tanpa memikirkan apapun juga.
"Guru tidak akan menangis lagi?" Tanya Iloania.
Delt segera menggelengkan kepalanya, "Guru tidak akan menangis lagi."
"Janji?"
"Janji. Yang melanggar akan menelan seribu jarum!" Kata Delt.
Iloania tergelak, "Jangan itu~ Janji, yang melanggar akan memakan dua mangkuk bubur nasi."
Delt sedikit memiringkan kepalanya bingung. "Um, janji. Yang melanggar akan memakan dua mangkuk bubur nasi."
Setelah membuat janji, jari kelingking itu saling bertautan. Satu jari kelingking kecil sementara satu lagi jari kelingking panjang yang ramping. Menaut janji yang tulus.
Iloania menghela napas dalam hati. Cukup menakutkan membuat janji akan memakan seribu jarum. Karena Iloania tak yakin, sang guru mampu menahan tangisnya.
"Yah, tidak menarik~ Ilo tidak jadi mengusirmu ternyata." Suara Vleia terdengar ditelinga Delt yang memincing menatap cincinnya.
"Dasar kejam!" Jeritnya dalam hati.
"Haha!" Tawa Vleia.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
21/04/2022
__ADS_1
LuminaLux