Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 54 "Suka Dari Iloania"


__ADS_3

"Anak-anak, dengarkan saya! Hari ini, kita bersama akan memasuki Istana Inti Alete. Jadi, bersikaplah dengan baik dan jangan sampai membuat nama baik Dragonia Academy menjadi buruk. Ingat, jangan membawa binatang sihir kalian sembarangan dan pastikan untuk saling peduli. Jangan membuat keributan, karena jika sampai terjadi sesuatu. Kalian akan dihapus dari daftar siswa Dragonia Academy. Kalian mengerti?!" Tegas Milied selaku pendamping mereka.


Semua penyihir muda mendengarkan Milied yang begitu tegas. Maniknya memandang sekelilingnya dengan tajam dan penuh ancaman. Benar-benar membuat mereka bergidik, membayangkan jika mereka akan dikeluarkan dari Dragonia Academy setelah melewati begitu banyak waktu!


Iloania memandang Lasius yang nampak murung dengan wajah datar. Tetapi aura disekelilingnya gelap. Bahkan ketika Iloania mendatanginya tadi, pemuda itu nampak acuh dan menguarkan aura tidak menyenangkan. Mengerutkan alisnya, Iloania berbisik pada Vleia. "Vleia, kak Sius terlihat murung. Apa aku membuat kesalahan, aku salah?"


"Entahlah. Mungkin saja?"


"Uhh~ Aku harus meminta maaf, tapi bagaimana jika kak Sius tidak memaafkanku?" Bisiknya.


Suara Vleia terdengar. "Lakukan saja sesukamu, berjuanglah.. Aku mengantuk dan ingin tidur."


"Vleia?" Panggil Iloania. Ia kembali berbisik, "Vleia?? Ah, kamu sudah tidur?!"


Iloania menurunkan tangannya dan melipat bibirnya. "Bagaimana caranya agar kak Sius ceria lagi, ya ?"


Iloania memejamkan matanya dan nampak memikirkan banyak hal dikepalanya. Sampai dia memikirkan sesuatu, Iloania membuka matanya dengan ceria. Berbalik, dan menghilang dibalik kerumunan. Lasius melihatnya, melihat bagaimana Iloania dengan cerianya berlari menuju kerumunan, menjauhinya dan menghilang. Wajahnya makin menggelap.


Apakah Iloania akan menemui laki-laki itu? Apakah dia benar menyatakan perasaan pada Iloania? Atau itu urusan lain? Bagaimana jika itu memang urusan perasaan?! Ah, Lasius benci perasaan ini!


Lasius benar-benar .. cemburu?


Lasius menatap lurus kedepan, sebelum merasakan ujung lengan bajunya ditarik pelan. Mengernyitkan dahinya, begitu Lasius berbalik, ia langsung terpana oleh kilauan sebuah bunga ditelapak tangan putih dan sehalus kulit bayi. Ketika bunga itu diturunkan, keindahan yang lebih indah terpampang. Iloania menyunggingkan senyuman semanis gula kapas dan sehangat mentari pagi. Membuat jantung Lasius berpacu dan berdetak lebih cepat. Iloania menampilkan manik bersinar yang hangat dan ramah.


Tangan Iloania menarik tangan kanan Lasius, dan meletakkan bunga amethyst ditangannya, untuk berpindah ketelapak tangan hangat Lasius. "Terima kasih juga kakak datang dihari itu. Terima kasih sudah bertemu denganku juga, kak. Ini adalah hadiah dariku."


"Terima kasih telah datang dihari itu. Dan terima kasih, telah bertemu denganku, Ilo."


"Aku tidak sedih, jadi kakak tidak boleh bersedih."


"Jangan pernah bersedih. Ketika melihatmu bersedih, aku juga akan bersedih, bahkan berkali-kali lebih sedih."


"Ayo tersenyum bersamaku, kak~"


"Bisakah kamu tetap tersenyum?"


"Kenapa?" Bibir Lasius sedikit bergetar ketika mengatakan ini.


"Kenapa?"


Iloania menyunggingkan senyuman. "Karena aku, suka kak Lasius~"


"Karena aku, menyukaimu."


Lasius menutup wajahnya menggunakan sebelah tangannya. Ia menutup bibirnya yang berkedut hebat, dan menunduk. Menyembunyikan sepasang manik ungu yang cerah dengan lengkungan senyuman mata yang menyipit. Tubuhnya sedikit bergetar, benar-benar mencoba menahan tawanya yang hampir menyembur. Mengingat perkataannya dan perkataan Iloania, wajah Lasius bahkan sampai telinga dan pangkal lehernya memerah.


Iloania menatapnya, memiringkan kepalanya dan melebarkan senyumannya, hingga menampilkan deret giginya yang rapi, kecil dan putih.

__ADS_1


Lasius jelas, kembali normal, bahkan memasuki tahap bahagia.


"Hey kalian berdua yang disana. Kalian akan ikut masuk tidak?" Datar Zalion ketika menyaksikan kejadian itu dari awal sampai akhir.


Lasius menetralkan kembali ekspresinya. "Ayo pergi."


"Baik," Iloania menjawab dengan senyuman dan dengan patuh berjalan bersama dengan Lasius menuju kegerbang menuju istana inti.


Zalion yang mengingatkan hingga pada akhirnya ditinggalkan terdiam. Pemuda menimang-nimang dalam hatinya, perlukah dia mengundurkan diri menjadi teman sekaligus asisten pangeran menjengkelkan itu? Lalu haruskah dia berkomplot dengan penyihir hitam untuk mengutuk Lasius menjadi katak?


Hah, Zalion yang malang.


...***...


"Aku mendengarnya dari Zalion. Gadis itu, cantik dan terlihat sangat ramah." Legarion berkata kepada Lasius ketika mereka tengah duduk bersama disebuah balkon yang dilindungi pelindung.


Lasius bergumam pelan, "Hm."


Legarion meletakkan cangkir tehnya diatas meja dan berkata. "Tetapi, dia terlihat sangat misterius, ya?"


"Hm. Bagaimana dengan pesan yang kakak kirimkan? Kenapa kakak membiarkan kami memasuki Istana?" Tanyanya.


Legarion menghela napasnya. "Nampaknya, organisasi Kelelawar Hitam yang terakhir kali kamu tangkap, belum sepenuhnya diselesaikan. Aku menerima laporan dari bawahanku, diperbatasan selatan ada kasus binatang kontrak dan binatang sihir yang hilang dan teror. Selain bayangan hitam yang kerap muncul, nampaknya ada yang merencanakan penculikan, menjadikan binatang kontrak itu sebagai ajang hiburan. Kamu tahu maksudku. Sepertinya, kelompok yang terakhir kali kamu tangkap, hanyalah umpan untuk membuat kita lengkah. Sepertinya juga, ada kemungkinan kelompok Kelelawar Hitam yang sekarang, telah membentuk kekuatannya."


Lasius mengangguk pelan dan berkata dengan tenang. "Aku mengerti, pencarian kali ini, aku akan membentuk kelompok khusus. Cukup aku dan Zalion saja."


"Ngomong-ngomong, Zalion berkonsultasi padaku, apakah baik jika dia mengundurkan diri menjadi teman sekaligus asistenmu. Bagaimana menurutmu?" Pertanyaan Legarion mendapatkan kerutan aneh didahi Lasius.


"Pria itu aneh kak, jangan dekat-dekat dengannya."


"Hatchin!"


"Sial, siapa yang membicarakanku?" Ujar Zalion yang tengah berjalan disebuah lorong.


...***...


Itu masih malam yang gelap dan dingin. Entah karena memang iklim atau pengaruh keberadaan energi sihir yang kaya, tiap malam di Alete akan menjadi lebih dingin dari malam ditempat lain. Terutama, ketika malam-malam dengan bulan yang bersinar lebih terang dari biasanya. Sebab itu juga, saat malam, kebanyakan orang tanpa energi sihir memilih tinggal dirumah mereka yang hangat dan terang, sekaligus menghindari bayangan hitam. Setidaknya tentang bayangan hitam, itu anggapan mereka yang lucu menuru Iloania.


"Uh, kenapa dingin sekali~" Gumam Jissiana sembari merapatkan pelukannya dengan jubah yang melingkupinya.


Dua jam yang lalu, mereka sudah mulai menyebar kearah seluruh penjuru Alete, untuk mencari Batu Bintang. Mereka terbagi-bagi, antar kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang dengan sihir yang diperhitungkan berbeda. Jissiana berjalan bersama dengan Deltain dan seorang siswa dari jurusan air bernama Belein. Yang lain mengatakan Jissiana dan Deltain benar-benar berjodoh, membuat gadis pemilik manik hijau itu mengaum karena amarah.


Deltain mendatanginya dengan jubahnya yang terbentang, "Ana~ Ini, pakailah jubahku."


"Menjauhlah dariku!!" Pekiknya kesal.


Dibelakangnya, Belein mengabaikan kedua sosok itu dan sibuk memperbaiki tatanan rambut birunya yang cerah. Pria itu bergumam dengan lesu. "Hah, orang-orang. Tidak peduli bagaimana yang sendirian melihat."

__ADS_1


...***...


Miaka duduk dengan tenang diatas binatang sihir, yang memiliki fungsi sebagai alat transportasi udara. Disebelahnya, duduk seorang gadis dari jurusan alam, duduk sembari memainkan bunga-bunga diujung jarinya. Namanya Roseas, gadis berusia 17 tahun yang berada ditingkat Bumi 10. Didepan mereka, Eleanor berdiri mengawasi keadaan sekelilingnya, sebelum bergabung dan duduk bersama mereka dalam keheningan.


"Bu-Bunga apa itu?" Tanya Miaka pada Roseas.


Gadis itu menoleh dan menjawab dengan nada manis. "Bunga mawar~ Ini untukmu."


Miaka menerima bunga berwarna merah muda itu, "Te-Terima kasih."


Roseas menganggukkan kepalanya. "Tidak masalah~"


...***...


Kane dan Lane berjalan beriringan. Dengan langkah seirama, keduanya beberapa kali meliat sekelilingnya. Dipedalaman hutan gelap itu, si kembar sesekali menggunakan sihir mereka untuk menyingkirkan halangan yang ada didepannya. Kane melirik kebelakang dan bergumam dengan suara kesal. "Pria itu terus tidur! Sangat menyebalkan saat hanya kita yang bekerja, disini."


Lane menoleh, mengangkat tangannya dan mengantarkan kobaran api yang mengelilingi pemuda itu. Gotan, terbangun samar ketika merasakan panas yang menyelimutinya. Tubuhnya berkeringat dalam beberapa waktu, dan manik hitam itu berkedip linglung sesaat. Tidak kunjung benar-benar tersadar dan justru kembali jatuh diatas bantal apungnya, Lane mengeram kesal, membuka mulutnya dan melontarkan seruan yang membuat Gotan menutup kedua telinganya dengan tangan.


"Bangun!!! Pemalas, ini sudah tengah hari dan kau masih tidur?! Sialan, bangun atau aku akan membakar hangus bantal kesayanganmu itu!" Marah Lane.


"Uhh, sangat berisik!"


Manik Lane terbakar, dan Kane berusaha menenangkannya. "Tenang Lane, tenang! Dia, bangunkan dengan air jangan gunakan api. Jangan api."


"Sangat berisik!" Gumam Gotan membuat Lane mengaum marah dan menerjangnya dengan lompatan keras.


...***...


Jauh diperbatasan barat Alete, Lasius menapakkan kakinya menuruni Hallias dan mengangkat tangan kirinya, memerintahkan pasukannya untuk turun kebawah. Kobaran api menyala-nyala dipermukiman kosong tanpa penduduk. Hanya ada ribuan jejak kaki yang menghancurkan debu hitam ditanah. Nampaknya, belum lama.


"Periksa seluruh tempat ini." Tegasnya.


Pasukan khusus dibelakangnya menganggukkan kepala mereka, "Baiklah."


Zalion mendekatinya. "Apakah kelelawar hitam itu ada disini?"


"Seharusnya. Tetapi, entah ada dimana mereka."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


10/10/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,

__ADS_1


LuminaLux


__ADS_2