
Fang An saat ini sedang berjalan menuju kamarnya.
"Cucuku bisakah kau menemaniku minum teh?" Terdengar suara seorang Pria tua. Dalam ingatan anak ini Pria tua itu adalah kakeknya.
"Baiklah kek" Ucap Fang An Lalu duduk bersama sang kakek sambil meminum teh.
"Kau Akan mengikuti Pertandingan Tahunan? Jika kau tidak ingin aku bisa membantumu" Ucap sang kakek kepada Fang An.
"Aku Akan mengikuti Pertandingan itu kek" Ucap Fang An sambil tersenyum.
"Kau yakin? Setauku kau tidak menyukai Seni Bela diri, kenapa kau ingin mengikuti Pertandingan itu?" Tanya sang kakek kepada Fang An.
"Aku hanya ingin menjadi kuat" Jawab Fang An singkat.
"Baiklah kau harus berlatih dengan giat" Ucap Sang kakek.
–––
__ADS_1
Didataran ini Tingkatan-Tingkatan Kultivasinya berbeda dengan tempat tinggal Fang An dahulu. Fang An saat ini berada di tingkatan paling rendah, yaitu Penempaan Tubuh Lapisan Ke-1.
Fang An menggunakan Ilmu Pemurnian Tubuh : Tubuh Api Milik Dewa Perang untuk Berkultivasinya. Hanya dalam satu Hari Fang An sudah Naik ke Lapisan Ke-3.
Untuk Anak seumuran Fang An biasanya Hanya mampu mencapai Lapisan Ke-3 saja. Namun Fang An ingin merasa ia dapat Naik ke Lapisan berikutnya. Akhirnya dalam Waktu 1 Minggu Fang An sudah mencapai Lapisan Ke-7.
Ketika sudah mencapai tingkatan ke-7 Fang An sudah memiliki sedikit Qi dalam tubuhnya. Dan karena ia menggunakan Ilmu Pemurnian tubuh Api, sekarang Fang An sedikit lebih bisa menahan panas api.
Fang An berlatih lebih keras lagi, Ia meminta ijin untuk pergi ke Hutan untuk berlatih. Mendengar Fang An ingin berlatih ayahnya menjadi sangat senang dan langsung mengijinkannya. Ayahnya sangat senang karena setelah sekian lama akhirnya anaknya menunjukan minat pada Bela diri.
Fang An pergi kebelakang tendanya dan menyusun kayu bakar Lalu menyalakan Api. Para pengawal ingin melihat apa yang dibuat oleh Fang An, namun Fang An berkata ia Hanya ingin membuat makanan.
Fang An Duduk bersila diatas Api yang ia buat. Setelah Semalaman berada di atas api itu, Fang An akhirnya menembus Lapisan ke-9.
Fang An tidak Langsung kembali ke istana. Ia berlatih Beberapa Teknik bertarung. Dalam pelatihannya Fang An menjadi lebih dekat dengan pengawal-pengawal yang Ada. Ia tidak memandang status mereka sebagai bawahan.
Bahkan Fang An menunjukan sikap hormat kepada semua Pengawalnya, karena semua dari mereka berumur lebih tua dari Fang An. Hal itu membuat semua Pengawalnya menjadi sangat setia kepadanya.
__ADS_1
Tidak terasa Dua minggu telah berlalu. Fang An saat ini sedang dalam perjalanan untuk pulang ke istana, Karena besok Hari dimana Pertandingan Tahunan diadakan.
Perjalanan Fang An dari hutan ke Istana Juga memakan waktu satu Hari, sehingga Fang An memanfaatkan waktu diperjalanan untuk beristirahat.
"Aku tidak menyangka Kita memiliki Pangeran sebaik Pangeran Fang An" Salah satu prajurit yang membawa kuda berbicara kepada rekannya.
"Ya Aku Juga tidak menyangka, Aku Akan sangat mendukungnya jika ia menjadi raja dimasa depan" Jawab Prajurit yang lain.
–––
Di Halaman Istana sudah Ada arena yang cukup besar. Semua Peserta sudah bersiap disekitar arena. Namun Fang An masih belum Juga sampai Dan Hal itu membuat raja sedikit gelisah.
"Baiklah karena semua Peserta sudah berkumpul, Silahkan Naik ke arena untuk mengambil nomor undian" Ucap seorang Pria yang cukup berumur yang menjadi Wasit.
"Permisi tetua kau melupakanku" Fang An tiba-tiba datang dengan rombongannya. Melihat Fang An datang membuat Raja menjadi lega.
Fang An langsung melompat ke atas arena. Lompatan Fang An bisa dibilang hampir terlihat seperti ia terbang. Semua yang melihat itu menjadi terkejut karena setau mereka Fang An yang dulu tidak bisa bertarung sama sekali.
__ADS_1