
Hari Ketujuh, Bulan Kedelapan, Musim Panas
Keramaian sangat terasa dipusat perbelanjaan di Kota Thaha itu. Orang-orang berlalu lalang membeli barang incaran mereka, dan tak jarang yang datang hanya untuk melihat-lihat atau pamer barang-barang mewah yang sudah mereka dapatkan. Dibandingkan dengan wilayah lain, kota ini sudah menjadi kota paling maju. Sebut saja metropolis dengan bahkan kereta api uap sudah ada sebagai jalur transportasi. Selain itu pula, sangat jarang keberadaan penyihir dikota itu, bahkan bayanganpun tak ada.
Menurut kabar simpang siur, kota Thaha memang merupakan kota yang digadang-gadang akan menjadi kota termaju tanpa penyihir. Dan hanya golongan manusia tanpa sihir yang menetap disana. Meskipun tetap saja, dikota terbesar di Thopaz itu tetap memiliki keberadaan pengguna elemen sihir, meskipun itu dapat dihitung dengan hitungan jari.
"Aku membeli cincin ini kemarin." Seorang wanita cantik menyombongkan cincin berlian yang melingkar apik dijemarinya.
Wanita lain menanggapi dengan wajah tersenyum, tetapi hati begitu iri. "Ah, indah sekali cincinnya! Itu seperti darah."
"Benar berkilau, dimana kamu membelinya?" Tanya yang lainnya.
"Iya, begitu indah~" Yang lainnya menimpali.
Ada seorang remaja laki-laki berusia sekitar limabelas tahun dengan helaian surai hitam. Sepasang manik hitam itu memandang sekelilingnya dengan samar dan dengan sorot cepat. Dia menurunkan topi setengah bundar yang digunakannya dan melangkah menuju kerumunan wanita yang saling melemparkan pujian itu. Ia tak sengaja menyenggol salah satunya.
"Maaf." Katanya sambil berlalu tanpa menunggu respon pihak lainnya. Ketika ia melewati mereka, ia tanpa sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja. Apa kakak baik-baik saja?" Seseorang itu masih sangat muda, bahkan dari suaranya pun terlihat bahwa dia masihlah anak-anak.
Pemuda itu menurunkan topinya lagi, menyembuntikan wajahnya dan tak menatap seseorang didepannya, dan menggeleng samar, "Tidak masalah."
Ketika pemuda itu, seseorang itu terpaku menatap punggungnya, sebelum sebuah senyuman terbit dibibir merah jambu itu. Sepasang kaki ramping beralaskan alas kaki setengah kaki itu menapak, mengikuti jejak orang asing yang telah melaluinya dengan ringan, tanpa tahu jejak siapa dan meninggalkan sisa apa disana. Itu hanya jejak kaki, yang akan tertimbun jejak baru.
Remaja laki-laki itu hampir berhasil melangkah jauh, sebelum jeritan panik seseorang membuat perhatian orang-orang teralihkan kearah seseorang itu. "Pencopet! Ada yang mencopet perhiasanku Tolong!! Itu perhiasanku!"
Dua penjaga yang secara kebetulan berjaga disana segera menghampiri wanita yang terlihat panik itu. "Nyonya, mohon tenang. Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Wanita itu masih panik, "Perhiasanku dicuri! Seseorang mencuri perhiasanku!"
Manik wanita itu mengedar kesekelilingnya dan secara tak sengaja bertatapan dengan sepasang manik jelaga remaja itu. Wanita itu seketika mengingat adegan dimana remaja itu menabraknya dan pergi tanpa sempat mendengar balasannya. Dia sangat yakin remaja itu adalah pencopet! Sebelum remaja itu bereaksi berbalik, jeritan wanita itu membuatnya mematung ditempatnya.
"Itu!! Bocah laki-laki bertopi cokelat disana adalah pencopet! Dia pencopet yang mencuri perhiasanku! Penjaga, tangkap anak itu! Dia pelakunya!!" Teriaknya.
"Sial!" Remaja itu berdecak dalam hatinya, menurunkan topinya dan mencoba sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya.
Sial, mengapa wanita itu bisa mengingatnya dan bahkan bisa menemukannya disekian banyak orang disini?!
Jika dia kabur sekarang, sangat tidak mungkin bisa melarikan diri dari ratusan bahkan mungkin ribuan orang ditempat itu. Dan sangat jelas menunjukkan identitasnya sebagai seorang pencopet yang nyatanya memang yang mengambil perhiasan wanita itu. Namun jika dia tidak kabur, dia bisa dalam masalah besar. Jika mereka sampai menemukan perhiasan itu ada padanya, mereka akan menghajarnya habis-habisan sebelum menyeretnya kepenjara. Dan orang-orang disana bahkan tidak akan menghiba untuk sekedar menahan penjaga memukulnya.
"Sialan!" Batin pemuda itu.
Orang-orang berbisik disekelilingnya. Sebagian mungkin benar-benar berpikir bahwa dia adalah pencopet. Melihat langkah penjaga yang makin mendekat, remaja itu mengeratkan pegangannya pada topinya.
Sebelum kakinya terangkat, ada sebuah suara yang menghentikan langkah kaki penjaga. Sepasang tangan ramping itu terulur menunjukkan sebuah kalung berliontin permata yang diukir menyerupai bunga cherry blossom. "Halo paman, maaf Ilo mengganggu."
"Ilo menemukan kalung ini didekat sana. Ilo baru akan menyerahkannya pada paman saat mendengar kakak cantik yang disana berteriak mencari perhiasannya. Apakah ini mungkin milik kakak yang disana?" Suaranya manis bertanya pada penjaga yang berhenti didepannya dan menatap perhiasan ditangannya.
Iloania, itu Iloania yang berujar dengan nada tulus dan tatapan polos yang tak memiliki sorot kebohongan. Dimusim panas yang sedikit menyengat, gadis sepuluh tahun itu mengenakan kemeja yang nampak lebih besar dari tubuhnya. Kemeja itu berwarna biru muda dengan renda dibagian leher dan area kancingnya. Sementara lengannya nampak lebih panjang.
Surai panjangnya ditata sedemikian rupa membentuk rambut kepang sebatas lututnya. Tak hanya nampak berkilau, kepang itu dihiasi dengan pernik aksesoris berbentuk bunga merah muda yang nampak membuatnya manis. Iloania nampak tak menggunakan bawahan, tetapi sesungguhnya Iloania memiliki rok yang satu centimeter lebih panjang dari kemejanya, dan itu berwarna putih. Sepasang kaki ramping itu terlapisi sepatu terbuka yang nampak menyerupai sepatu dari kaca, yang melingkari kakinya hingga setengah kakinya.
Jelas siapapun yang melihatnya tak akan meragukan jika dia benar-benar menemukan kalung itu di tempat yang ditunjuknya. Apalagi, karena penampilannya yang luar biasa, orang jelas menganggapnya sebagai nona muda dari keluarga terpandang yang sedang berbelanja. Namun hanya remaja itu yang tahu, bahwa gadis secantik peri itu tengah berbohong.
Sebab kalung itulah, yang dicurinya.
__ADS_1
Ia merogoh kantungnya dan jejak kebingungan terlihat jelas diwajahnya. Bukankah dia yang mengambil kalungnya? Jelas-jelas dia mengambilnya, tapi bagaimana itu bisa berada ditangan gadis itu?!
Wanita yang melihat kalungnya segera mendatanginya, "Kalungku!"
Melihat tingkah wanita itu yang sibuk dengan perhiasannya dan bahkan tak ingat untuk mengucapkan kata terima kasih membuat mereka yang disana membicarakannya.
"Ckck, wanita tak tahu terima kasih."
"Dia bahkan sempat menuduh orang tak bersalah hanya karena kelalaiannya." Bisik yang lainnya.
"Aihss.. Bagaimana jika anak tadi disalahpahami dan dipukuli coba? Padahal wanita itu bahkan sepertinya tidak memiliki niat untuk berterima kasih dan meminta maaf pada yang dia tuduh."
Yang lain berbisik sarkas, "Lagipula apa dia memang begitu gila? Menggunakan perhiasan seperti pakaian. Memamerkan hartapun memiliki batasan. Ckck!"
Ditengah pembicaraan-pembicaraan itu, hanya pemuda itu yang tak merespon. Dia hanya diam memandang Iloania yang turut memandangnya dengan senyuman setelah dia berbalik.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
12/05/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
__ADS_1
LuminaLux