Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 34 "Penyerangan Di Kota Neredith"


__ADS_3

Kota yang ramah namun juga selalu waspada. Neredith menjadi kota indah dengan pesona tersendiri yang dimilikinya. Terlebih ketika datang dimusim dimana bunga-bunga bermekaran, itu selalu ada ditiap sudut kota.


"Ikutlah denganku." Kata Cleus membuat Iloania sedikit menatapnya sebelum mengangkat sudut bibirnya.


"Yah, sepertinya aku dicurigai ~" Batinnya dengan senyuman geli.


Disepanjang jalan, Iloania yang mengikuti langkah Cleus dengan piringan hitamnya melihat orang-orang yang bukan penyihir resmi menggunakan sihir untuk kegiatan sehari-hari. Tampak beberapa wanita menjemur pakaian dan menggunakan sihir angin yang membuat pakaian berputar-putar diatas mereka. Dan dalam beberapa menit, itu menjadi kering. Menggulung baju kotor didalam air sabun, dalam waktu tertentu pakaian itu menjadi bersih untuk diangkat dan dibilas. Sementara beberapa lagi memasak menggunakan sihir api.


Bahkan beberapa petani menggunakan sihir tanah untuk bercocok tanam. Sihir dasar yang mereka miliki baik.


"Wah~ Benar-benar kota yang hidup." Gumam Iloania.


Berhenti disebuah bangunan besar yang terlihat sederhana, Iloania menebak jika ini adalah rumah Cleus. Ketika membuka pintu, nampak seorang seorang gadis membereskan sebuah rak dan menyusun ulang buku yang terlihat berbeda.


"Ayah, ayah sudah-"


Gadis itu menatap Cleus dan memekik. "Ayah!! Anak siapa yang ayah bawa pulang?! Jangan bilang dia adalah adikku?! Ayahh! Jangan-jangan ayah menghianati ibu ya?!"


"Wency, dia bukan anak ayah." Kata Cleus membuat Wency memincing.


Gadis dengan penampilan yang mirip dengan Cleus itu mendekati Iloania, menunduk dan secara bertahap menilai penampilan Iloania sampai dia menarik seluruh garis wajahnya yang tajam menjadi lengkungan lembut dan bersemu senang.


"Hehe, sangat manis dan cantik~"


"Ah! Lupakan, jadi siapa anak ini?" Tanya Wency.


"Halo kakak~ Namaku Iloania Rexelite. Senang bertemu dengan kakak," ucap Iloania ramah.


Wency tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Namaku Wency Natheon. Kamu bisa memanggilku kak Wency. Mengerti?"


Iloania menganggukkan kepalanya dan tersenyum cerah. "Mengerti~"


Wency memejamkan mata dan segera berbalik dan menarik ayahnya sedikit menjauh. "Ayah, siapa sebenarnya anak itu?"


"Sepertinya dia penyihir."


"Kaa~ Lihat, sangat cerah. Mataku sampai akan buta. Ayah, ayah tidak akan menggantikanku dengan si manis itu kan? Ayah, walau aku tidak semanis dan secantik dia aku tetap putrimu!" Bisik Wency.


"Omong kosong, apa?" Dengus Cleus membuat Wency tersenyum konyol.


Cleus berbalik dan mendatangi Iloania. "Selama kamu dikota ini, kamu akan tinggal bersama dengan kami. Semua sudah ada disini, jadi nikmati kunjunganmu kekota Neredith."


"Terima kasih~" Ucap Iloania.


...***...


Beberapa hari berlalu, Iloania dan Wency makin dekat. Wency menganggap Iloania seperti adiknya sendiri, begitupun sebaliknya. Menghabiskan waktu berkeliling kota, memasak, makan dan mencuci bersama. Iloania menikmati beberapa hari disini. Sayangnya, dia tak bisa berada disini, terus menerus.

__ADS_1


"Kak Cy, apa kakak pernah merindukan ibu kakak?" Tanya Iloania disela kegiatan mereka melipat pakaian.


Wency mengangguk, "Seringkali. Bahkan mungkin, selalu."


Ia menunduk dan mengukir senyuman. "Ibuku meninggal 2 tahun yang lalu karena sakit. Penyakit ibu, tidak bisa disembuhkan meski memanggil penyihir penyembuhan terbaik dikota ini. Dan pada akhirnya, ibu meninggal dirumah ini."


Iloania yang duduk dilantai membaringkan kepalanya dilipatan tangan dan meletakkannya ditepi ranjang dan bergumam dengan suara setipis kertas. "Bagaimana rasanya memiliki seorang ibu ya?"


Mendengar bisikan itu, Wency menghentikan gerakan tangannya. "Ilo, kamu .."


Iloania mendongak dan memasang senyuman tipis. "Sejak bayi, aku dirawat dan dibesarkan oleh guru. Dia bukan ayahku. Bukan ibuku. Tapi dia guruku, mengajariku berbagai hal. Guru bilang aku ditemukan ditengah hamparan bunga dan dibawah cahaya bulan yang bersinar. Saat guru mengambilku, guru bilang orangtuaku pasti memiliki alasan kenapa meninggalkanku disana."


"Sampai, guru meninggal saat aku berumur 5 tahun. Dan aku mulai menjelajah untuk mencari, siapa sebenarnya aku. "Ucapnya diakhir.


Tanpa kata, Wency memeluk Iloania dengan pelukan hangat. Membuat Iloania sedikit terkejut dengan tindakan itu.


Wency bergumam, "Jika aku sedang sedih. Ibu selalu memelukku seperti ini. Ilo, jangan sedih ya."


Mendengar ucapan Wency, Iloania terdiam sesaat sebelum mengembangkan senyuman indahnnya. Tangannya bergerak membalas pelukan Wency. Suara debuman keras membuat keduanya terkejut dan segera saling melepaskan pelukan. Memandang kebingungan, pintu terbuka menampakkan Cleus dengan wajah tegang.


"Wency, segera bersembunyi keruang perlindungan. Iloania, kau ikut dengan Wency." Kata Cleus.


"Ada apa ayah?" Tanya Wency.


Cleus menggelengkan kepalanya dan mendesak Wency. "Cepat bersembunyi."


"Benar."


Jawaban Cleus membuat ingatan Iloania melayang kebeberapa hari yang lalu. Tatapan penuh kebencian itu membuat setitik perasaan aneh dihati Iloania. Iloania memandang tegas pada Cleus. Seolah menolak kata-kata yang akan dikatakan Cleus untuk membalas perkataannya.


"Aku akan ikut." Ucap Iloania.


Cleus terdiam sesaat. "Wency, masuk kedalam. Dan kau, ikut aku."


Iloania tersenyum. "Tentu. Kak Cy bersembunyi didalam saja ya."


"Ayah! Diluar berbahaya untuk Ilo!" Kata Wency, namun Cleus mengabaikannya dan mendesaknya masuk kedalam ruang pelindung.


...***...


Iloania dan Cleus bergegas keluar. Dan mendapati banyak binatang sihir yang menggila. Iloania memandang tenang kearah mereka sebelum bergumam.


"Paman, paman cari saja kakak-kakak kemarin. Hewan disini, biar aku yang mengurusnya." Kata Iloania.


Cleus menatapnya, "Kau yakin?"


"Hm!" Gumam Iloania.

__ADS_1


"Kalau begitu baiklah."


Selesai berucap demikian, Cleus bergegas pergi. Sementara Iloania merentangkan tangannya dan melemaskan otot-ototnya yang kaku sebelum mengambil piringan hitamnya.


"Nada Penyucian." Gumamnya.


Rangkaian paranada muncul dan mengelilingi para binatang sihir yang menggila. Tak terputus dan terus menyambung untuk melilit binatang sihir yang ada. Setiap lilitan menjebak mereka dan perlahan memudarkan aura kebencian yang ada pada mereka. Ketika binatang sihir yang menyerang rumah-rumah nampak seakan baru tersadar dari pengaruh buruk, mereka memperlihatkan ekspresi keterkejutan juga ketakutan.


"Binatang iblis." Gumam Iloania setelah melepaskan sihir pada mereka.


Satu binatang iblis nampak muncul dari balik bayang-bayang. Sesuatu seperti ular dengan sepuluh kaki yang panjang dan tajam, setajam bilah pedang. Memiliki sepuluh mata yang dapat memandang kesegala arah dan bahkan gigi yang runcing dan dapat mengoyak baja menjadi serpihan. Itu binatang iblis yang menakutkan.


"Binatang iblis itu lebih besar dari yang kukira," gumam Iloania.


Grooaaa!!!


Suara itu melengking keras. Membuat hal-hal yang ada disekitarnya mengalami tekanan. Orang-orang tanpa sihir dan memiliki sihir lemah menjerit panik dan berlarian menuju tempat perlindungan untuk keadaan genting seperti saat ini. Iloania memancarkan cahaya keabuan ditangannya.


"Tombak angin." Gumamnya sembari menggerakkan tangannya kedepan.


Diatas punggung tangannya seakan memunculkan tombak samar yang langsung melesat menuju binatang iblis itu. Bunyi benturan terdengar seperti dengungan bel. Nyaring namun tak ada sedikitpun goresan disana. Binatang iblis itu memiliki kulit yang sangat keras. Iloania menyaksikan dengan jelas bagaimana binatang iblis itu memekik nyaring. Seakan berbicara dan beberapa binatang sihir yang masih ada disana menjadi seperti boneka tangan yang dikendalikan.


Binatang sihir berwujud harimau berwarna oranye mengaum dan menyerang Iloania dengan bola api yang muncul dari mulutnya yang terbuka. Iloania menghindarinya berulang sampai serangan angin dari samping membuatnya sedikit terkejut sehingga lengannya tergores. Meneteskan tetes demi tetes cairan merah.


"Ini tidak adil! Badanku hanya seukuran ekornya!" Kata Iloania ketika melihat harimau didepan sana.


"Jangan mengeluh. Hancurkan saja dia. Ingin kubantu?"


"Tidak!" Gumam Iloania.


Cahaya keabuan muncul ditangannya. Dengan gerakan cepat, sapuan angin kuat membuat tubuh binatang sihir yang dikendalikan dan binatang iblis itu terhempas keluar area kota dan mendarat keras didaerah hutan. Memanfaatkan kesempatan itu, cahaya keemasan memendar dari tubuh Iloania dan secara bertahap sebuah barrier setengah lingkaran membesar dan terus membesar sampai melingkupi seluruh kota.


Manik emasnya menatap samar kearah binatang iblis, "Aku kelelaha dan sangat mengantuk. Vleia, jika aku tertidur, pukul saja aku, oke?"


Suara Vleia terdengar santai, "Aku bisa mengaturnya."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update


12/7/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux

__ADS_1


__ADS_2