Legenda Bulan Kristal

Legenda Bulan Kristal
Bab 40 "Latihan Istimewa Iloania"


__ADS_3

Lasius dan Iloania melangkah memasuki perpustakaan setelah diizinkan oleh penjaga perpustakaan. Ketika kesuanya telah masuk, Iloania mengajak Lasius kesudut perpustakaan yang terlihat cukup jarang digunakan.


Sedikit menengok kekanan dan kekiri, Iloania mengangguk.


"Kenapa sembunyi?" Tanya Lasius.


"Agar orang tidak melihat," jawab Iloania tersenyum sembari mengangkat tangan kirinya, menampilkan cincin perak indah dijarinya.


Iloania menatap Lasius, "Kakak tutup mata sebentar."


"Hm." Gumam Lasius sembari menyembunyikan baru ungu anggurnya dibalik kelopak mata cerahnya.


Cahaya keemasan memendar samar, mengelilingi tubuh Lasius dan dirinya sendiri. Lasius yang memejamkan mata dapat merasakan kehangatan menyelimutinya, teresap sampai kehati. Sedikit rasa penasaran, namun Lasius masih belum membuka matanya, menunggu Iloania menyuruhnya membuka mata.


Suara halaman buku yang dibalik dan langkah kaki samar juga aroma debu khas perpustakaan menghilang dari pendengaran dan penciumannya. Tergantikan suara sepoi angin yang halus dan aroma bunga-bunga asing yang tak pernah dihirupnya. Itu harum dan menenangkan. Rasa dingin yang menyelimutinya diperpustakaan tergantikan oleh suhu hangat yang nyaman. Apakah sekarang dia tidak diruang perpustakaan lagi? Lalu dimana dia?


"Ilo, bisakah aku membuka mataku?" Tanya Lasius.


"Iya, kak Lasius boleh membuka mata sekarang~"


Ketika membiarkan kedua kelopak matanya membuka, Lasius tidak bisa tidak terpesona mengetahui tempat yang dijejakinya sekarang. Ia berada, ditempat yang begitu luas dengan tanaman yang besar, hampir sebesar dirinya dan ada perbukitan yang besar jaug disana. Disisi kanan dan kirinya ada pepohonan yang satu pohon berdiameter 20 meter dengan tinggi lebih dari 100 meter, sangat tinggi dan sangat besar. Dengan dedaunan berwarna merah tua dan kuning keemasan.


Lasius memandang Iloania yang berdiri didepannya, "Dimana kita?"


"Kau ditempat tinggalku. Dasar manusia bodoh~"


Mendengar suara itu membuat Lasius sedikit terkejut. "Suara ini? Bukankah .. binatang sihir Iloania?"


Ia refleks menoleh dan mendapati sesuatu yang membuatnya melebarkan matanya. Sosok disana berjalan melangkah dari balik pohon. Menampakkan sosoknya yang sepenuhnya. Itu adalah wujud anak kecil dengan wajah tampan dan manis bersamaan.  Meski tak secantik Iloania, namun anak laki-laki itu diyakini, memiliki kecantikan diwajahnya. Menampilkan sepasang manik emas yang sangat persis dengan manik Iloania. Hanya saja, dalam versi tajam dan kuat. Anak laki-laki itu mengenakan sutra putih yang melilit tubuhnya, menampilkan sepasang lengan ramping yang cerah.


Anak laki-laki itu berdiri disamping Iloania dan melipat tangannya didepan Lasius, menandakan aura mendominasinya. Meskipun wujud Vleia sekarang adalah anak kecil.


Lasius menunjuknya terkejut namun berusaha mempertahankan wajah datarnya. "Dia .. Vleia?"


"Tidak sopan. Ilo, kenapa membawanya kemari?" Meskipun sosoknya adalah anak kecil yang manis, Lasius mendengar suara beratnya, dan tak bisa tidak mengerutkan keningnya.


Iloania memandang Vleia, "Hey. Sudah kubilang untuk bersikap sopan. Siapa yang mengajarimu untuk menjadi nakal? Maka aku akan memukulnya~"


"Pria itu. Bagaimana?"

__ADS_1


Iloania mengerutkan bibirnya dan mengabaikan Vleia. "Kak Sius, dia Vleia. Dalam wujud manusianya, mungkin ~"


"Apakah ini cincin dimensimu? Kenapa .. penampakannya begini?" Tanya Laasius yang hanya tahu, jika cincin dimensinya hanya berupa ruangan putih kosong yang begitu luas.


"Iya, guruku yang memberikannya. Jadi, sejak awal memang sudah seperti ini." Ucap Iloania sembari memandan cincin dijemari tangan kirinya sembari tersenyum.


"Jadi Iloania memiliki seorang guru ?" Batin Lasius.


Vleia menatap Lasius tajam. "Manusia, kau yakin ingin berlatih disini?"


"Sebenarnya, aku memiliki nama." Datar Lasius.


"Memangnya aku peduli. Jawab pertanyaanku barusan."


Lasius melirik kesampingnya dan bergumam acuh, "Hm."


Bibir Vleia mengulas senyuman lebar, atau lebih tepatnya sebuah seringaian yang menakutkan. Lasius sedikit meremang ketika melihat seringaian itu, entah mengapa itu terasa menakutkan. Sedikit menakutkan baginya. Terlebih ingatan dimana Jissiana mencoba melarangnya untuk menyetujui ajakan Iloania.


"Selamat datang dineraka. Hahaha~"


Iloania melipat tangannya dan menggembungkan pipinya sembari menatap tajam kearah Vleia. Yang justru berbinar karena menganggapnya imut.


"30 menit lagi kelas akan dimulai."


"Kak Sius tenang saja. 1 jam disini sama dengan 1 menit didunia asli. Artinya, 30 menit disana sama dengan 30 jam disini. Latihan akan sangat lama~"


"Ha?" Lasius terpekur.


...***...


Beberapa saat kemudian, ketiganya tiba disebuah tempat yang indah. Ada sebuah danau raksasa yang membuat siapapun yang melihatnya akan kagum sekaligus bingung, ketika mendapati air itu berwarna putih berkilau, bukan jernih ataupun berwarna hitam akan pantulan langit yang nyatanya, senantiasa gelap dengan taburan bintang. Air itu benar-benar berwarna putih dan memiliki cahaya samar.


"Latihan pertama untuk kalian berdua. Ilo, tahu bukan?"


"Tentu saja. Bagaimana mungkin aku tidak tahu. Aku kan sudah merasakannya~" Ucap Iloania.


Vleia melirik Lasius. "Dan kau manusia. Aku hanya akan menjelaskan secara singkat dengarkan baik-baik. Danau ini adalah tempat yang akan membuatmu merasakan rasa sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Makin lama kau bisa bertahan didalam sana, maka makin baik latihan yang akan kau jalani. Paling tidak, bertahanlah didalam sana selama 5 sampai 8 jam. Maka kau bisa melanjutkan kepelatihan selanjutnya."


"Mengatakan ini aku jadi ingat, gadis babi itu hanya bisa bertahan selama 2 jam dan menyerah."

__ADS_1


"Seperti ditusuk ribuan jarum ?" Batin Lasius.


"Baiklah." Gumamnya.


Ia memandang Iloania, "Berapa lama Iloania bisa bertahan?"


"Kujawab nanti. Segera lepaskan pakaian luarmu dan masuk kedalam air." Perintah Vleia membuat Lasius melepaskan jubah dan jasnya.


Menyisakan celana dan baju hitam berlengan panjang sedikit ketat yang mencetak bentuk tubuhnya yang mampu membuat kaum hawa meneteskan air liur dan pingsan seketika. Iloania sendiri hanya melepaskan lapisan transparan dari gaunnya dan melepas sepatunya, kemudian mendahului Lasius dengan melangkah memasuki danau yang makin lama makin dalam. Ia berhenti dan duduk didasar danau yang berupa bebatuan, bukan lumpur atau bahkan adanya keberadaan ranting dan ikan. Disana, murni hanya ada bebatuan dan air yang berwarna putih.


Ketika Iloania duduk, air itu mencapai lehernya, menyisakan kepalanya yang menyembul diair.


Lasius berniat menyusulnya, namun ketika ia menginjak air, kakinya terasa seperti menginjak ribuan jarum tajam dan terasa menusuk begitu dalam. Bukan hanya sekali, bahkan ketika ia tak bergerak itu terasa menusuk-nusuk. Inikah yang dimaksud? Meski sedikit merasakan sakit, saat melihat Iloania telah berendam air itu, ia terus melangkahkan kakinya.


Makin ia memasuki air, makin tiap anggota tubuhnya yang terendam terasa seperti tertusuk-tusuk. Rasanya seperti tiap sel terkena tusukan. Lasius mengeratkan giginya ketika air mencapai lehernya ketika dia duduk disamping dan sedikit didepan Iloania. Menyesuaikan batas air sampai lehernya.


"Menyakitkan !" Batinnya.


Setiap kali tubuhnya membuat bahkan gerakan kecil, rasa sakit itu berkali-kali lipatnya. Wajahnya sedikit memerah dengan beberapa urat dileher dan pelipisnya timbul. Ia memutar kepalanya mencoba melihat Iloania. Dan menemukan, gadis itu memejamkan mata dengan ekspresi ketenangan yang luar biasa.


Apakah dia .. tidak merasakan sakit?


Sepasang manik emas itu timbul. Dan mendapati tatapan Lasius. Iloania menyunggingkan senyuman dibibirnya dan berkata dengan sedikit berbisik.


"Air ini .. tidak berguna dengan energi sihir apapun."


Saat itu, Lasius menyadari. Mengapa Iloania, bisa setenang itu, ditengah air yang menyebabkan rasa sakit itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Last Update


17/07/2021


Jangan lupa dukungannya~


Salam hangat,


LuminaLux

__ADS_1


__ADS_2