Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 141 "Sebuah Janji"


__ADS_3

Krusk!


Telinganya bergerak ketika Theor mendengar sebuah suara. Seperti seseorang yang menginjak ranting dan daun kering. Bangkit sepenuhnya, Theor mendongak dan mencoba memanggil. "Samantha?"


Hening, tidak ada jawaban berarti yang membuat perasaan was-was Theor menghilang atau setidaknya berkurang. Ia dengan hati-hati beranjak bangun dan mencoba melihat keluar gua ketika dia tidak menemukan apapun. Maniknya mengedar kesekelilingnya, Theor menggerakkan telinganya untuk mendengarkan suara sekecil apapun.


"Mungkin ... itu hanya tikus?" Gumamnya pelan.


Ia berbalik hendak masuk kembali kedalam guanya ketika ia tanpa sengaja menginjak sesuatu. Sebuah jaring terbentang dari bawah tanah. Ketika dia bereaksi, ia telah tergantung terbalik didalam jaring dan tergantung bermeter-meter tingginya dari atas pohon.


"A-Apa ini?!"


Ketika dia memberontak dan mencoba melepaskan diri dari dalam jaring, ada beberapa orang yang melangkah keluar dari balik rimbunnya pepohonan. Mereka mengenakan jubah dari kain yang lembut, penampilan yang sama dengan yang dimiliki Samantha, anggun dan menawan. Ras Elf. Ditangan mereka terdapat tombak atau busur dengan anak panah terselip dipunggung mereka. Ada tatapan dingin dimata mereka yang berkilau, dan bibir tipis mereka menampilkan garis lurus sementara beberapa lainnya nampak menyeringai dengan tajam.


"Setelah sekian lama, ternyata ada yang berani menyelinap di wilayah elf lagi. Sungguh manusia serigala yang begitu berani dan sombong!"


Suara bernada rendah dan dingin itu keluar dari bibir elf bermata biru disana. Rambutnya berwarna senada dengan matanya, panjang, bergelombang dan lembut.


Elf berambut pendek berwarna merah disampingnya tertawa dengan cara yang asing dan aneh. "Akhirnya tahun ini kita bisa memulai lagi ritual penyelamatan. Tidak perlu mengorbankan diantara kita, manusia serigala ini sudah cukup bodoh untuk datang kemulut harimau, haha~"


Pada awalnya, Theor sama sekali tidak paham apa yang mereka katakan. Theor begitu ketakutan, cemas dan khawathir akan kematian yang akan datang kepadanya. Kakaknya selalu memperingati dirinya bahwa elf itu berbahaya, mereka licik dan bermuka dua. Meski tidak semua elf demikian, namun pasti ada diantara mereka yang mewarisi sikap seperti itu. Theor merasakan krisis dan ancaman dari pembicaraan mereka.


"Lepaskan aku!!"


Theor baru saja hendak berteriak ketika dia terlebih dahulu mendengar teriakan lain. Suara itu akrab diingatannya, dan Theor memandang sekelilingnya dengan terkejut ketika siapa yang ada disana memang seseorang yang ada dipikirannya. Samantha.


Ia ditahan menggunakan satu tangan oleh seorang elf berambut kuning panjang. Ia mencoba memberontak dan memaki mereka. "Lepaskan aku! Apa yang kalian lakukan?"


Yang berambut biru memandang keduanya dan tersenyum miring. "Oh, lihat siapa yang datang. Samantha Si Putri Elf Salju rupanya~"


Samantha memandang tajam tepat keiris birunya dan mendesis, "Lios! Lepaskan aku dan lepaskan Theor! Dia tidak jahat dan dia tidak pernah menginjakkan kakinya ke kota!"


Lios mencibir dan dengan dingin mencengkram wajah kecil Samantha yang halus dengan cengkraman kasar. "Kau benar-benar menuruni sikap nenekmu yang menjengkelkan itu rupanya, ya? Dengar, dia adalah manusia serigala yang berbahaya dan menjadi ancaman serta menjadi musuh bagi kita selama ratusan tahun. Dan kau melindunginya?"


"Tidakkah kau berpikir bahwa nenek kesayanganmu itu tidak akan marah padamu, Sam?" tanya Lios dengan tatapan yang penuh dengan hinaan.

__ADS_1


Samantha mendesis. "Theor adalah orang baik! Dia tidak seperti yang kalian katakan!"


"Kau menolakku sekali dulu, dan sekarang kau melindunginya?"


"Itu karena kau adalah orang gila!" Pekik Samantha.


Dulu sekali pria didepannya ini memang pernah melamarnya untuk menjadikannya seorang istri. Namun Samantha menolaknya karena ia merasa bahwa Lios bukan orang baik. Tatapan matanya yang tajam dan gelap membuat Samantha merinding dan dia tidak bisa menahan untuk tidak segera menolaknya didepan nenek dan wali Lios yang datang melamarnya.


Meski penampilan Lios sudah seperti pemuda belasan tahun, sebenarnya dia dan Samantha tidak berbeda jauh dalam usia. Lios berusia seratus tujuh belas tahun dan Samantha berusia seratus sebelas tahun. Samantha memang nampak lebih kecil daripada elf perempuan kebanyakan yang memang seusia dengannya. Buktinya, neneknya yang sudah menginjak angka limaratus tahun masih nampak sangat muda dan cantik.


Namun Lios nampaknya memiliki dendam kepadanya sehingga seringkali membuat masalah dengan keluarganya, terutama neneknya.


Wajah Lios mendingin mendengar perkataan Samantha, ejekan tentang dirinya yang gila membuat kegilaan dimata Lios menjadi semakin pekat dan membuat tulang punggung Samantha menjadi dingin. Ia hampir lupa memberontak selama dua detik, sebelum dengan keras memberontak dan bahkan melancarkan tendangan meski tidak sampai.


"Kau bilang aku gila?"


Lios mengakui bahwa dia memang gila. Dia dan seluruh keluarganya, pengikut keluarganya adalah orang gila. Sejak dia masih kecil, dia sudah ditanamkan tentang sebuah pengetahuan untuk menjadi ras yang melampaui dewa, melampaui ras lainnya. Sayangnya kekuatan mereka hanya bisa didapatkan dengan melakukan banyak pengorbanan. Seribu orang hanya demi satu orang. Keluarganya membuat rumor bahwa manusia serigala lah yang menculik dan membunuh elf, padahal sebenarnya mereka sendiri yang menangkapnya dan menggunakannya sebagai salah satu dari sekian banyak persembahan yang mereka butuhkan untuk membuka kunci menuju kekuatan yang menjadi harapan dan impian serta obsesi gila mereka sejak lama.


Kekuatan untuk melampaui dewa.


"Sekarang dengan ini, aku akan mendapatkan kekuatan itu, dan akan membuat kalian semua tunduk pada perintahku, tanpa terkecuali!"


"Lios! Kau benar-benar sudah keterlaluan! Berhentilah!!"


Lios memandang Samantha dan dengan acuh mengalihkan tatapannya pada Theor yang mengeluarkan taringnya penuh dengan ancaman kepadanya sebelum kembali melirik Samantha. "Aku sebenarnya hanya butuh satu lagi, tapi karena kau sudah membuatku muak, kalian berdua sudah sangat mencukupi untuk pengorbanan."


"Bawa mereka!" Perintah Lios membuat anak buahnya segera menyeret Samantha dan menurunkan Theor dengan peralatan mereka, dan mulai membawa mereka ke tengah kota.


Sepanjang jalan, tatapan mata para elf terarahkan pada mereka, dan berubah menjadi keterkejutan dan ketakutan ketika melihat sosok Theor yang tengah diikat dan diseret oleh anak buah Lios. Mereke berteriak ketakutan, sebelum menjadi teriakan keterkejutan dan mereka mulai mengikuti Lios ketika mereka melihat bahwa Lios tengah menangkap manusia serigala untuk dibawa ke tengah kota.


"Pergi ke balai pengadilan! Kita akan mengadili penyusup dan pengkhianat ini!" Salah satu anak buahnya berteriak, mengundang atensi seluruh orang yang memperhatikan. "Kabarkan pada seluruh desa, bahwa inilah saat untuk kita membalas dendam pada manusia serigala!"


Hanya dalam sekejab, seluruh elf berkumpul dibalai pengadilan ketika Theor dan Samantha diikat kesebuah tiang besi ditengah lapangan. Orang-orang mengelilingi mereka ketika Leviala berlari keluar dari kerumunan dan menjerit ketika melihat Samantha terikat ditiang besi yang menjadi tempat eksekusi para pendosa.


"Samantha!! Lepaskan cucuku! Dia tidak bersalah! Dia pasti tidak melakukan kesalahan apapun! Ini pasti kesalah pahaman!"

__ADS_1


Penjaga disekitar menahannya, mencegahnya untuk berbuat nekat dan lari menuju Samantha. Ia hanya bisa memberontak, meraung dan menjerit serta menangis ketika hakim memberikan keputusan untuk membunuh keduanya. Samantha karena menjadi pengkhianat dengan menyembunyikan seorang manusia serigala ketika peraturan mengatakan bahwa manusia serigala tidak boleh menginjakkan kaki di tanah bangsa elf. Dan manusia serigala yang melanggar aturan tersebut.


"Tidak!! Jangan!!' Leviala menjerit.


Theor melebarkan matanya ketika melihat dua orang penjaga membawa minyak dan menyiramkan ke tubuh mereka berdua. Dia menjerit, "Samantha tidak salah!! Lepaskan dia! Kalian bisa membunuhku, tapi tidak dengan dia!! Dia tidak salah!"


Samantha menitikkan air mata. Aroma menyengat minyak merangsek ke hidungnya. Ia memandang ke arah Leviala dengan wajah yang dipenuhi penyesalan. Dia tidak pernah menyesal telah membantu Theor, dia tidak menyesal berteman dengannya. Dia hanya menyesal bahwa dia akan meninggalkan neneknya dengan cara yang seperti ini. Menyakiti hati neneknya dengan begitu banyak kesedihan dan kekecewaan dan kengerian. Samantha berharap neneknya memejamkan mata, begitu api terbakar. Atau setidaknya neneknya pingsan, agar tidak perlu melihatnya menjerit kesakitan atau melihatnya dengan perlahan mati terbakar.


Samantha memejamkan mata, dan berharap demikian ketika nyala api mulai berkobar dengan terang diantara keduanya.


...***...


"Samantha, ketika aku dijemput nanti, aku akan mengirim pesan kepadamu setiap hari menggunakan burung hantu. Aku boleh melakukannya, kan?"


"Tentu saja! Aku akan membalas suratmu setiap hari dan aku akan menunggu balasan darimu kemudian!"


"Jika aku kelak menjadi Raja, aku berjanji akan mengajukan penghapusan peraturan pemisahan bangsa Elf dan manusia serigala, agar aku bisa bertemu dan melihatmu setiap hari!"


"Janji, ya?"


"Umn! Janji!"


...***...


Kelopak matanya terbuka. Ada pemandangan asing yang Iloania lihat ketika dia membuka matanya. Cahaya lembut mengalir dari celah tirai berwarna putih keemasan yang lembut. Iloania berkedip selama beberapa waktu sebelum dengan cepat terkejut dan memandang sekelilingnya dengan penuh kebingungan.


"Dimana aku sekarang?" Gumam Iloania sembari memandang sekelilingnya.


Ada sebuah suara langkah kaki dari balik pintu. Iloania menoleh dengan terkejut ketika melihat seorang pria berjalan memasuki ruangan dengan seorang wanita yang menggendong bayi didekapannya. Pria itu dengan lembut memimpin wanita itu untuk berjalan menuju ranjang. Ada ranjang bayi kecil disebelahnya, berwarna hijau dan nampak terbuat dari kristal berwarna hijau. Ada keheningan selama beberapa waktu sebelum dengan tenang sang wanita bersuara.


"Putri kita cantik sekali, Yang Mulia."


Yang dipanggil yang mulia dengan lembut membawa sang wanita dalam pelukannya. "Sama cantiknya denganmu, sayang. Kita akan membesarkannya dengan penuh cinta, sehingga dunia bisa tahu tentang putri tercinta kita dan mereka juga akan mencintainya."


"Mencintai Amore Figliea del Emerald."

__ADS_1



__ADS_2