Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 67 "Rasa Takut Dari Ingatan"


__ADS_3

Kepulan asap memenuhi arena. Karena barrier yang dipasang untuk menjaga keamanan penonton, asap tidak menyebar dan memiliki jangkauan sebar yang sedikit. Millied berdiri ditepi arena tanpa asap dan memeriahkan suasana dengan kata-katanya.


"Sungguh sihir yang hebat! Ledakan besar terjadi diawal turnamen! Bagaimana dengan pertandingan selanjutnya? Tetapi, siapakah pemenangnya?!! Siapakah yang bertahan setelah ledakan hebat tadi!!"


Suaranya membuat penonton makin penasaran, berusaha menajamkan indra penglihatan mereka ditengah asap yang berangsur menipis. Keterkejutan terjadi, ketika sosok Iloania terduduk diarena sembari memegangi lengan kanannya yang cukup memerah dengan telapak tangan yang seperti terbakar. Melihat sekelilingnya melalui ekor matanya, Iloania menyembunyikan luka bakar ditelapak tangannya dan berusaha bangkit.


Sementara disisi lain, Legio tetap berdiri. Beberapa pakaiannya terkena lelehan logam yang mencair karena panasnya api milik Iloania. Dan beberapa bagian terbakar dan sedikit mengeluarkan asap. Namun tidak terluka sama sekali.


"Kau membiarkan asap mengalihkan pandanganku, dan kau bisa kabur dan menyerangku dengan serangan kuat. Serangan api dengan sokongan sihir angin. Itu taktik yang bagus, tetapi kau lupa satu hal." Kata Legio.


Ia mengangkat tangan kanannya, "Dalam pertempuran asli, kekuatan adalah segalanya. Sebaik apapun taktikmu, jika kau lemah. Kau akan tamat."


Iloania menyunggingkan senyuman dan mendongak, "Kakak salah."


"Apa?" Beo Legio.


"Tidak peduli apakah itu menggunakan taktik atau kekuatan, yang menang dipertarungan asli. Hanyalah yang berhasil bertahan hidup." Selepas mengatakan itu, Iloania tersenyum sembari mengangkat tangannya.


Dari tempatnya, Iloania mengeluarkan hempasan angin yang kuat. Bahkan meskipun dilindungi barier, orang-orang masih bisa merasakan hembusan angin dingin. Didalam, hembusan itu mendorong tubuh Legio kebelakang sedikit demi sedikit. Sebagai pria besar, sulit untuk mendorongnya menggunakan sihir angin.


Legio menggunakan sihirnya untuk menyatukan kembali pedangnya, namun keanehan terjadi disana. Ketika Legio menarik pedangnya dari bawah arena, itu adalah pedang penuh karatan yang muncul. Tidak, itu benar-benar karat.


"Pedangku, berkarat?" Beonya.


Iloania membatin. "Dengan mengumpulkan semua oksigen murni yang ada disekitarku, setidaknya aku berhasil membuat pedang itu berubah menjadi karat. Sekarang, aku bisa menghancurkannya sedeikit demi sedikit."


Ia sedikit terengah, "Tapi beberapa waktu lalu aku benar-benar kesulitan bernapas. Bahkan saat ini dadaku masih terasa sedikit sesak."


Legio mengernyitkan alisnya, "Berani-beraninya kau merusak pedangku."


Legio kembali menghantamkan pedangnya seperti saat awal. Karena pedangnya berkarat, hal yang muncul dari arena adalah logam berkarat. Iloania mengatur pernapasannya dan menggunakan sihir anginnya.


"Sihir angin, Ledakan Angin." Ujarnya.


Dari sekitar telapak tangan kirinya, angin berkumpul, memadat dan dilesatkan menuju runcingan logam karat. Karena sudah berkarat, logam yang terkena tolakan angin seukuat itu terkikis dan hancur. Berulang dan berulang. Keduanya nampak sengit mengadu, antara seberapa kuatnya sihir logam dan sihir angin.


"Harus bisa menang! Aku masih harus menepati janjiku untuk bertarung dengan kak Clareon!" Ujarnya dalam hati.


Iloania mengangkat tangan kanannya yang melepuh, dan menambahkan kekuatan sihir anginnya menjadi berlipat meskipun Iloania merasakan sakit.


"Harus bisa menang!" Katanya sembari mendorong dan terus mendorong kekuatannya.


DUARR!


Ledakan kembali tercipta. Karena itu, Iloania terhempas beberapa meter kebelakang, dan akan keluar dari arena apabila tidak menahan hempasannya dengan tolakan anginnya.


"Ugh!"


"Wahh! Siapa yang menang?"

__ADS_1


"Ternyata menarik juga! Siapa pemenangnya?"


"Lihat, pria itu masih berdiri."


Para penonton melihat Legio masih berdiri dengan hanya memiliki luka kecil. Namun ketika asap menipis, mereka dikejutkan oleh kaki Legio yang tak berada didalam arena. Sementara Iloania disana, terduduk dengan jarak beberapa meter didalam garis arena. Legio menunduk dan melebarkan matanya saat sadar garis kaki sepanjang delapan sampai sembilan meter tercipta didepannya, mengikuti kakinya.


Dia .. didorong keluar.


Millied menyaksikan semuanya dari awal sampai akhir dan mengumumkan pemenangnya. "Pertandingan yang luar biasa! Pemenangnya adalah, Iloania dari kelas 1-4!!! Selamat untuk lolos kebabak selanjutnya!"


Iloania mendongak. Melihat Lasius yang menatapnya khawatir, namun lega dan juga bangga. Ia mengulas senyuman membalas senyuman Lasius.


Iloania kehilangan senyumnya dalam sedetik, menoleh kekanan dan menemukan seorang pria memandangnya dengan seringaian. Pria itu memakai tudung dijubahnya dan mengumpulkan bola kehitaman ditangannya. Iloania belum sempat bereaksi bahkan ketika pria itu melemparkan bola hitam itu keatas Dragonia Academy dan membiarkannya melebar menjadi lubang hitam dilangit Dragonia Academy.


Yang lainnya terkejut dan bertanya-tanya tentang lubang hitam itu. Namun para penyihir beraksi lebih cepat dengan teriakan Lasius yang telah mengawasi kemana Iloania melihat sejak awal.


"Penyihir hitam! Segera evakuasi penduduk!!"


"Gawat! Kenapa bisa ada penyihir hitam disini?!" Batinnya.


Ada kekacauan dimana-mana. Orang-orang berlarian ketika melihat orang-orang berjubah hitam muncul dari lubang hitam. Turun dan menggunakan sihir mereka untuk menghancurkan Dragonia Academy. Tak hanya orang-orang berjubah hitam, ada binatang-binatang iblis besar yang membuat kacau. Menakuti seluruh orang di Dragonia Academy.


Blarr! Blarr! Duarr!!


"Ahhh!! Tolongg!!"


"Tolong kami! Selamatkan kami!"


"Lari, cepat lari semuaa!!"


Groaaa!! Groaaaa!!


Yang didengar telinga Iloania hanyalah jeritan dan raungan binatang iblis. Tubuhnya membeku ditengah arena, mengabaikan kata-kata yang diucapkan orang lain. Hanya ada satu hal dipikirannya.


Mereka penyihir hitam, dan dia tidak boleh bersinggungan dengan sihir hitam.


"Panggil penyihir dimensi! Evakuasi seluruh orang ketempat aman!" Perintah Gheorn kepada asistennya.


"Baik!" Jawabnya.


Asistennya menggumamkan sesuatu dan butir-butir pasir melayang dan menghilang dalam sekejab. Beberapa saat kemudian, lubang dimensi muncul dibeberapa titik Dragonia Academy.


Millied berteriak, "Segera masuk kesana! Bantu evakuasi yang lemah, perempuan dan anak kecil dahulu!"


Para penduduk nyaris melewati pintu dimensi sebelum suara tawa diikuti menghitamnya pintu dimensi. Orang-orang berdesakan untuk maju, tetapi putus asa ketika pintu dimensi tak bisa dilalui. Semua penyihir dimensi dibuat panik dan cemas pula.


"Haha, kalian tidak akan bisa lewat. Aku telah bercampur dengan pintu dimensi ini." Kata seseorang berjubah hitam yang terbang diatas burung binatang iblis.


"Ahhh! Tolongg!"

__ADS_1


"Bagaimana kami akan mati disini?!! Keluarkan kami!!"


Para peserta turnamen dan penyihir lainnya berduyun-duyun membantu puluhan ribu penonton untuk menyelamatkan diri. Mereka dengan kekuatan sihir mereka membantu menahan serangan yang akan datang dan membantu mengamankan jalur evakuasi.


Lasius terbang dipunggun Hallias dan menggunakan sihirnya untuk menyerang penyihi hitam dan membantu melindungi orang-orang dari serangan sihir hitam yang lebih berbahaya daripada sihir biasa.


Maniknya menangkap sosok Iloania yang berdiri ditengah arena dalam diam, "Iloania!! Evakuasi penduduk yang dalam bahaya!"


Iloania mendongak. Memandang Lasius yang nampak gagah diatas Hallias. Namun nampak juga,bahwa Lasius nampak kesulitan melindungi sebanyak itu orang.


"Aku takut.." Lirih Iloania.


Ia memegangi perutnya dan bergumam samar, "Aku takut dengan apa yang guru pesankan padaku, Vle."


"Aku sangat ketakutan." Lirihnya.


...***...


Hari Kedua, Bulan Pertama, Musim Dingin


Hari sangat dingin, hari itu. Salju muncul beberapa kali dalam seminggu, namun tidak sesering biasanya. Disepanjang mata memandang, selalu bisa dilihat salju putih. Bersih dan murni. Burung-burung bersembunyi, dan binatang-binatang banyak menghabiskan waktu dengan berhibernasi Tetapi manusia tidak.


"Guru, apakah mempelajari segel itu sangat penting?"


"Tentu saja Ilo, banyak segel yang dapat membantu manusia dalam hidupnya. Contohnya segel penyimpanan. Lalu, segel Inti Hidup yang Ilo dan guru miliki." Jawab Delt.


"Guru, guru pernah bilang bahwa ada segel didalam tubuhku. Lalu, apa itu Segel Mata Suci?" Tanya Iloania.


Delt tersenyum, "Segel yang menentukan kehidupan, Ilo."


"Yang menentukan kehidupan?" Beonya.


Delt memandang Iloania, "Hmm. Maka dari itu, Ilo harus berjanji pada guru. Jangan sampai melepas segel itu."


"Memang kenapa jika sampai terlepas?" Tanya Iloania.


Delt terdiam, sebelum menjawab dengan samar. "Orang-orang yang kamu sayangi, bisa mati."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update:


10/01/2022


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux

__ADS_1


2 bab menuju End Of Volume 1🌸


__ADS_2