
Hari Ketujuh, Bulan Kedelapan, Musim Panas
"Apakah dia yang dimaksud?"
Ada suara dingin tanpa perasaan disana. Seseorang berjubah itu berdiri diatas atap bangunan. Memandang kebawah dengan sepasang mata yang tampak, sementara wajahnya tertutup topeng hitam. Rekan disampingnya menjawab, dan menarik pedang keluar dari sarung tangannya.
"Ya." Jawabnya.
Dibawah sana, Yazuha melangkah sendirian dijalan kosong. Dipelukannya, ada koper dipelukannya. Dan nampaknya dia menjaganya dengan penuh kehati-hatian. Ada perasaan was-was yang membuatnya merasa seperti diintai, dan perasaan intimidasi itu membuat napasnya berat dan keringat mengalir deras didahi dan lehernya. Ia melirik kekanan dan kekirinya mencoba menenangkan dirinya. Tetapi tindakannya justru membuatnya semakin cemas didalam benaknya.
Clang!
Mendengar suara dentingan itu, Yazuha menoleh kebelakang dengan panik. Melihat siapa yang berdiri dihadapannya, Yazuha melebarkan matanya.
"Camio?!" Kagetnya.
Camio Lega, adalah sahabatnya yang juga seprofesi dengannya. Keduanya dekat seperti saudara. Pemuda bertubuh kekar itu menahan serangan salah satu pembunuh bayaran itu dengan pisau ditangannya.
Camio berteriak tanpa mengalihkan pandangannya dari sang pembunuh bayaran, "Lari Zuha! Sembunyikan itu! Itulah yang mereka incar!"
Yazuha ragu, tetapi mendengar nada Camio yang menyuruhnya pergi membuat Yazuha berbalik dan pergi sembari menggigit bibir bawahnya dan mengeratkan pelukannya pada benda yang dibawanya.
Pembunuh bayaran itu mengincar benda yang ada ditangannya!
Selepas Yazuha berlari pergi, pembunuh itu mengerang marah dan mendorong Camio dengan kekuatan. Camio terhempas, namun segera bergerak melawan salah satu dari dua diantara mereka.
"Aku akan mengurusnya. Tangkap dia! Aku akan segera menyusul." Pembunuh yang memegang pedang menyuruh rekannya. Dan tanpa kata, rekan pembunuh itu segera melesat pergi dengan berlari diantara atap bangunan.
Camio hendak mengejar, namun ditahan oleh pembunuh bayaran itu. "Lawanmu adalah aku! Akan kubuat kau menyesal karena telah ikut campur!"
Camio mendengarnya dengan jelas. Melihat tatapan yang mematikan itu, tubuhnya bergetar. Tangannya yang membawa pisau mengencang, dan dia mengerutkan bibirnya.
Ini adalah tugasnya.
__ADS_1
Suara derap langkah kaki terdengar jelas disepanjang jalan yang sepi. Meskipun kota itu ramai dipadati penduduk meskipun malam, ada banyak jalanan yang jarang tersentuh kehidupan dimalam hari. Salah satunya jalan kecil ini. Meskipun napasnya memburu dan dia dilanda kepanikan, Yazuha tak memperlambat sedikitpun larinya. Yang bisa dilakukannya hanya berlari dan terus berlari, agar bisa menghindari pembunuh bayaran yang menargetkan barang dikantung yang dibawanya, dan bahkan mungkin termasuk dirinya.
"Hah.. Hah.. Hosh!"
Maniknya menangkap bayangan pembunuh bayaran itu disebelahnya. Bereaksi cepat, Yazuha tanpa sadar membelokkan arah laju larinya menuju sebuah gang yang ditemukannya.
Hanya saja, nampaknya membelokkan langkahnya adalah keputusan salah. Ia tak bisa memaksa terus berlari ketika dinding setinggi lebih dari 3 meter berdiri menghadangnya. Ia menoleh kesekelilingnya dengan panik, dan mencoba mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk memanjat atau tempat yang bisa digunakannya untuk bersembunyi. Tetapi sayangnya, ia tak bisa menemukan salah satu diantaranya juga.
"Gawat!" Batinnya.
Ia berbalik, berpikir untuk kembali, namun sayangnya langkahnya terhenti dan tubuhnya terpatung ketika menyaksikan pembunuh berantai bertopeng hitam itu sudah ada diseberang sana, memegang pedang panjang disebelah tangannya dan menatapnya dengan sepasang manik dingin tanpa emosi.
"Kenapa kau mengejarku?! Apa maumu, hah?!"
Meskipun tebakannya dirasanya sudah tepat, namun Yazuha tak bisa menahan dirinya untuk mempertanyakan alasan pembunuh bayaran itu mengejar dirinya.
Pria itu berkata dengan dingin. "Tak ada gunanya orang mati tahu. Serahkan saja benda ditanganmu itu, dan aku akan membiarkan kematianmu tak memiliki rasa sakit."
"Tapi tidak apa. Anggap saja sebagai hadiah kematianmu. Sebenarnya, beberapa waktu lalu kau mencuri informasi yang cukup penting dari musuh kami. Bosku, sepertinya, menginginkannya. Jadi dia membayar kami untuk mengambil benda berisi informasi yang kau curi dan membunuhmu untuk melenyapkan barang bukti. Semudah itu." Datarnya.
"Tak perlu banyak bicara lagi." Gumamnya dengan nada dingin.
Ia memiringkan pedangnya dan hendak bergerak menuju Yazuha, sebelum sebuah terpaan angin kuat layaknya angin ****** beliung meliuk-liuk menjebak Yazuha. Dan saat angin itu mereda, Yazuha menghilang.
"Sialan mana!" Geramnya.
Ada suara langkah kaki disepanjang lorong sempit itu. Ada coretan cat dimana-mana, dan goresan lukisan dari batu yang abstrak dan penuh dengan gambar-gembar ejekan dan penghinaan. Itu bahkan juga dipenuhi poster-poster sampah yang tak lagi bisa terbaca keseluruhannya. Tetapi jauh diujung sana, ada keramaian dan suara-suara tawa yang mengganggu.
"Haha! Breng*k! Aku tidak percaya dia benar-benar melakukan itu pada kekasih ayahnya! Sungguh konyol!" Yang berambut keriting merah tertawa.
Yang berkulit hitam tak menyia-nyiakannya. "Sialan! Aku berlutut padanya. Dia bahkan melakukannya didepan ayahnya!"
"Oh tunggu, dimana Ono?" Yang tinggi dan kurus bertanya.
__ADS_1
"Apa lagi? Membeli minuman." Jawab yang berambut keriting merah.
Dibalik kegelapan, Iloania menatap mereka dengan sepasang manik dingin. Setelah apa yang terjadi, dia benar-benar tak lagi menyembunyikan emosinya. Perasaannya dan amarahnya. Dia merasa marah, dia membenci sekumpulan sampah itu. Dia tidak menyangka membawa Yazuha dan Ize kekota ini adalah keputusan terburuk yang pernah dia ambil dalam hidupnya. Orang-orang itu, bagaimana mereka bisa membuat mata Yazuha menjadi buta hanya karena iseng?!
Gadis itu menyunggingkan senyuman dingin. "Aku juga sedang berbuat iseng sekarang. Mata dibalas mata, dan gigi dibalas gigi."
Dua mengangkat tangnnya dan memunculkan sesuatu dari tangannya. Itu adalah jarum kecil yang memiliki ujung tajam dan ukurannya bahkan lebih tipis daripada benang. Dan panjangnya pun setengah kali lebih pendek dari jarum biasa.
"Mata yang bahkan tidak layak untuk melihat." Gumamnya sembari melemparkan jarum itu kesalah satu pria disana.
Pria itu menjerit dan memegangi matanya yang mengeluarkan darah. Ia menjerit kesakitan dan bahkan berguling-guling ditanah. "Ahhhh!! Sakit!! Sakit sekali sialan!!"
"Mulut kotor yang menjijikan." Gumamnya bersamaan dengan gerakan tangannya.
Yang berambut keriting merah memekik sekilas sebelum memegangi mulutnya yang terasa terbakar hebat. Ketika dia menyingkirkan tangannya, mulut itu melepuh dan suaranya bahkan tak bisa keluar, seberapapun kerasnya dia mencoba berteriak.
"Kalian! Apa yang terjadi dengan kalian!" Panik yang berkulit hitam.
Sesaat kemudian, dia merasakan sesuatu menembus melewati telinganya dan menusuk didalam. Kedua telinganya terasa sangat sakit dan berdengung-dengung dengan hebat. Darah mengalir dari lubang telinganya, dan seketika dia bahkan tak bisa mendengar jeritan temannya yang terus menjerit kesakitan. Dia bahkan tak bisa mendengar suaranya sendiri!
Iloania mendongak memandang kelangit. "Sepertinya aku menambah dosaku."
Ia kemudian mengedikkan bahunya acuh, "Sebenarnya aku hanya membalas dendam. Aku juga akan bertanggung jawab pada kak Yazuha. Bukan masalah."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
18/05/2022
Jangan lupa dukungannya~
__ADS_1
Salam hangat,
LuminaLux