
Kabut asap perlahan menebal. Tiap detikan jam kabut menebal. Tiap hembusan napas naga, kegelapan mengikuti. Dalam suasana yang dilanda suasana aneh itu, beberapa sosok nampak berdiri dibalik bayangan. Menelisik tiap sudut dan tiap tempat. Menilai kejadian dan tiap orang yang terlibat dalam pertarungan.
Mereka adalah Milied, Alkea dan Greymons. Kekacauan ini tentu bukan ketidaksengajaan atau serangan. Dragonia Academy tentunya dilengkapi dengan sinyal. Dengan perlindungan yang otomatis akan aktif ketika adanya serangan. Lagipula, semua penyihir elite di Dragonia Academy selalu tanggap. Selalu dengan tanggung jawab mengurus masalah seperti ini. Ujian tahap terakhir.
Ini adalah tes untuk melihat kecakapan, reaksi, kecerdasan dan kemampuan pendaftar di Dragonia Academy saat mengalami keadaan darurat yang tidak terduga seperti ini.
Nyatanya, nyaris sebagian besar dari mereka adalah pengecut.
"Bagaimana dengan kalian? Aku sudah mendapat beberapa. Cukup banyak kurasa." Kata Milied.
Greymons disampingnya berujar, "Tentu saja aku sudah melihat banyak penyihir yang berbakat! Disebelah Barat ada yang mengagumkan. Pemuda itu mengurus 2 arah mata angin dan bersama-sama dengan beberapa orang menjaga penyihir lain dari bayangan."
"Disebelah Selatan aku menemukan seorang yang cukup cakap meski kekuatannya tidak terlalu kuat. Namun dia bisa menyelesaikan masalah dan bisa mengatasi keadaan. Dia bisa memperpanjang waktu disaat kemungkinan terdesak menunggu bantuan." Kata Milied.
Greymons menatap Alkea. "Bagaimana denganmu, Sir?"
Alkea nampak terdiam sesaat, "Wilayah Timur bereaksi dengan cepat. Beberapa orang dapat menggunakan sihir mereka dengan baik. Dan aku menemukan beberapa sihir baru yang kuat."
"Dan, bagaimana dengan gadis itu?" Mengikuti arah tunjuk Alkea, Greymons dan Milied mendapati sosok Iloania tengah mengambang disamping Lasius dengan piringan hitam yang seukuran kakinya.
"Gadis itu?" Kata keduanya.
"Hn." Milied nampak menatap Iloania.
"Wajahnya sangat cantik, namun dia terlihat lemah. Walau cantik jika lemah itu tetap tidak sempurna."
Greymons menatap Milied, "Wah~ Kau iri ya miss Millied? Wajah gadis itu memang seperti dewi kecantikan. Sempurna?"
"Huh~ Terserah." Gumam Milied.
Alkea menyela mereka, "Hentikan. Perhatikan saja apa yang terjadi. Kita sedang menilai."
"Ya-ya~" Kata keduanya kemudian kembali menatap sekelilingnya, sampai tatapan mereka tertuju pada Iloania yang menatap Naga dengan mata putih itu.
...***...
Lasius membawa Iloania kebelakang tubuhnya. Ketika Iloania ditarik kebelakang, ia bereaksi dengan ekspresi kebingungan? Iloania disini untuk membantunya. Bukan untuk dilindungi Lasius. Sejak kecil, Iloania selalu merasa jika ia dilindungi, ia hanya akan menyusahkan dan membuat orang yang melindunginya merasakan sakit. Jadi, dia tidak ingin dilingungi.
Iloania ingin bertarung bersama.
Groaaa !
Ketika naga itu meraung, Iloania mengambil tempat didepan Lasius, memanggil Irrex, dan berubah menjadi besar. Irrex melompat dan mendarat dileher naga itu. Cakar tajamnya menancap, menarik daging tebal dan kuat itu. Iloania menggerakkan tangannya, ledakan api muncul ditangannya. Naga itu tidak lemah, melawan dengan mengeluarkan api dari mulutnya, yang siap membakar apapun yang akan dilalui oleh apinya. Namun dengan sigap Lasius menjaga Iloania dengan pelindung cahaya yang dilapisi kembali dengan barrier yang diciptakan Vleia. Ketika api mereda,
Iloania menatap Lasius. "Sihir cahaya tidak mempan, ya?" Mendengar pertanyaan yang lebih bisa disebut pernyataan itu membua Lasius yakin jika Iloania juga tahu.
__ADS_1
Itu sangat jelas. Gadis itu menatap naga dan menyunggingkan senyuman. Mengangkat tangan kirinya, piringan hitam muncul diatas naga, berputar dengan tepi piringan hitam yang tajam. Seperti pemotong, sebelum naga bereaksi, piringan itu telah memisahkan kepala dan badannya.
Berpecah, dalam sepersekian detik piringan itu menjadi banyak dan bergerak liar. Memotong tiap bagian tubuh naga yang tersisa. Ketika tubuh naga perlahan seperti terbakar sebelum menyentuh tanah, perlahan kabut hitam menghilang. Dan Iloania, bersembunyi dibalik badan Lasius. Menghindari penglihatan orang-orang dibawah dan agar menganggap Lasius yang mengalahkan naga itu. Iloania, tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian. Jadi, ia memilih bersembunyi.
"Kamu sudah tahu bukan?" Tanya Lasius dengan nada aneh.
"Hm?".
Lasius menoleh, "Kamu sudah tahu tapi masih melakukannya. Kenapa?"
Tanpa menjawab, Iloania hanya menyunggingkan senyuman misterius. Senyuman yang mengatakan kemutlakan untuk tidak menjawab. Baru mengenal Iloania, namun Lasius sudah paham makna senyuman itu.
Iloania tidak berminat menjawab pertanyaan sederhana itu.
Dan Lasius tahu, dibalik senyuman itu. Selalu ada makna dan maksud yang hanya Iloania sendiri yang tahu.
"Apa kakak merasa aku begitu kejam?" Tanya Iloania.
Lasius menatapnya selama sepersekian detik dengan wajah datar. Sebelum ia melunakkan wajahnya dan mendaratkan tangan hangatnya dikepala Iloania.
"Kamu punya alasan bukan? Melindungi mereka tentu saja dan alasan yang tidak bisa kamu katakan." Kata Lasius.
Iloania menatapnya.
"Dan mungkin saja suatu saat kamu akan mengatakannya padaku." Kata Lasius membuat Iloania tertegun sesaat, sebelum menyunggingkan senyuman dibibir dan dimatanya.
...***...
Manik ketiga penilai tertuju pada Iloania dan Lasius. Ketiganya menampakkan wajah serius dan tanpa ada ekspresi santai dan malas-malasan seperti yang diawal. Ketiganya dibalik bayangan bangunan berbalik dengan nilai kelulusan yang ada ditangan mereka.
"Ilo! Aku sangat kelelahan! Bagaimana bisa para guru tidak datang disaat kita diserang seperti ini?!" Kata Jissiana sembari mengelanyuti Iloania dengan tubuh yang memang terlihat lemas.
Iloania menepuk punggung Jissiana berulang dengan pelan, "Aku juga lelah."
Ketika semua orang terlihat kelelahan dan dilanda perasaan aneh karena kejadian barusan, Milied muncul diatas arena seperti dengan sambaran petir yang membuat orang-orang menatap kearahnya.
"Hey, miss Milied! Kenapa para penyihir elite tidak muncul?"
"Benar. Kita diserang!"
"Bagaimana bisa miss Milied baru muncul sekarang?"
"Untung saja ada Pangeran Perang Lasius disana!"
Penyihir muda bersorak. Menyuarakan protesan mereka. Sementara Lasius, Iloania dan Jissiana nampak diam dan menatap kearah Milied.
__ADS_1
"Kejadian barusan adalah tes ketiga. Jadi, tergantung bagaimana sikap kalian yang akan menentukan kelulusan kalian. Para bayangan tadi sebenarnya adalah bayangan putih yang menjadi pelindung dibenua Altas. Jadi, untuk hari ini kami telah mengumpulkan siapa yang layak dan tidak layak untuk menjadi murid di Dragonia Academy. Besok pagi datanglah ke Dragonia Academy dan kami akan umumkan siapa yang berhasil masuk dan yang harus pergi. Sekian, terima kasih."
Selesai menjelaskan itu, cahaya memendar lembut dari kakinya keatas dan tubuhnya dengan cepat memudar dan menghilang dari sana.
"Apa?! Jadi tadi ujian ketiga?"
"Bagaimana bisa ujiannya begitu membahayakan dan menakutkan seperti itu?!"
"Sangat menegangkan!"
"Bagaimana ini? Aku tadi tidak melakukan apapun!"
Dari arah belakang, sosok Zalion melangkah mendekati Lasius. Mendapati tepukan ringan dibahunya, Lasius berbalik.
"Ada apa?" Tanyanya.
Bibir Zalion hendak terbuka, sebelum ia tertegun begitu mengalihkan tatapannya pada Iloania. Maniknya sedikit bereaksi dan suaranya tertahan ditenggorokannya. Kecantikan dewi!
Melihat tatapan tangan kanan sekaligus sahabatnya yang menatap pada Iloania, membuat Lasius berdehem pelan. Menyadarkan Zalion yang segera mengalihkan tatapannya pada Lasius.
"Sa, kakak. Siapa kakak ini?" Tanya Iloania sembari menatap Lasius.
Lasius menoleh, "Temanku. Namanya Zalion."
Zalion bergidik saat mendengar nada lembut dari Lasius. Apa-apaan pria ini? Menjadi lembut didepan kecantikan?!
Iloania membangkitkan senyumnya. "Halo, namaku Iloania. Teman kak Lasius juga~"
Iloania mengulurkan tangannya. Membalas, Zalion hendak mengulurkan tangannya ketika Lasius lebih dulu menarik tangan Iloania dan berlalu pergi. Menarik Iloania yang kebingungan. Meninggalkan Zalion yang terpatung dan Jissiana yang menghela napas pelan.
Tangan Jissiana menepuk punggung Zalion dengan pelan.
"Sabar.. Sabar.. Mari ikuti mereka." Kata Jissiana.
Zalion tersadar dari lamunanya. "Laki-laki itu.. sangat menyebalkan."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Last Update:
23/05/2021
Jangan lupa dukungannya
Salam hangat,
__ADS_1
LuminaLux