Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 48 "Kebenaran Tentang Lasius [2]"


__ADS_3

Lasius memandang pria lusuh yang terbaring dilantai. Memandangnya dengan dingin, sepasang manik ungu berkilat dengan emosi pembunuhan yang kental. Tetapi, jejak kesedihan luar biasa nampak disana. Raja Marhc memandang putra bungsunya dengan kemarahan yang membuncah, sayangnya, tubuhnya bahkan tidak bisa bergerak. Tujuannya hanya menemukan penerusnya yang paling benar, tetapi siapa sangka putra bungsunya yang diharapkannya untuk menggantikannya sebagai Raja, justru berbalik melawannya!


"Lasius! Beraninya kau memperlakukan ayah seperti ini! Ayah yang akan dan bisa membuatmu menjadi Raja kerajaan ini!! Jika kau tidak melepaskan ayah, ayah akan menghukummu bahkan membunuhmu!!" Bentaknya.


Lasius menyeringai dingin. "Apakah aku menginginkannya?"


"Yang Mulia, apakah anda benar-benar menganggap saya anak lemah yang akan takut dengan ancaman kecil anda?" Dinginnya.


"Anda membunuh Ibu saya, dan anda berlaku seolah anda adalah ayah saya? Kenapa anda sangat lucu?" Gelaknya.


4 tahun dia menghabiskan hari-harinya dengan penuh keringat dan darah. Diam-diam berlatih dan selalu berlatih membuatnya bahkan setara dengan para Jendral yang ada dikerajaan. Ambisinya adalah menghabisi ayahnya sendiri, dan ia akan meraihnya. Tepat diusianya yang ke-16 tahun ini, Lasius berhasil mengunci seluruh Istana ayahnya, dan bertarung hingga membuat ayahnya yang lemah jatuh tak berdaya.


"Lasius, ayah. Dengarkan ayah! Kau tidak bisa membunuh ayahmu sendiri nak. Ayah adalah ayahmu!"


Entah mengapa, pemandangan ini membuat Lasius ingin tertawa terbahak. Dimana ayahnya yang kejam? Kenapa dia justru seperti melihat anjing yang menggonggong disaat dia sekarat?


Lasius mengangkat tangannya, menciptakan tombak es yang runcing. Mengangkatnya, Lasius baru saja hendak menancapkannya pada jantung sang ayah bila saja tidak diberhentikan oleh suara sang kakak yang menginterupsinya.


"Hentikan, Lasius!"


Lasius menatap Legarion tanpa ekspresi. "Aku akan menghabisinya, dan membalaskan dendam Ibunda."


"Rion putraku! Hentikan kegilaan


Legarion berjalan menghampiri Lasius dan mengambil tombak ditangannya. Mengabaikan Lasius dan memandang ayahnya dengan miris.


"Dulu, aku paling kagum dengan ayah. Tentang bagaimana ayah memerintah kerajaan dan memiliki sihir yang hebat. Tetapi, kenapa aku kehilangan semua itu? Aku bahkan kehilangan Ibunda yang melahirkan dan mencintaiku. Apakah ayah senang melakukannya?" Legarion bertanya dengan sendu.


Raja Marhc menggelengkan kepalanya. "Tidak, bukan seperti itu nak! Ayah hanya ingin membuat kalian sadar dengan kekuatan kalian sendiri. Mengurus kerajaan, tidaklah semudah itu, pengorbanan-"


"Ibunda?"


Lasius mengulangi lagi. "Anda mengorbankan Ibu saya?! Benar?!"


"Lasius, diam. Biarkan kakak berbicara!" Kata Legarion membuat Lasius mengepalkan tangannya dan terdiam.


Legarion menatap ayahnya dan mengulas senyuman. "Saya akan menyelamatkan ayah dari Lasius."

__ADS_1


Lasius terkejut dan mendongak, hendak menyuarakan protesnya. Sebelum suaranya keluar, itu tercekat ditenggorokannya ketika menyaksikan kakaknya dengan wajah penuh penyesalan dan kesedihan menghujamkan tombak itu kejantung Raja Marhc. Pria yang awalnya menyeringai puas itu menatap tak percaya pada Legarion sebelum terbatuk darah dan kehilangan nyawanya.


"K-Kakak?" Panggil Lasius.


Legarion menatap Lasius dengan senyuman tipis. "Kakak tidak bisa melimpahkan tanggung jawab ini padamu, Sius. Hal ini, terlalu berat untukmu. Biarkan kakak yang menanggungnya."


"Sekarang hanya tinggal kita berdua. Tetapi jangan pernah merasa kesepian Sius. Ibunda berpesan, jika Ibunda akan selalu ada didalam hati kita. Mengerti?" Kata Legarion.


Hidungnya masam, tetapi pada akhirnya Lasius menganggukkan kepalanya.


Beberapa minggu kemudian, setelah Raja Marhc yang diketahui dibunuh oleh penyihir hitam, penobatan Putra Mahkota Legarion de Alete diwarnai dengan kemeriahan. Legarion yang awalnya berstatus Putra Mahkota, telah menjadi Raja Alete. Menggantikan kepemimpinan ayahnya, Legarion memberhentikan seluruh menteri yang sebelumnya bekerja untuk ayahnya dan menggantinya dengan orang kepercayaannya. Para menteri itu adalah orang-orang busuk, yang bahkan menertawakan kematian Ibunya, dibelakang dirinya. Sementara Lasius, tetap memilih menyembunyikan dirinya.


"Tetap tidak ingin mengumumkan identitasmu sebagai pangeran?" Tanya Legarion.


Lasius menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan bisa bebas dengan status itu. Aku akan hidup sebagai Lasius Valletryern, tanpa embel-embel del Alete. Aku juga tidak akan tinggal di Istana, aku akan membantu kakak langsung dimedan perang."


"Kakak menghargai keputusanmu. Tetapi, kapanpun kamu ingin kembali keistana dan menunjukkan statusmu sebagai pangeran, datang saja pada kakak."


Lasius mengangguk dan menggulung senyuman.


...***...


"Uh, aku khawatir, Vleia." Ucapnya.


Vleia memandang punggung Lasius dan sudut mulutnya sedikit terangkat. "Jangan khawatir. Tampaknya seseorang akan segera bangun dari kekhawatiran masa lalunya. Jangan terlalu dipikirkan."


"Apa?" Beo Iloania.


Mengikuti arah pandang Vleia, Iloania mendapati sosok Lasius telah berakhir diujung jembatan. Sepasang manik ungu terlihat berkilau, dan kakinya menginjak tanah berumput diseberang sungai. Manik Iloania berbinar dan dengan semangat berlari melewati sungai dangkal dan melompat kepelukan Lasius. Lasius yang terkejut refeks mengulurkan tangannya, terhuyung dan jatuh kebelakang dengan Iloania diatasnya.


Lasius memandang gadis yang memeluknya dengan suara tawa yang tulus dan manis. "Kakak berhasil~ Sekarang kakak sudah makin kuat!"


Mengangkat kepalanya, sepasang manik emas berkilau berhadapan dengan sepasang manik ungu yang menawan. Iloania menyipitkan matanya dengan senyuman cerah, sementara Lasius dibawah, tidak bisa menahan perasaan hangat mengalir dihati bekunya yang perlahan mencair.


"Terima kasih." Bisiknya.


"Ibunda, apakah Ibunda menyukainya? Sius menyukainya Ibunda, Sius yakin, Ibunda juga akan menyukai, Iloania.." Batinnya.

__ADS_1


...***...


Gadis tujuh tahun itu berjalan dengan tenang keluar dari Kuil Musim Semi. Maniknya memandang kelangit biru yang dihiasi awan lembut yang seiring berjalannya waktu, berubah-ubah bentuk dan keberadaannya. Iloania menyenandungkan lagu kecil dan berjalan meninggalkan kuil selepas melambaikan tangan kepada penjaga kuil. Berjalan dengan ringan, Iloania melirik sekelilingnya dan tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak melengkung lebih lebar. Iloania menaiki batang pohon yang terbalik, dan melompat.


"Eh?" Siapa yang sangka jika tanah yang diinjaknya akan runtuh dan membuat lubang menurun yang dalam.


"Ahhhhh!!!!" Iloania menjerit dan memejamkan matanya. Sebelum sadar bahwa dia tidak merasakan sakit, tetapi seakan tertahan oleh gelembung dingin yang menjaganya.


"Ilo, hati-hati dalam melangkah. Gunakan piringan hitam saja, aku merasakan ada banyak sekali jebakan yang dipasang. Untuk yang tidak bisa dihindari, aku akan menahannya."


Suara Vleia membuat Iloania mengangguk. "Mengerti."


Iloania memunculkan piringan hitam dan meninggalkan gelembung putih yang dipijaknya menuju kepiringan hitamnya yang seukuran normal. Membuatnya setengah berjongkok diatas piringan hitamnya. Piringan hitam melayang dengan kecepatan yang sedang, dan Iloania tetap mewaspadai sekelilingnya.


"Oh, Vleia. Didepan sana ada cahaya. Apakah itu baik-baik saja?" Tanya Iloania.


Suara Vleia menyahut. "Yah, tidak masalah. Datang saja. Didepan ada dinding pendeteksi, gunakan kekuatanku untuk melindungi tubuhmu."


"Mengerti." Iloania menggerakkan jemarinya dari atas kebawah. Dan dalam sedetik, cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya, dan membuatnya dapat dengan bebas melewati barrier yang dimaksudkan oleh Vleia.


Diujung lorong itu, Iloania menyaksikan lubang besar dengan cahaya dari akar pohon membuat tempat itu tidak gelap sama sekali. Ditengah lubang itu, ada cekungan berisikan air berwarna merah, dan ditengahnya terdapat daratan kecil yang menyimpan permata-permata yang dilindungi kekuatan spiritual. Iloania tidak bisa membantu tetapi sedikit tertegun.


"Jangan-jangan ini-" Belum sempat menyelesaikan perkataannya, suara ledakan terdengar hebat, asap ungu mengepul menutupi pandangannya. Ketika asap menipis dan menipis, bayangan dua orang terlihat berdiri didepannya.


Suara wanita nyaring terdengar. "Woah, lihat. Kelinci kecil berhasil menemukan Harta Dewi Artorphs yang telah kita cari selama berbulan-bulan. Sangat beruntung."


"Benar kakak, sangat beruntung." Kali ini suara laki-laki feminim terdengar membalas perkataan wanita.


Iloania menyipitkan matanya dan mempertahankan senyumnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


15/09/2021


Jangan lupa dukungannya~

__ADS_1


Salam hangat,


LuminaLux


__ADS_2