Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 124 "Pertemuan Dalam Garis Takdir"


__ADS_3

“Kau benar-benar menguji kesabaranku, Remarion!” Gadis itu meraung, melemparkan gelas wine-nya kedinding hingga pecah berkeping-keping. Salah satu pecahannya berhasil menggores pipi Rema, namun dengan tenang gadis itu mengangkat tangannya, mengusap lukanya. Dalam sekejab, bersamaan dengan meluncurnya tangan itu dipipinya yang pucat, luka itu sembuh bahkan dalam kedipan mata.


Rusfeli Ancelsa—gadis itu, menggantung tangannya disamping tubuhnya dan bernapas dengan marah. Ia menarik napas dan berusaha menenangkan dirinya yang tengah diliputi oleh emosi. “Kau selalu membuat kekacauan dalam misimu. Semua orang mengetahui ledakan itu, dan organisasi pemburu selalu menggunakan jejakmu untuk melacak organisasi!”


Rema mendengarkan dengan tenang, nampak tak ingin mengatakan sepatah katapun untuk menyangkal tindakannya yang dapat membahayakan organisasinya, atas ancaman dari organisasi pemburu yang memburu pembunuh seperti mereka. Rema memang tidak terlalu memikirkannya karena Rema memang tidak tidak peduli dan tidsk takut kepada pemburu.


Rusfeli terus berkata dengan marah. “Setidaknya, jangan membahayakan anggota lainnya! Dengan semua jejak yang kau tinggalkan, suatu hari mereka bisa menemukan kita! Ingat bagaimana aku menemukanmu dineraka itu! Setidaknya, balas budilah!”


Deg!


Rusfeli menghentikan suaranya. Ia mendapati tatapam Rema yang sedingin embun yang membekukan, namun jika menyaksikannya lebih lama, hanya ada badai disepasang manik itu. Tatapan tajamnya bahkan mampu membuat kaki Rusfeli gemetar tanpa disadarinya, dan bibirnya kelu. Oh, bodohnya dia menyentuh titik sensitif gadis itu.


“Aku—!” Sebelum dapat menyelesaikan kata-katanya, tubuhnya terlebih dulu melayang dan menghantam dinding diruangannya hingga menimbulkan dampak yang mengerikan untuk dilihat dengan mata dan kepala orang biasa.


Resfeli terbatuk, merasakan rasa sakit yang luar biasa dari belakang kepalanya yang bocor. Darah mengucur deras, namun yang lebih dia pedulikan adalah gadis didepannya. Ia untuk sesaat melupakan bahwa gadis itu adalah monster sekaligus bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak.


“Jika mereka berhasil menemukan tempat ini, aku akan melenyapkan mereka semua.” Dingin Rema.

__ADS_1


“Kau tidak akan bisa—cough!!”


Rema menatapnya bengis. “Ya, aku bisa!! Dan bahkan aku bisa menghabisimu disini sekarang juga!”


Mengatakan itu, Rema berlalu meninggalkan Resfeli yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sepasang manik itu berubah menjadi sejenih embun. Raut wajahnya yang kesakitan berubah, dengan senyuman lebar nan mengerikan. Dia berkata dengan suara nyaring. “Dalam waktudekat, bulan purnama ketiga, akan menentukan! Sayang, cinta dan kebencian akan menjadi jauh lebih gila dari segalanya! Balas dendam tidak berarti akan meluluh lantahkan segalanya. Jalan yang salah hanya akan membiarkan kalian menghadapi kematian kalian yang paling mengerikan! Hahahahahahahahahaha!!!”


...***...


Duduk diatas sebuah pohon, Rema menikmati semilir angin yang menerpanya. Menyapa, dan seolah menghiburnya. Oh, atau setidaknya, itu tidak mengganggunya. Suasana cukup nyaman, sampai sebuah suara membuat maniknya terbuka, melirik kebawah dengan dingin untuk menemukan seorang pemuda tengah mendudukkan dirinya dibawah pohon dan membaringkan dirinya. Membiarkan tubuhnya berbaring diatas rumput hijau, dengan sepasang manik biru semu yang memandang keatas dengan tatapan intens, hampir jarang berkedip.


Tatapan yang tertuju kepadanya itu membuat Rema mengernyit kesal setelah beberapa waktu berlalu. Dengan rasa kesalnya yang muncul kembali setelah dia berusaha menenangkan emosinya, ia mengangkat tangan kanannya dan memunculkan sebuah bilah tombak panjang yang berwarna hitam. Ia siap melancarkan serangan kearah pemuda itu, sebelum pemuda itu mengangkat tangannya, meraih sebatang tongkat dan mulai bangkit berdiri setelah bergumam.


Melihat cara jalannya, Rema mengambil kesimpulan. Pemuda itu buta.


Oh, pantas saja tatapannya tertuju padanya terus.


Rema mengurutkan kening. Namun dia tidak bisa percaya semudah itu. Siapa tahu jika pemuda itu hanya pura-pura buta untuk menghindari kematiannya setelah menyaksikan dirinya membawa senjata dan siap menyerangnya. Rema melompat dari atas pohon, dan mendarat diatas rumput tanpa suara. Gadis itu memandang punggung pemuda itu dan mengikutinya. Jika orang buta mungkin memiliki indra lain lebih tajam seperti penciuman, pendengaran dan perasaan atau bahkan insting, namun itu semua tidak berlaku untuk Rema. Gadis itu berjalan dengan langkah seperti memijak air, tenang dan tidak memiliki rasa keberadaan.

__ADS_1


Manik merahnya melihat pemuda itu membungkuk, meraba daerah yang dipenuhi dengan tanaman obat dan tanaman beracun disaat bersamaan. Maniknya menyipit kala pemuda bersurai hitam itu perlahan mengulurkan tangannya dan meraba-raba tanaman yang ada didepannya.


"Oh, Ekor Naga Merah." Ia bergumam dengan senyuman cerah saat berhasil menemukan tanaman yang dirasanya berharga.


Rema mengerutkan kening dan mencemooh. Tanaman Ekor Naga Merah memang memiliki sedikit kandungan yang sedikit berkhasiat, namun tidak berharga. Apa yang membuat pemuda itu begitu senang menemukan tanaman tidak berguna seperti itu?


Memasukkannya kedalam keranjang rotan yang dibawahnya, dia kembali memutar tubuhnya untuk mencari tanaman obat lain. Satu, dua, tiga, empat dan lima tanaman yang telah dimasukkan kedalam keranjang. Pemuda itu hendak mengulurkan tangannya lagi ketika sebuah tongkat menghalangi tangannya. "Eh?"


Rema berkedip beberapa kali. Memandang tangannya yang memegang sebuah cabang kayu yang digunakan untuk menahan tangan pemuda didepannya. Alisnya mengerut, dan ada jejak kebingungan serta keanehan di sepasang manik darah itu. Ia membatin. "Mengapa aku melakukannya ?"


"Um, halo? Siapa kamu?"


Pertanyaan itu membuat Rema menatap sepasang manik biru semu yang entah bagaimana bisa tepat memandangnya. Gadis itu diam, melempar tongkatnya dan bangkit berdiri. Ia hendak berbalik, ketika langkahnya terhenti. Ia melirik pemuda yang nampak kebingungan itu dan menghela napas dengan berat. Ia mengangkat tangan kirinya, menjentikkan jarinya hingga membuat kobaran api melalap habis tanaman beracun diantara tanaman obat disana. Bahkan diri yang hampir melukai pemuda itu juga lenyap. Rema berbalik, dan tidak bisa menahan untuk bergumam.


"Kau sudah gila."


__ADS_1


Yogyakarta, LX


__ADS_2