Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 21 "Kekacauan"


__ADS_3

"Kenapa bisa begini?" Gumam Jissiana sembari menatap kekacauan didepannya.


Orang-orang bergerak. Berlarian sembari menggunakan sihir mereka untuk mempertahankan diri. Orang-orang berlarian, melarikan diri layaknya pengecut. Mereka yang melawan, dan mereka yang bersembunyi. Terlihat jelas dimata Jissiana yang masih terpaku ditempatnya.


Beberapa saat yang lalu, ia masih mendengarkan pidato singkat dari Milied. Ketika dengan tenang mendengarkan, tiba-tiba ada ledakan dibarrier pelindung Dragonia Academy. Disusul suara keras dan hempasan angin kuat. Ketika ia mendongak, Jissiana terpaku ketika melihat sosok naga besar berwarna hitam yang terbang dengan iringan bayangan hitam dibelakangnya. Ketika barrier pecah dan beregenerasi dengan cepat, asap hitam mengepul dari hidung naga itu. Menutup langit-langit barrier dan menyebabkan Dragonia Academy menjadi cukup gelap. Namun mereka masih bisa melihat.


Orang-orang menjerit dengan panik. Ketika bayangan menjelajahi mereka, mereka bereaksi cepat dengan menyemburkan sihir masing-masing untuk menghalau mereka menjauh. Iloania dan Lasius menatap sekelilingnya.


"Ilo, kamu bantu yang disebelah Timur. Kamu, bantu yang ada disebelah Selatan. Aku akan mengurus yang disebelah Utara dan Barat. Tak perlu melawan, pastikan saja orang-orang tidak terluka." Kata Lasius menginterupsi.


Iloania mengangguk, "Aku mengerti."


Jissiana mengangguk tanpa kata dan berlari menuju kearah Selatan. Tempatnya harus berjaga. Sama halnya dengan Iloania yang mengeluarkan piringan hitam dan melayang menuju kearah Timur. Lasius, memanggil Hallias dan dengan cepat, Hallias muncul didepannya dengan sosok burung phoeniks yang besar dan mempesona.


"Tuan ," suara Zalion terdengar disebelah Lasius.


Ketika pemuda itu menoleh, ia mendapati sosok Zalion dengan tubuh samar. "Urus yang ada disebelah Barat dan Utara."


"Bagaimana dengan Selatan dan Timur ?" Tanya Zalion.


"Sudah ada yang mengurusnya. Pastikan tidak ada yang terluka." Kata Lasius.


"Baik tuan. "Jawab Zalion.


Bersamaan dengan tubuh samar Zalion yang menghilang seakan tersapu angin, Lasius melesat bersama Hallias menuju naga besar yang terbang diatas sambil mengeluarkan asap pekat dari hidungnya. Lasius menggunakan sihir cahayanya dan menembakkannya pada naga hitam itu. Membuat kabut nampak dalam beberapa waktu.


...***...


Ditempat Jissiana, gadis itu nampak menatap sekelilingnya. Ketika maniknya menangkap beberapa orang yang terluka, ia mengumpulkan mereka dengan hati-hati menggunakan elemen tanamannya dan mulai menyembuhkan mereka. Walaupun kekuatan sihirnya tak cukup baik, namun kelebihan Jissiana ada pada kapasitas sihirnya, yang lebih besar dari yang lain.


Dengan kata lain, meski sihirnya tak terlalu kuat, namun ia mampu menggunakannya dalam jangka yang lebih lama.


"Apakah ada yang memiliki sihir tanah disini?" Tanya Jissiana.


Gadis yang tengah disembuhkannya mengangkat tangannya. "Aku bisa.."


"Bagus." Gumam Jissiana.


Menggerakkan tangan kirinya, Jissiana dengan usaha yang cukup keras bergerak menumbuhkan pohon besar. Jissiana menoleh pada gadis tadi. "Buat tanah disekitarnya tak bernutrisi. Buat pohon itu mati dan mengering."


"Baiklah." Jawab gadis itu kemudian memendarkan cahaya dari tangannya.

__ADS_1


Cahaya kecoklatan itu perlahan mempengaruhi tanah yang ada disekeliling pohon. Membuat pohon itu berguguran, mati dan mengering. Menggunakan sulurnya, Jissiana menarik kulit pohon dan ranting-rantingnya. Mengambilnya dan memegangnya dengan banyak sulur.


"Sihir api? Siapa yang bisa?" Tanya Jissiana.


"Aku bisa!" Kata pemuda disamping Jissiana.


Jissiana menatapnya, "Bakar ujungnya. Buat obor! Kita bisa menahan mereka menggunakan cahaya."


"Aku mengerti!" Ujar pemuda itu sembari menggunakan sihri apinya.


Cahaya kemerahan memendar didahinya dan meluncur menuju masing-masing kayu yang dipegang Jissiana dan membakarnya. Menjadikan cahaya yang cukup untuk menyinari tempat itu. Namun Jissiana masih panik akan satu hal. Jika angin mengacaukan apinya, itu bisa menjadi kesalahan walau hanya beberapa saat.


Seorang wanita memendarkan cahaya keabuan ditangannya. Dan dengan gumaman pelan, masing-masing api dipuncak kayu terlindungi barrier tak kasat mata yang membuat api menjadi tenang dan tak terombang-ambing angin.


"Aku sudah menjaganya." Kata wanita itu.


Seorang gadis muncul dengan beberapa orang. "Kami juga bisa membantu. Orang yang terluka tolong berkumpul, dan yang lain bisa tolong membantu yang terluka parah. Kami akan menggunakan sihir penyembuhan kami."


"Ya!"


Kerjasama terjalin dengan cepat diwilayah dimana Jissiana berada. Orang-orang saling membantu dan menggunakan kekuatan mereka untuk mempertahankan api dan kembali membangun api. Mereka percaya, tidak akan lama lagi penyihir elite akan bertindak untuk menyelesaikan kekacauan yang terjadi.


...***...


Manik Iloania nampak menajam. Ketika melihat orang-orang terluka, sekelebat bayangan asing diingatannya membuatnya mengepalkan tangan dan mengeluarkan sihir apinya. Menyerang bayangan yang mencoba menyakiti orang-orang.


Bayangan yang melihat api langsung mundur, namun tidak menjaga jarak begitu jauh. Cahaya api tidak terlalu kuat menahan mereka. Namun itu cukup.


"Semuanya berkumpul disatu tempat!" Kata Iloania.


Namun suaranya yang lembut tidak begitu terdengar ditengah keributan yang terjadi. Giginya menyatu dan Iloania melirik sekelilingnya. Hingga dia menemukan satu pilar besar. Bersembunyi dibaliknya, Iloania mengangkat tangan kirinya. Dan cahaya samar tercipta.


"Nada Ketenangan." Gumamnya.


Piringan hitam kecil muncul diatas tangan kanannya. Sementara tangan kirinya membentuk ujung tajam dan bergesekan dengan piringan hitam. Menciptakan paranada yang menyebar kebagian Timur aula Dragonia Academy. Ketika paranada terputus dan melayang disekelilingnya, Iloania berteriak dengan sembunyi-sembunyi.


"Semuanya berkumpul didekat arena!" Teriaknya.


Orang-orang yang mendengarnya dengan dorongan dari paranada yang mengalun bergerak menuju ketepi arena. Berkumpul dengan saling menatap sekeliling. Cahaya keemasan memendar, dan Iloania menciptakan barrier yang dengan cepat mengelilingi orang-orang yang berkumpul menjadi satu.


Cahaya sedikit memendar. Melindungi barrier itu. Namun, beberapa bayangan hitam bergerak memaksa mendekat. Mendekat dan mendekat.

__ADS_1


Ketika Iloania hendak keluar, seorang pemuda dengan manik biru dan surai sewarna matahari itu maju terlebih dahulu. Dari tangannya, cahaya kebiruan muncul. Sepasang sayap muncul dipunggungnya dan helaian bulu biru lembut itu berterbangan dengan indahnya. Tiap hempasan sayapnya, helaian sayap berubah menjadi tajam, dan menancap mengenai bayangan. Melemah, dan tergeletak!


Ketika hempasan berikutnya, angin kuat menghempaskan bayangan, membuat mereka terhempas jauh.


Hempasan ketiga, area disekitar barrier benar-benar bersih dari bayangan. Meski tak berselang lama orang-orang berdatangan kembali. Iloania mendapati beberapa orang keluar dari barrier dan mulai membantu pemuda yang pernah bersinggungan dengannya itu.


Salah satunya Miaka. Ia ingat gadis yang memiliki elemen tanah dan kekuatan yang luar biasa itu.


Ketika Iloania mendongak, ia melebarkan matanya dan bergumam, "Kak Lasius."


...***...


Beberapa saat yang lalu, Lasius menggunakan kekuatan sihirnya pada naga yang ada didepannya. Ketika kabut mengepul dan kelamaan menghilang, sosok naga itu tak terluka sedikitpun. Itu mustahil! Lasius adalah Dewa Perang yang terjun langsung mengalahkan ribuan bayangan hitam bersama kelompok APA. Bagaimana bisa naga didepannya tak tergores sedikitpun.


Grooaaaa~


Naga itu membuka bibirnya. Cahaya keunguan muncul dan dengan cepat melesat kearah Lasius. Namun Hallias menahannya dengan barrier cahaya yang menghilang kemudian. Manik ungu Lasius bergerak meneliti dan berusaha menemukan titik lemah naga itu.


"Hallias, gunakan kecepatanmu. Kelilingi naga ini." Kata Lasius.


"Baik tuan." Jawab Hallias.


Dengan kecepatan secepat angin, Hallias melesat mengelilingi tubuh naga hitam berukuran 50 meter itu. Diatasnya, Lasius menciptakan bola cahaya dan menyerangnya sepanjang Hallias terbang. Mengenai tubuh naga, namun lagi-lagi tak meninggalkan bekas apapun.


Lasius terdiam ditempatnya sama halnya dengan Hallias.


"Mungkin." Gumamnya pelan.


Ditengah kekacauan. Ditengah kepanikan.Ditengah orang-orang yang bekerja sama di aula Dragonia Academy. Rasa kecemasan mereka berubah menjadi rasa penasaran juga rasa aneh. Hanya ada satu pertanyaan dibenak mereka semua.


Bukan pertanyaan tentang "Dimana para penyihir elite?", namun pertanyaan yang lebih spesifik.


"Semudah itukah Dragonia Academy diserang bayangan?"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update :


21/05/2021


Jangan lupa untuk setia memberikan dukungan untuk saya yang sudah menulis ya~

__ADS_1


Terima kasih telah membaca


__ADS_2