
"Bagaimana Iloania bisa maju pertama kali, ahh!" Raung Jissiana dalam hati.
"Ana, jangan panik. Iloania akan baik-baik saja, bukankah kamu mengatakan dia sahabatmu dan dia sangat kuat?" Kata Deltain menenangkan.
Jissiana menatapnya dan bergumam dalam hati, "Sok tahu sekali~"
"Aku bukannya sok tahu Ana. Kamu mengatakannya sendiri, lagipula dia sahabatmu bukan? Ana, percaya saja padanya," kata-kata Deltain entah bagaimana bisa tepat, membuat Jissiana melongo.
"Ba .. Bagaimana bisa dia membaca pikiranku? Apakah dia peramal?!" Batinnya.
Deltain melihat Jissiana dan tersenyum penuh kasih, "Aku bukan peramal, Ana. Jangan berpikir macam-macam."
Ucapan Deltain sontak membuat bulu kuduk Jissiana berdiri. Bagaimana ucapannya selalu tepat mengenai kata-kata dalam benaknya?! Jissiana dengan cepat mengalihkan pandangannya, memikirkan segala hal sepele demi menutupi pemikiran utamanya.
Pembaca pikiran itu berbahaya!
...***...
Iloania perlahan menuju arena. Banyak pasang mata memandangnya. Terutama pandangan kagum dan terpesona, pandangan lain adalah iba ketika sosok disisi lain arena naik. Itu adalah pria bertubuh kekar dengan senjata ditangannya, berupa pedang yang panjang dan besarnya hampir sama dengan dua paha pria dewasa.
"Aku bertaruh bahwa gadis itu akan kalah. Pemenangnya pasti pria itu. Sayang sekali bahwa gadis cantik itu akan kalah~"
Penonton lain entah secara sadar atau tidak saling menimpali ucapan masing-masing. "Gadis itu hanya menjual wajahnya saja. Tentu saja kemungkinan menangnya melawan pria itu sangat-sangat kecil."
"Sangat malang~"
Dari tempatnya, Lasius bahkan dapat mendengar setiap bisikan itu. Mengerutkan alisnya, hanya ada satu kata dibenaknya.
Bodoh.
Benar-benar bodoh.
Bagaimana mungkin Iloania kalah melawan pria berlevel Langit Tiga? Tetapi ..
Lasius memandang Iloania yang berhadap-hadapan dengan pria besar bernama Legio itu. Sedikit keraguan dan kecemasan singgah dihatinya.
Bagaimana jika kejadian dipasar malam itu kembali terulang?
...***...
Iloania memandang pria didepannya dengan senyuman tipis. Senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.
"Saya akan menjelaskan peraturan singkat. Dilarang melewati garis batas, melewati berarti kalah. Mengangkat tangan kiri dan berkata 'menyerah' artinya menyerah dan dinyatakan kalah. Dilarang membunuh. Senjata jenis apapun diperbolehkan." Kata Millied.
__ADS_1
"Miss Anyasa dan sir Froge akan membantu saya menjadi pengawas. Maka dari itu, pertandingan pertama .. resmi dimulai!!" Lantang Millied sembari membuat gerakan membelah dengan tangan kanannya.
Setelah gerakan itu, gema riuh suara penonton terdengar. Iloania mengambil gerakan mundur satu langkah, sementara Legio segera menarik pedangnya keluar dari sarungnya, dan memegangnya erat dengan satu tangan. Legio secara alami memiliki tubuh besar dengan kekuatan fisik yang kuat, maka dia memiliki tipe penyerangan secara langsung. Berlari menuju Iloania, pedang itu berayun dengan kecepatan tinggi. Dalam sekilas, dapat memenggal apapun dalam hitungan detik.
Memiliki tubuh ringan dan ramping, dengan dukungan sihir angin, Iloania mampu melompat menghindari serangan itu. Ketika dia melompat, dan ayunan pedang menebas, pedang itu menukik dan langsung teratah kembali padanya. Iloania terkejut, dan dengan cepat memutar tubuhnya diudara.
Srett!
Segaris luka sayatan dilengannya, ketika dia menghindari tebasan kedua, ujung pedang itu tak sengaja menggores lengannya. Iloania memandang lukany sekilas ketika mendarat, dan fokus pada Legio yang bergerak mengambil posisi siap.
"Serangan langsungnya cukup baik. Dengan fisiknya, sangat terlihat bahwa serangan fisik tidak akan begitu mempan untuknya." Kata Vleia membuat Iloania mengangguk paham.
"Ya, lebih baik menjaga jarak darinya. Luka ini saja sudah cukup menyakitkan." Batin Iloania.
Iloania melihat ada cahaya yang menyelimuti pedang Legio. Dari punggung tangannya, adalah pusat cahaya yang menyala. Berwarna keperakan dan memancarkan kilau yang sedikit jernih. Pedangnya ia ayunkan keatas, dan dengan lengan berototnya menebaskannya membentur arena. Dalam sepersekian detik, satu jalur tebasan memunculkan logam tajam yang berjajar acak. Nyaris seperti gundukan cabang pohon sisa air bah. Tak berbentuk dan membahayakan.
Melihat bahwa itu menuju kearahnya dengan kecepatan yang tak bisa dihindari orang biasa, Iloania mencoba menggunakan barrier, namun barriernya dengan mudah pecah.
"Eh?" Beonya.
"Maaf Ilo. Aku tidak punya banyak tenaga." Ujar Vleia membuat Iloania paham.
Iloania tersenyum sembari melompat keudara. Membiarkan dirinya menghindari tusukan yang terarah padanya dengan jemarinya. Menggunakan piringan hitam super mini diujung jari telunjuknya, Iloania melakukan gerakan berputar dan mendarat dengan bertumpu pada jari telunjuknya.
"Sihir Logam? Sangat menarik!" Kata Iloania selepas merasakan dengan tangannya bahwa yang dirasakannya adalah logam yang keras dan sekuat baja.
Ada pilar-pilar yang muncul dari dalam arena. Jumlah pilar itu ada enam, masing-masing setinggi lima meter dengan diameter satu meter. Iloania merasa yakin bahwa dirinya terjebak ditengah-tengah pilar itu, namun tak yakin untuk bertindak secara gegabah.
Pengguna sihir Logam sebenarnya cukup langka keberadaannya. Keberadaannya justru lebih sedikit dari mereka penyihir dimensi, dan kekuatan tempur mereka memang seharusnya tidak diragukan lagi.
"Umm, ini seharusnya tidak berbahaya bukan?" Gumam Iloania.
Vleia bersuara setelah dua detik, "Sepertinya tidak. Atau .. coba saja dulu?"
Iloania hampir tergelak ketika mendengar itu. Namun diam-diam menelan kembali tawanya dan melirik semua pilar yang ada disekelilingnya. Iloania mengangkat sedikit tangan kanannya, mengumpulkan energi angin sampai terpecah ketika dari masing-masing pilar itu mengeluarkan serpihan-serpihan logam yang menyerupai jarum. Itu keluar terus menerus dan membuat Iloania kewalahan untuk menghindarinya. Karena sesaat setelah Iloania bergerak untuk menghindar, jarum itu akan lebih dulu menahannya, memaksanya untuk kembali bergerak mundur.
Diseberang, Legio berkata. "Menyerah saja. Jarumku tidak akan pernah berhenti menyerangmu, sampai kau kehabisan tenaga."
"Serangan yang hebat!"
"Benar bukan? Gadis itu sedari awal hanya menghindar dan menghindar. Aku sangat yakin jika dia benar-benar payah."
"Hey, membosankan melihatnya menghindar terus. Ayolah, lawan dia!"
__ADS_1
"Aku jamin gadis itu kalah."
Kata-kata penonton terdengar jelas ditelinga Iloania. Namun respon Iloania seperti biasanya,tersenyum dan dengan tenang menghindari serangan jarum logam itu.
"Bagaimana cara mengalahkannya?" Batin Iloania.
Manik emasnya mengedar. Menangkap sosok Legio yang memandangnya. Iloania sedikit mengernyit ketika mendapati tangan Legio tak memegang pedang. Hanya berdiri menatapnya tanpa berpindah. Iloania menggunakan instingnya untuk menghindari jarum. Meskipun, beberapa kali gerakannya terlamb hingga membuat kulit beberaa bagian tubuhnya tergores.
"Panah Angin!" Gumam Iloania.
Kedua tangannya membuat gerakan menarik busur. Ia mengarahkannya pada Legio dan secepat kilat melesatkannya. Legio secara alami tidak bergerak, dengan tenang mengangkat tangan kirinya dan memunculkan perisai dari logam yang muncul dari tangannya.
Iloania menghindari kembali serangan jarum, bersamaan dengan gerakan menendang arena yang hancur dikakinya, dan menghancurkannya menggunakan sihir angin yang dilepaskan kearah Legio.
Melindungi penglihatannya dari debu asap, Legio secara naluri memejamkan mata dan menghalangi serpihan dengan tangannya.
Beberapa detik kesempatan itu Iloania gunakan untuk meloloskan diri dari jebakan. Karena Iloania yakin, bahwa sepasang manik hitam legam itu sebenarnya mengawasi gerakannya, membuatnya dapat menentukan harus dari arah mana jarum-jarum itu melesat. Iloania mengangkat tangan kanannya sembari melompat, mengeluarkan sihir apinya.
"Sihir Api, Ledakan Lotus!" Gumam Iloania.
Diatas telapak tangan kanannya, kobaran api membentuk bunga lotus. Awalnya hanya seukuran telapak tangan, namun setelahnya membesar dalam kecepatan yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Hingga, itu berkali-kali lipat besarnya. Iloania mengarahkannya pada Legio, yang segera siap mengangkat kedua tangannya membentuk pelindung.
Iloania sedikit berteriak, sementara hawa panas dibunganya meledak dan membara. Bahkan penonton disana tak ayal merasakan panas yang membakar.
"Ahh! Mengapa panas sekali?!"
"Uhh, sangat panas! Sihir api apa itu, aku seperti dipanggang!"
Banyak dari yang lain mengeluhkan hal yang sama, namun diatas, tatapan Lasius hanya terpaku pada Iloania. Mengabaikan panas yang turut dirasakannya. Iloania disana, bahkan mengabaikan beberapa helai rambutnya yang terbakar, dan mengabaikan pakaiannya yang turut terbakar dibeberapa bagian.
Lasius ingin kesana dan memeluk Iloania, melindunginya.
"Ahhhh!" Teriak Iloania sebelum ledakan terdengar dan asap memenuhi arena pertarungan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
07/01/2022
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
__ADS_1
LuminaLux
3 bab menuju End Of Volume 1🌸