
Hari itu sinar mentari bersinar dengan cerah, namun tidak membakar. Itu hanya samar membawa kehangatan, dan angin membawa aroma osmantus yang manis. Para penduduk berkumpul, beramai-ramai datang menuju Dragonia Academy dan duduk dibangku yang mengelilingi arena pertarungan di timur Dragonia Academy.
"Sangat ramai," gumam Iloania saat dirinya duduk dibangku terdepan diarena pertandingan itu.
Ratusan ribu orang hadir diacara yang meriah kali ini. Selain melihat pertunjukan, sebenarnya acara kali ini juga menjadi ajang pertaruhan antar pemain. Mereka akan memberikan senilai uang untuk pilihan mereka, dan jika pilihan mereka menang, mereka akan mendapatkan uang dari hasil itu.
Iloania mendengarkan semua suara-suara ditempat itu. Dan tak menahan senyumannya. Itulah hidup, ramai.
"Mengapa tersenyum seperti itu?"
Mendengar suara itu, Iloania menoleh. "Lane? Kamu juga mengikuti turnamen ini?"
Lane mengangguk, "Yap. Tentu saja aku ikut dalam turnamen ini. Heh, aku akan memenangkan posisi terbaik hingga bisa menjadi anggota APA."
"Aku beberapa kali mendengar nama itu disebutkan. Apakah organisasi ini memang sehebat itu?" Tanya Iloania.
Lane menatapnya dengan tak percaya, "Kau tidak tahu seberapa hebatnya APA?! Luar biasa. Mereka itu adalah organisasi terbaik diseluruh dunia. Dibenua Atlas, mereka berasal dari berbagai kerajaan. Dan keberadaan mereka adalah pilar terkuat sebagai pelindung manusia dari bayangan hitam."
"Dan saat aku lulus dari sini, aku akan bergabung dengan organisasi itu. Yah, tentunya setelah berhasil melewati tes masuknya." Lanjutnya dengan mata berkobar karena tekad.
Iloania mendengarkannya dan tersenyum namun bukan juga senyuman.
"Akan baik untuk Lane. Ngomong-ngomong, Kane juga ikut?" Tanyanya pada Kane yang memandang saudari kembarnya dengan jengah.
Kane memandang Iloania dan melambaikan tangannya, "Lupakan pertanyaan itu. Aku tidak ikut. Bulan ini, aku mengikuti kelas ramuan. Dan aku tidak memiliki waktu untuk terluka karena turnamen."
"Kalau begitu, hanya Lane?"
Kane mengangguk, "Benar. Semangatlah kalian berdua. Aku akan mendukung kalian."
Iloania tersenyum, "Terima kasih Kane~"
Kane mengangguk sembari tersenyum. "Tentu saja,"
"Ilooo!" Teriakan itu membuat Iloania mendongak dan melihat Jissiana berdiri sembari melambaikan tangan kearahnya.
Disampingnya, Deltain turut melambaikan tangannya dengan wajah ceria. Jissiana berteriak, "Bersemangatlah! Aku akan mendukungmu dari sini, Ilo!"
Aksi Jissiana mengundang perhatian banyak orang kearahnya. Penasaran, mereka turut mengikuti arah pandangnya dan terpesona akan senyuman manis Iloania yang mereka saksikan pertama kali ketika menoleh. Wajah para laki-laki memerah, sementara para wanita terkagum dan bahkan ada yang iri karena kecantikannya.
Iloania memandang Jissiana dan tak kehilangan senyumnya. Sampai suara seseorang ditengah arena membuatnya mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Selamat datang di Dragonia Academy!!" Sambutnya dengan meriah.
Dia adalah Millied. Karena suaranya yang keras, dia secara alami ditunjuk sebagai pembawa acara diturnamen kali ini. Ratusan ribu orang secara serempak berteriak. Dan suasana menjadi riuh seketika.
Menggunakan pengeras suara sihir yang melayang dimasing-masing titik, Millied kembali membuka suaranya. "Hari ini akan ada penampilan kekuatan sihir dari banyak murid Dragonia Academy yang berbakat. Tetapi, sebelum mulai. Mari kita bersama dengarkan sambutan dari Kepala Sekolah Dragonia Academy. Gheorn Scarlen!"
Didepan mereka, sebuah potal terbuka. Sosok Gheorn perlahan keluar dengan balutan kemeja yang rapih dan tanpa noda setitikpun. Wajahnya rupawan, dengan senyuman tenang yang membawa seseorang terhanyut.
"Woah, sangat tampan."
"Aku sudah melihatnya setiap tahun, tetapi tetap tidak bisa tidak terkagum melihat ketampanan dan kharismanya."
"Kepala sekolah ternyata sangat terkenal~" Gumam Iloania.
Kane yang mendengarnya terkekeh kecil, "Tentu saja. Kepala sekolah itu tinggi, tampan dan berkharisma. Lagipula, statusnya sebagai kepala sekolah Dragonia Academy juga sangat dikenal oleh seluruh penduduk Alete."
Iloania menganggukkan kepalanya tanda bahwa dirinya telah mengerti.
"Terima kasih dan selamat datang di Dragonia Academy. Pada kesempatan kali ini, saya tidak akan berbicara banyak, karena saya yakin jika kalian semua sudah tak sabar untuk menyaksikan turnamen ini. Di perayaan Festival Lentera yang meriah ini, kami Dragonia Academy mengusahakan untuk turut serta memeriahkan hari besar, mengenang Perang Iblis dan Dewa ribuan tahun silam." Suara Gheorn tidak tinggi namun tidak rendah.
Kecepatannya pun tidak cepat, namun tidak juga lambat. Suaranya tegas dan membuat semua orang tak memiliki kuasa untuk menyela. Hanya bisa terfokus padanya.
Ia kembali berbicara, "Pada turnamen kali ini, anak-anak muridku yang berani dari tingkat pertama hingga ketiga akan mengadu kekuatan sihir mereka. Turnamen ini bukan semata-mata sebagai ajang unjuk kekuatan, melainkan menumbuhkan semangat juang dan semangat dalam meningkatkan kekuatan untuk menjadi yang terbaik. Selain itu, turnamen ini mendidik anak murid tentang menerima. Yang kalah tidak merendah, dan yang menang tidak congkak. Semua murid di Dragonia Academy memiliki kekuatan sihir yang luar biasa. Maka dari itu, kami akan terus mendidik putra putri bangsa agar mampu membangun generasi luar biasa yang mampu memajukan kerajaan bahkan seluruh dunia!"
Riuh tepuk tangan terdengar diseluruh arena. Suara siulan dan sorakan tak jarang terdengar digema yang mungkin bahkan mampu meruntuhkan langit.
"Karena itu, marilah kita mulai Turnamen Festival Lentera ini. Dengan ini, turnamen resmi dibuka!" Lantangnya disusul ledakan dilangit.
Kembang api yang bahkan mampu bercahaya dilangit yang cerah, memeriahkan pembukaan turnamen kali ini. Iloania memegang dadanya. Perasaan ini, berdesir dan terasa aneh. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Apakah itu semangat?
"Aku merasa tidak nyaman untuk sesaat. Sebenarnya, perasaan apa itu tadi?" Batinnya ketika jantungnya kembali berdetak secara normal, tak lagi berdetak cepat.
"Ilo, ada apa?" Tanya Vleia.
Iloania sedikit bingung, "Tidakkah kamu merasakannya?"
Suara Vleia terdengar, "Kamu juga merasakannya?"
"Iya! Tetapi itu hanya beberapa detik dan menghilang. Itu, apa ya?" Tanya Iloania.
__ADS_1
Vleia membalasnya, "Perasaan samar. Suatu kebencian, dan rasanya sangat menjijikkan."
Iloania terdiam. Sebenarnya, bukan itu yang dirasakannya. Apa yang dirasakannya adalah sebuah kesedihan dan amarah. Tetapi bukan kebencian dan rasa menjijikkan.
Tetapi, Iloania diam dan tidak mengatakannya.
...***...
Millied kembali berbicara, "Dan hari ini. Adalah hari yang luar biasa! Turnamen tahun ini, Yang Mulia Legarion turut hadir untuk menyaksikan turnamen yang akan segera dimulai. Terima kasih atas kehadiran anda yang mulia!" Katanya sembari membungkuk.
Legarion yang duduk dikursi besar dibangunan khusus disamping kepala sekolah menyunggingkan senyuman dan melambaikan tangan saat penonton mulai riuh.
Lasius yang berdiri disampingnya, sebagai pengawalnya berbisik. "Inilah yang tidak kusukai dari keramaian. Hal kecil saja mampu membuat mereka menjerit hingga bisa meruntuhkan langit-langit."
Legarion memejamkan matanya dan tertawa pelan, "Tahan saja Sius. Mereka sedang bersenang-senang. Nikmatilah turnamen kali ini. Dan tunggu sampai giliranmu untuk tampil. Kakak akan mendukungmu."
"Jangan," kata Lasius cepat.
"Jangan mendukungku. Atau aku akan ketahuan," kata Lasius.
Legarion tertawa lirih, "Baiklah~ Baiklah~"
"Pertandingan pertama dalam turnamen tahun ini. Siswa kami yang gagah dari kelas 2-3. Sikiana Legio. Melawan siswi kami yang berani dari kelas 1-4, Iloania!!"
Dibangkunya, Iloania mengulas senyuman. Sungguh, dia yang pertama?
Iloania melangkah turun, untuk melihat Clareon duduk disamping jalan yang dilaluinya. Clareon menahannya.
"Ingat janjimu."
Iloania tersenyum, "Tentu saja."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
04/01/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
__ADS_1
LuminaLux