
"Apa yang dilakukannya disana?"
Lasius bertanya kepada Putri Kitsune dalam tubuh Iloania. Nadanya menyimpan kecemasan, namun wajahnya menampilkan ketenangan yang biasanya dia miliki.
Putri Kitsune mengalihkan tatapannya dari Iloania, dan memandang Lasius. "Apa kau tahu dimana mereka menyimpan rakyatku? Mereka disekap disebuah kotak yang cukup besar, dan harusnya mereka menyimpannya ditempat aneh ini."
Lasius diam selama dua detik, "Aku tidak tahu. Tapi aku bisa mencari tahu."
Putri Kitsune, "Itu bagus, bawa aku kesana."
"Tubuh ini terasa sangat berat. Benar-benar kejam!" Iloania bergumam dengan alis yang mengerut.
Suara Vleia bergema ditelinganya, "Aku hanya bisa membantu dengan satu pelindung ini. Menukar jiwa kalian membutuhkan banyak tenaga, dan aku merasa sedikit mengantuk disini~"
Iloania mengerutkan bibirnya, "Selalu tidur. Tenang saja, aku masih menyimpan sihirku juga. Aku bisa menyelesaikannya sendiri, Vle."
"Selamat bertarung~"
Groaaa!!!
Bangkit kembali, binatang iblis itu meraung dan mengumpulkan energi gelap dimulutnya, menyemburkannya seperti semburan api kearah Iloania.
Iloania menghindarinya dengan lompatan, mendarat ditempat aman dan menggunakan kekuatannya untuk mengeluarkan elemen angin yang membuat semua penonton terkejut. Putri Kitsune telah menggunakan elemen petir dan es sebelumnya, tentu semua orang, terkejut, jika roh rubah saja mampu menggunakan tiga elemen sihir.
"Bagaimana rubah itu bisa memiliki tiga elemen sihi?!"
"Apakah itu rubah yang berbeda?!"
"Itu mengejutkan!"
Kegemparan masih membayangi arena, namun Iloania tidak peduli. Didepannya masih ada binatang iblis ganas yang menggila. Iloania mencoba sebaik mungkin menghindar dan selalu menghindar. Sayang sekali bahwa tubuhnya sangat lemah dan setiap gerakan membuatnya merasakan rasa sakit dan bahkan nyaris mati rasa.
"Ugh, sakit." Desisnya.
Iloania memandang kesal kepada binatang iblis didepannya, dan menghela napas kemudian berpikir. Satu ingatan terlintas dikepalanya, Iloania sedikit diam dan kemudian mengeluarkan senyuman tipis.
"Jika kau ingin membuat lawanmu kalah dalam keadaan kau adalah yang tersudut, ingat perkataan guru."
"Apakah kau bodoh?"
Iloania sedikit menyipitkan matanya dan mundur selangkah ketika binatang iblis didepannya mencoba berlari menuju kearahnya.
...***...
"Sial, apa kau benar-benar tahu dimana keberadaan rakyatku?" Putri Kitsune bertanya dengan nada kasar dan arogan, sebagai pemilik status putri yang dihormati dan dilimpahi kasih sayang seluruh orang di kerajaannya, bersikap seperti itupun, sudah menjadi kebiasaannya.
__ADS_1
Lasius meliriknya dan dengan acuh bergumam, "Jangan mengumpat dengan tubuhnha."
Memutar bola matanya dengan kesal, Putri Kitsune melihat telapak tangan Iloania dan berkata dengan samar, ketika mereka tengah berjalan menyelinap dilorong semu gelap dan hanya memiliki penerangan berupa lilin kecil yang dilindungi sihir didinding-dinding lorong itu.
"Tubuhnya sangat ringan, bahkan lebih baik daripada tubuhku, aku memang benci mengakui bahwa tubuhnya memang lebih baik dariku. Tapi, mengapa aku merasakan bahwa tubuh ini seperti sebuah cangkang?"
Lasius menoleh dan mengerutkan alisnya, "Apa maksudmu?"
Putri Kitsune menyentuh perut Iloania dan menipiskan matanya, "Tidak ada, lupakan saja."
Langkah demi langkah, mereka berdua pada akhirnya sampai didepan sebuah pintu. Pintu itu memiliki lingkaran sihir yang menjaganya, dan Lasius tidak bisa bertingkah gegabah untuk membuka paksa lingkaran pelindung di depan pintu.
"Sangat lama."
Mendengar suara familiar itu, Lasius menoleh dan menatap cincin ditangan Iloania. Lasius bertanya dengan sedikit nada samar, "Vleia?"
Suara Vleia terdengar malas, "Aku masih memiliki energi sihir. Apa kau tertarik meminta bantuanku? Yah, walau aku tahu jika manusia sepertimu sangat sombong dan tentu saja akan menolak penawaranku."
"Terima kasih, tolong buka."
Mendengar jawaban cepat Lasius, Vleia diam selama dua detik. "Apakah kau tdak ingin jual mahal sedikit? Bagaimana kau bisa secepat itu setuju. Manusia sangat sulit ditebak."
"Bukankah kau yang menawari?"
Kali ini, Vleia tidak menjawab. Namun ada aliran sihir dari cincinnya, berwarna keemasan dan mengalir dan bersatu dengan lingkaran sihir dipintu. Merasakan perasaan energi sihir yang kuat, manik merah Putri Kitsune sedikit melebar dan bahkan tanpa sadar menahan napasnya.
Putri Kitsune menggelengkan kepalanya, "Bukan apa-apa."
Lasius bergumam dengan acuh tak acuh, "Oh."
Mendengar nada acuh itu, Putri Kitsune lebih tidak peduli, ketika dirinya tengah dihadapkan pada rasa ketundukan yang kuat dari aura ini. Sayangnya, ketika segel pelindung pecah tanpa masalah sedikitpun, aura itu menghilang tanpa jejak. Seolah-olah perasaan yang dirasakannya tadi adalah ilusi.
"Sebenarnya apa itu tadi?" Batin Putri Kitsune penuh rasa penasaran.
"Sepertinya ini benar tempatnya." Suara Lasius membangunkannya dari lamunannya.
Keduanya berjalan bergiliran memasuki ruangan yang telah terbuka. Ruangan itu sedikit gelap, samar ada cahaya yang terdapat dilangit-langit. Namun bahkan tidak dapat dikatakan sebagai cahaya pula karena keberadaannya begitu samar. Jelas sekali bahwa ruangan itu sangat pengap dan bahkan memiliki sedikit oksigen yang mengalir melalui celah-celah. Nyaris menyesakkan dada dan meninggalkan hawa lembab panas.
Menggunakan kekuatan elemen cahayanya, lasius mengedarkan cahaya kesegala arah, hingga ruangan itu menjadi cerah dan jelas dalam sedetik.
Lasius dan Putri Kitsune tertegun ketika mendapati pemandangan yang ada didepan mereka. Didepan sana adalah ruangan dengan kurungan-kurungan besi berisikan binatang dan roh spitiual yang dipenuhi aura gelap. Ada sekumpulan anak-anak kecil yang lemah dan lemah didalam kurungan besar, berkumpul dan nyaris sekarat.
Dikurungan lain, ada potongan-potongan dan gumpalan aneh berwarna hitam, bersatu dan ditumpuk dalam posisi aneh. Lasius mengernyitkan alisnya, merasa bahwa tumpukan itu tidak sesederhana yang dilihatnya.
Putri Kitsune segera tersadar dari lamunannya, membuka matanya dan melangkah dengan langkah lebar, mencari keberadaan peti yang menyimpan bangsanya didalamnya.
__ADS_1
"Dimana petinya?" Batin Putri Kitsune tak menghilangkan sedikitpun kegembiraan dan kecemasan dalam nadanya.
"Apa itu peti yang kau maksud?" Suara Lasius membuat Putri Kitsune menoleh, mendapati sosok Lasius menunjuk sebuah peti diatas kurungan besi.
Putri Kitsune buru-buru berlari dan melompat, mendapatkan peti itu disekitar tangannya. Putri Kitsune membukanya, dan menemukan kumpulan kalung dan cincin penyimpanan didalamnya, beragam dengan warna yang berbeda pula.
Sesaat, dia tertegun, sebelum mulai mengingat-ingat kalung mana yang digunakan untuk menyimpan rakyatnya dan memanggil mereka.
"Elle! Iana! Jacc! Elle! Iana, Jacc! Jawab aku siapapun!"
"Kalian mendengar suaraku kan? Dimana kalian? Jawab aku!" Putri Kitsune cemas ketika tak mendapati jawaban dari mereka yang diharapkannya.
Lasius menegurnya dengan tenang, "Kita masih tidak tahu apakah ada yang bisa mendengar kita. Jaga suaramu, jika kita tertangkap disini, itu mungkin tidak akan cukup baik."
"Kau tidak mengerti, mereka rakyatku!"
Lasius menatapnya datar, "Jangan merengek dan mengeluh padaku. Bahkan jika mereka tidak ada disini, apa kau akan menyerah dan membiarkan dirimu tertangkap? Tidak, itu bukan dirimu yang tertangkap. Tapi Iloania. Gunakan ketenanganmu dan cari mereka, rakyatmu dengan benar Jangan membuat kami yang berusaha membantu justru terjebak masalah.."
Mendengar itu, Putri Kitsune sadar, dan berangsur-angsur menjadi lebih tenang. Putri Kitsune memejamkan matanya, memusatkan kesadarannya dialam silumannya.
Ruangan itu putih, sangat putih dan ditumbuhi pohon cendana yang sesekali terombang-ambing oleh angin yang tidak dingin ataupun panas. Wujudnya dalam bentuk rubah berdiri diatas batu, sendirian ditengah lapang rumput yang sepi. Disana benar-benar hampa, tak ada suara sedikitpun.
Dalam pandangannya, rubah kecil itu membuka mulutnya seakan memanggil-manggil teman-temannya. Namun seberapa kuatpun dia berusaha mengeluarkan suaranya, suaranya selalu tertahan dan hanya ada keheningan.
Rubah itu membungkuk, meringkuk dan menangis. Dari atas langit, melayang turun bunga kecil berwarna kuning. Mendarat didepannya dan memanarkan kelip cahaya kecil. Memandangnya dengan bingung, Putri Kitsune menyaksikan satu demi satu bunga kecil itu jatuh diatas rerumputan, membentuk garis panjang dan berjajar dalam jarak yang stabil.
Itu tidak berhenti dan terus berjatuhan. Putri Kitsune menunduk, mengendus bunga itu, sebelu dikejutkan dengan ribuan kupu-kupu berwarna-warni yang mendorongnya, mendorongnya untuk berjalan kedepan.
Putri Kitsune sempat ragu, namun melangkahkan kakinya mengikuti bunga itu.
"Kakak.."
Ada suara samar lainnya, "Disini.."
Telinganya berdiri tegak, sepasang mata merah cerah itu berkilat, sebelum ekornya mengibas dan langkah kakinya berubah menjadi laju larian yang cepat, mengikuti bunga kuning yang entah datang darimana
"Mereka disana!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
19/11/2021
Jangan lupa dukungannya~
__ADS_1
Salam hangat,
LuminaLux