
"Tapi aku benar-benar tidak mengharapkan imbalan." Kata Lamona.
Lamona serius. Dia adalah pribadi yang baik, dan dia tidak pernah mengharapkan imbalan apapun dalam hidupnya. Lamona tidak pernah merasa bahwa membantu orang itu harus mendapatkan balasan. Ibunya--Ibu Lamona, selalu mengatakan kepadanya bahwa jika dia berbuat baik, dewa yang akan menebus kebaikan itu dialam baka nanti. Dan itu masih menjadi prinsipnya selama hidupnya.
Melihat manusia didepannya tidak ingin bekerja sama, Asyra memandangnya dan mengeluarkan deretan gigi tajamnya, mengancam. "Cepat katakan atau aku akan menggigit lenganmu hingga terkoyak!"
Memandang gigi kecil didepannya yang bergerigi dan nampak seperti gigi ikan membuat Lamona mendekat karena rasa penasarannya. Maniknya menatap lekat deretan gigi itu dan tidak bisa menahan kekaguman yang dimilikinya. "Benarkah gigimu bisa mengoyak daging?"
"Kau ingin aku mengoyak dagingmu?" tanya Asyra dengan setengah alis yang terangkat.
"Tidak, maksudku, bisakah gigimu mengoyak karang?" tanya Lamona membuat Asyra mendengus. "Tentu saja bisa! Bahkan jika kau menyuruhku bertarung dengan hiu pun, aku bisa. Tapi ... tapi tunggu sampai lukaku sembuh dulu untuk itu!"
Lamona menggeleng dengan cepat. "Tidak! Aku tidak menyuruhmu bertarung dengan hiu. Maksudku, sangat menakjubkan ketika kau bisa menghancurkan benda sekeras itu hanya dengan gigimu. Itu berarti kamu sangat kuat."
Mendengar pujian semacam itu membuat Asyra dengan tenang mengangkat sudut bibirnya bangga. Ia membusungkan dadanya dan dengan sedikit arogan mengangguk. "Tentu saja aku hebat. Aku bisa menghentikan badai ribut dan sapuan ekorku bisa menciptakan ombak."
"Oh, lalu bagaimana kamu bisa sampai disini? Kami biasanya tidak pernah bertemu dengan yang sepertimu." Kata Lamona bertanya.
"Hanya ... berenang sedikit lebih jauh dari biasanya."
Asyra sedikit terdiam dan merenung. Sebenarnya dia memang tidak tinggal disini. Tempat tinggal bangsa duyung adalah dilautan dalam bersama dengan ikan raksasa dan didalam kedalaman yang bahkan bisa menyembunyikan warna. Kedalaman yang tidak terkena cahaya matahari. Namun hari ini, dia sedang bertengkar dengan kakaknya dan tanpa sengaja berenang terlalu dekat dengan permukaan, sampai ketika dia menyadarinya, ia terjebak didalam jaring besar, dan berakhir terluka dan berhutang budi oleh manusia juga.
Kakaknya selalu memperingatkan padanya untuk tidak berenang kepermukaan agar tidak bertemu dengan manusia. Tidak hanya kakaknya, semua panatua didesa selalu memberi pengertian bahwa manusia itu kejam dan yang menjadi alasan bangsa duyung harus bersembunyi dikedalaman agar tidak diburu. Meski duyung lebih kuat, namun jumlah duyung tidaklah sebanding dengan ras manusia. Seluruh populasi manusia ribuan kali lipat dari jumlah duyung yang ada dilautan.
Kakaknya juga selalu mengingatkan kepadanya, bahwa karena manusialah orangtua mereka terbunuh.
__ADS_1
"Apa kamu masih merasa sakit?"
Tetapi, manusia didepannya sedikit berbeda dari gambaran yang dikatakan sang kakak. Manusia yang menusuknya mungkin memang jahat, namun yang didepannya membantunya melepaskan diri dari jala, membantunya mencabut tombak di ekornya dan bahkan menerapkan obat herbal dengan lembut ke ekornya yang terluka.
Apakah manusia didepannya berbeda atau dia hanya berpura-pura? Manusia itu licik, dan Asyra selalu beranggapan bahwa itu benar.
Asyra menggelengkan kepalanya. "Hanya sedikit, tapi tak masalah. Aku memiliki penyembuhan yang cepat, jadi dalam sehari lukanya akan segera sembuh."
Lamona memeriksa jawabannya, dan menemukan bahwa tidak ada kebohongan didalamnya. Jadi Lamona dengan lega menganggukkan kepalanya. "Syukurlah kalau begitu."
Ada keheningan selama beberapa waktu. Arsyra melebarkan matanya ketika dia memandang kearah air. Dia mendengar panggilan kakaknya.
"Aku akan kembali kemari besok malam untuk mendengar permintaanmu. Jadi, datanglah!"
Setelahnya, Asyra merangkak ke air dan melesat berenang cepat untuk menghilang dibawah tatapan Lamona. "Permintaan?"
"Lamona!"
Suara lantang itu membuat Lamona mengangkat wajahnya. Kapal yang ditumpangi oleh dua rekannya mendekat kearahnya. Lamona ditemukan.
...***...
Dua minggu setelahnya.
"Kau masih belum memutuskan permintaanmu? Sudah dua minggu lho!" Ucap Asyra sembari menggaruk pasir dengan ekornya yang menawan. DIbawah cahaya bulan yang temaram, Lamona dapat menemukan sisiknya yang berkilauan, nampak memantulkan cahaya dari sisik birunya.
__ADS_1
Lamona tidak menjawab ucapan Asyra dan dengan tenang mengulurkan tangannya, memberikan gadis itu gulungan bola nasi berisi rumput laut yang memang menjadi makanan duyung. Dengan riang hati gadis duyung itu menerimanya dan menggigitnya dengan gigitan besar, mengabaikan nasi yang tertinggal ditepi bibirnya dan bahkan bergerak sampai pipinya yang menggembung. Lamona memandangnya dengan senyuman, tidak berniat mengatakan apapun dan hanya dengan tenang mengambil nasinya sendiri dan memakannya dalam diam.
"Bagaimana kehidupanmu dibawah sana?" Tanya Lamona membuat Asyra menghentikan sejenak kunyahannya sebelum menjawab dengan pipi penuh.
"Luar biasa!" Jawab Asyra.
"Ada banyak sekali permata yang ada dibawah laut. Karena permata itu bersinar, kami menggunakannya sebagai lampu dan itu menghiasi sepanjang tempat. Bangunan terbuat dari terumbu karang dan pasir. Kami memiliki ladang rumput laut sebagai sumber pangan kami, memiliki penyu sebagai tunggangan kami. Kami memanfaatkan ubur-ubur untuk menjadi pelindung kami, karena beberapa makhluk laut tidak berani dengan sengatan ubur-ubur."
Asyra bercerita dengan sangat bersemangat. "Yang paling menyenangkan adalah ketika kami bisa melihat telur duyung menetas!"
"Jika kamu bisa melihatnya, itu benar-benar sangat luar biasa!"
Asyra membuat gerakan dengan tangannya. "Telur bundar yang seperti mutiara berukuran sebesar kepala akan bercahaya ketika dia akan lahir. Cangkangnya akan pecah perlahan-lahan dan bayi duyung kecil akan muncul. Kau tahu apa yang paling baik?"
Lamona menggelengkan kepalanya, tentu dia tidak tahu dan Asyra tidak mengharapkan jawabannya karena dia segera menjawab pertanyaannya sendiri. "Yang terbaik adalah aroma kebahagiaan dari setiap duyung yang hadir."
"Dua hari lagi keponakanku akan lahir, dan aku sudah merasakan kebahagiaannya bahkan dari sekarang!" Ungkap Asyra membuat Lamona mengangguk dan tersenyum.
"Aku juga memiliki keponakan. Ketika dia lahir, dia hanya sebesar telapak tanganku, dan dia termasuk sangat kecil diantara bayi lainnya. Dokter desa mengatakan bahwa dia mungkin hanya akan hidup beberapa bulan saja. Namun karena kepercayaan dan tekad kakak perempuanku, keponakanku bisa besar dan hidup sampai sekarang dengan tubuh yang sehat. Dia tumbuh menjadi gadis yang manis dan menggemaskan."
Lamona memandang Asyra dan berkata, "Jadi kita sama-sama memiliki keponakan."
Melihat senyuman pemuda didepannya, Asyra mengerutkan bibirnya, membuang muka dan bergumam dengan aneh, "Memangnya kenapa jika sama-sama memiliki keponakan?"
"Kau aneh sekali."
__ADS_1