
Ketika binatang iblis itu terus menerus berusaha keluar dari paranada perangkap, Iloania meliriknya dan kembali memandang gadis didepannya. Setidaknya, binatang iblis itu akan tetap disana, sampai dia membunuhnya.
"Sebenarnya, siapa kakak?" Tanya Iloania pada gadis bertopeng didepan sana.
Gadis itu tidak menjawab. Justru mengulurkan tangannya dan menciptakan busur dari air yang langsung memunculkan anak panah, dan melepaskannya secara sepat kearah Iloania. Iloania bergerak menghindarinya dengan melompat dan berlari berlainan arah dari arah dimana panah itu akan mendarat.
Disaat bersamaan, gadis itu juga memberikan serangan pada paranada penjebak Iloania yang mengurung binatang iblis itu.
Iloania mencoba berbincang, "Sa~ Kakak mari berhenti sebentar. Kita bisa bicarakan baik-baik, kan?"
"Kenapa kakak berniat menghancurkan kota itu?" Lanjutnya.
"Siapa nama kakak?" Tanya Iloania.
"Ah, dari tadi hanya aku yang berbicara. Vleia, bisakah kamu memberitahuku sesuatu?" Kata Iloania.
Suara Vleia bergema ditelinga Iloania, "Bukankah dia seperti koloni semut yang melindungi ratunya? Itu menggelikan."
Iloania yang tengah menahan serangan gadis itu membalas. "Sudah kuduga, ternyata memang bukan kesadaran mereka sendiri. Sejak awal, binatang iblis itu yang mengendalikan mereka. Tapi, bagaimana binatang iblis itu bisa melakukan hal seperti itu?"
"Yah, bisa saja kan? Binatang iblis itu, hanya tahu bagaimana cara membenci dan menyebarkan kebencian."
Iloania mengangguk, "Sepertinya itu memang benar. Kalau begitu, aku hanya perlu mengalahkan binatang iblis itu."
"Tapi kurasa tidak akan semudah itu~" Lanjutnya bergumam.
Cahaya kemerahan muncul ditangannya. Iloania membentuk sebuah tombak api dan meluncurkannya kearah binatang sihir didalam paranada penjebak. Secara alami, tentu saja sihir Iloania akan bisa menembus dinding transparan paranada pelindungnya tanpa jejak. Sayangnya, sebelum mencapai dindin pelindung, sapuan air bola air menimbulkan ledakan yang membuat kedua serangan itu menguap.
Gadis misterius itu mengangkat kedua tangannya dan bergumam. "Tetes Air Pengikat."
Ketika kemudian awan menjadi gelap. Rintik air turun dan menetes. Ketika menyentuh kebumi, Iloania merasakan keanehan dihujan itu. Ketika tetsan air mengenainya, pandangan Iloania menjadi samar. Tatapannya menatap sekelilingnya, dan esensi kekuatan hidup disekelilingnya terserap oleh gadis itu. Berkumpul diatas mereka dan membentuk gumpalan bercahaya yang dipenuhi dengan energi. Cahaya itu makin membesar dan memadat, membentuk bundaran sempurna yang berkilau.
"Ilo, itu juga menyerap milikmu."
Iloania bergumam, "Apa yang harus dilakukan?"
Suara Vleia bergema, "Hancurkan sebelum benar-benar sempurna. Aku yakin, benda menjijikan disana akan segera menelannya. Karena tahu energi itu bisa menembus paranadamu."
"Jika itu terjadi, mungkin kekuatannya akan berkali-kali lipat."
"Aku tahu. Aku akan berusaha, tapi jika sampai gagal. Aku akan menggunakan segel yang diajarkan guru. Segel Kutukan Kematian." Kata Iloania.
"Terlalu beresiko! Kekuatanmu mungkin tidak akan cukup, lagipula kamu tidak pernah secara langsung menggunakan segel yang diajarkan pria tua itu."
Iloania menggeleng. "Pilihannya hanya kalah atau menang."
...***...
Ketika rintik hujan mulai menghilang, bola energi itu melayang menuju paranada penjebak. Iloania bergerak cepat dengan berlari mengejarnya dan menghindari kejaran dan serangan gadis bertopeng itu. Gerakan keduanya cepat, dan sesekali Iloania akan berbalik dan memberikan balasan kepada gadis itu. Kondisi Iloania dapat dikatakan terdesak. Beberapa luka dilengan dan tubuhnya, sedikit membuatnya merasakan rasa sakit. Bahkan, energi sihirnya terserap sebagian oleh hujan yang diturunkan oleh gadis bertopeng itu.
"Kakak ini memperlambatku," gumam Iloania melirik gadis yang tengah melemparinya dengan panah air.
__ADS_1
Ia meluruskan tangannya, cahaya keemasan sedikit memendar. Iloania mengambil risiko, ketika untaian paranada terputus dan bergerak cepat mengitari gadis misterius itu. Membiarkannya terjebak disana tanpa bisa melakukan apapun. Sesuai kemungkinan terburuk, binatang iblis itu dengan kepala ularnya menelan bola energi didepannya. Ketika benda itu menghilang, tubuh binatang iblis itu memancarkan aura yang gelap. Iloania mengernyitkan dahinya dan memandang binatang iblis yang meregenerasikan tubuhnya. Menumbuhkan lebih banyak cangkang sekeras batu dan duri-duri yang tumbuh diantaranya.
Aura ganas itu membuat Iloania sedikit mengernyitkan dahinya.
Grooaaaa!!!!!
Ketika selesai mengurus para anggota bertopeng dan menahan mereka didalam barrier, orang-orang dikota ketakutan kala mendengar suara raungan yang gelap itu. Mereka secara otomati menjerit dan berkerumun.
Cleus melihat kearah dimana binatang iblis besar itu terlihat. Tinggi, besar dan menakutkan mencoba menghancurkan dinding pelindung. Yang untungnya berapa kalipun dipukul, meski menjadi retak dalam sepersekian detik langsung kembali menjadi utuh tanpa goresan.
"Iloania, dia pasti disana." Gumam Cleus.
"Jaga semua orang disini. Jangan biarkan siapapun keluar dari barrier pelingung!" Tegasnya.
Anak buahnya serentak menjawab ya. Sementara dengan keberanian penuh, Cleus berlari menggunakan sedikit kekuatan petirnya. Yang membuat langkahnya berkali lipat lebih cepat. Hingga dalam beberapa waktu, ia sudah sampai dan melihat dimana seorang bertopeng terjebak didalam pelindung asing. Dan Iloania bergerak menghindari serangan binatang iblis besar itu dan sesekali balas melemparkan serangan.
"Tebasan Petir." Tak tinggal diam, ia menggunakan pedangnya, menyabetkannya dan membuat jalur tebasan yang membuat Iloania melompat mundur.
Sayangnya, itu hanya menggores sedikit pada kulit keras binatang iblis itu. Dan sisanya menghilang tanpa sisa. Mata binatang iblis itu makin menyala merah dan teralihkan pada sosok Cleus.
Grooaaaaa!!!!
Sebuah bola api tercipta didepan mulutnya. Dan dilesatkan pada Cleus. Cleus menahannya menggunakan sihir petirnya, mencoba mengalahkan serangan itu. Iloania mampu melihatnya, serangan bola api binatang iblis itu lebih kuat, hingga membuat Cleus tertolak dan terus tertolak kebelakang.
Ketika Cleus mencapai batasnya, ia bergerak melompat keatas. Menyebabkan bola api itu meledak ditanah dan membuat sedikit cidera pada Cleus.
"Paman, bisakah paman memberiku waktu? Aku memiliki rencana." Kata Iloania.
"Vleia, aku akan melakukannya." Gumam Iloania.
Suara Vleia terdengar buruk, "Kamu tahu.. Aku hanya bisa memberi sedikit. Seandainya itu tidak ada.."
"Tidak masalah. Kamu percaya padaku kan?" Tanya Iloania.
"Aku .. percaya padamu." Meski sedikit ragu, Iloania tetap mengulas senyuman dan memejamkan matanya sembari menghirup udara yang dalam.
"མཨཏཨཧཨརི དིཔུནཅཨཀ ཏེརཏིནགགི སུརགཨ" Ketika mengucapkan satu kalimat ini, Iloania mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahunya kedepan dan berhenti sebelum langsung melakukan gerakan mengangkat tangan kanan kesamping atas dan menurunkan tangan kiri kesamping bawah.
"ལཨནུཨམ ཨཔེརཏཨམ.."
Ketika kakinya bersilang dan sedikit berjinjit dengan gerakan yang lalu, Iloania menolak dirinya kebelakang dengan gerakan tangan kembali sejajar bahu dengan gerakan ayunan lembut.
Tangannya digerakkan kebelakang mengayun dan memutar kembali kedepan hingga membentuk sudut 45 derajat. Dengan tangan kanan melentik keatas dan tangan kiri melentik kesamping, dan kembali membaca mantra sihir.
"བཨཡཨནགཨན སཨནག ནིརཝཨནཨ.."
"ཨཔི པེནསུཅིཨན བེརཀོབཨར དཨལཨམ སརིགཨ པེནགཨདིལཨན" Gumam Iloania.
Secara bertahap dari bawah kakinya, muncul lingkaran sihir berwarna keemasan yang bertingkat. Ketika cahaya itu naik merambat ketubuh Iloania, kedua ikatan rambut itu melayang dan membuat tiap gerakan tarian yang dilakukannya menjadi ringan dan indah. Iloania membuka matanya dan menatap tenang binatang iblis didepannya setelah melewati beberapa saat dengan gerakan tarian.
"ཧཨཀིམིལཨཧ ཀེགེལཨཔཨན དིདེཔཨནཀུ.." akhirnya.
__ADS_1
Ketika mengucapkan kalimat terakhir, dari langit muncul lingkaran sihir yang bercahaya. Membentuk gambaran bunga matahari dengan 3 lingkaran disekelilingnya. Satu lingkaran masing-masing bergambar rangkaian huruf-huruf kuno yang asing.
Melihat itu, Cleus tertegun dan tak bisa bergerak dan berkata-kata ditempatnya. Sementara ketika cahaya itu membuat binatang iblis dibawahnya menjadi kesulitan bergerak karena tekanan, Iloania menggerakkan tangannya mengayun turun dengan halus. Bersamaan dengan raungan keras binatang iblis itu.
Groaaa!!!! Graaahhh!!!!
Lingkaran sihir itu berputar dan menjadi tiga lapis setelah penggandaan. Secara kuat menekan tubuh binatang iblis yang terus berusaha meronta dan meraung dengan suara yang mengerikan.
Ketika Iloania menggerakkan tangannya dengan cengkraman, lingkaran sihir itu bercahaya dan mengecil, membuat sosok binatang iblis itu melebur menjadi inti iblis yang gelap dan beraura kelam. Cahaya menghilang dan ada serangkaian huruf kuno yang bergerak mengelilingi inti itu layaknya molekul dan melayang diudara.
"S-Selesai?" Beo Cleus.
Cahaya ditubuh Iloania menghilang. Melangkah lemah, Iloania mengulurkan tangannya dan menangkup inti iblis itu dengan kedua tangannya dan menyimpannya didalam cincin dimensinya.
"Itu akan aman." Ucap Iloania meyakinkan Cleus.
Ekor mata Iloania melirik kearah paranada pelindungnya. Dimana sosok gadis itu terbaring ditanah tak sadarkan diri. Ketika binatang iblis itu telah disegel, secara alami juga sihir yang mempengaruhi mereka untuk menghancurkan kota yang diberikan binatang iblis itu lenyap.
Cleus menatap Iloania, "Yang tadi itu .. sihir apa?"
Iloania mengulum senyuman, "Sesuatu yang diajarkan guruku. Awalnya aku tidak yakin akan berhasil, syukurlah ternyata itu berhasil dengan baik."
"Paman,"
Iloania bangkit berdiri, "Anggota bertopeng itu sebenarnya tidak jahat. Mereka hanya dikendalikan oleh binatang iblis yang sepertinya sangat membenci kota Neredith. Jadi, jangan menghukum mereka ya? Mereka, juga tidak sadar."
Cleus menatap Iloania tanpa suara.
...***...
Dua minggu berlalu, Iloania masih berbaring nyenyak diatas piringan hitam diatas pohon yang rindang. Barrier melindunginya dan tidurnya nampak begitu nyenyak. Sejak hari dimana Iloania mengatakan agar Cleus tidak menghukum anggota bertopeng merah dan Cleus menyetujuinya dengan anggukan, Iloania memunculkan piringan hitam dan langsung tertidur pulas. Sementara piringan hitam membawanya keatas pohon.
Awalnya Cleus dan Wency khawatir dengan keadaan Iloania, sampai sepertinya Cleus tahu jika mungkin Iloania sengaja tidur untuk mengumpulkan energi kembali. Setelah semua yang terjadi hari itu. Setelah kejadian itu, gadis bertopeng sadar dan menangis memohon maaf. Menceritakan jika dirinya mencari anjingnya dihutan dan justru tubuhnya secara tak sadar tak bisa dikendalikan dan hanya bisa menyaksikan dirinya sendiri dikendalikan untuk melakukan hal buruk seperti itu. Karena tahu bukan kesalahan mereka, mereka dibiarkan untuk kembali pada keluarga masing-masing yang langsung bahagia ketika mengetahui anggota keluarga mereka masih ada.
Hanya saja mereka tak menyangka, Iloania akan tidur selama itu. Jadi dipagi hari dan disore hari mereka akan bergantian mengecek Iloania.
Malam itu, sepasang netra emas terbuka dari kelopak mata. Ketika manik itu menyunggingkan senyuman, Iloania bergumam dengan suara pelan.
"Ah, malam yang indah." Gumamnya kala melihat milyaran bintang bertabur dilangit, bersanding dengan sang purnama yang mempesona.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update
14/7/2021
Jangan lupa dukungannya~
Salam hangat,
LuminaLux
__ADS_1
Nb: Buat mantra saya pakai google translate aja. Ada kesalahan mohon maaf, ya😅